Proyek Novel Remaja Tunanetra

7 replies [Last post]
Offline
Joined: 09/11/2011
Recehan: 15

Dear Kartuneters,

Apa kabarnya? Saya Ramaditya, tunanetra berdomisili di Bekasi, dan ini postingan pertama di www.kartunet.com.

Beberapa waktu lalu saya telah menyampaikan kabar pada redaksi Kartunet bahwa saya tengah menggarap novel remaja tunanetra. Nah, saya ingin berbagi tentang proyek itu di sini! Smile

Dalam rangka terus mewujudkan kehidupan yang inklusif bagi penyandang
disabilitas, saya bersama seorang penulis dari lembaga belajar menulis
online Rumah Pena sedang menggarap sebuah novel remaja. Novel ini akan
mengangkat tokoh utama seorang tunanetra, dan dalam 1 novel akan
berisi 2 cerita, dari sudut pandang si tunanetra dan dari sudut
pandang si wanita yang menyukai tunanetra tersebut.

Novel ini diadopsi dari pengalaman pribadi yang saya alami semasa SMA,
ditambah olahan fiksi agar lebih menarik.

Kami selaku penulis memilih tema cinta dalam kehidupan remaja
mengingat banyak pembaca remaja di Indonesia yang menyukai tema
tersebut, dan secara tidak langsung dalam novel ini akan dimasukkan
berbagai unsur mengenai bagaimana tunanetra dan kehidupannya
sehari-hari.

Insya Allah novel ini akan rampung pada pertengahan tahun depan, dan
saya membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi rekan-rekan dari
Kartunet untuk menyumbangkan ide, kritik, serta saran dalam
pengembangan novel ini, agar setidaknya dapat memenuhi proses edukasi
secara tidak langsung, terutama bagi anak muda, tentang keberadaan
tunanetra sebagai rekan mereka yang setara.

Untuk sisi pria, novel ini berjudul Mata Kedua, sedangkan untuk sisi
wanita akan berjudul Hati Kedua. Berikut ini saya sertakan sinopsis
dari Mata Kedua untuk dapat dipelajari.

Bagi rekan-rekan tunanetra yang ingin menyumbangkan ide dan saran, Insya Allah akan saya masukkan dalam credit title di novel ini.

Rekan-rekan juga bisa langsung kontak saya melalui www.ramaditya.com (Facebook, Twitter, dan Youtube tersedia di sana).

Selamat menikmati!

