MEMILIH TOPIK
Assalamu'alaikum semuanya.
Saat ini di rumah saya sedang hujan lebat dan geluduk. Terus terang nggak berani pasang internet lama-lama, karena pernah 3 kali internet disambar petir. Jadi materi ini saya posting saja di sini sekarang, tapi maaf, saya nggak berani online dulu. Kalau nanti sebelum jam 22:30 geluduk reda, saya akan segera online lagi. Tapi kalau tidak, ya mohon maaf. Materi ini akan kita bahas di pertemuan berikutnya saja ya. Selamat belajar.
MEMILIH TOPIK
Memilih topik tulisan nonfiksi seringkali menjadi batu sandungan bagi penulis pemula. Sepertinya sulit sekali mendapatkan ide, padahal ide tulisan bertebaran di mana-mana. Sebenarnya yang menjadi masalah adalah: ide atau topik mana yang harus ditangkap?
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memilih topik adalah dengan mengamati serta mempelajari topik yang sering muncul di surat kabar atau majalah. Karena media cenderung untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pembacanya, maka topik yang disukai media biasanya adalah topik yang juga disukai pembaca, seperti:
1. Hal-hal yang berhubungan dengan manusia (human interest). Misalnya: kesehatan, hak asasi manusia, lingkungan hidup, persahabatan, hubungan antarpersonal, dan lain-lain. Media yang banyak memunculkan topik semacam ini adalah majalah dan tabloid wanita.
2. Hal-hal yang berhubungan dengan drama kehidupan. Setiap orang, sejak zaman dulu, selalu menyukai drama. Banyak aktivitas kehidupan kita yang berkaitan dengan dramatisasi. Mulai dari dramatisasi yang dibolehkan, seperti dokter anak yang berusaha menyenangkan hati pasiennya dengan cara “bermain drama” supaya pasiennya itu mau diperiksa, sampai dramatisasi yang terlarang, seperti orang yang mati-matian korupsi supaya cepat kaya. Angkatlah topik-topik yang berpotensi memainkan emosi pembaca sebagai bahan tulisan.
3. Hal-hal yang aneh dan ganjil; boleh jadi sesuatu yang dulu dianggap mustahil, tapi sekarang menjadi kenyataan, misalnya saja komputer bicara untuk tunanetra. Bagi kebanyakan orang, komputer bicara adalah sesuatu yang aneh dan baru. Segala hal yang aneh tapi nyata merupakan bahan artikel yang selalu dinilai menarik.
4. Hal-hal yang mempunyai nilai guna atau efek pada pembaca. Boleh jadi berupa kiat-kiat, seperti cara menghilangkan stres, cara beternak belut, kiat membaca efektif, dan lain-lain. Minat dan kebutuhan setiap orang berbeda-beda, jadi hampir tidak mungkin kita kehabisan ide.
Sambil memilih topik, pertimbangkan pula hal-hal sebagai berikut:
1. Apakah topik ini relevan? Pilihlah topik yang relevan atau sesuai dengan disiplin ilmu, latar belakang pendidikan, pengetahuan, atau bidang keahlian kita. Tidak perlu memaksakan diri menulis sesuatu yang tidak kita ketahui atau di luar jangkauan keahlian dan kemampuan kita.
2. Apakah ada nilai didaktis (mendidik) di dalamnya? Sebisa mungkin, pilihlah topik yang mempunyai muatan didaktis.
3. Apakah topik ini sudah sering dibahas? Pilihlah topik yang aktual, fenomenal, kontroversial, atau masih jarang diangkat. Hal ini penting untuk memancing minat pembaca membaca artikel kita. Jangan memilih topik yang sudah dibahas di mana-mana, karena akan terasa hambar dan membosankan. Tapi juga tidak perlu mencari topik yang terlalu asing dan baru, karena boleh jadi kita sendiri nanti yang kesulitan mencari referensi.
4. Apakah kita memerlukan rujukan tambahan untuk menulis? Bila ya, cari tahu, di mana rujukan itu bisa diperoleh. Rujukan atau referensi sangat penting dalam penulisan nonfiksi. Salah satu tujuannya adalah agar kita dapat menulis secara terpandu, lebih efektif dan lebih efisien.
5. Majalah atau koran apa yang paling sesuai untuk tulisan kita? Apa nama rubriknya? Saat menulis, sebaiknya kita sudah punya sasaran, tulisan kita akan dikirim ke media apa dan untuk rubrik apa. Semakin kita memahami karakter media dan rubriknya, semakin mudah bagi kita menyesuaikan isi dan gaya tulisan kita.
Setelah kita menetapkan topik, jangan lupa menyempitkan topik tersebut agar pembahasan menjadi lebih tajam dan mendalam. Topik yang fokus dan terbatas akan lebih mudah dikembangkan menjadi tulisan yang singkat, padat, detail, dan dengan pesan yang jelas. Sebaliknya, topik yang tidak fokus akan membuat tulisan kita tidak berisi dan melebar ke mana-mana.
