numpang naro curhatan aku di tahun 2010 boleh yah!

9 replies [Last post]
Offline
Joined: 12/12/2009
Recehan: 174

Tinggal Remah-remah Cahaya
Oleh
Nensinur Sastra

di tepian mentari, aku berpekur pilu.
Mataku yang lelah ku paksa terbang ke langit jingga.
Hatiku tertusuk perdunya takdir.
Akankah remah-remah ini pun kan segera hilang.
Di saat aku masih punya segenggam mimpi, bersama setitik saja mata hari.
Namun apalah dayaku,
Yang mencipta punya kehendak di luar nalarku.
Dan remah-remah cahaya imilah, yang mungkin jalanku,
Tuk mencapai puncak ridonya,
Dan sampai suatu waktu remah ini pun diambilnya,
Dan gulita lah sudah dunia dzahirku,
Aku akan berkata,
Mimpiku kan terus berlari,
Meski tak lagi ditemani mata hari,

dalam segala rasa aku berkata
Oleh
Nensinur Sastra

apakah sebab dirimu singgahi sebagian lelapku?
Dari sifat sahaja itu ku dapati jiwa ini meleleh di kehangatan jemarimu
Semua kuletakan atas tahta kramat mantra jingga kita
Agar alam dan sadar tak lagi bersilat kata
Dari sesingkat kuas lukisan cerita kita

Di bibir tebing inilah kita berdiri
masing-masing suara kita pantulan lintar di malam buta
Saling berdakwa
Akulah yang tak ikut dalam drama perpisahan ini

Sedang semua isi langitpun sibuk pada urusan dosa
Hingga tak pernah ada waktu tuk mengatakan
Siapa yang pertama mengoyak tirai rapuh perjalanan kita

antara cinta dan luka
Oleh
Nensinur Sastra

Saat harap terenggut putaran waktu
Di situlah aku berfikir-fikir
Tuk kembalikan waktumu

Saat asa dipinta masa
Di sanalah kukatakan nalar ataupun cinta
ini yang berharga

cemas takkan berarti di hati
yang ada pilu tengah membelengu kita

dan adapun bahagia
yang meretas setelah ku tak ada
seakan hanya simpang di mata

oh, sungguh ku tak menyangka
luka pertama akan jadi luka membara

kau kembali toreh namaku
seakan semua berakar dari nalarku

aku orang biasa
sederhana dalam sikap maupun rasa

jika ini yang patut kuterima
darimu yang pampang sejuta duka
atas cinta
atas rasa
atas bahagia

dan akupun menahut tak curiga
pandangi orang yang berkata
akulah sebab kau kembali terluka

Jangan pernah bertanya padaku
Oleh
Nensinur Sastra

Aku bertanya:
Aku tak layak untukmu?

Apa semua telah kutulikan?
Atau semua telah membutakan?

Hingga lenguhan dari nafas keletihan
Begitu juga
Sedan dari tangis kepayahan

Telah kubuktikan
Dalam sisa-sisa tenagaku
Dalam
Butir-butir keringatku

Apapun sebabpnya diriMu dan diriku
Kita padu umpama rusuk dan igaku

Jelas genggaman di jemariku
Bukanlah penghangat nadi kematianku
Mungkin juga
Sulutan kepercayaanMu

Aku yang tak tahu,
Dan selamanya tak tahu

Dirundung malu atas kacamata tebal para manusiaMu

Dari segala yang mereka fikir, mereka tahu, dan mereka butuh dariku

Aku menggigil, menyerah

Dan di antara gelisah itu

Ada sedikit kata

Kaulah
Yang Maha tahu jawabnya

Epilog
Oleh
Nensinur Sastra

Bintang yang kucari
Kecil berkedip dan dingin

Bintang yang kumiliki
Resah letih dan mengigil

Jemari yang telah lunturkan segala tangis
Atau jemari yang hangatkan sekedar pedih

Tak lantas lelah menghitung
Satu, dua tiga
Yang merembatkan atas hari dan pori
Kau kukuh nan angkuh
Di akhir purnama liar berseru
Aku kan pergi jauh
Dari peluk langit yang tak jua utuh
Dari temali awan yang tak jua membebaskan
Dari debaran cinta yang tak jua mengindahkan.

salam rindu pada ibuku
Oleh
Nensinur Sastra

angin, titip salam pada ibuku,
berbisiklah di daun jendela hatinya,
aku amat merindukannya,
aku teramat mencintainya.
Oh, angin,
katakanlah cintaku tulus, satu untuknya,
meski dia punya sejuta bahkan tak hingga,
aku ingin tetap mengatakannya.
Aku tahu ibuku menangisi langkah kecilku,
seperti duapuluh tahun lalu,
sebab dia tahu betul kerasnya tangisku saat kujatuh,
itu semua tetap satu deritanya,
aku tak mampu berputar umptama komedi yang memutar kuda kuda,
aku cinta ibuku,
karena tuhan lah yang hadiahkan dia bagiku.

