Menulis Kisah Perjalanan
Assalamu’alaikum wr wb,
Apa kabar semuanya? Mudah-mudahan semakin semangat belajar menulis ya, terutama nonfiksi. Hehehe... promosi ceritanya nih...
Nah, sebelum kita mulai materi online kita kali ini, saya ada sedikit pengumuman.
Di pertemuan tatap muka Jumat pekan depan (25 November 2011), insya Allah kita akan kedatangan dosen tamu, namanya Mas Nur Hidayat. Menjadi wartawan sejak 1988, Mas Nur ini termasuk wartawan senior untuk majalah dan koran, antara lain majalah Humor, Matra, dan Koran Tempo. Saat ini Mas Nur adalah produser di TV Tempo. Teman-teman bisa bertanya apa saja ke Mas Nur, terutama tentang kiat menulis nonfiksi yang baik supaya bisa dimuat di koran atau majalah.
Menurut Mas Nur, ada ratusan peluang setiap hari untuk menulis di koran dan majalah. Bayangkan: ratusan peluang setiap hari!!! Atau dengan kata lain, setiap hari koran dan majalah selalu kekurangan tulisan untuk dimuat. Nah, itu peluang besar buat kita kan? Masa sih dari ratusan peluang yang ada, kita tidak bisa menembus satu peluang pun?
Pasti bisa! Karena menurut Mas Nur (dan saya juga sepakat dengan mas Nur), menulis nonfiksi sebetulnya lebih mudah daripada menulis fiksi. Yang harus kita lakukan hanya: mempelajari ilmunya, menguasai kiatnya, dan memasuki hutan rimbanya. Hehehe....
Oke, cukup dulu pengumumannya. Sekarang kita mulai dengan materi online kita hari ini, yaitu "Kiat Menulis Kisah Perjalanan".
KIAT MENULIS KISAH PERJALANAN
Kisah perjalanan termasuk salah satu jenis nonfiksi yang mudah untuk ditulis, karena kamu tidak perlu mendekam di perpustakaan berminggu-minggu demi mencari buku referensi yang dibutuhkan untuk topik tulisanmu. Justru sebaliknya, kamu bisa menulis sambil bersenang-senang di sepanjang perjalanan ke luar kota, ke luar pulau, atau ke luar negeri. Ahaayy... siapa tahu, suatu hari nanti kamu punya kesempatan belajar atau bekerja atau liburan di luar negeri. Amiiinn....
Nah apa saja hal-hal mengasyikkan yang perlu kamu ketahui untuk menulis kisah perjalanan?
1. Ingat-ingat setiap detail tempat, suasana, dan kejadian menarik di sekelilingmu selama dalam perjalanan. Dan ini bukanlah hal yang menyulitkan, karena yang harus kamu ingat biasanya adalah hal-hal yang menyenangkan bukan? Untuk menghindari lupa, bawalah selalu buku catatan atau laptop kecil. Begitu melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang unik dan menarik, segera tulis, jangan tunda sampai lupa. Selain buku catatan dan laptop, ponsel dengan fasilitas rekam dan kamera untuk memotret juga bisa kamu manfaatkan untuk mengabadikan hal-hal menarik selama di perjalanan.
2. Tulis kisahmu secara kronologis. Ini satu lagi kemudahan dalam menulis kisah perjalanan. Tulis saja ceritamu sesuai urutan kejadian. Kalau kamu pergi dengan naik kereta, maka kisahmu bisa dimulai dari jam berapa kamu tiba di stasiun. Lanjutkan dengan menceritakan lama perjalanan, rute perjalanan dan kota-kota yang dilewati, dan jam berapa tiba di stasiun kota tujuan. Terus lanjutkan dengan cerita tentang perjalanan ke penginapan, suasana khas di kota itu, suasana penginapan, makanan khas, kendaraan tradisional, dan hal-hal menarik lain seperti cara khas penduduk setempat menyapa pendatang atau turis, dan sebagainya. Terus catat dan rekam semua kejadian menarik di sana sampai kamu pulang lagi ke kotamu.
3. Sebagai pemandu dalam menulis, gunakan rumus 5W+1H (Who, What, When, Where, Why, dan How) alias Siapa, Apa, Kapan, Di mana atau Ke mana, Mengapa, dan Bagaimana. Cara menggunakan panduan 5W+1H adalah dengan mengajukan pertanyaan yang harus dijawab. Jawaban pertanyaan 5W+1H harus terangkum dalam tulisanmu. Tentu saja dengan penjabaran secara deskriptif.