----------

MATA KEDUA
Cerita dibuka dengan sebuah kecelakaan kecil yang terjadi di depan pintu gerbang sebuah SMU negeri, ketika seorang murid laki-laki secara tidak sengaja menabrak pintu pagar yang saat itu dalam posisi setengah terbuka. Siswa yang ternyata menyandang tunanetra sejak lahir itu adalah salah satu murid baru yang hendak menapaki jenjang pendidikan di sekolah menengah atas, dan satu-satunya murid tunanetra yang bersekolah di SMU negeri tersebut.
Namanya Rama, tunanetra dengan segudang impian yang ingin diwujudkannya menjadi kenyataan. Setelah lulus sekolah luar biasa (SLB) khusus tunanetra, ia bertekad melanjutkan pendidikan ke sekolah umum, guna menimba ilmu lebih banyak lagi dan merasakan pengalaman bergaul dengan murid-murid yang sempurna penglihatannya.
Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya ia pun diterima di sekolah pilihannya, meski nampaknya perjuangannya belum usai, ditandai dengan tabrakan yang membuat hidungnya berdarah.
Kecelakaan itu tentu saja mengundang perhatian murid dan guru yang kala itu tengah bersiap melakukan upacara dan pembagian kelas. Rama pun ditolong dan dibariskan bersama murid-murid yang lain.
Saat itulah seorang murid wanita menolong Rama dengan memberikan sapu tangan untuk menyeka darah yang mulai mengalir dari lubang hidungnya. Namanya Rara, gadis bersuara kalem dan berparfum bunga mawar, dua ciri khas yang menjadi tanda pengenal bagi Rama, karena ia tak mungkin dapat menatap wajah dan memandang fisik Rara.
Tak disangka, ternyata Rama terpilih masuk satu kelas dengan Rara. Saat diminta maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri, dengan penuh percaya diri Rama tampil dan mengutarakan impian dan cita-citanya. Decak kagum pun terdengar, dan Rama merasa senang. Namun ia dibuat kaget saat Rara maju ke depan dan memperkenalkan diri. "Nama gue Rara. Gue mau jadi pahlawan yang bakal dikenang oleh murid-murid sekolah ini," ucapnya, masih dengan gaya bicaranya yang kalem.
Sebentar saja, Rama pun akrab dan berteman baik dengan rekan-rekan sekelasnya. Pengalamannya sehari-hari -- yang merupakan hal baru bagi rekan-rekannya -- sangat menarik perhatian, salah satunya adalah bagaimana caranya Rama dapat bepergian sendiri, mengikuti pelajaran sekolah, nonton bioskop, bahkan menikmati hobi main video game yang notabene mustahil tanpa adanya penglihatan.
Namun, ternyata ada juga murid dan guru yang tidak suka dengan kehadiran Rama. Ada yang menganggap kebutaan yang dialaminya merupakan pembeda derajat, ada juga yang beranggapan kalau kebutaan Rama adalah penyakit yang dapat menular, dan ada juga yang menganggap bahwa membantu tunanetra adalah pekerjaan yang merepotkan. Peran antagonis ini dilakoni oleh Revi dan Cindy, rekan sekelas Rama. Ada juga Pak Sumanto guru BP, dan beberapa murid laki-laki dari kelas lain.
Kembali ke sekolah. Saat hari pertama sekolah berakhir, beberapa rekan sekelas Rama berencana main game ke salah satu tempat permainan yang lokasinya dekat pasar yang juga tak jauh dari sekolah. Karena cerita ini mengambil set waktu 1997-an, maka permainan yang cukup populer saat itu adalah arcade (Ding Dong), yaitu mesin game yang dapat dimainkan dengan memasukkan sejumlah koin.
Mendengar itu, Rama tertarik ingin menunjukkan kalau dirinya dapat bermain game juga. Meski heran dan setengah tidak percaya, teman-temannya pun mengajak Rama ikut ke arena permainan. Di situlah Rama menunjukkan keahliannya bermain game Street Fighter dengan cara mendengarkan efek suara dalam game itu, sehingga ia mampu menamatkan game berjenis pertarungan itu dan membuat takjub teman-temannya. Ia pun menulis nama inisialnya R1 (nama pada top skor hanya bisa diisi 3 huruf) di top ten score game itu.
Berita tentang murid tunanetra yang mampu menamatkan game tanpa melihat membuat heboh murid-murid SMU tempat Rama sekolah. Tak hanya anak kelas 1, beberapa kakak kelas pun penasaran ingin melihatnya. Maka di hari berikutnya mereka berangkat ke arena permainan.