bola mata pagi
Oleh
Nensinur Sastra

Bolamata mu
Bergerak kanan dan kiri
Tumpuannya satu saja
Kusuk pada sebatang nama
Di perdu yang tak kunjung tersentuh lilin pagi

Asyik saja merah biru kupu-kupu menari
Seasyik bolamatamu mencari
Tak peduli warna-warni di ambang hari
Sebab perdu teramat penting dari bulu undakmu

Ringan kata Tanya
Apa makna sehuruf nama
Bila kau tak membaca
Tuhanpun letih tertawa

aku yang jera
Oleh
Nensinur Sastra

aku di pintu malam sekedar mengguman,
nada-nada riak itupun kian meretak,
habis cerita tinggallah malam yang jera.
Pada pintu-pintu aku dian seribu kata,
tak kudapat yang lain dari matamu yang congkak,
jemarimu yang besi,
ubahkan nada jadi pradita lara,
andai kumau aku ingin dusta saja,
kala kuingat semua catatan kita memejamkan jiwa,
aku pun kini jera,
tak tahan cintamu koyakkan setia.
Mungkin ini keinginan sederhana,
aku tak pernah pinta yang luar biasa,
aku tahu suatu hari kau terluka,
kau sulit maknaiku hanya secarik nama,
di pintu ini boleh ku sedetik menatap hatimu,
walau ada beku, aku ingin di situ,
seumpama dulu,
kau meminang harga cintaku.
Aku menjagamu di pintu malam nan syahdu,
aku memeluk erat bayangmu,
aku memyimpanmu di pualam hatiku,
namun kini,
kau paksa aku jera di pintu cintamu.

bintang itu mati
Oleh
Nensinur Sastra

dan akhirnya malam ini datang,
tanpa sinar bintang sebagai teman,
mungkin dia yang redup akan segera pergi,
termakan ego dan janji-janji.
Dan akupun sendiri,
mengiris hati dengan rasa sepi,
kala bintang tak lagi di sisi,
aku gelap bimbang sendiri.
Dia boleh pergi sesuka hati,
toh dia cuma bintang jelmaan banci,
yang takut akan tirani,
dia yang redup dan akhirnya mati,
dari hatiku,
selamanya.

Ada Jurang di Matamu
Oleh
Nensinur Sastra
Aku yang katanya berdiri di bahumu
Dan kau menadahi jerit tangisku

Cuma katanya belaka
Karena kutahu ada jurang di matamu
Karena kurasa
Buntu aku di ujung katamu

Aku
Yang katanya pulang kaki ke gunung tinggi namamu
Dan kau bukit intan hiasan tulang rawan kepalaku

Manis lidah kukucup racun tertuah
Karena jurang itulah akupun payah
Karena gelap itupun harapku musnah

Mengenangmu
Oleh
Nensinur Sastra
Mengenangmu
Pada pilar-pilar hatiku
Mengenangmu
Lewati gulita mataku

Gelombang antar mimpi sederhana
Menya’ir jerang bejana
Meskipun aku bukan penderma
Putih riakmu ada di sana

Duhai kanda
Rebah muramku pada singgasana
Cinta nan habis hilangnya petang
Runtuhkan aku senada sendawan
Mengenangmu
Jenjang dada terdamai

Simfoni Katamu
Oleh
Nensinur Sastra

Di kegaduhan sekalipun
Aku mendengarmu
Walau gempita dunia tertawa
Aku masih bertelinga

Mendengar dirimu
Tak berbisik terlebih bersuara
Hanya simfoni
Merasuk hati ini
Jelang letih diri
Sampankan melodi buihnya
Tak tentu arah
Tak lihikan petuah

Katamu
Bumi nan megah
Katamu
Mercusuar termewah
Katamu
Lapisan langitku indah

dengan katamu
Oleh
Nensinur Sastra

Cukup di dahan
Katamu semburkan awan-awan

Cukup di pingan
Makna teladankan angan-angan

Jelaga tak lagi bak arang
Bulu-bulu mata uraikan cerita
Kita penderma jalanan

Dengan katamu
Bijak tak ayal sepegangan

Sosok dua nama
Riangkan tanpa pasangan

Aku di dermaga
Menanti katamu selaksa
Pendeta Budha ungguk tersenyum
Dengan katamu
Aku tak jadikan bungkam

Petang telah datang
Waktunya cendikia menyongsong pepatah rembulan

Dengan katamu
tak sepintas ada sedan
Dengan katamu
Semua kembali
Pada angan
Terus ke awan

Bandung Aku Berpayung
Oleh
Nensinur Sastra

Bandung
Langit Mu indah di jiwaku

Bandung
Melodi Mu berdenting di hatiku
Bandung
Gerimis Mu basah pada gersangku

Bandung
Bahagia Mu melebur dalam tawaku

Kala pertama suara tangisku
Dari jauh kau sambut dengan tawamu

Dari awal kata fasihku
Kau buatkan serpih ceritamu
Untuk Ku

Tak usah aku berbagi pada dunia
Kau telah meyakinkanku

Tak usah ku panggil para Dewa
Kau telah memeluk aku

Semua tak perlu
Semua tak pernah
Semua telah aku bingkis dalam sebuah rumah

Bandung
Jelas aku sempit
Darimulah aku mendapat paling lapang

Bandung
Jelas aku pahit
Dirimulah yang datang sebagai penawar

Dan ini kali terakhir kau memangkuku
Setelah begitu berat beban tubuh Mu
Akupun merasa enggan
Enggan tak bersama Mu

