TAK UNTUK DI UNGKAPKAN

Sudah kesekian kalinya aku memandangi Fero, cowok super tenang yang pernah aku temui, secara diam-diam. Aku mulai menyukainya sejak kelas 3 SMP. Kami tidak satu sekolah saat SMP. Aku mengenalnya dari sepupuku.


Kini aku dan dia berada di SMA yang sama. Selama 3 tahun satu sekolah, baru kelas 3 ini aku dan dia satu kelas, bahkan bangku kami hampir berdekatan. Tapi aku tidak pernah menyapanya sekalipun.


“Nat...!” Panggil Mimi, temen sebangkuku.


“Hm....” Responku pelan, enggan berpaling dari pandanganku pada Fero.


“Dicari Fendi tuh.”


“Mana?”


“Dia nunggu kamu di luar kelas. Katanya ada yang penting.”


“Apaan sih?” Nada suaraku sedikit kesal, enggan beranjak dari bangkuku. ”Biarin ah...”


“Nat, dia udah nunggu kamu dari tadi. Kasian kan?”


“Ah...bodo..” Sahutku  tak acuh.


“Nata, aku mau ngomong sama kamu.” Suara Fendi terdengar dari belakang tubuhku. Kurasa dia udah gak sabar menunggu ku di luar. Sehingga menerobos masuk ruang kelasku.


“Ngomong aja.” Jawabku malas, enggan membalikkan muka dari posisi Fero untuk memandang Ferdi.  


“Kita ngomong di luar.”


            “Di luar? Disini aja, ngga ada yang pribadi kan?” Akhirnya aku memandang Ferdi dengan kesal.


“Nat..ini penting dan sangat pribadi.” Wajah Ferdi berubah serius.


“Tapi aku malas keluar kelas Fer!” Jawabku dengan muka serius pula.


“AKU SUKA KAMU NAT.!” Kata Ferdi berseru lantang di dalam kelas. Membuat semuanya menengok kearah kami, tak terkecuali Fero.


“Kamu ngomong apa sih Fer...” kataku segera setelah pulih dari keterkejutan. “Anak–anak pada ngelihatin kita!” Bisikku tertahan.


“Aku ngga peduli. Biar mereka semua tahu kalo aku suka ama kamu”


“Kamu gila ya....” kataku kesal


“Ya...aku emang gila, dan itu karena kamu. Karena kamu ngga pernah merespon perasaanku”


“Kamu......” kataku segera terpotong


“Aku suka sama kamu Nat. Aku sayang sama kamu. Ini semua membuatku gila.” Ferdi hendak membungkukkan badannya dihadapanku.


“Kamu apa-apaan sih!” Kataku menahan tindakannya. Lalu menengok kearah Fero yang juga memandangku. Fero memalingkan pandangannya saat pandangan kami bertemu.


“AKU SUKA KAMU NAT!” Teriak Fendi lantang. ” Biar mereka semua tau, aku suka sama kamu....”


“Tapi aku nggak.” Sahutku singkat. “Aku nggak suka dan nggak pernah suka sama kamu, puas!” Kataku kesal  kemudia beranjak pergi ke luar kelas.


“Nat...Nata...” panggil Mimi yang mengikuti langkahku. “Nata, tunggu dong!”


“Aku ingin sendiri, Mi. Tolong, tinggalkan aku sendiri!”


“Tapi Nat?:” Mimi agak ragu.


“Please...” Aku memasang muka serius. Jurus jitu untuk mengusir Mimi tiap kali dia ngotot berada di dekatku.


Mimi menjauh dariku perlahan. Aku bener-bener ingin sendiri saat ini. Aku nggak tau apa yang dipikirkan temen-temen sekarang, terutama Fero. Dia memalingkan pandangannya dariku, seakan dia tak ingin melihatku lagi. Apalagi pandangannya tadi terasa dingin, benar-benar dingin malah.