4. Cari hal yang menarik dan unik, amati secara mendalam, lalu tulis dengan menggunakan sudut pandangmu. Bila perlu, adakan dialog dan ikuti kegiatan yang dilakukan penduduk setempat. Contohnya begini: “Setelah capek jalan pagi, kami ngaso di pinggir sungai sambil merendam kaki. Eh, ternyata kami bertemu dengan seorang ibu setengah baya yang sedang memukul-mukul batu kali. Saya penasaran. Sambil coba-coba ikut memukul batu kali, saya ngobrol dengan ibu tersebut tentang apa yang dia lakukan. Ternyata ibu ini adalah pengumpul batu kali. Batu-batu kali ini dia kumpulkan dari pinggir sungai, lalu dipukul-pukul sampai pecah menjadi potongan-potongan sebesar kepalan tangan. Pecahan batu kali ini dia jual ke bosnya, dan oleh bosnya dijual ke kota. Hmm... siapa tahu batu kali yang kita pakai untuk membangun rumah kita adalah hasil pukulan si ibu tua itu. Oya, ternyata tenaga saya tidak sekuat tenaganya. Meskipun tangan saya sampai pegal dan memerah, saya tidak berhasil memecah batu kali itu satu butir pun. Padahal si ibu bisa memecah batu itu menjadi potongan-potongan kecil hanya dalam beberapa kali pukul saja. Duh....”
5. Gunakan kekuatan indera pendengaran, penciuman, dan perabaanmu untuk menggambarkan atau menceritakan sesuatu dalam tulisanmu. Contoh tulisan dengan gaya seperti ini tampak jelas dalam kisah-kisah perjalanan yang ditulis oleh Pak Irwan Dwi Kustanto. Misalnya saja, untuk menggambarkan tinggi suatu candi, Pak Irwan tidak menyebutnya dalam satuan meter, tapi menyebutkan jumlah anak tangga yang harus dia naiki sampai tiba di puncak candi. Unik dan eksploratif bukan? Silakan baca majalah Diffa bila ingin tahu lebih jauh (ciieeehh.... sekalian promosi nih...)
6. Tulisanmu akan lebih menarik lagi bila menampilkan sedikit fakta ilmiah tentang daerah yang kamu kunjungi. Misalnya, bila kamu berkunjung ke Danau Kelimutu, kamu bisa tuliskan juga letak danau ini secara geografis, luas dan dalam danau, volume air danau di musim hujan dan musim kering, penyebab perbedaan warna air di ketiga danau, dan fakta-fakta ilmiah lain. Informasi ilmiah seperti ini sangat mudah didapatkan di internet, misalnya di situs wikipedia. Kuncinya: jangan malas!
7. Sejarah, legenda atau bahkan mitos tentang daerah yang bersangkutan juga menarik untuk ditulis. Misalnya, kamu bisa tuliskan sedikit kisah tentang asal kata “Banyuwangi", atau cerita tentang asal-usul Pulau Samosir. Informasi seperti ini biasanya bisa kamu tanyakan langsung ke pemandu wisata atau penduduk setempat saat berkunjung ke sana.
Nah, bagaimana? Tidak sulit kan? Ayo mulai menulis!
Wassalamu’alaikum wr wb.,
Duren Sawit, 16 November 2011
Mila K. Kamil
"Kartuneters, sekian dulu pertemuan kita kali ini. Semoga apa yang disampaikan pemateri kita pada malam hari ini dapat memperkaya daya menulis kita. Menulis kisah perjalanan, dapat menambah pengalaman baru dalam dunia tulis menulis. Saya selaku pembawa acara pada malam ini memohon maaf apabila ada kata yang salah. Yang benar datangnya dari Allah SWT semata. Assalamualaikum wr. wb. salam akselerasi!"
asalamualaikum. boleh ikut mbak? masih dibuka lowongan forumnya kan? aku tertarik jg sama materi ini. hmm, aku juga termasuk yang sering membuat tulisan kisah perjalanan. yang paling menarik dari perjalanan yang kutulis saat pertamakalinya aku naik pesawat. hmm, tp apa yang dipaparkan mbak itu benar2 masukan baik buat akhu khususnya. oya, majalah diffa itu bisa dibaca dimana yah? *ketinggalan*
Wa'alaikumussalam.