Kau dan angin Mu
Seolah tersenyum lugu
Penuh makna kata dewasa
Sarat kata bijak bicara
Rendah dari putus asa
Ingkar dari prasangka

Bandung
Ku titip kan tetes keringat terakhir
Pada Mu
Pada bahu Mu
Dan ku
Amanahkan cinta terindah
Pada mataharimu
Pada embun dan burung-burung
Agar di waktu pagi
Kau melihatku
Tetap di pangkumu

ANGIN DI MATA DESEMBER
Oleh
Nensinur Sastra

Ada yang layu,
Di kelopak-kelopak bunga
Ada yang sendu
Di pancaran mata orang dewasa
Ada yang haru
Di rongga-rongga dada
Namun ada yang biru
Di wajah langit di hujung detik semesta

Ini pengadilan waktu
Dimana ubun-ubun tersayat warna abu
Dan langit itu pekat
Dan malam itu gelap
Janji tetaplah amanat

Walau derap kaki kuda itu telah sayup,
Dan angin desember telah meliup
Tak lantas jiwa kita ini renta bukan?
Toh jingga itu masih ada
Riak ombak itu masih biasa
Tak Cuma roda nasib itu berputar ulang
Hingga makna jingga masih ditemukan
Walau
Angin desember yang menghantarkan

Kita masih punya harga
Dari risalah kata setia

Kau Pecundang cinta kita
Oleh
Nensinur Sastra

Adapun kau,
Sosok sederhana dan untuk diriku bintang teristimewa
Adapun aku,
Wanita biasa dan tak pernah jadi sangat luarbiasa

Di matamu, di dirimu, di perjalananmu,
Tampaknya aku tak pernah istimewa

Jauh aku tenggelam di dadamu
Sejauh itu pula detak cintamu
Dalam aku mengecup bibirmu
Sedalam itu pula arti dirimu
Dan apakah pantas
Dunia berkata ini cinta?
Sementara hujan yang menyirami tak pernah cukup membasahi
Sementara mentari yang menyinari tak pernah cukup menghangati

Dahulu aku mengejarmu dengan berlari
Dan kau nyaris tak mau berpaling
Kini akupun melihatmu jera
Setelah kulumat segala airmata
Aku tetap bukan teristimewa

Hari ini aku pergi bukan dari kompetisi
Tapi aku tak sanggup lagi berdiri
Di antara bahumu yang kering dari mimpi-mimpi
Di antara rasamu yang dangkal kata pasti

Bila dunia berkata
Kau atau aku adalah pecundang
Maka jawabannya ada pada langit
Dia saksi perjalanan sederhana kita
Dia yang tertawa atas rapuhnya cinta kita

Di Separuh Senja
Oleh
Nensinur Sastra

Senja yang kesekianjutakalinya
Menyapa bahu yang kerdil makin bugil
Aku yang tak punya lagi sebatangpun lilin
Meratap agar Muadzin tak lagi kumandangkan nada terakhir

Senja tinggal separuh
Kelopak mata masih bergemuruh
Berribu kaki telah menjauh
Tinggal aku meraba berteman peluh

Aku tertawa tanpa senang
Aku sendawa tanpa kenyang
Aku iba danpa kesedihan
Aku berobat tanpa kesakitan

Ini senja masih separuh
Orang telah lahir kembali
Dan aku masih seperti kelapa yang tua
Sendiri, tak guna

Sementara jalan-jalan kian meliku tajamnya
Serpihan warna telah siap di gerbang malam
Aku menjadikan tanganku sebagai payung
Senja ini tak kan lagi seperuh
Dan dalam ketakutan aku dipaksa merenggut harapan

Bukan senja yang terakhir
Tapi aku yang tak lagi lahir
Dari apapun yang orang beli
Dari apapun yang orang miliki
Dari apapun yang pernah lewat dalam mimpi-mimpi

Dan senja ini akan sepenuhnya pergi
Sama sekali tak peduli
Aku masih terseok tak berlari
Kepayahan mencari perlindungan hakiki

BINTANG PERSADA
Oleh
Nensinur Sastra

Lihatlah bintang-bintang bertabur di langit hitam negeri
Bintang yang tak letih berdendang dari barat ke tempat terbit mentari
Semakin malam beranjak mereka berjuta-juta lipat
Hiburkan bocah-bocah lapar bertekuk di pusara ibu

Hanya bintang itu yang hangat sampai ubun-ubun
Semarak menyanyikan lagu cinta
Menari bebas irama melambai warna persada
Lepaskan temali hidup di negeri porak poranda

