Kesulitan hidup seorang tunanetra
Halo teman – teman kartunet.
Salam kenal sebelumnya.
Langsung saja, apa pendapat teman – teman tentang tulisan di bawah ini? Silahkan di share di sini ya 
KESULITAN HIDUP SEORANG TUNA NETRA
... Sebagai dampak dari tidak optimalnya indra penglihatan, dalam kehidupannya tunanetra menghadapi berbagai kesulitan – kesulitan yang terkadang tidak kita sadari. kesulitan tersebut mencakup berbagai aspek kehidupan, diantaranya :
a. pendidikan
Kurangnya sarana pendidikan bagi tunanetra yang memadai seperti sekolah luar biasa ( SLBA ). Faktanya di Indonesia hanya mempunyai sekolah luar biasa hingga setingkat SLTP. Itupun hanya di beberapa daerah saja. Lebih jauh, keberadaan SLB tersebut juga sudah mulai dikurangi. Pihak-pihak terkait mulai menggalakkan sistem inklusi (sistem yang mengintegrasikan siswa tunanetra ke dalam sekolah-sekolah non-SLB). Dari penelitian yang ada penerapan sistem inklusi juga mendatangkan kesulitan tersendiri bagi siswa-siswa tunanetra. Beberapa hambatan yang di temui antara lain:
(1). Kurangnya pembekalan dan pemahaman bagi tenaga pengajar sehingga mereka sering salah dan tidak mengerti dalam menangani siswa-siswa tuna netra. Formula metode pengajaran yang diterapkan juga sering tidak tepat sasaran. Belum lagi ketidakmampuan guru memahami tulisan braille membuat proses penilaian hasil kerja menjadi lebih sulit dan tidak optimal.
(2). Kurangnya sarana dan prasarana pihak sekolah selaku wadah integrasi. Tidak tersedianya peralatan pendukung seperti komputer bicara, teks book dengan huruf braille, audio book, bahkan mesin ketik. Peralatan yang ada biasanya tidak dapat digunakan oleh tunanetra. Keterbatasan ini menghambat proses penyerapan materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
(3). Di dalam pergaulan, sering sekali terdapat sekat (gap) antara siswa tunanetra dengan mereka yang non tunanetra. Penyebabnya beraneka ragam. Mulai dari rasa tidak percaya diri yang berasal dari tuna netra itu sendiri hingga penolakan yang datang dari siswa-siswa non tuna netra dengan berbagai alasan pula. Tanpa disadari keadaan tersebut sedikit banyak menimbulkan tekanan pada siswa tunanetra.
(4). Kurangnya kesadaran dan pemahaman pihak-pihak pengelola sekolah. Kaum tunanetra sering mengalami penolakan ketika ingin mendaftar khususnya di sekolah-sekolah favorit. Dengan alasan, pihak sekolah tidak siap dan tidak tahu bagaimana mengajar siswa-siswa tunanetra.
b. Sosialisasi
Dalam aspek sosialisasi terdapat dua faktor yang menjadi penghambat bagi tunanetra yaitu faktor penghambat yang datang dari dalam diri tunanetra itu sendiri (internal) dan dari luar diri tunanetra (eksternal). Faktor internal meliputi rasa rendah diri, tidak percaya diri, merasa berbeda dari orang berpenglihatan normal dan sering kali merasa takut dirinya menjadi beban bagi orang lain. Perasaan-perasaan tersebut membuat tunanetra enggan untuk bersosialisasi dengan mereka yang non tunanetra. Sebagai gantinya, kaum tuna netra cenderung membentuk kelompok sendiri. Adapun faktor penghambat eksternal meliputi rasa enggan orang-orang non tunanetra untuk berteman dengan orang tunanetra. Biasanya perasaan tersebut muncul karena mereka takut dan tidak tahu cara menangani tunanetra. Selain itu, lingkungan yang tidak aksesibel juga menjadi penghambat utama bagi tunanetra untuk melakukan mobilitas sosialisasi.