Rujukan:
Semi, M. Atar. Teknik Penulisan Berita, Features, dan Artikel. Cetakan pertama. Bandung: Penerbit Mugantara Bandung. 1995.
Sumadiria, M.Si., Drs. AS Haris. Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis & Jurnalis Profesional. Cetakan kelima. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. 2009.
Wah, udah malam ternyata, pantas mataku udah mulai redup2... Hehehe... Kayaknya sampai di sini dulu deh mbak malam ini. Insya Allah besok aku coba cari2 refrensi lagi buat nulis. Nanti aku nanya2 lagi ya mbak kalo ketemu di mitra 
Makasih mbak Mila, Assalamualaikum 
Sip. Makasih juga Dhani. Maaf ya, waktunya jadi sempit. Wa'alaikumussalam. 
"Kak Dhani, Mbak Mila. Duluan, Assalamualaikum!"
Wa'alaikumussalam. Selamat istirahat, Senna. 
Asyiknya kemping bersama Disabilitas
Tahun baru kali ini, 2012. Saya dan beberapa teman mengadakan kemping di Gunung Bundar Bogor. Segala macam peralatan kemping seperti tenda, alat masak, dan tongkat pramuka telah kami persiapkan. Nah, bagaimanakah kisah selanjutnya. Apakah sukses kami mengadakan kemping dengan kondisi Disabilitas kami? simak kisah selanjutnya!"
O ow! Bukan begini bentuk kerangka karangan.
Oke, lain waktu kita belajar membuat kerangka karangan ya. 
Ada lagi mbak.
Aku sempat terpikir pengen nulis artikel ringan tentang tips bagaimana menyelesaikan skripsi dengan tepat waktu. Tapi aku bingung cari tambahan refrensi, kalo cuma berdasarkan pengalaman pribadi aja rasanya dikit banget. Tapi kalo aku searching di google dan ternyata banyak yang nulis tentang itu, apakah itu berarti topik itu udah gak aktual atau fenomenal?
Untuk tambahan referensi, coba masuk ke hal-hal lain yang mendukung dalam penulisan skripsi. Misalnya teknik membaca cepat, kiat melakukan riset, tips wawancara dengan narasumber, dll yang mendukung. Jadi isi artikel Dhani nantinya bukan hanya bicara soal bagaimana menulis skripsi. Tapi juga tentang hal-hal lain yang mendukung skripsi lebih cepat diselesaikan. Dengan cara seperti itu, mudah-mudahan artikel Dhani jadi berbeda dari artikel-artikel sejenis yang sudah ada.
Soal banyak atau tidak orang yang sudah pernah menulis topik itu, sebetulnya tidak terlalu menjadi "masalah". Kalau kita tahu ke mana kita harus mengirimkan tulisan kita, seberapa pun seringnya topik sejenis diangkat, tidak masalah. Asalkan jangan dibuat dengan cara plagiat, dan harus menampilkan sesuatu yang baru. Dan yang lebih penting lagi, dekati target pembaca. Cari tahu, kelompok pembaca mana yang selalu membutuhkan info semacam ini.
Untuk artikel semacam ini, selain misalnya ditulis di blog pribadi, bisa juga dikirim ke redaksi majalah kampus atau majalah remaja. Topik yang berkaitan dengan skripsi selalu faktual bagi mahasiswa.
"Ok, kemping bersama Disabilitas. Bertempat di Gunung Bundar Bogor. Tepatnya, kami merayakan Tahun baru. Dan kayaknya ini sudah basi ya, tp keunikkannya masih ada. Yaitu, gimana caranya Tunanetra kemping? masang tendanya? nyari kayu bakarnya? ngangkutin air buat masak? dan lain-lain. Itu pastinya seru, dan membuat pembaca penasaran> begitukah?"
Boleh. Bagus!
Nah, coba disusun kerangka karangannya secara singkat.
"Asyiknya kemping bersama Disabilitas, rubrik kisah perjalanan, majalah ... Diva mungkin."
Hmm... tulisan diffa pakai dua f, bukan v.
Oke, bagus. Coba persempit idenya. Kemping ke mana? Dengan siapa saja? Berapa lama? Acaranya apa? Dan lain-lain yang dianggap perlu untuk penajaman ide.
"Kak Dhani bukannya masih ada? sepertinya nggak mbak. Materinya cukup jelas,"
Oya, Dhani udah online lagi. Tadi kelihatan off soalnya. Hehehe...
Nggak ada pertanyaan? Bagus. Kalau begitu, tinggal dikasih tugas. Hehehe...
Ayo, coba Senna cari 1 ide saja untuk dijadikan tulisan. Tentukan majalah dan rubriknya sekalian.
Aha! Akhirnya mbak Mila datang juga 
Maaf mbak, tadi biz jalan2 ke facebook... Hehehe...
Mbak, kalo pemilihan topik seperti hal2 yang agak mirip drama gt apakah berlaku juga untuk nonfiksi? Nanti jadi kayak cerpen dong?