Wah sepertinya forum sudah mau ditutup, Nensi. Jam belajar kita sebetulnya cuma sampai jam 22.30. Maaf ya. 
Oya, tentang majalah diffa, bisa dibeli di koperasi Yayasan Mitra Netra, toko buku Gramedia, dan Gunung Agung. 
"Wedeeeeeeh! gini br ok, kan enak di dengarnya. Pada semangat, so, udh bc intruksi gw di grup? rafik dimas presi yang gk hadir wijaya jg pokoknya banyak dh.
perlu diajarin atitude yang sesuai kepada senior nih bocah. ck ck ck
Instruksi di Grup mana, Sen?
Ni yang lain mana ya?
Udah jam setengah 11 nih, bolehkah aku pamit? Ngantuk ~_~
saya sudah monitor ya, dan sedang memahaminya, kebetulan nih baru terlibat perjalanan jauh hehehe
Asyiikk.... habis pulang perjalanan jauh, berarti bisa langsung coba nulis catatan perjalanan nih. Hehehehe..... 
Wah jadi vakum ya, karena dikasih tugas. Hahaha... Masih penasaran bikin kalimat pembuka atau mau pindah topik?
Kalau mau pindah topik, boleh.
Contoh kalimat pembuka sudah ada kan? Tinggal dibaca-baca dan dilatih sendiri nanti. 
Aku udah perbaiki kalimat pembuka kok mbak... Terus, selain kalimat pembuka, apa lagi ya mbak yang perlu diperhatikan dalam menulis kisah perjalanan supaya gak garing dan membosankan?
Supaya nggak membosankan? Ya tulislah hal-hal yang menarik supaya nggak membosankan. Hehehehe....
Salah satu hal yang membuat tulisan menarik adalah gaya bercerita, cara kita bertutur dalam tulisan. Meskipun semua informasi tersedia, data lengkap, foto bagus, tapi kalau maksud kalimat tidak jelas, dan cara bercerita tidak menarik, ya tentu orang akan malas membaca. 
Pertanyaan berikutnya: bagaimana supaya bisa menulis dengan gaya tulisan yang menarik? Ya berlatih, berlatih, dan berlatih. Sampai kita menemukan gaya menulis kita sendiri, yang unik, menarik, dan beda dari tulisan orang lain.
Jadi kalo nulis dengan gaya bahasa santai seperti nulis diary gitu boleh ya mbak? Seperti bahasanya reporter di acara jalan2 yang di TV gitu )
Boleh aja kalau cocok dengan karakter media yang kita kirimi artikel catatan perjalanan ini.
Meskipun tentu tetap ada batasan santai dalam bahasa tulisan ya. Karena kalau terlalu santai, khawatir tulisan kita malah sulit dimengerti, atau menimbulkan kesalahfahaman.
Oh, jadi nulis kisah perjalanan juga perlu memperhatikan ciri khas majalah atau selera redaksi juga ya? Gak jauh beda ma nulis cerpen 
Iya, Say. Semua tulisan yang kita kirim ke media, entah itu fiksi atau nonfiksi, harus sesuai dengan konsep media yang bersangkutan. 
Meskipun sama-sama catatan perjalanan, tapi objek yang disorot bisa berbeda, tergantung medianya. Misalnya untuk topik jalan-jalan ke Malang. Kalau kita mengirim artikel ke majalah remaja, kita bisa angkat tentang wisata paralayang di Malang. Sementara kalau kita kirim ke majalah wanita untuk usia 30an tahun, maka wisata kuliner mungkin lebih cocok. 
Begitu pula dengan gaya bahasanya. Tentu berbeda gaya menulis artikel untuk anak-anak dengan artikel untuk pria dewasa.
maaf mbak Mil, baru bisa gabung. anyway, tak ada topik baru ya malam ini? lanjut di thread ini? 
Welcome, Dimas 
Iya lanjutin topik ini aja ya. Di pertemuan lalu kan, boleh dibilang topik ini juga belum sempat dibahas kan?
