Menulis Resensi Buku
Assalamu'alaikum wr wb.
Sebelum kita mulai kelas online, aku ingin sampaikan pengumuman dari Mas Nur ya. Untuk pekan depan, di pertemuan tatap muka, Mas Nur minta teman-teman membuat satu artikel Opini (kalau belum bisa jadi tulisan, minimal sudah punya tema) untuk dibahas bersama. Oke?
Nah, sekarang kita mulai diskusi kali ini dengan tema "Menulis Resensi Buku". Silakan dibaca.
MENULIS RESENSI BUKU
Mila K. Kamil
Resensi buku adalah kupasan atau pembahasan tentang buku yang dimuat di media massa, seperti surat kabar atau majalah. Resensi bertujuan untuk memberi tahu kepada calon pembaca tentang keunggulan dan kelemahan sebuah buku, sekaligus memberi saran kepada calon pembaca mengenai perlu atau tidaknya sebuah buku dibaca. Bila kita adalah seekor, eh seorang kutu buku, maka menjadi resensator atau penulis resensi buku tentu merupakan profesi yang sangat menyenangkan.
Apa saja manfaat meresensi buku?
1. Ilmu dan wawasan bertambah. Bekerja pun tidak terasa sebagai beban karena yang kita kerjakan tak lain adalah hobi kita sendiri. Pada dasarnya, semua orang, dengan latar belakang apapun, bisa menjadi resensator. Syaratnya: suka membaca dan punya kemauan untuk belajar. Resensator asal Yogyakarta, Nur Mursidi dulunya adalah seorang loper koran.
2. Mendapat imbalan bila resensi kita dimuat di media.
3. Mendapat buku gratis. Resensator terkenal Hernadi Tanzil sering mendapat hadiah buku gratis dari para penulis yang bukunya dia resensi. Selain dari penulis, seorang resensator boleh jadi juga mendapat buku gratis dari penerbit. Kok bisa? Begini caranya. Bila media sudah memuat resensi buku yang kita tulis, guntinglah artikel itu lalu kirimkan ke penerbit yang bukunya kita resensi. Biasanya penerbit akan berterima kasih karena kita sudah membantu mereka berpromosi, dan mengirimkan buku-buku baru yang lain kepada kita untuk kita resensi lagi.
4. Sebagai salah satu jalan untuk jadi penulis buku. Jika Anda sudah bersahabat baik dengan penerbit, bukan tidak mungkin akan terbuka jalan bagi Anda untuk menjadi penulis di penerbit tersebut.
Nah, bagaimana? Sudah menemukan buku bagus untuk diresensi? Sekarang, ayo kita mulai belajar menulis resensi! Berikut adalah langkah-langkah meresensi buku:
1. Potretlah sampul buku itu. Resensi buku yang baik harus menampilkan sampul buku agar pembaca dapat melihat secara langsung tampilan buku itu. Sebutkan hal-hal menarik terkait kondisi fisik buku, misalnya: menggunakan hard cover sehingga tidak mudah rusak, ilustrasi yang unik karena berupa foto asli, jenis dan warna huruf eye-catching.
2. Buatlah judul resensi serta paragraf pembuka yang menarik. Judul resensi boleh sama, boleh juga berbeda dari judul buku yang diresensi. Bila kita ingin memberi judul yang berbeda, pastikan judul resensi sesuai dengan konteks buku yang diresensi. Cari bagian paling menarik dari buku itu dan ulas di paragraf pembuka.
3. Tulislah identitas buku, yang meliputi: [1] judul buku (harus ditulis dengan lengkap dan benar; bila buku terjemahan, tulis pula judul aslinya), [2] nama penulis, [3] nama penerjemah (bila buku terjemahan), [4] penerbit, [5] cetakan dan tahun terbit, [6] tebal buku dan jumlah halaman, serta [7] harga buku. Resensi buku yang kita tulis akan menjadi referensi bagi orang banyak. Karena itu, berhati-hatilah, jangan sampai salah menulis ejaan.
4. Sebutkan jenis buku (fiksi atau nonfiksi) dan temanya. Sebutkan pula, apakah buku itu asli ditulis oleh si penulis, terjemahan, atau saduran.
5. Buatlah sinopsis singkat dari buku itu. Bila buku yang kita resensi adalah novel, ada baiknya menjelaskan jalan cerita novel itu secara sepintas. Bila buku tersebut nonfiksi, jelaskan isi buku secara singkat dan kronologis. Berikan penilaian yang kritis dan objektif.
