TEKNIK MEMUNCULKAN IDE CERPEN

106 replies [Last post]
Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 101

Sebelumnya kita sudah pernah membahas mengenai karakter. Tingkat kedetilan sebuah karakter akan memperkuat cerpen yang kita tulis. Tingkat kedetilan muncul dari pengamatan yang jeli dan kesabaran kita memotretnya lewat bahasa.

Setelah memiliki karakter yang kuat, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah bagaimana menyusun sebuah ide dengan memainkan karakter tersebut sehingga menjadi cerpen yang menarik.

Bagaimana memunculkan ide supaya bisa kita garap menjadi cerpen? Ini adalah pertanyaan yang sangat sering kita dengar dari teman-teman yang sedang belajar menulis cerpen. Nah, ternyata teknik memunculkan ide itu sederhana sekali. Lakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Masukkan tokoh itu ke dalam rumah. Kunci pintunya rapat-rapat, kalau perlu berilah palang pintu yang kuat.
2. Bakar rumah itu.
3. Buatlah tokoh itu keluar dari dalam rumah.

Sederhana, bukan?
Tiga langkah sederhana tersebut bersifat perumpamaan. Maksud dari langkah pertama adalah memberi masalah kepada tokoh. Memasukkan tokoh itu ke dalam rumah dan menguncinya membuat tokoh berada dalam masalah. Tokoh dalam cerpen kita harus memiliki masalah yang sedang mengganggu pikirannya. Inilah yang disebut konflik. Konflik tidak harus sesuatu yang besar atau berat. Tapi, konflik itu harus cukup mengganggu tokoh utama. Misalnya, masalah jerawat mungkin bukan masalah yang besar, tapi untuk seorang tokoh dengan karakter tertentu, jerawat menjadi sangat mengganggu. Tokoh utama mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah itu.

Langkah kedua: membakar rumah. Fungsi dari langkah ini adalah menempatkan tokoh pada kondisi mau tidak mau harus keluar dari masalah. Kalau tidak, akan muncul masalah yang lebih besar. Dia harus bisa keluar dari dalam rumah, atau dia akan mati terbakar. Inilah yang disebut dengan suspense atau ketegangan.

Langkah berikutnya: buatlah bagaimana tokoh itu bisa keluar dari dalam rumah. Apa pun caranya. Inilah yang disebut dengan ending. Dari keadaan sebelumnya, kembangkan suatu masalah yang harus diselesaikan si tokoh utama tadi. Tunjukkan bagaimana tokoh itu akhirnya mengatasi masalah.
Pada beberapa cerita, hal terakhir ini seringkali juga sekaligus digunakan sebagai tempat memunculkan pesan yang ingin disampaikan penulis.

Jangan lupa, tetap perhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Fokus cerita berupa tema. Tema adalah ide utama dan benang merah dari keseluruhan cerita. Tema tersebut tetap harus kuat terasa ketika orang selesai membaca.
2. Alur, atau proses bagaimana tokoh utama menyelesaikan masalah. Alur ini perlu dibangun secara lengkap dan tergambar dengan jelas.
3. Karakter yang konsisten.
4. Dialog yang baik, riil, dan enak didengar, logis sesuai karakter. Misalnya kita membuat karakter romantis, maka dialog-dialog yang kita buat untuk tokoh tersebut pun harus menggambarkan sisi romantisnya. Begitu juga jika kita membuat karakter tokoh pemalas, pemarah, atau interogatif.
5. Gambarkan seting cerita dengan meyakinkan.

Cahya Naurizza

wah senangnya bisa belajar online dengan mas sakti...suhuuu...saya ikutan yaks ^^ *salam kangen dari Pramuda FLP Bekasi ^^

Offline
Joined: 03/28/2011
Recehan: 89

"Halo Cahya! salam kenal, aku Senna, pun anggota FLP Ciputat. Btw, kapan2 sambil ikut kelas online, bagi-bagi ilmu nulisnya ya! biar kartuneters yang lain tambah pengetahuan. Salam akselerasi ya!"

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

hallo cahaya nauriza salam kenal juga, saya anggota FLP Ciputat angkatan 8, salam hangat kembali, ditunggu loh partisipasinya pada tanggal 19 oktober nanti di kelas online ini, siapa tau kita bisa saling berbagi ilmu di sini, kabari temen2 FLP lainnya ya agar bisa ikut berpartisipasi di sini uga
Salam Pena dan Salam Akselerasi!

Eka Taufanty's picture
Offline
Joined: 09/22/2011
Recehan: 321

Wah, seru ya...tapi sayangnya aku gak ikut. Aku gak tahu kalo ada kelas online ini....hikkssss....hikkkssss......
ketinggalan jaman banget deh daku hiksss

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

tenang Eka, nanti tanggal 19 Oktober pukul 20:30 WIB, silakan nanti memperkenalkan diri dan asal daerahnya, oke Eka, ditunggu loh kehadirannya!!!