Mbak Mila, kalo nulis kisah perjalanan, bisa diawali dari mana? Dari persiapan pemberangkatan, atau langsung di lokasi? Kan kalo cerpen biasanya dianjurkan untuk langsung masuk konflik tuh, nah kalo kisah perjalanan gimana? Kalo mulai dari persiapan pemberangkatan membosankan ga ya?
Dari bagian yang menurut Dhani paling menarik untuk diceritakan. Kalau cerita tentang keberangkatan menarik, ya boleh mulai dari situ. Kalau lokasinya yang menarik, ya boleh juga mulai dari lokasi.
Kalau kita mulai dari sesuatu yang menarik, insya Allah nggak akan terasa membosankan.
iya. seperti teknik flash back gitu ya mbak? jadi di awal seperti menceritakan sesuatu yang paling menarik atau menegangkan. terus di kasih jeda untuk kembali ke awal dulu..
Boleh. Teknik flash back, boleh. Yang kronologis juga gak apa-apa.
Atau bisa juga dibuat sub judul berdasarkan pengelompokan tujuan wisata. Misalnya setelah di bagian pembuka bercerita sedikit tentang Yogya dan keunikannya, lanjutkan dengan sub judul tentang candi-candi yang ada di Yogya, lalu sub judul berikutnya tentang museum-museum, dan sub bab terakhir tentang tampat jajan di Yogya.
Konbanwa, minna-san. Osoku matte, sumimasen... Udah sampai mana pembicaraan kita?
Baru mulai kok, Dhan. Aku baru kasih tugas buat Senna, membuat kalimat pembuka. Ayo coba Dhani juga jajal bikin. Pancingannya udah aku kasih di jawaban untuk Senna. 
"Kayaknya, akan ada beberapa yg hadir Mbak Mil. Tapi belum pasti, rafik mudah-mudahan hadir. Dia lagi mencoba memperbaiki laptopenya. Sense Dani agak malam hadirnya, mungkin sekitar jam sembilan. Jadi, apakah dalam menulis kisah perjalanan di batasi halamannya? dan idealnya kita membuka kisah perjalanan dengan kalimat seperti apa, biar menarik.
Oya Rafik ada masalah dengan laptop-nya ya? Mudah2an segera bisa diperbaiki deh. 
Dhani kita tunggu sambil diskusi.
Soal jumlah halaman, tergantung kebijakan majalah atau korannya. Tapi sebagai ancer2, kalau di diffa, mereka mensyaratkan 4 halaman, dengan mengirimkan 5 foto.
Contoh kalimat pembuka? Coba Senna jajal bikin. Nanti aku kasih masukan. 
Horeeee... Rafik datang!!! Apa kabar Aceh???? Udah sampai Jakarta atau masih di Aceh nih? 
Gimana Sen? Udah ada ide? Aku kasih pancingan ya...
Yang paling mudah adalah dengan menyebut nama tempat di kalimat pertama. Tapi jangan hanya nama tempat. Sebut juga ciri khas tempat tersebut, atau julukan untuk tempat tersebut.
Misalnya: Yogyakarta
Coba buat kalimat pembuka dari "Yogyakarta" tersebut. Apa keunikan Yogyakarta? Apa julukan untuk Yogyakarta?
Yogyakarta kota gudeg, banyak candi dan ada keraton. Terus nulis kalimat pembukanya gimana dong, mbak? Hihihi... 
Kalo gini gimana:
Belasan jam kutempuh perjalanan dengan kereta, akhirnya sampai juga aku di kota gudeg.
Coba susun kata "Yogyakarta" "gudeg", "candi" dan "keraton" dalam satu kalimat. Kalau terasa overload, pakai 2 kata saja. Misalnya "Yogyakarta" dan "gudeg". Atau "Yogyakarta" dan "keraton". Coba bikin kalimatnya yang atraktif.
Kalimat yang "belasan jam... dst" sebaiknya jangan ditaruh di awal kalimat. Kenapa? Karena kata "belasan jam perjalanan" membuat orang berpikir, duh capek ya ke Yogya, sampai belasan jam di kereta. Alamat pinggang pegel pantat panas nih. Orang jadi tidak tertarik karena belum apa2 sudah menbayangkan capek dan lamanya perjalanan ke Yogya.
Coba tampilkan sisi menariknya dulu dari Yogya. Baru setelah itu, boleh tulis tentang lama perjalanan dst.