6. Sebutkan kelebihan dan keunikannya. Jelaskan bahasa yang digunakan, apakah bahasa formal atau bahasa gaul. Jelaskan pula cara penyajiannya, apakah mudah dimengerti atau menggunakan banyak istilah teknis. Jika perlu, Anda bisa mengutip beberapa kalimat dengan menyebutkan nomor halamannya. Bila menurut Anda buku itu memang layak dibaca, Anda boleh merekomendasikan buku itu kepada pembaca.
7. Cari dan sebutkan pula kelemahan buku, namun jangan berlebihan hingga terkesan menjelek-jelekkan. Perhatikan kekurangan dan/atau kesalahan dalam buku, seperti alur yang meloncat-loncat, kata atau kalimat yang sulit dimengerti, makna yang bias, ukuran huruf yang terlalu kecil sehingga sulit dibaca, atau yang lain. Bacalah buku sampai selesai. Jangan memberi penilaian sebelum kita selesai membaca.
8. Bila memungkinkan, tulislah latar belakang si penulis buku. Bila Anda bisa meresensi buku berbobot yang ditulis oleh penulis terkenal, itu lebih baik lagi; nilai jual tulisan Anda akan lebih tinggi. Meskipun begitu, kita tetap harus bersikap objektif saat meresensi. Jangan karena buku yang kita resensi adalah buku karya penulis besar favorit kita, lantas kita terlalu memuji-muji buku tersebut dan mengabaikan kekurangannya.
9. Sebagai penutup, informasikan kepada pembaca, untuk siapa buku itu ditujukan, dan mengapa buku itu penting untuk dibaca.
10. Jangan terlalu panjang. Untuk pemuatan di koran dan majalah, panjang maksimal sebuah resensi biasanya 900 kata.
11. Jangan lupa menulis nama Anda sebagai resensator. Ini merupakan cara untuk menunjukkan bahwa karya resensi Anda bisa dipertanggungjawabkan, sekaligus cara praktis untuk membuat diri Anda lebih cepat dikenal sebagai resensator. Hehehe…
Saya bekerja di salah satu Penerbit Nasional. Sedang mencari resensator untuk buku - buku baru Kami yang terbit sepanjang tahun 2012 ini. jika berminat silahkan email CV dan list buku-buku yang pernah di resensi dan tayang di media cetak nasional maupun lokal.
email : ekoz_ekoz@yahoo.com
menarik materinya mbak Mila. maaf saat kelas online modem saya dipinjam adik, jadi ga bisa ikut nimbrung. tapi saya sudah baca qo materinya. terima kasih mbak Milla ilmunya 
Wah, udah abis ya waktunya? Asik banget nih materi kali ini 
Makasih untuk hari ini, mbak. Empat jempol deh buat mbak Mila 
Met bobo semua 
Masih ada yang mau nanya? Sudah jam 22:50 waktu Indonesia bagian Duren Sawit.
"Saya kira, malam ini cukup mbak Mila? apakah Mbak Mil sudah memejamkan mata? beberapa menit lagi jam sebelas!"
Oke Sen. Ditutup aja ya. Udah jam 11.
Dadah semua. Met bobok. Jangan lupa kerjakan PR dari Mas Nur yaaaaa..... 
Mungkin ini pertanyaan terakhir dari aku.
Kalo resensi kita dimuat di media, terus kita kirim klipingnya ke penerbit buku tsb, pada surat pengantar kita bilang apa mbak ke penerbit?
Misal: "saya telah meresensi buku berjudul A, kemudian dimuat di media X". Terus apa lagi?
Terus satu lagi, mbak Mila ada refrensi gak media mana aja yang terima kiriman resensi? Tapi Selain annida online, biar ada pilihan gitu 
Untuk surat pengantar, selain yang sudah Dhani sebutkan, bisa ditambah, misal minta kritik dan saran. Dan kalau pede, tawarkan aja jasa kita untuk meresensi buku terbitan dia yang terbaru. Proaktif aja. Hari gini gitu lho. Kalo mau dapat proyek harus proaktif. Hahaha.....
Dengan mengajukan penawaran secara langsung, dia juga akan langsung bereaksi, menilai tulisan Dhani, "kira-kira Dhani memang dianggap layak atau nggak ya, untuk bantu kita promosi," gitu kira-kira jalan pikiran si penerbit. Dan kalau menurut dia, Dhani layak, mudah-mudahan dia akan segera kirim buku baru untuk Dhani resensi lagi.