Eka Taufanty's picture
Offline
Joined: 09/22/2011
Recehan: 321

Okay okay okay mas Rafik, Insya Allah aku hadir di kelas online berikutnya...pasti banyak banget ilmu yang bisa aku serap Smile

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

oke kawan2, terima kasih banyak atas partisipasinya di kelas online ini, baik yang sudah bergabung sebagai anggota bengkel sastra ataupun belum. sebagai informasi, bagi temen2 yang ingin mengikuti secara rutin hanya melalui online di kelas online bengkel sastra ini bisa ikuti terus kelas online ini tiap rabu, minggu pertama dan minggu ke tiga di setiap bulannya, mulai ukul 20:30 WIB sampai 22:30 WIB. alangkah enaknya kalau temen2 yang hanya ingin mengikuti kelas online tiap rabu malam bisa memperkenalkan terlebih dahulu nama dan tempat tinggalnya agar bisa lebih akrap dengan pemateri dan kawan2 yang sudah menjadi anggota bengkel sastra.

kelas bengkel sastra ii sebetulnya ada dua jenis kelas, ada kelas online tiap rabu minggu pertama dan ke tiga dan ada juga kelas offline yang bertempat di yayasan mitra netra lebak bulus tiap hari jumat minggu ke dua dan keempat pukul 14:00 sampai 16:00 Wib.

untuk temen2 bengkel sastra ada titipan dari mas sakti, akan diberikan tugas yang akan diposting di groups pelatihan menulis disabilitas.
saya sebagai moderator kelas online kali ini mohon maaf bila ada kekurangan, dan sampai jumpa dikelas offline Jumat, 14 Okt 2011, dan temen2 yg ikut kls online kita tunggu kehadirannya kembali pada rabu malam, 19 Okt, jangan lupa ya pukul 20:30 WIB
Salam Akselerasi!

Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 196

Udah bel pulang nih? Baiklah.

Sampai ketemu lagi yaaa.... Maaf kalau ada kata2 yang kurang berkenan. Smile

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

untuk temen2 yang baru bergabung mohon perkenalkan diri dulu, karna pemateri kita yaitu mas sakti mungkin belum mengenalnya, dan mungkin setelah kelas ini ditutup bisa mendaftarkan diri menjadi member kelas bengkel sasta ini, diberitahukan bahwa kelas bengkel sastra ini tidak hanya dibuka secara online tetapi juga secara offline, tuk kelas onlinne dibuka tiap hari rabu malam dari pukul 20:30 Wib sampai 22:30 WIB, terim kasih

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

tapi pasti sebagian ada yang hanya bisa ikut online saja karena domisili tidak di Jakarta bung.

Offline
Joined: 10/31/2009
Recehan: 26

gurunya mana ni? ko belom ada jawaban he Smile

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

Guys, keren nih. ada 9 orang member yang online dan 17 orang lain belum terdaftar yang ikut memantau kelas kita ini. itu please tombol retweet dienter dan like postingan ini biar makin banyak yg ikut partisipasi ya. hehe Smile

Offline
Joined: 10/31/2009
Recehan: 26

bagaimana cara membuat ending pada sebuah cerita agar cerita yang kita buat benar2 cerpen. terkadang kita ingin membuat cerpen tapi yang terjadi ceritanya semakin luas dan sangat panjang.

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

Betul juga. kadang2 keasyikan nulis eh malah jadi mini novel. atau malah cerpen yang tersesan dipanjang2kan karena kita ga nemu2 endingnya?

Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 101

Yups... ini masalah yang cukup sering dialami teman-teman. Tidak masalah sebuah cerpen menjadi panjang. Jangan merasa sayang untuk mengeksplorasi. Nanti setelah cerpen tersebut selesai, akan ada fase editing, di mana kita akan membuang bagian-bagian yang lemah, atau bagian-bagian yang tidak perlu.

Tidak masalah saat kita menulis cerpen, begitu selesai ternyata 40 halaman panjangnya. Padahal cerpen normal yang dimuat di media massa berkisar 6-10 halaman saja. Saat membaca ulang cerpen yang 40 halaman, kita pilih bagian dramatisasi yang paling bagus, kemudian buang sisanya yang tidak perlu. Kadang-kadang kita menemukan kalimat atau dialog tokoh yang kurang efektif, dan ini bisa kita pangkas juga.

Intinya, eksplorasi saja dulu. Jangan khawatir cerpen kepanjangan. Kelas kita nanti akan berlanjut sampai tahap editing, kok... Jadi jangan khawatir, teman-teman nanti bisa mengedit sendiri cerpen-cerpennya yang puanjaaaaaang... menjadi cerpen normal 6-10 halaman tanpa harus kehilangan esensi, pesan, maupun kekuatannya.