Namun, saat mereka melihat daftar nama pemain pada skor game Street Fighter, mereka menemukan nama R1 tergeser ke peringkat dua. Bertengger di peringkat pertama adalah pemain berinisial R2, artinya ada pemain yang berhasil melampaui permainan Rama. Ternyata tak hanya pada game Street Fighter saja, namun hampir seluruh top skor game di tempat permainan itu diduduki R2. Itu artinya si pemilik inisial benar-benar seorang gamer yang hebat.
Alangkah terkejutnya mereka ketika tahu bahwa R2 sebenarnya adalah Rara, seorang murid perempuan yang tak pernah diperhitungkan bakal mampu main game apalagi main hingga sejago itu. Rara juga sangat pintar, itu terbukti dari kemampuannya menguasai pelajaran ilmu pasti dan elektronika.
Melihat ada anak perempuan yang begitu jenius, Rama menjadi terpacu dalam belajar.
Dengan berbekal kaset rekaman buku-buku pelajaran yang direkamkan ayahnya, serta rekaman catatan sekolah yang dibacakan teman-temannya, serta bersenjatakan mesin tik manual untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, Rama akhirnya berhasil masuk peringkat 10 besar di caturwulan 3 kelas 1.
Meski belum dapat mengejar Rara yang terus-terusan menduduki ranking 1, Rama tak pernah menyerah dan berusaha keras untuk menunjukkan yang terbaik.
Diam-diam, Rara ternyata selalu memperhatikan gerak-gerik Rama. Ia kagum dengan kegigihan Rama dalam belajar, dan juga sikap santai Rama menghadapi orang-orang yang tidak dapat menerima keberadaannya sebagai tunanetra. Secara diam-diam Rara sering membantu Rama, misalnya menyingkirkan tong sampah yang sengaja ditaruh untuk menghalangi jalan Rama, menyolder sambungan kabel yang diputuskan murid-murid yang iri pada pekerjaan elektronika Rama, bahkan merekam hampir semua buku pelajaran caturwulan 3 saat ayah Rama sakit dan tak dapat merekam buku pelajaran untuk Rama.
Saat naik kelas 2, kembali Rama duduk sekelas dengan Rara. Kali ini interaksi antara mereka berdua tambah dekat, apalagi ketika Rama ingin mewujudkan impian yang lebih besar dari sebelumnya. Ia ingin mengalahkan Rara, karena ternyata dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inngris dia lebih unggul, maka ia memutuskan untuk lebih fokus mendalaminya.
Rama juga bergabung dalam ekstra kurikuler Karate. Sayangnya, karena ia tak pernah melihat bagaimana pose dan gerakan dalam beladiri, ditambah lagi ketunanetraan yang disandangnya membuat Rama tidak dapat ikut latihan secara reguler. Selain perlu dibimbing khusus untuk mempelajari kuda-kuda, tendangan, dan pukulan, Rama juga harus memperbaiki pose serta kelenturan tubuhnya yang kaku, penyebabnya adalah karena tunanetra selalu berjalan dengan hati-hati sehingga tubuhnya menjadi tidak luwes.
Lagi-lagi Rara membantu usaha Rama, namun kali ini secara terang-terangan. Dengan memanfaatkan miniatur orang-orangan Power Rangers yang sangat lentur dan dapat digerakkan sesuka hati, Rara memberitahu Rama berbagai pose beladiri, mulai dari pemanasan, kuda-kuda, gerakan menendang dan memukul, bahkan tendangan putar.
Demi impian masuk tim reguler, Rama melatih fisiknya dengan keras. Ia berangkat lebih pagi dan memanfaatkan lapangan sekolah untuk melakukan berbagai gerakan pemanasan dan teknik beladiri yang dipelajarinya dari Rara. Dari kejauhan, Rara pun memperhatikan Rama, dan setelah berjalan beberapa minggu akhirnya Rara memutuskan untuk melakukan tes secara diam-diam, setelah sebelumnya mengundang instruktur Karate tanpa sepengetahuan Rama.
Saat Rama tengah duduk di pinggir lapangan, tanpa sepengetahuannya Rara melempar bola tendang ke arah kepalanya. Hal ini biasanya dilakukan Cindy dan Revi (meski keberuntungan selalu menyelamatkan Rama dan ia hampir tak pernah jadi korban), dan indera pendengaran Rama menangkap suara bola yang meluncur ke arahnya. Secara refleks ia melakukan tendangan putar dan menendang bola yang tengah meluncur ke arahnya. Gerakan itu spontan membuat instruktur Karate kagum dan akhirnya memasukkan Rama ke tim reguler, bahkan secara pribadi ialah yang akan membimbing Rama dalam latihan Karate.