Hampir semua media punya rubrik resensi. Koran dan majalah, hampir semua ada.
wah mati lampu nih, batre saya gak kuat lama2, pamit duluan ya semua, sorry!
Apakah mendeskripsikan cover menjadi bagian penting dalam nulis resensi? Nanti yang tunanetra gimana mbak? Kan gak bisa lihat cover.
Kalo aku sih masih bisa lihat cover, tapi kan aku lebih sering baca buku pake DTB, jadi gak tahu juga cover nya kayak apa. Gimana ya mbak?
Mendeskripsikan cover bukan keharusan dalam meresensi. Yang menjadi keharusan adalah MENAMPILKAN cover. Kasih liat, pajang cover buku tersebut di resensi yang kita tulis. Orang yang non-tunet kan bisa menilai sendiri bagus tidaknya cover itu toh? 
Baca buku pakai DTB untuk meresensi juga boleh-boleh saja. Meskipun memang akan ada beberapa elemen yang mungkin nggak terbahas karena nggak terdekteksi oleh buku versi DTB, misalnya format huruf. Ini pun tidak apa-apa tidak terbahas, karena bukan hal prinsip.
Nah, untuk mengatasi hal-hal yang tidak terdeteksi oleh tunet maupun DTB, Dhani harus memperkuat pembahasan tentang KONTEN buku itu. Bahas temanya, alurnya, sistematika penyajiannya, referensi yang dipakai, dan semua unsur yang memperkuat konten buku.
Membahas konten adalah unsur terpenting dalam menulis resensi. Dan hal itu sangat mungkin dilakukan teman-teman tunet. 
Kalo baca pake DTB kan gak bisa potret cover bukunya mbak? Masa potret CD DTB? Heuheu 
Oh iya, satu pertanyaan lagi. Buku yang baik untuk diresensi tuh yang content nya padu spt novel atau gimana? Kalo buku yang berisi kumpulan tulisan seperti cerpen gitu boleh gak mbak?
Kreatif atuh, Neng. Minta tolong orang lain dong, untuk motret. Dan lebih bagus lagi kalau bisa dapat cover tersebut dalam format softcopy. Misalnya JPEG atau PDF.
Kumpulan cerpen juga boleh diresensi. Yang penting itu tadi. Isinya bagus dan bermanfaat.
":), waktunya tinggal tigapuluh menit lg. Habissss!"
Ayo mau tanya apa lagi? Sebelum pulang nih. Hehehe.....
mbak, apakah media memiliki jadwal tema resensi buku sendiri dan akhirnya kita harus meresensi buku sesuai dengan tema dari media, atau kita siap meresensi apa saja dan tinggal kirim ke media? 
Setahuku sih nggak ada ketentuan dari media, kita harus meresensi buku apa. Yang penting kita tidak salah kirim resensi. Buku yang kita resensi sebaiknya sesuai dengan "nafas" media yang akan kita kirimi resensi. Jadi jangan sampai kita meresensi buku tentang fotografi, tapi kita kirim ke koran kriminal, misalnya. Hehehehe... Jaka sembung itu mah....
Mungkin saja ada permintaan meresensi. Tapi permintaan itu lebih sering datang dari penerbit atau penulis. Itu pun kalau penerbit/penulisnya sudah kenal kita (misalnya karena kita sudah meresensi beberapa buku terbitan dia).
Selain membantu pembaca mengetahui isi buku, menulis resensi pada dasarnya membantu penerbit juga. Karena secara tidak langsung kita membantu mempromosikan buku terbitan dia. Secara nggak langsung juga, kita membantu meningkatkan penjualan buku terbitan dia. Nah, itu sebabnya, kenapa permintaan meresensi buku tertentu biasanya datang dari penerbit, bukan dari media.
oke! kalo gitu kita deketin aja para penulis yang sudah cukup mumpuni terus setelah tulisannya seperti novel diterbitkan kita resensi deh novelnya setelah itu kita kiriim lagi ke penerbitnya, kalo kaya gitu gimana mbak? 
Bisa dengan cara begitu. 
Meskipun sebenarnya untuk menulis resensi, kita tidak diharuskan kenal lebih dulu dengan penulisnya.