Bintang-bintang yang hanya malam bertingkah
Hilang dilumat mentari merah
enbun di jendela tak berkurang sakit di hati enyah
Mana kala jiwa-jiwa bukan lagi terbelah
Aku dan kalian tak hentikan cerita

Tiap detak jarum jadi saksinya
Mereka punah musnah terseret umpama sampah limbah

Jangan persalahkan bintang-bintang yang tetap bersinar
Semakin berjuta tambahnya
Langit akan lebih indah dari malam sebelumnya

Meski takkan pernah ada purnama
menambah riang hati bocah-bocah dermaga
mengantar juta-juta jiwa Pada kehangatan sinarnya
Sebab negeri ini telah patah
Dari banyak noda dan darah
Cuma bintang-bintang selalu setia
Temani malam-malam gulita
Di peraduan mimpi persada

catatan 25 purnama
Oleh
Nensinur Sastra

Kini, dalam temaram bintang, dalam rangkaian angan, dalam senandung malam dan dalam derai doa-doa panjang,
Aku mencoba mengukir kembali sebaris perjalanan manis dalam segala lirih ataupun tangis.

Kini, di ambang keinsyafan, di jendela keresahan, di simpangan pengharapan, dan di galaksi permintaan, aku mencoba menapak satu-satu yang masih jadi tanda
tanya.

Bunda, akankah yang berwarna itu akan jadi penghias senyum manisku? Akankah yang bercahaya itu kan lenyapkan jelaga mataku? Akankah yang murni itu kan
remasi pori-pori hatiku? Akankah yang bersahaja itu kan jadi janji-janjiku?

Selama 25 purnama belenggu itu masih lekat di bahu kerdilku. Selama itu pula aku campakkan kaki untuk sekedar berlari di mukim ketegaran, kupancangkan
tonggak kesabaran di ladang kegersangan, ku seramkan minyak kemarahan tuk selesaikan segala hasrat kepenatan.
Tak ada yang datang padaku sekedar merengkuh sedikit jemari, tak pernah kata kasih terlontar sekedar menyiram bara di hati, tak sejujurnya kata sayang
itu abadi hingga mengganjal saja di selaput darahku.
Mata yang nanar nyaris meliar sudah enyahkan segala bayang-bayang, dan akupun sulit membedakan, mana yang alfa, mana yang justru sekata.

Setiap purnama berlalu, berdendang, berjalan hanya tinggalkan banyak tanya dan gumam-gumam tak berkesinambungan. Aku terpasung, bak temali di rangkaian
rotan, aku terikat, bak merpati hilang sayap, aku terkurung, bak pengeksekusi dalam jeruji.
Hanya ada nyanyian, nyanyian bukan dari bibirku, nyanyian bukan dari hatiku, tapi sungguh nyanyian dari detak-detak jantungku.
Sampai 25 purnama itu merangkaikan banyak melodi, tak tampak jua, kedamaian jadi peraduan abadi.

WANITA BERJELAGA
Oleh
Nensinur Sastra

Jelaga itu sepertinya pudar
Tak lagi sunyi itu jadi sisi wanitamu
Orang kepalang basah menaruhkan duri di atas mawar
Orang terlanjur memahat tak rasio di belahan batu mandimu

Dan setiap mata lelaki
Menepismu karena malumu
Dan semua bidadari
Mengabaikan penghayatan doamu

Oh malang di kanan kiri
Oh, geram di depan belakang
Tak jelaga tak cahaya
Kau hitam adanya
Kau asap yang membumbung pada kesunyian
Kau api yang meredup pada kebekuan
Kau jelaga yang memudar karena penantian

melodi grimis
Oleh
Nensinur Sastra

Gerimis yang sama
Tiada beda dari wajah kita
Menyambut datangnya malam secara tak sengaja

Kau memang di sini
Di sampingku termangu
Entah apa di sela nafasmu
Entah apa di dinginnya jemarimu

Gelisah aku di antara grimis
Menyulam rambutmu setengah kaku
Aku ingin berbisik
Hanya satu kata saja
Kembali
Kembali
Kembali

Tubuh kita sama bergetar
Grimis tak lagi seperti melodi
Grimis tak lagi seumpama naluri
Picik fikirku atas kita dirundung malu

Malu pada dunia yang basah
Malu pada malam yang bersimbah
Malu pada takdir yang telah patah

Masih grimis ini ku berpuisi
Sekedar melihatmu lagi di gemercik sendiri
Karena daun jendelaku masih terbuka
Isyaratkan ada wajahmu bersimbah rasa
Entah rindu,
Entah saying
Entah sepi
Entah menyesal

Yang pasti aku ingin bisu saja
Aku ingin buta saja
Aku ingin tuli saja

Dan puing-puing sadar itu telah kembali
Aku dan lutut ini Cuma bisa berlari
Meninggalkan wajahmu yang sarat sepi
Mencampakan hatimu yang terlanjur disakiti
Dan ini aku tanpa separuh hati
Akui jujur masih saja kau yang memiliki