c. Pekerjaan
Tantangan terberat bagi tunanetra adalah memperoleh pekerjaan. Di Indonesia sendiri pihak-pihak yang mempekerjakan tunanetra masih sangat sedikit. Kaum tunanetra dipandang tidak berkompeten, tidak mampu mengemban tanggung jawab bahkan dianggap hanya akan menyusahkan dengan kekurangan yang dimilikinya. Selain itu, untuk pekerjaan yanag mampu dikerjakan oleh tunanetra sesungguhnya juga terbatas. Profesi seperti dokter, polisi, tentara, arsitek, designer, supir dan berbagai pekerjaan lainnya yang menuntut ketajaman penglihatan sudah tentu tidak dapat dikerjakan oleh tunanetra. Beberapa profesi yang masih mungkin dikerjakan seperti juru masak, guru, pencipta lagu, penyanyi, wira usahawan juga tak banyak diraih oleh tunanetra karena harus bersaing dengan kaum non-tunanetra dan akibat kurangnya kesadaran masyarakat kerap kali persaingan tersebut dimenangkan oleh kaum non tunanetra dengan berbagai alasan.
d. mencari pasangan
Hasrat untuk memiliki pasangan , menikah dan berkeluarga akan dimiliki oleh setiap individu yang berada pada masa tahap dewasa awal termasuk kaum tunanetra. Namun ada beberapa faktor yang menjadi faktor penghambat mereka dalam mmeperoleh pasangan. Proses interaksi sosial yang tidak berjalan baik menjadikan kebanyakan tunanetra hanya memiliki sedikit teman. Bagi beberapa tunanetra yang tidak bersekolah, mereka bahkan tidak mengenal orang lain selain keluarganya. Keadaan itu semakin dipersulit tatkala sebagian masyarakat mennganggap bahwa kebutaan adalah suatu kekurangan yang akan mempersulit kehidupan si penyandang maupun pasangannya. dari sudut pandang masyarakat memiliki keluarga tunanetra, pasangan tunanetra, menantu laki-laki/perempuan tunanetra adalah hal yang memalukan. Semua kondisi di atas mengambil andil bagi penghambat tunanetra dalam mencari pasangan hidupnya.
e. Emosi
Secara umum tunanetra memiliki perasaan yang sensitif akibat kekurangan yang dimilikinya. Perasaan tidak mampu dan rasa rendah diri yang berlebihan sering menjadikan mereka mudah tersinggung oleh kata-kata dan segala sesuatu yang dianggap menyepelekan dan menyinggung kekurangan mereka. Mereka juga sering berprasangka dan mudah curiga terhadap orang lain. Hal ini dapat dimaklumi karena di dalam interaksinya, tunanetra tidak dapat menggunakan penglihatan untuk mendeteksi apa yang terjadi di sekelilingnya. Penggunaan pendengaran dan penciuman menjadikan tunanetra harus mereka-reka apa yang terjadi di sekelilingnya dan tak jarang hal tersebuit memunculkan prasangka yang tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Contohnya seorang tunanetra yang sedang duduk menunggu bus di halte mendengarkan dua orang di sebelahnya sedang berbicara lirih dan tertawa terkikih. Karena tidak dapat melihat ekspresi wajah atau gelagat mereka maka si tunanetra dapat berprasangka bahwa ia sedang dibicarakan, walau pada kenyataannya mereka bukan membicarakan dirinya. Si sisi lain, tunanetra sering menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi. Mereka mencari-cari penyebab suatu peristiwa buruk dari diri mereka sendiri dan biasanya ketidakmampuan mereka yang tidak dapat melihat menjadi kambing hitam atas kejadian tersebut. Mereka biasanya bermain dengan pikiran mereka sendiri, mengumpulkan informasi dari dalam pikiran mereka, mereka-reka dengan daya imajinasi mereka, dan mengambil kesimpulan atas imajinasi tersebut. Dampak buruknya, apabila kesimpulan imajinasi tersebut berujung pada sesuatu yang menyedihkan maka hal tersebut akan mempengaruhi kejiawaan sang tunanetra , walau pada kenyataannya hal itu hanya khayalan semata. Karena ditentukan oleh daya imajinasi maka suasana hati seorang tunanetra sangat labil, mudah berubah tergantung khayalan yang ada saat itu. Jika ia berkhayal tentang sesuatu yang baik, maka suasana hatinya pun baik. Demikian sebaliknya ia sedang berpikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan maka seketika itu juga suasana hatinya akan berubah. Dengan kata lain, perubahan suasana hati seorang tunanetra ditentukan dari dalam dirinya dan bukan dari lingkungan.
