ingin mencoba menyampaikan dengan kata yang baik

Hi para kartuneters, 2 minggu yang lalu aku menerima telpon dari salahsatu redaktur sebuah tabloit di kota Bandung. Singkatnya dalam pembicaraan itu adalah permintaan pihak mereka agar aku membuat sebuah tulisan berkaitan dengan hari penyandang ketunaan yang jatuh pada bulan Desember. Akhirnya dengan beberapa alasan, akupun menerima tawaran tersebut, dan sepakat untuk menyerahkannya 2 hari kemudian. Singkatnya, akupun datang pada kantor tabloit dengan diantar seorang teman. Sebenarnya aku bisa mengirimkan tulisan dalam bentuk esai itu melalui pos atau melampirkan fia email. atau aku bisa mengirimkannya melalui faks kepada mereka, namun dengan alasan mereka ingin mengambil gambar saat penyerahan sebagai proloh, aku diminta datang sendiri membawa hasil tulisanku. Begitu tiba di sana skitar pukul 9 pagi, aku diterima oleh ibu ...... di ruangannya. Dia membaca hasil tulisanku, dan setelah dia membacanya, dia meminta maaf karena tidak dapat pat memuat tulisanku di tabloit itu, dengan alasan, sudah memuat tulisan berkaitan dengan hari ketunaan ini yang ditulis oleh orang berfisik normal. Sedangkan masukan dari masyarakat dan perhatian pemerintah yang sebenarnya menjadi target tulisanku tak disinggung sama sekali. Padahal, aku sebagai penyandang ketunaan itu sendiri mengharapkan kontribusi yang berarti dari pihak pemerintah maupun masyarakat bagi keberlangsungan penTapi mungkin akupun masih terlalu mentah untuk berdiplomasi. hahaha, gak usah diketawain yah, teman!
Ah, akupun pulang dengan perasan tak enak. Aku memang baru kali ini berurusan dengan pihak media. tadinya melalui tulisan perdanaku ini, aku ingin memberikan sebuah efek bagi kepentingan semuanya. yandang ketunaan sekarang dan yang akan datang. Disamping bukti-bukti bahwa janji-janji mereka belum maksimal terrealisasi. Aku mencoba menjelaskan itu pada ibu ..... agar dia mau mengerti dan mau memuat tulisan yang semalaman telah kutulis dengan berkonsultasi pada orang-orang yang berkompeten dibidang ini. Tapi, ya, tetap saja argumenku sudah tak berlaku. alasannya, tulisan yang dimaksud sudah mulai diolah dan siap diterbitkan.itu menurut mereka lebih menarik karena dia menulis dari sudut pandang orang yang menilai keberadaan penyandang ketunaan. Saat aku meminta izin untuk mengetahui isi tulisan tersebut, dan temanku membacakannya, aku agak sdikit tertegun. Dalam tulisan itu yang dimuat hanyalah sisi baik dan positif yang dilebih-lebihkan penulis terhadap penyandang ketunaan. 9

duh, maaf

duh maaf bgt masih adaptasi sama leptopnya jadi tulisannya ngelantur ga tw gimana. pokonya kl gak ngerti maaf bgt ya teman-teman.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.