Sementara itu, pelajaran sekolah kian hari kian sulit, dan tugas-tugas mulai menumpuk. Hal itu membuat murid-murid harus bekerjasama mengerjakan tugas, tak terkecuali Rama dan teman-temannya. Inilah kali pertama mereka diajak ke rumah Rara untuk mengerjakan tugas dan belajar kelompok.
Ternyata, Rara adalah anak tunggal pengusaha yang cukup kaya. Ayahnya bekerja di perusahaan komputer, sedangkan ibunya menduduki jabatan di salah satu bank ternama. Keduanya bekerja di luar negeri, dan baru dua atau tiga bulan sekali pulang ke Indonesia. Jadi, di rumahnya yang cukup besar dan mewah, Rara hanya ditemani seorang pembantu dan tukang kebun yang merangkap supir.
Meski kaya dan pintar, dan punya karakteristik yang cenderung tak banyak bicara, Rara sangat disukai teman-temannya karena tidak pernah ragu-ragu memberi bantuan, mendengarkan curhat atau keluh kesah orang lain, bahkan senang naik kendaraan umum bersama teman-temannya. Itu juga salah satu alasan kenapa teman-teman Rara betah belajar bersama di rumahnya, selain karena kenyamanan fasilitas yang tersedia di sana.
Suatu hari, teman-teman Rara pamit lebih dulu sementara Rara melanjutkan membantu pekerjaan rumah Rama. Di saat inilah Rara membawa Rama ke kamar yang disebutnya laboratorium pribadinya. Di dalamnya penuh dengan peralatan elektronik, komputer, dan mesin game. Di ruangan ini pula komunikasi dua arah semakin mendekatkan mereka berdua.
Di akhir kelas 2, sekolah mengumumkan bahwa akan digelar lomba pidato dua bahasa (Indonesia/Inggris) yang diikuti seluruh SMU di Jakarta. Setelah lolos seleksi, dan sabotase yang dimotori Revi dan Cindy, akhirnya Rama terpilih mewakili sekolahnya untuk ikut kompetisi, dan akhirnya ia berhasil membawa sekolahnya memenangkan kompetisi tersebut.
Saat sorak sorai kemenangan itulah untuk pertama kalinya Rama mendengar suara Rara yang beda dari biasanya. Rara bersorak kegirangan seperti halnya gadis-gadis seusianya yang baru saja menerima sesuatu yang amat menyenangkan. Namun saat acara selesai, Rara kembali ke gayanya yang semula, kalem dan tidak banyak bicara.
Akhirnya Rama pun naik kelas 3 dan dapat mengejar Rara ke kelas IPA meski dengan nilai yang nyaris di luar target.
Rama pun memutuskan untuk mengutarakan perasaannya yang terpendam pada Rara, perasaan yang tumbuh dari interaksi antara mereka. Saat ia menyatakan isi hatinya, Rara terdiam cukup lama, dan hanya menepuk pundaknya sambil mengucapkan terima kasih, lalu pergi meninggalkan Rama.
Setelah itu, Rara tak masuk sekolah selama 3 hari. Berbagai macam perasaan berkecamuk di hati Rama, apalagi ketika ia tak dapat menghubungi Rara, dan saat datang ke rumahnya pun tidak dapat menemui Rara. Apakah tidak masuknya Rara adalah karena hal itu?
Apakah pernyataan cintanya itu menyakiti hati Rara?
Saat Rara masuk sekolah, Rama berusaha untuk bersikap sewajar mungkin, meski hampir sepanjang hari Rara tak bicara dengan Rama. Kejadian berikutnya adalah hal yang mengejutkan, baik bagi murid-murid sekolah itu, terlebih bagi Rama.
Saat pulang sekolah, tiba-tiba Rara pingsan. Ternyata, selama ini Rara mengidap penyakit tumor otak, ditambah sebuah tumor kecil yang bersarang di otak kecilnya. Rupanya keadaan Rara sudah semakin parah, sehingga ia tak masuk selama 3 hari, meski pada hari berikutnya ia memaksakan diri berangkat sekolah bahkan tanpa diantar supirnya.
Inilah untuk pertama kalinya Rama dan teman-temannya bertemu orangtua Rara. Yang mengejutkan, orangtua Rara seakan sudah mengenal Rama dengan baik. Belakangan diketahui bahwa Rama adalah salah satu topik utama yang dibahas Rara dalam tiap komunikasinya dengan orangtuanya, dan satu-satunya teman sekolah yang selalu dibicarakannya.
Ternyata, selama ini orangtua Rara bekerja siang malam dan jarang pulang bukan karena mereka tak peduli dengan Rara, justru itu semua atas permintaan Rara. Awalnya mereka bekerja keras untuk mengusahakan pengobatan Rara, namun Rara kemudian minta hasil usaha itu dipakai untuk memfasilitasi dirinya belajar.
Saat dibawa ke rumah sakit, dokter memfonis Rara tak akan dapat ditolong. Satu-satunya hal yang dapat mereka lakukan adalah merawat dan memperlambat pergerakan tumor yang sudah mengganas.
Kesedihan pun menyelimuti hati teman-teman Rara, tak terkecuali Rama yang terkenal ceria dan cengengesan. Atas persetujuan orangtua Rara, Rama pun diijinkan sering mendampingi dan merawat Rara di rumah sakit, yang membuat komunikasi keduanya semakin dekat.
Di saat-saat terakhir inilah ketika Rara membuka rahasianya. Dulu, ia sudah sangat putus asa akan kondisinya. Namun, ketika melihat seorang pria tunanetra yang berdiri tegar sehabis menabrak pintu pagar sekolah, berusaha dengan gigih dalam belajar, bahkan melakukan hal-hal yang di luar bayangan Rara, ia pun tersentuh dan termotivasi. Rara kembali bersemangat, dan ia merasa telah menemukan “hati kedua” yang menyambung hati miliknya yang dulu hampir memutus hidupnya.
Akhirnya Rara meninggal di samping Rama, ketika Rama tengah mendongengkan Rara sebuah cerita fantasi, di mana Rara dan Rama bahu membahu menyelamatkan dunia.
Sesuai dengan cita-cita yang diucapkan Rara di depan kelas, dirinya pun menjadi pahlawan yang dikenang oleh SMU tempat ia bersekolah.
Oleh guru-guru yang kagum akan kejeniusannya,
Oleh murid-murid laki-laki yang kagum akan kehebatannya bermain game,
Oleh murid-murid perempuan yang selalu mendapat keteduhan setelah curhat dengannya,
Dan tentu saja, untuk Rama...
Apa yang telah dilakukan Rara telah membuka mata banyak pihak akan persamaan hak dan derajat manusia, tak peduli apakah ia sempurna fisiknya atau berkekurangan fisiknya.
Rara yang tak membedakan Rama dan mau membantu tugas-tugas sekolahnya, Rara yang tak pernah setengah-setengah melayani Rama bertarung di game, Rara yang tak pernah malu menuntun Rama ke sana ke mari, bahkan Rara yang tak berpikir dua kali untuk membela hak-hak Rama sebagai seorang murid... Semuanya telah menginspirasi teman-teman Rama bahkan mereka yang sebelumnya tidak menerima keberadaan Rama, untuk melakukan hal yang sama, dan membantu Rama menuntaskan EBTANAS hingga meraih peringkat 1.
*** Untuk mengetahui kisah Rara, silahkan membaca sisi “Hati Kedua.”