KISAH KITA
Oleh
Nensinur Sastra

di bawah sepenggal purnama
ada kita duduk bersila
hanya kita
hanya kita berdua

ini masih dirimu
kuhafal bau harum tubuhmu
kuingat hangat jemarimu

meski kisah kita tak lebih dari jengger waktu

ada apa denganmu
merajuk sungguh getar suaramu
setelah begitu tonjolan tulang pipimu
atau parounya desah nafasmu

kisah kita terkubur seakan berabad-abad
mungkin tak lagi tanah yang menutupi
mungkin tak lagi pasir yang menyiangi

adakah purnama itu pemilik secarik memori
kisah kita takkan dibuatnya mati
apa yang terjadi denganmu kini
memahami tatapanmu tak lagi sejernih telaga yang dulu
menikmati kecupanmu tak lagi semesra angin yang dulu
membaca lembar kisah kita tak lagi sesyahdu janji yang dulu

pulanglah kawan
anggap senyumanku sahaja dan biasa
boleh kau genggam tanganku tapi tak boleh kau katakan rasa yang dulu
boleh kau tangisi aku tapi tak boleh kau tangisi waktumu
sebab inilah caraku mencintaimu
sebab inilah caraku memahamimu
sebab inilah caraku melupakan namamu
tapi bukan kisahmu dan aku

curhat malam
Oleh
Nensinur Sastra

Tak ada yang lain sesungguhnya dari langit malam kecuali hitam
Adapun kedipan bintang sepertinya tak cukup membuat apa yang kutuliskan nyata terbaca
Tak ada kuas atau warna untuk mengungkapkan
Dari mataku inilah segalanya tercurahkan

Wahai langit, kau pekat adanya
Maka izinkan aku menulis tanpa ada yang kutulis
Biarpun mata tertutup yang membaca
Biarpun kelucuan menggelegak dalam dengkuran
Aku tak peduli
Sebab ini tulisanku seorang diri

Catatanku di separuh malam tersisa
Ada kubangan di bawah kaki ibunda
Cuma satu kekayaan hidup selain sepenggal nyawanya
Akulah yang jauh dari tangannya
Harap bundaku teman sejati untukku
Penopang saat kujatuh
Peredam saat ku marah
Pemandu saat ku buntu
Pengingat saat ku lupa
Penasehat saat ku salah

AKU TAKAN INGKAR
Oleh
Nensinur Sastra

Apa yang bisa kukatakan
Bila kau tak temukan aku dalam keresahan
Dan mataku kembali nanar
Ragukan dirimu dalam kehangatan

Apa yang bisa kau katakan
Saat ku pergi bersama ingkar
Dan jejak malu itu kau lihat di sisa grimis
Kadang membuatmu terhela tuk menepis

Apa yang bisa ku katakan
Bila namamu jadi tambatan
Entah hari ini, esok atau selamanya
Dan jejak itu belum juga rata dengan perdunya
Sedang dirimu berdiri hening dalam kebingungan

Apa yang bisa kau katakan
Begitu kau temuiku lagi sudah dalam kepayahan
Dan kubangan tangis mulai digali
Berdua ingkar akupun mati
Sedang kau telah terbaring berdamai dengan mimpi

Lalu akan bisa ku katakan
Aku terlalu bahagia
Dengan segores kenangan cinta
Dai tawa canda kita
Dan kau tiada mudah percaya
Dengan sederhana
Aku mempu berkata
Aku takan ingkar
Mengingkari kepercayaanmu yang amat berharga

mawar-mawar pagi
Oleh
Nensinur Sastra

Ada yang merona memancar batas mega
Dilenggangkan angin
Diseruakkan cahaya terang
Ronanya dari cinta malaikat penabur cinta
Ronanya semerbak bunga setaman banyaknya
Rona mawar negeriku mewangi
Tebarkan buritan pantai hingga penghujung terkiri

Mawar setaman berucap pagi
Semasa dedaunan menetes embun
Mereka terus menyanyi
Sukacita dalam kerapuhan di bumi
Jadikan mawar negeri hadiahkan doa-doa suci
Abadi
Tuk negeri
Agar mampu kembali berdiri

rinai di geladak
Oleh
Nensinur Sastra

Bidup itu masih yang dulu
Kala sepoi mengantar pesan
Kala nyiur menanti rindu

Rinai itu makin jauh dari geladak
Menggurati arca-arca, merekati gelombang naga

Rinai di belahan sabda buana
Terpercik rembulan, tiba di gelayutan awan
Seperti ingin bergantungkan akar bintang-bintang
Agar ada yang jatuh hati sekedar membaca sebaris pesan
Aku datang bukan jadi perbedaan
Aku datang hendak jadi tawanan menawan
Aku merinai di gemerlapnya kehidupan

Rinai yang tak tertangkap suara hati
Kini tinggal meretasi denyut-denyut nadi
Kadang lata kadang pula berhenti
Lenyap di kebisingan
Sirna di kehampaan