***


Hari ini aku memilih menjauh dari keramaian. Aku ngga mau peristiwa kemarin terulang lagi karena kulihat di situ ada Fendi. Aku melangkah perlahan dari kerumunan itu, menjauh.


 “Nata...” panggil Mimi sembari tersenyum lebar padaku. “Kamu udah lihat pengumuman yang ada di mading?”


 Aku menggelengkan kepala. “Emangnya ada apa?” tanyaku kemudian.


“Aduh Nata....please deh. Masa kamu nggak tau sih...”


“Apa?”


“Besok kelas 3 ada acara jalan-jalan.” Jawab Mimi tersenyum sembari merangkulku.


“Jalan-jalan kemana?”


“Ke puncak dong....”


“Kok mendadak...” Kataku segera.


“Tau.....” Respon Mimi sambil menggelengkan kepalanya.


Aku dan Mimi berjalan menuju kelas, seperti biasa aku selalu mengecek barang-barang yang ada dalam tasku, tak terkecuali semua catatan dalam bukuku.


“Mi...hari ini ngga ada PR kan?” Kataku pada Mimi setelah memeriksa semua catatan bukuku.


“Lho...ada, PR Fisika.” Jawab Mimi segera. “Kan kamu yang kemaren bilang ke aku, ‘Mimi...ada PR fisika, jangan lupa buat PR ya.’ Kan lusa mau dikoreksi.” Lanjut Mimi dan menirukan kata-kataku tempo hari.


“Ya...ampun Mi... aku lupa. Aku ngga bawa buku Fisika.” kataku segera.


“Loh...terus gimana? Padahalkan Fisika jam pelajaran pertama.”


“Aduh...gimana dong Mi....” Keluhku. “Bantuin dong!”
“Gimana caranya?” Respon Mimi bingung.


“Pagi anak-anak!” Sapa Pak Santo, guru Fisika yang terkenal sangat sangar
“Pagi Pak....” Sahut anak-anak satu kelas serempak.


“Oh....ya. Kita kedatangan murid baru dari Bali.” Kata Pak Santo kemudian.


 “Ayo...silakan masuk.”


Seorang laki-laki masuk perlahan kedalam kelasku dan langsung menyita
perhatian satu ruangan. Aku masih sibuk dengan PR ku.


“Ayo, silakan perkenalkan nama kamu.” Kata Pak Santo ramah.
“Namaku Yonki, pindahan dari Bali”


Mendengar itu sontak aku langsung menengok kearah suara itu, “Kiong??” Ucapku lirih.


“Perkenalan selesai. Yongki kamu bisa duduk di bangku belakang yang masih kosong”


Yongki hanya menggangguk dan mulai berjalan perlahan menuju bangku yang ada di belakangku, sembari melirikku.


“Sekarang keluarkan tugas yang kemarin kalian buat.”


“Mampus......” Keluhku segera. “Gimana ini?” Gerutuku pada Mimi.
“Aku ngga tau Nat....”


Tiba-tiba ada yang menepukku dari belakang.


“Ini buku fisikamu.” Kata Yongki cuek.


“Kok.....” Responku bingung.


“Ceritanya nanti aja, sekarang kan lagi pelajaran.” Sela Yongki segera sembari tersenyum manis.


Bel istirahat berbunyi juga, setelah ketegangan pada jam fisika.


“Kamu ngga mau tanya kapan aku sampai di Jakarta?”


“Ah....apaan sich, aku tuh masih marah sama kamu!!!!” Kataku sewot.


“Kan aku udah pamitan waktu aku pindah dulu.”


“Iya, kamu emang pamitan. Tapi waktu kamu udah nyampe di Bali.”


“Maaf deh.”


“Mikir-mikir dulu deh maafnya diterima apa gak.” kataku cuek dan berjalan meninggalkan Yongki keluar kelas.


“Nata....tunggu!” Kata Yongki segera sambari menarik tanganku.


“Kiong.....!!!!” Teriakku. “Kamu apa-apaan sich??”