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

Alhamdulillah. terima kasih sekali mas Sakti pencerahan2 ini. hehe. amat bermanfaat Smile

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

subhanallah banget ya! ternyata sudah jam setengah sebelas, tetapi suasana kelas masih cukup panas, mungkin yang mau tanya2 banyak bisa lebih dipercepat kali ya, kita masih punya waktu setengah jam lagi untuk berinteraksi, mengingat peraturan yang sudah kita sepakati bersama maksimal jam 11 gerbang sekolah mau digembok wkwkwkwkwk

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

o iya mas, sakti, masalah penguatan karakter tokoh, terkadang saya kesulitan untuk menggambarkan orang yang lagi sedih itu mukanya gimana, kemudian orang yang lagi banyak pikiran atau sedang menyembunyikan sesuatu itu kaya gimana, nah ada alternatif lain gak yang bisa membantu

Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 101

Penggambaran kesedihan tidak harus dengan visual. Apalagi untuk teman-teman tunet. Justru keunikan akan muncul dari tulisan teman-teman yang mencerap dengan indera selain penglihatan.

Misalnya, gambarkan kesedihan itu dari dengusan napasnya, atau dari gerakannya yang mekanis karena gelisah, atau dari gagapnya dia merespons sapaan orang karena pikirannya sedang tidak fokus, atau dari jawabannya yang tidak nyambung dengan pertanyaan saat disapa, atau dari sensitifnya karena sedang sedih, mudah tersinggung, salah tafsir terhadap kalimat orang lain, dan sebagainya.

Pengamatan yang dilakukan teman-teman tunet pasti berbeda dari teman-teman yang awas. Dan karena itu justru berpotensi memunculkan tulisan yang unik, berkarakter, dan berbeda dari yang lainnya.

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

mantap mas Sakti. tapi terkadang paradigma di penulis2 yang tunet masih terpaku pada visual karena cerpen2 yang dibaca seperti itu. ketika cerpen2 bisa dengan detail menjelaskan secara visual yang tunaet pun mampu sebenarnya untuk berimaginasi. tapi mungkin paradigma itu perlu mulai digeser untuk memaksimalkan indera2 lain meski visual juga tetap dipakai dalam tulisan.

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

wow KEREN!...ya...ya...ya....kalo tunanetra lagi jatuh cinta ciri-cirinya gimana ya??? wkwkwk *intermezo*. terus efektifnya suatu cerita itu paling tidak miimal ada berapa karakter mas, apakah cukup dengan dua tokoh asal karakternya kuat itu lebih bagus atau lebih dari dua tokoh?

Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 196

Kalau perlu contoh tulisan yang menonjolkan ciri ketunetan, teman2 bisa baca tulisan Pak Irwan di majalah Diffa. Memang Pak Irwan biasanya menulis kisah perjalanan, bukan cerpen. Tapi teman2 tetap bisa meniru metode penulisannya.

Misal untuk menggambarkan seberapa luas ruang dalam sebuah gua, Pak Irwan tidak menyebut sekian meter, tapi menyebut sekitar 20 langkah. Inspiratif banget deh pokoknya! Smile

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

Noted mbak Mil. btw, asik nih kalo pak Irwan bisa gabung di kelas online kita tiap rabu malam pekan ganjil. wah bakal dapat banyak referensi lagi Smile

Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 196

Boleh. Nanti kita undang Pak Irwan ya. Mau ngundang Mas Arwani juga nggak? hahahaha!

Dimas Prasetyo's picture
Offline
Joined: 07/24/2009
Recehan: 647

boleh dong mbak. paling dinanti itu. haha Laughing out loud

Offline
Joined: 04/06/2011
Recehan: 368

nah boleh banget tuh mbak, mas arwani kita persembahkan di sini hahahaha

Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 101

saat ini, media yang mengakomodasi cerpen biasanya majalah atau surat kabar, yang memiliki space kisaran 6000-8000 karakter. Jadi idealnya cerpen panjangnya sekitar itu.
Tapi jangan terpaku pada angka itu. Saat menulis, yang paling penting adalah eksplorasi. Panjangnya naskah nanti bisa disesuaikan dalam proses editing.

Jumlah tokoh memang tidak perlu terlalu banyak. Cukup dua atau tiga saja. Secara umum, jumlah tokoh dalam cerpen berkisar 3 - 5 tokoh saja, walaupun itu juga bukan angka mutlak.

Offline
Joined: 08/17/2009
Recehan: 281

@mbk Mila: maaf ngerecokin dikit. ttg teknis yang mbk utarakan tadi, kami akan coba fikirkan solusinya.
kartunet butuh banyak masukan.

Offline
Joined: 09/30/2011
Recehan: 196

Oke Aris. terima kasih. Smile

Offline
Joined: 09/09/2011
Recehan: 183

Intinya, kalo kita kreatif, hal sederhana sekali pun bisa jadi tragedi juga ya... Hmmm, ya jadi bikin cerpen yang seru itu ga harus mesti dengan tokoh yang putus cinta atau mungkin mati terbunuh *ngangguk2*

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License.