Rinai itu tinggal menari
Bulu-bulu mata yang jadi saksi
Keterlanjuran emosi diri
Mengubah rinai jadi citra penghias mimpi

Mengapa lagi-lagi peraduan nakhoda jadi sunyi
Sementara bidup masih terus ke utara
Merinai buih di ufuk pagi
Mendansakan tawa tangis jadi Krimasi
Rinai itu tetap jadi energy
Meski tinggal Nakhoda seorang diri

salahku indah
Oleh
Nensinur Sastra

Aku bertemu kau
Pagi itu di pintu irama
Dan sebait sajak terpedamkan matamu
Di situlah kukatai kau pemburu

Hingga laba meretas di kandang gula
Marahmu luar biasa ganas
Untuk itulah aku member kau rasa
Meski tampaknya tak sejalan senama

Dewa, kutuk hamba jadi ternista
Atas salah baying dicinta
Karena ada yang indah di tawa canda
Karena ada yang gemerlap di antara marah kau menggoda

DARI MATA YANG JATUH
Oleh
Nensinur Sastra

Dari mata yang jatuh aku punguti malu-maluku
Semu, sedan serindu dongeng ibuku
Jalanan ini tak lagi berkabut
Tapi aku masih tersaruk
Roda-roda yang berputar menurun menanjak
Gemeretak menuduhkan irama sajak

Masih dari mata yang jatuh
Gelak refolusi angin meredup daun
Menyampaikan pucuk demi pucuk lontar jembatan perdamaian
Masih pula di kisah yang sama ranjang kita
Berjuta kata dirangkai jadi asa

Mungkin mata itu tak juga berhenti sebapnya
Menghukum sendiri sama payahnya
Kian angin menepukan kelelawar-kelelawar
Kian duri yang goreskan dahannya

Di mata yang jatuh bukanlah kasihan
Nada menyanyi, orang melompat kegirangan
Ingin kuundang seribu Malaikat
Tuk jatuhi aku hukuman setimpal beratnya
Hingga seluruh buku puisi tertutup
Nyaris tak lagi ada diksi melebamkan tipunya

Mata itu masih samar
Mata yang jatuh bukan kasihan
Gendrang-gendrang kiamat ditabuh para hanoman
Terkaparlah semua kepalsuan
Lontar-lontar itu tak lagi diterbangkan
Sebab cukup dari matanyalah dia datang
Bukan mata yang jatuh
Perdamaian itu berdentang
Dari matanyalah jatuh kasihan

aku mengerti
Oleh
Nensinur Sastra

AKU MENGERTI

Dunia tertawa lepas di jendela surya tanpa batas
Sedang aku meringis
Di kutipan penyair para pemuka iblis
Dongeng ibunda tak lagi terdengar di telinga
Keyakinan akan cinta tak lagi damaikan asa

Dunia masih liar dengan tawanya
Memojokan diriku pada porakporandanya suatu bangunan
Ya, angan yang berkeping asa yang berdenting

Akupun ingin berteriak,
“Tuhan, aku mendapat luka”
Kala kebodohan ini menyatu bersekutu dalam nafas
Aku ungkap kata cinta
Untuk langit yang teramat tinggi
Untuk samudra yang teramat luas

Aku ingin mengerti separuh hatimu
Namun aku juga ingin mengerti rasa bodohku
Aku ingin sekedar tahu jawabmu
Tentang apa yang jadi khilafku

Tolong jangan pergi dulu
Aku lebam dengan untaian pilu
Aku tersedan di detak jantungmu
Aku terkapar di getar nadimu

Aku coba terus mengerti
Yang berharga dariku itu Cuma mimpi
Tertelan namaku oleh tawamu
Kau katakan aku ini masih sangat lugu
Aku mengerti
Aku mengerti
Aku mengerti
Tak separuhpun dari hatimu
Meski itu dalam mimpi

aku tak pantas
Oleh
Nensinur Sastra

Tertegun sejenak aku di pintu batinmu
Bak lahar Tursinai yang menebar panas di kuntum bunga jiwa
Hampir aku urung menyapamu gelisah
Dan bertanyalah aku pada akar nadi nyaris berhenti

Masih berdiri aku di pintumu
Dan kau rasakan ada yang berdenyut piluku
Dari darah yang mengalir di telapak tanganku
Dan aku sendiri memaksa mengurai tawa
Kala katamu
Aku ini pecundang soal cinta

Masih terlalu dini aku mengungkap kata ingin jadi bidadari
Bersandarkan bahu, mengincar kebijakanmu
Dan senyum itu yang tak kudapat dari sepintas nama dari katamu
Aku terima sebagai yang istimewa
Aku akui selaksa mentari jingga

Ini kataku
Kau ambisi dalam jiwa
Kau pradita dalam nafas yang tak seirama
Boleh kau panggil aku semau kata
Namun siapa yang berkehendak
Aku benar-benar meminta tanda cinta