Offline
Joined: 09/11/2011
Recehan: 15

Terima kasih ya masukannya Dhani. Akan saya pertimbangkan dalam penggarapan novel ini.

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

Mungkin pada bagian main video games itu. nanti bisa dijelaskan secara rasional dan logis bagi nontunanetra. Karena secara awam, tentu mustahil tunanetra total dapat main video game. Jadi jangan sampai ada persepsi bahwa tunanetra punya indra keenam yang bisa melihat tanpa visual. tapi diterangkan sejelas mungkin bagaimana dengan bantuan suara itu tunanetra dapat main video game yang bukan audiogame. Karena jika sampai timbul persepsi seperti itu, akan amat berbahaya untuk teman2 tunanetra yang lain.

Offline
Joined: 09/11/2011
Recehan: 15

Iya, rencananya memang begitu Dhani.

Jadi, kalau dari sudut pandang Rara akan lebih banyak membahas tentang kisahnya selama sebelum SMA, dan kisahnya di SMA paling tidak hanya 30% saja.

Nah, kita memang berasumsi bahwa pembaca tidak mengetahui alurnya secara lengkap sebelum membaca kedua sisi, jadi hal-hal yang berhubungan dengan kesamaan akan diminimalisir.

Terima kasih ya buat masukannya, dan ditunggu masukan teman-teman yang lain! Smile

Offline
Joined: 12/12/2009
Recehan: 174

hmm, semoga sukses novelnya yah! meskipun sebenarnya sih, aku terlalu jenuh dengan cerita2 seperti ini. terasa monoton, dan fiksi abis. tp mudah2an kl udah jd novel akan terasa lain sentuhannya.
Smile

Offline
Joined: 09/09/2011
Recehan: 183

Halo mas Rama Smile
Akhirnya dipublikasikan juga nih sinopsis novelnya Tongue
Sinopsis hati kedua nya bisa baca di mana ya?

Offline
Joined: 09/11/2011
Recehan: 15

Wah, sayangnya untuk sinopsis Hati Kedua ada di tangan penulisnya Mbak Asri Rachmawati (Achi TM). Kami memang sepakat hanya mempublikasikan sinopsis yang berhubungan langsung dengan ketunanetraan.

Offline
Joined: 09/09/2011
Recehan: 183

Hm, gitu... Kalo ga salah, waktu itu mas Rama bilang cerita yang dari sudut pandang Rara diceritakan dari Rara SMP sampai dia meninggal juga ya? Berarti alur ceritanya sama ya dgn mata kedua, tapi hanya beda sudut pandang? Kalo boleh kasih masukan, mungkin sebaiknya jangan dilakukan pengulangan cerita dari dua sudut pandang. supaya lebih membuat pembaca penasaran. Misal,awal sampai tengah cerita dilihat dari sudut pandang Rara, kemudian tengah sampai akhir cerita dari sudut pandang mas Rama, atau sebaliknya.
Ini hanya masukan sih mas, maaf ya kalo agak sok tahu Smile
Sukses terus untuk mas Rama dan novelnya! Smile

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.