- Login or register to post comments
- 2374 reads


- PDF version
Tulisan Terkait
- Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Inklusif
- ALASAN SISWA TUNANETRA BERSEKOLAH DI SEKOLAH UMUM
- MUHANI, SEBERKAS CAHAYA BAGI TUNANETRA
- Screen Reader yang Ramah bagi Tunanetra Indonesia
- ZAINAL, DUNIA SOSIAL SEBAGAI TANGGUNG JAWAB MORAL
- KEMUDAHAN DAN DAYA JUANG
- Seandainya Aku Menteri Sosial RI
- ISU-ISU PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN DISABILITAS
- JPO PADJAJARAN TAK LAGI EFEKTIF
- Anomali Penggunaan Software "Bajakan" oleh Penyandang Disabilitas




hmm, artikel yang bagus.
hmm, artikel yang bagus. sebenarnya kalau menurut aku, kapan dan dimanapun seorang tunanetra memasuki sistem inklusi, selama orang2 terdekat seperti keluarganya memberi perhatian dan supoot yang baik, si anak akan lebih mudah melewati itu semua. Sebab memang zaman sekarang ini sepertinya eksistensi tunanetra dalam menempuh pendidikan sudah sangat menurun, buktinya di kota Bandung yang notabene jadi pusat tunanetra yang formal kususnya sudah mengalami penurunan minat untuk menuju gerbang inklusi, hal itu disebabkan bukan hanya dari ketidak mauan, melainkan juga ketidakmampuan. Adapun tunanetra yang ingin melanjutkan jenjang SMA ke SMA negeri, akan terbentur dengan jumlah standar nilai yang ditetapkan pihak sekolah, dan itu nyatanya, sekolah di SLB dengan kurikulum yang ada ternyata tidak membuat siswa bisa lebih baik dari kualitas kemampuannya. Bahkan siswa yang berasal dari SLB itu sendiri, selepas SMA merekapun tidak lulus ujian SMPTN. bahkan menurut catatan paling banyak untuk 4 tahun terakhir ini dirata-ratakan jumlah siswa yang masuk perguruan tinggi negeri cuma 2 sampai 4 orang saja, itupun bukan semua dari SLB. padahal, yang saya ingat, tahun 2006-2007 masih banyak siswa tunanetera yang lulus ujian SPMB seperti angkatan saya dari 22 peserta yang mengikuti SPMB kusus tunanetra yang dipusatkan di ITB menghasilkan 16 orang yang lulus.
Itu terbukti, bahwa kurikulum yang diterapkan di SLB bukan suatu jawaban atau penyelesaian bagaimana agar kualitas kemampuan siswa itu dapat menyaingi kemampuan anak normal. satu saja saran saya, jangan takut terjun pada pendidikan inklusi, kita cuma butuh mental yang cukup untuk bisa mendapatkan pendidikan yang jujur, tak akan didapat kalau di SLB.
ikut ksh pendapat
wah wah asyik forum curhat makin rame nih. salam kenal jg ya buat mba mega. pastinya ini bukan ibu Megawati mantan presiden kita kan? hehe. saya sependapat dengan artikel kiriman mas adi di atas. saya termasuk yang tidak setuju kalo tunanetra sudah harus berinclusi ketika duduk di bangku sd. karena anak2 berpenglihatan normal di usia itu dunianya diisi macam2 permainan dan pengenalan warna sehingga menyulitkan untuk diikuti oleh sebagian tunet yang gerak motoriknya terbatas karna hambatan penglihatan. kalo program inclusi mau diterapkan, minimal ketika tuna netra telah duduk di bangku smp karna kesiapan mentalnya sudah lbh siap dibekali nasehat2 dan latihan bersosialisasi dari guru2 dan teman2nya di slb. soal prasangka dan sensitifitas tunet, mungkin bisa dikurangi jika dia memperluas pergaulannya mengenal berbagai macam orang ddan coba memahami mereka.
halo salam kenal... saya
halo salam kenal... saya sependapat dengan artikel di atas, terutama pembahasan mengenai aspek emosional karena ditinjau dari sudut psikologis, tidak sempurnanya kemampuan mendeteksi lingkungan terkadang sering menimbulkan kesalahpahaman. saya jadi penasaran apa hal ini terjadi pada setiap tunanetra ya?
NAH, AYO KASIH PENDAPAT
NAH, AYO KASIH PENDAPAT TEMAN2 TENTANG ARTIKEL DI ATAS.