Jangan salahkan siapa-siapa
Aku yang ternoda biar jadi satu tanda
Aku pernah mengucap rasa
Katakan aku telanjang dari malu
Katakan aku puing dari reruntuhan hidup serba palsu
Katakan aku kuntum yang tak punya cukup madu
Katakan aku pecundang yang menodai kehormatanmu

Katakan, katakan, katakan,
Aku, aku aku,
Sosok tak pintar
Meraih kasihmu
Mendapat seuntai kata sayangmu

ini puisi si anak hilang
Oleh
Nensinur Sastra

Di dalam sana aku lihat kau
Duduk melingkar di antara orang tercinta
Teramat manis senyum yang kau tebarkan dari canda tawa yang tengah mengurai senja
Bajumu yang merah jambu dengan pita anak kelinci di rambutmu
Tak enyahkan rona merah dan hampir putusasa itu dari pandangan cermin sederhana
Orang-orang itu menelanjangimu serupa kupu-kupu
tawa jadi sembilu
Manis jadi empedu.

Sekali lagi aku lihat dirimu
Meraung dalam kesakitan meringis dalam kepayahan
Orang-orang itu tetap tertawa
Mencandamu selaksa anak gembala
Aku tahu kau ingin pergi
Namun kaki-kaki mungilmu tersedak di bawah lutut sosok dewasa
Aku memanggilmu
Dengan segenap telunjukku
Tapi kau tak bisa berdiri
Kau teriak setengahmatipun semua tak peduli

Kau gadis kecil di peraduan sedamai peti
Tujuh delapan tahun di belakang kau bayi yang bersahaja
Namun tujuh delapan tahun ini kau onggok boneka dalam kacamata
Melihatmu bagai mawar tanpa daya
Mengamatimu bagai syuli di tengah mahkota

Akankah kau tetap di sana?
Memandang curiga orang-orang yang tertawa?
Membisik lirih di hati mereka pahlawan duniamu yang gulita?
Dan sampai bakum-bakum itu kering di tepian gereja
Dan camar-camar itu pulang dari laut yang surut karena surya bebas merdeka
Kau pertahankan dayung kesempatan berseleksa dengan mereka
Para penghancur cita-cita.

Padahal aku di sini
Tempat dimana anganmu berlabuh pada puncak kelelahan
Tempat nyanyian kecilmu berujung pada pengharapan
Sampai aku mengukir selembar harian
Tentang angan dan inginmu jadi yang terdepan
Tapi kau tak jua datang
Membaca penuh apa yang kutuliskan
Dan ketika semua sudah berlomba memecahkan berjuta persoalan
Kau tinggal di bawah kaki
Bertopang dagu nasib
Memilih anganmu terbang bersama puluhan layang-layang
Dan teriakanmu
Hanya berhasil mengusir semut hitam di ujung bulu hidungmu sendiri

Ilahi Aku Kembali
Oleh
Nensinur Sastra

Ilahi,
Tersanjung namaMu di setiap sudut hati
Detik kedetik tiada helaan tanpa nikmatmu

Ilahi,
Kalut piluu ataupun sendu
Urun tertengadah pintakan kata MaafMu
Dari yang palsu aku
Dari tipu dayaku
Dari letihnya aku merentangi perjuangan
Mencari siapa namaku

Ilahi,
Diwaktu kecil ku tak ingin diam berpangkutangan
Aku berlari mengejar harapan
Aku berteriak di pintu keceriaan
Aku telanjang bebaskan kebohongan-kebohongan

Dan kini aku terseok masih di tengah gurun kepayahan
Sisa-sisa tangis dan tawa melebur jadi pengaduan
Berpisahnya aku dari bahagia
Bersuanya aku dengan derita
Menyebar harum bak bangkai setengah nyawa

Ilahi,
Merintihpun tak lagi guna di mataMu
Menangispun tak lagi sacral di jariMu
Aku bersama segenap kekalahan
Mencoba kembali tambatkan bunga kecintaan
Yang tak lagi diharap pamrih
Yang tak lagi dibalas muram
Karena cinta dariMu
Duniakulah yang akan jadi jawaban
Atas apa yang ku ikhalaskan

lagu sayang
Oleh
Nensinur Sastra

Anak-anak murai itu makin jauh meninggi
Kian tinggi kian samar kicau merdunya
Aku hanya celingukan di bawah asam yang kini sunyi
Dengan dahan kasar dan ranting setengah patah
Diam, diam, diam
Dari banyak kata yang menusuk-nusukkan seluruh angan tersedan

Kiranya kapan murai itu kembali
Membawa damai dengan caranya sendiri
Merdu, hangat dan syahdu
Mengantar anganku kembali bergumul tanpa sembilu

Seingatku masih kuncup mawar jingga itu di rimbun ilalang perdu
Dan bola hitam itu menyentuhnya sayu
Memberi kesan kau pemilik segala rasa itu
Hingga harum yang tersentuh semua jiwa memuai seketika laksa
Tiba-tiba aku ingin menangis
Namun sudah tak ada awan menggelayuti
Dan jadilah tangisku kering tanpa arti

Sayang
Apa kau masih di situ?
Menantiku dengan berpegang bambu
Menyanyikanku sebait lagu
Segala bunga tak indah tanpa ku

Sayang marahkah kau di balik ceriamu
Melihatku tak lagi berbajukan warnamu
Hingga kudengar ada tarikan nafas lebammu
Diseraknya pengantar pulang anganku dan juga anganmu

PUISI UNTUK REY
Oleh
Nensinur Sastra

Untuk Rey hari ini di pintu gereja.
Untuk Rey hari ini di belahan sungai Fatmala.
Untuk Rey hari ini di ruang hati tak berjendela.