“Ayo, ikut aku.....” kata Yongki yang sepertinya marah sembari menarik tanganku kasar berjalan ke arah aula sekolah.


“Kamu mau apa sich?”


“Aku ngga akan lepasin tangan kamu sampai kamu mau maafin aku.”


“Kiong, anak-anak pada nglihatin kita.” Kataku pelan.


“Biarin”! responnya cuek dan masih memegang tanganku.


“Gimana, mau maafin aku?”


“Kiong, aku makin marah sama kamu.” Kataku segera. “Kenapa baru sekarang kamu minta maaf?”


“Gimana aku bisa minta maaf, nomor kamu nggak pernah aktif.” Kata Yongki kesal. “Kalo aku telepon nomor rumah kamu, pembantu kamu bilang kamu ngga ada, dan selalu begitu. Gimana aku bisa minta maaf.” Lanjut Yongki kemudian.


Aku terdiam, aku juga salah tapi aku benar-benar kesal sama Yongki. Dia ninggalin aku begitu aja.


“Kamu mau kan maafin aku??” Bujuk Yongki memelas.


Tapi segera kutarik tanganku dari genggaman Yongki dan lari masuk kelas.
Aku nggak tau apa yang harus aku lakukan. Entah apa yang ada di pikiran anak-anak yang melihat semua itu sekarang.


Aku menundukkan kepalaku di meja bangkuku. Mataku sedikit berkaca-kaca.


 “Ini, usap air matamu.” Terdengar suara yang lembut sembari menyodorkan sapu tangan di depanku.


Aku belum berani menengok kearah suara yang berasal dari depanku.


“Aku ngga suka lihat kamu nangis.” Suara itu kembali terdengar, walau aku ngga percaya akhirnya suara itu menyapaku.


Aku belum berani menatapnya, masih tertunduk.


“Kamu jelek kalo nangis!” Katanya pelan sembari mengusap air mataku. Lalu.....
“Deg......” jantungku berdetak keras. Fero memelukku erat. Waktu berjalan lambat, sangat lambat malah. Tapi aku suka itu.


“Nat....” Panggil Mimi, membuat Fero melepaskan pelukkannya dariku. “Sorry...” Ucap Mimi pelan.


Aku dan Fero masih terdiam.


“Ehm...kenapa Mi....?” Tanyaku kemudian.


“Fendi dan Yongki berantem di belakang sekolah.”


“Apa...???” Responku segera dan berlari ketempat dimana Fendi dan Yongki berantem.


“Nat....tunggu!” Teriak Mimi mengikuti di belakangku.


Aku bisa melihat kerumunan anak-anak yang melihat perkelahian Fendi dan Yongki. Aku menerobos kerumunan itu dengan paksa.


“Kiong....Kiong....berhenti!” Kataku seraya meraih lengan Yongki yang hendak memukul Fendi yang udah babak belur.


“Lepasin Nat....! Aku nggak suka kamu dihina oleh siapapun, termasuk cowok bego kayak dia.”


“Udah Kiong....udah. Nggak usah dilayanin, dia emang resek.” Kataku panik. “Udah lepasin dia, kita pergi dari sini.” lanjutku dan menarik Yongki keluar dari kerumunan itu. Aku masih memegang lengannya erat, takut dia akan kembali  menghajar Fendi.


Fero melihatku yang masih mengandeng lengan Yongki. Dia segera memalingkan pandangannya.


 “Ah....... aku benci semua ini.” Ucapku dalam hati melihat ekspresi Fero.


“Aku nggak suka kalau kamu berantem kayak tadi. Hari ini hari pertama kamu masuk sekolah.” Kataku sewot.


“Dia yang mulai duluan, bukan aku.” Bantah Yongki sembari melempar tasnya di sofa ruang tengah rumahku setelah kami pulang sekolah.