Dan perlu diingat juga, kalau kita menulis resensi buku karya teman sendiri, kita tidak boleh terjebak jadi bersikap subjektif lho. Jangan karena penulisnya teman kita, lalu bukunya kita puji-puji setinggi langit, dan kekurangannya kita abaikan. Kita tetap harus objektif dalam menilai buku dia.
"sekaligus memberi saran kepada calon pembaca mengenai perlu atau tidaknya sebuah buku
dibaca"
Kalimat ini maksudnya buku yang mau diresensi kan? Terus kalo bukunya menurut kita ga bagus gimana? Masa kita bilang jangan beli buku ini? Heuheu:D
Iya, itu maksudnya buku yang diresensi.
Kalau nggak bagusnya parah banget, ya nggak usah ditulis resensinya atuh. Buang-buang waktu kita juga kan. Hahahaha....
Secara sederhana, kriteria buku yang bagus itu ada dua. Pertama, isinya bagus dan/atau bermanfaat. Kedua, menarik secara fisik dan dalam cara penyampaiannya.
Nah, kalau buku ini tidak menarik dalam hal tampilan atau gaya bahasa, tapi isinya bermanfaat, masih bolehlah kita tulis resensinya. Jadi kriteria minimal untuk meresensi buku adalah: apabila kita melihat manfaat dari isi buku itu.
Tuliskan kelebihan dan kekurangan buku itu. Sampaikan "kekurangan" buku itu dengan cara yang sopan. Misalnya, menurut kita buku itu kurang menarik karena terlalu banyak pakai istilah teknis. Nah sampaikan dengan kalimat seperti ini: "Untuk kalangan umum, buku ini tampaknya memang terlalu berat dibaca karena sangat banyak menggunakan istilah teknis. Tapi bila Anda adalah seorang ahli komputer, maka buku ini bisa menjadi referensi yang sangat baik untuk Anda. "
Hahaha... Oh iya ya ^^7 *garuk2 pala
Hmmm, jadi mengkritik secara halus gitu ya. Padahal tulisan sendiri aja belum tentu bagus 
Hehehehe.... ya buku yang ditulis Dhani kan yang meresensi orang lain.
Sebenarnya, dalam menulis resensi, kita boleh memberi saran pada penulis. Supaya penulis itu memperbaiki karyanya di masa datang.
Jadi, belum bisa menulis dengan bagus, tidak perlu jadi alasan untuk tidak meresensi buku. Asal kita memberi masukan, kelebihan dan kekurangan secara berimbang dan objektif, ya tidak masalah.
sorry mbak baru hadir,
sedang asik nulis-nulis tadi 
Hmmm.... lain kali nggak boleh telat lagi ya! #alis berkerut sok galak
Nulis apa tadi? Ayo didiskusikan di sini. Kalau nonfiksi, tapi. Hehehe....
Wah hati-hati tuh. Kalo telat lagi nanti bukan cuma alis yang berkerut, tapi mbak Mila tumbuh tanduk ma gigi taring 
Gigi taring sih udah ada Dhan. Tinggal tanduknya yang belum. Hehehehe.....
yakin mbak udah punya gigi taring, bukannya waktu itu pada copot semua terus lagi nunggu yang baru tumbuh lagi hahahahaha 
nulis skripsi mbak hahahaha mau bantuin?
kan nonfiksi juga *Sambil tersenyum masygul* 
Hhhmmm... nulis skripsi itu kenangan 15 tahun lalu. Cukuplah jadi kenangan saja.
Kalaupun perlu mengulang, aku akan mengulang untuk tesis S2. Hehehe....
Post new comment
Tulisan Terkait
- Lomba Cerpen Cinta Inspiratif 2012 (deadline: 30 April 2012)
- New Book: INSPIRASI MENULIS
- Cara Download Buku dari Google Books
- Cara Mendisiplinkan Diri Demi Karier Kepenulisan
- Lomba Menulis Novel Remaja Bentang Belia (Deadline: 15 Desember 2011)
- Lomba Cipta Cerpen Indonesia Writer University (Deadline 10 Desember 2011)
- LOMBA CIPTA ESAI KARYA MAHASISWA Tingkat NASIONAL (Deadline: 6 April 2012)
- Kompetisi Penulisan Artikel Internet Cerdas Tingkat Nasional
- Lomba Menulis Pengalaman Pribadi QultumMedia 2012 (deadline: 1 April 2012)
- Lomba Cerpen Remaja (LCR) Writing Revolusion 2012 (deadline: 31 Maret 2012)





