SENJA YANG JINGGA
SENJA YANG JINGGA
Aku bercengkrama dengan senja, pada yang jingga
Sebelum hujan turut bermain dan beriak menjadi genangan
Berlari menembus semak pada hutan yang nestapa
Memacu derap pada lari bertelanjang kaki
Terjamah duri pada geliat yang tak terperi
Jingga masih jingga, tapi kini tak lagi senja
Dibawa awan yang meriak hujan, membasuh luka pada yang nista
Jingga lalu berarak hilang mematuh senja
DI GIGIR YANG CURAM
Dirinya memanggul kayu dipunggung yang terluka
Menyeret langkah dengan asa yang kian getir,
Mengacuhkan gemeletuk dicuramnya gigir
Hati itu telah lama terpaut pada yang niskala
Berharap pada senja hingga ditiupnya sangkakala
Kelemahannya adalah tak pernah meminta, walau hati selalu memuja
Ia percaya, tapi enggan menunggu derma.
GADIS BERPONI ITU
Gadis berponi itu tak lagi berkuncir kuda, tawa lengkingnya kian menghilang
Berpagar duri, menjadi bulan untuk para pungguk yang merindu
Gadis berponi itu tak lagi menjadi selayang pandang
Mencipta magnet memerangkap selaput pelangi dengan senandung biru
Gadis berponi itu tak lagi berlari dihalaman dengan polah yang sembarang
Terpingit anggun pada ruang yang terjaga tanpa serdadu
Gadis berponi itu menemani senja dengan riang
Menunggu penakluk yang berkuda warna abu.
MENJADI TERBUANG
Di senja yang terentang aku termangu dalam bisu
Menyaksikannya yang mulai mengangkat sauh
Menatap bahteranya yang perlahan kian menjauh
Namun aku tetap membatu pada rasa yang tertambat
Di dermaga itu aku ditinggal dengan dingin hingga membiru
Menahan untuk meratap hingga hujan datang memeluk
Kini aku melirih pilu, menjadi terbuang dari rahim sang ibu
KURSI GOYANG
Lelaki tua itu senang berpetuah sambil berayun
Dari kursi goyang tuanya berderitlah akan dirinya yang termakan umur
Tenggelamlah ia dalam cerita panjang tanpa jeda
Tentang kudanya, tentang keringatnya, tentang pedangnya yang sempat terhunus
‘Pantang pulang sebagai pecundang!’
Lelaki tua itu selalu mendesah dengan nada bangganya
Acapkali asap cerutu menimpali lewat celah giginya tak konsisten
Kursi goyangnya makin menderit dan merapuh
Tapi ia tetap bercerita hingga senja menjemputnya.
LELAKI DIBAWAH AKASIA
Dibawah akasia kering ia mengadu lelah
Menuntut matahari untuk sedikit malu dan meredup
Ujung baju itu menjadi saksi atas dirinya yang membasah
Dibatas lelah tangannya menari pada lembaran keramat
Menghitung keluh dari cucuran peluh
Lalu tersenyum sekejap untuk lengkungan menyenangkan dari bibir gadisnya
Gadis kecil yang sabar menunggunya pada senja yang menjelang
Senja yang tak jingga, 1 Juni 2011
- 441 reads


- PDF version






luar biasa kawan... sungguh
luar biasa kawan... sungguh indah karyamu.. terus berkarya
Mantaaaaaaap bgt.. Ayo,,,!
Mantaaaaaaap bgt.. Ayo,,,! Terus berkarya dan sukses selalu...
yaps, betul sekali. buatlah
yaps, betul sekali. buatlah suatu karya, walau hanya sekceil kacang hijau, karna bermuola dari yang kecil itulah, karya-karya kita akan menjadi besar dan bermanfaat untuk orang banyak, amin.
Post new comment