“Tapi kamu nggak harus ngelayanin dia gitu....” Kataku seraya melepas sepatuku. “Bi...tolong ambilkan kotak obat dan air....” Kataku pada pembantuku saat berjalan menuju kamar untuk ganti baju.


“Den Yongki kenapa?” Tanya pembantuku. “Perasaan tadi pagi ngga memar gitu...” lanjutnya.


“Ngga apa-apa kok Bi...”


“Makanya jadi orang tuh jangan sok jagoan.” Kataku saat mengobati luka yang ada di wajah Yongki.


“Kan ini untuk kamu.”


“Apanya yang untuk aku? Nyusahin aku maksud kamu?”


“He...he...” Yongki nyengir.


“Gimana, sekarang mau maafin aku?”


“Hm.......kamu tau kan kalau aku paling ngga bisa lama-lama marah sama kamu?”


“Trusss?”


“Ya...aku maafin kamu.”


“Makasih ya... Aku sayang banget deh sama kamu.”


“Aku juga sayang sama kamu.” Kataku dan Yongki segera memelukku.


“Hai Nat.......” sapa Mimi yang nyelonong masuk kamarku. “Ops......sorry.” Ucapnya pelan.


“Mimi....”


“Sorry Nat...Aku nggak sengaja.” Kata Mimi yang segera membalikkan badannya.


“Ayo ikut aku!” Kataku segera dan menarik Mimi ke halaman belakang rumah.


“Sorry Nat.....” Kata Mimi takut.


“Jangan bilang sama siapapun tentang kejadian yang kamu lihat barusan dan tadi di kelas, okay? Kalau enggak....” Kataku tak meneruskan.


“Kalau enggak kenapa?”


“Kamu mau, aku suruh Yongki memukuli kamu kayak dia mukulin Ferdi tadi?”


“Nggak...nggak... Tapi emangnya kamu ngapain sich Nat sama Yongki di dalam kamar? Pake pelukan segala!”


“Bukan urusan kamu.”


Ah....aku ngga tau apa lagi yang akan terjadi. Yang jelas, aku akan jauh dari Fero. Karena mulai sekarang aku akan berangkat dan pulang sekolah bareng Yongki.


“Nat....aku mau bicara sama kamu sekarang, bisa?” Kata Fero pelan, menghampiriku di ruang perpustakaan.


“Ya....” Jawabku singkat.


“Kita bicara di sana ya.” Ajak Fero dan aku megikuti langkahnya menjauh dari ruang baca, menuju ke arah rak-rak buku yang jauh lebih tenang. Fero menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di hadapanku.


“Aku hanya ingin tau, apa kamu punya hubungan lebih dengan Yongki?” Kata Fero yang membuatku terkejut. “Maaf kalo aku lancang bertanya seperti ini sama kamu.”


“Ngga Fer...ngga apa-apa kok.” Selaku segera.


“Lalu....?”


“Aku dan Kiong, maksudku Yongki udah temenan dari kecil. Tempo hari dia pindah ke Bali tanpa memberitahuku.” Jelasku. “Aku marah sama dia dan kemarin dia minta maaf. Sekarang aku dan dia udah baikkan.” Lanjutku.


“Nggak ada yang lain?”


“Nggak ada Fer...cuma itu.” Ucapku pelan. Fero tersenyum sangat manis. Kemudian dia memelukku, lalu mencoba mencium bibirku. Aku tak kuasa menolaknya. Karena aku juga menginginkan itu.


“BUKKKKKK.........” tiba-tiba terdengar suara sesuatu jatuh tak jauh dari aku dan Fero. Suara buku jatuh itu mengagetkan kami dan menghentikan semuanya.
buku itu sengaja dijatuhkan oleh Yongki. Dia benar-benar nggak mau aku dimiliki oleh siapapun. Tapi, aku punya pilihan sendiri.


“Maaf...” Ucap Fero pelan.


“Ya...” Responku malu lalu Fero menggandengku keluar dari perpustakaan.

</p>
No votes yet

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.