Oh iya, aku pengen nulis opini lagi, tapi bingung nih mbak milih topik dan cari refrensi. Bagusnya topik apa ya kalo nulis opini? Berita yang aktual, tapi relevan dgn latar belakang pendidikanku... Hmmmm, apa yah? Heuheu 
Hehehe.... mirip drama bukan berarti lantas menjadi fiksi. Yang dramatis adalah ide, topik, atau temanya. Dramatis artinya menyentuh perasaan, menggugah emosi. Tapi tetap berdiri dalam koridor fakta.
Misalnya Dhani ingin membuat opini yang berbau humanis. Dhani bisa angkat kasus Satpam vs Suster Ngesot di Apartemen Ciumbuleit beberapa waktu lalu. Tinjau dari sisi keadilannya. Apakah adil, bila seorang Satpam yang punya inisiatif tinggi menjaga keamanan dan oleh karenanya menendang si "suster ngesot" secara tidak sengaja diadili dan dijatuhi hukuman berat? Nah, topik semacam itu mengusik rasa keadilan setiap orang. Itulah yang dimaksud dramatis dalam memilih topik untuk tulisan nonfiksi.
Untuk menulis Opini lagi, latar belakang pendidikan bukanlah satu-satunya pijakan. Minat dan ketrampilan yang didapat secara nonformal juga bisa jadi pijakan. Dhani punya minat dan ketrampilan di bidang apa?
Apa ya? Mungkin aku lebih minat ke sastra atau humaniora. Lalu karena belakangan ini lg aktif di lingkungan disabilitas, jadi otak ku banyak terkontaminasi dengan hal2 yang berkaitan dengan disabilitas.
Kalo mau nulis opini, mungkin bisa aku ambil topik dan ditinjau dari sudut pandang sastra, budaya atau humaniora aja kali ya mbak?
Bisa. Misalnya apa? Apa isu disabilitas yang berkaitan dengan sastra/budaya/humaniora?
Nah, itu dia mbak! Aku masih suka bingung ketika aku coba pilih topik, dan mencoba mengkaji dengan latar belakang pengetahuan dan minatku.
Nanti coba deh aku pikirkan lagi dan coba cari refrensi.
Yang penting sebelum nulis kita cari sasaran media dulu ya mbak?
Hmmm... begini saja.
Coba Dhani perhatikan, Dhani merasa keingintahuan dan minat Dhani tiba-tiba bangkit ketika membaca atau mendengar tentang apa? Biasanya, kita tahu cukup banyak tentang sesuatu yang kita minati. Kalaupun kita belum cukup tahu, kita tentu dengan senang hati akan cari tahu. Kalau Dhani sudah ada dalam kondisi seperti ini, "persayaratan latar belakang pendidikan" tidak akan terlalu menjadi kendala lagi.
Sasaran media dan rubrik bisa dicari sambil jalan. Bisa saja kan, pas Dhani baca sebuah rubrik di koran X, eh minat Dhani tiba-tiba bangkit. Boleh jadi Dhani berminat ke temanya saja. Tapi mungkin juga Dhani tiba-tiba tertarik kepingin menulis di rubrik tersebut.
Kalau kita sudah semakin tahu apa minat kita, dan wawasan kita tentang rubrik-rubrik di koran/majalah sudah semakin meningkat, insya Allah kita tidak akan terlalu bingung lagi. IMHO, Dhani sekarang bingung karena masih belum punya cukup gambaran tentang rubrik-rubrik di koran/majalah. Banyak-banyaklah membaca supaya wawasan kita tentang koran/majalah bertambah.
Halooo.... akhirnya geluduknya reda juga. Meskipun belum berhenti sama sekali. Bismillah aja....
Jadi gimana? Sudah baca materinya?
"Alhamdulillah, akhirnya Mbak datang juga. Masih hujan rupanya mbak?"
Udah reda. Geluduknya juga udah tinggal dikit-dikit.
Kayaknya cuma kita berdua ya? Dhani udah off. Hehehe... Maaf ya....
Senna ada pertanyaan?
"Kak Dhani, sepertinya ada hujan deras di tempat mbak Mila. Wah, Bu Mus menghilang, tinggal Lintang dan Sarah."
Halooooo... I'm coming 
Mbak Mila mana yah?
Hmmm, memilih topik... Sepertinya ini masalah saya. Baca2 dulu ya 
"Halo mbak, gimana kabarnya? sepi sekali malam ini. Mentang2 hujan kali ya? hahaha!
Post new comment
Tulisan Terkait
- ARTIKEL PRAKTIS DAN ARTIKEL RINGAN
- Menyusun Kerangka Karangan
- request certificate di sini.
- Tutur tinular seri 149 dan 150
- tutur tinular seri 183 dan 184
- Menulis Resensi Buku
- Menulis Kisah Perjalanan
- 10 tehnik ngeblog yang harus dimiliki bloger
- Cara Mendisiplinkan Diri Demi Karier Kepenulisan
- MELATIH BERFIKIR KRITIS