Dengan sisa-sisa tinta dan kerak-kerak airmata
Synopsis ini kautulis selaksa doa
Berharap kau ingat saat kematian kelelawar itu jadi tangisan kita yang pertama
Berharap ibu bermurahkan hati menggali sekedar makam sederhana
Akupun acuh saja dengan belai hangatmu di kepala
Akupun acuh saja kala kecupanmu menyirnakan duka.

Dan inilah akhir dari segala agenda cinta Yang Maha Bijaksana
Dia memelukku dan kau tak berdaya
Dia menerbangkanku dan kau hanya memandang pasrah di udara
Aku meneriakimu pejantan namun kau adalah punggung kerapuhan
Aku memaksamu seperti elang namun kau hanyalah pemilik sampan.

Rey, Rey, Rey.
Segala asa yang kita miliki hanya teronggok sekuntum mawar
Tumbuh karrena hujan, jatuh karena badai
Dilaihat karena keindahan, dirajuk karena keharuman
Dan kini dicampak karena keutuhan yang tarnoda
Dan kini dicela karena keberadaan tak terpinta

Sekaranglah buah perpisahan kita petik bersama
Para murai dan anak rimba membangun sebuah upacara sederhana
Aku dan kau sama-sama duduk di pelaminan batas maya
Melihat di bawah kaki ada altar dan sejadah tua
Sama-sama ternoda oleh injakan kaki kita
Dan semut-semut pemangsa dosa itu membanjir dari jari hingga kepala

AKU BERTANYA
Oleh
Nensinur Sastra

Aku bertanya:
Aku tak layak untukmu?

Apa semua telah kutulikan?
Atau semua telah membutakan?

Hingga lenguhan dari nafas keletihan
Begitu juga
Sedan dari tangis kepayahan

Telah kubuktikan
Dalam sisa-sisa tenagaku
Dalam
Butir-butir keringatku

Apapun sebabpnya diriMu dan diriku
Kita padu umpama rusuk dan igaku

Jelas genggaman di jemariku
Bukanlah penghangat nadi kematianku
Mungkin juga
Sulutan kepercayaanMu

Aku yang tak tahu,
Dan selamanya tak tahu

Dirundung malu atas kacamata tebal para manusiaMu

Dari segala yang mereka fikir, mereka tahu, dan mereka butuh dariku

Aku menggigil, menyerah

Dan di antara gelisah itu

Ada sedikit kata

Kaulah
Yang Maha tahu jawabnya

Offline
Joined: 12/12/2009
Recehan: 174

oya, kl blh minta hadiahnya dong! pingin dibuatin email kartunet dong! bisa kan? masa yang lain punya aku gak dikasih. ok! hehe *maksa*
"D

Offline
Joined: 12/12/2009
Recehan: 174

ok boleh lah, terus yg di sni apus aja gitu?
Smile

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

yang di sini ga usah dihapus. biarin aja

Offline
Joined: 12/12/2009
Recehan: 174

kl ada yang bagus boleh lah, masalahnya ini belum dipilihin sih, kemarin karena lg diberesin file di fd aku jd aku taro di sini sebelum dibuang.
Laughing out loud
tar kl ada yang bagus ya pa Ustad.

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

HUS...jangan manggil pak ustadz dong.
tapi itu semua bagus-bagus deh, kirim aja yang ada di sini ke redaksi@kartunet.com, nanti biar tim redaksi yang menyeleksi, gimana?

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

ckckckckckckckckckckck....beda ya kalo anak sastra mah yang berbagi warna kehidupannya. gimana kalo puisi-puisinya itu dikirim ke redaksi@kartunet.com, siapa tau nanti ada yang masuk ke buku kumpulan karya sastra kartuneters, bagus bu untaian-untaian kata yang terbalut dalam kelambu puisimu
salam akselerasi!

Offline
Joined: 12/12/2009
Recehan: 174

wah syahrini jd member jg yah?

Eka Taufanty's picture
Offline
Joined: 09/22/2011
Recehan: 321

Wah keren Smile
Makasih ya Teh Nensi udah membagi warna-warni hidupmu Smile

Offline
Joined: 12/12/2009
Recehan: 174

inilah hidup. di tahun 2010 lalu aku banyak menemui warna. dan sedikit kubagi, siapa tw tak semua dibilang dusta. karena, sisi baik atau tak baik pasti akan kita alami.
tks ya Kartunet.

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.