TENTANG TITIS DAN TATAS
Assalamu'alaikum wr wb.
Kali ini kita akan mendiskusikan tentang titis dan tatas.
Sebuah karya tulisan, entah itu fiksi atau nonfiksi, harus memerhatikan dua hal ini. Sebab, titis dan tatas adalah bagian dari keindahan sebuah karya tulis tanpa mengabaikan faktor tersampaikannya pesan atau pikiran penulis dalam karya tersebut.
Apa itu titis dan tatas?
Titis adalah ketepatan dalam menggunakan kata. Titis adalah pemilihan kata yang tepat.
Sebuah karya tulis menuntut kita untuk mengeksplorasi kata-kata. Penggunaan kata yang berbeda dalam mengungkapkan sesuatu bisa menimbulkan keindahan tersendiri. Cara ungkap yang berbeda memberikan kesegaran. Namun begitu, penulis harus jeli dalam memilih kata-kata yang "berbeda" itu agar tetap memiliki makna yang indah.
Sedangkan tatas adalah keterhindaran dari unsur-unsur yang mubadzir. Banyak penulis pemula yang boros dalam penggunaan kata. Padahal, pemborosan kata membuat sebuah tulisan terasa menjemukan. Tatas bukan berarti tulisan harus singkat. Boleh saja kalimat panjang jika memang ide menuntut untuk menggunakan deskripsi yang panjang. Tatas berarti juga efektif. Sebuah kalimat yang efektif akan terasa padat dan sarat makna. Sedangkan kalimat yang boros cenderung terasa berputar-putar, bahkan membuat kabur apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
"Ok, kawan. Beberapa menit lagi forum ini akan usai. Semoga, apa yang di sampaikan oleh Guru kita. Abang Sakti bermanfaat bagi kita semua. Sampai jumpa pertemuan berikutnya. Yaitu non fiksi bersama Mbak Mila.
"Salam Gusti Prabu Sakti Bajil!"


:#
Sudah hampir jam 11. Aku pamit ya, terima kasih untuk pencerahan malam ini, Mpu Sakti 
oke kawan-kawan, berhubung masih ada janji dengan teliksandi di tempat lain, dengan berat hati saya harus menghilang dari kelas online yang terdapat seorang guru psikopat sastra ini, berhubung saya juga sudah tekanan batin, daripada saya mengamuk-ngamuk seperti kesurupan ular naga puspa krisna, lebih baik saya melalangbuana dulu ya, salam prabu psikopat sastra

"Mas Sakti, kira-kira ini pembukaan cerpen udh sesuai blm tatas titisnya? paling tdk salahsatunya!"
Angkot merah itu berhenti di sebrang jalan, pelajar SMA Bangau mulai ramai keluar dari gang. Nanda, menyebrang jalan bersama Dita. Kedua gadis itu naik angkot merah yang berbaris paling depan.
"Gue masih belum ketemu siapa yang cocok nulis naskah teater untuk pertunjukkan nanti?" kata Dita seraya memindahkan posisi tas ke pangkuannya.
"Ya, terpaksa kita tampil apa adanya, paling enggak menunjukkan bahwa kita masih eksis sebagai grup teater sekolah."
"Ya, semoga sebelum hari guru nanti. Kita bisa nemuin siapa yang cocok untuk menulis naskah, dan semoga ceritanya nggak ngebosenin!"
Disebelah Nanda baru saja duduk seorang Tunanetra. Remaja laki-laki itu, seperti mengamati keadaan dalam angkot. Ekspresi wajahnya berubah-ubah.
anyway, mas Sakti aktif juga twitternya. hoho. please follow back @kartunet ya mas 
hehehehe... iya, baru diaktifin barusan.
)
wah ternyata gaul juga empu yang satu ini, jangan lupa follow saya empu di @rafik_akbar
"Wah, baca materi Prabu Sakti, sambil dengerin musik klasik Mozart seru juga. Langsung mengalir dalam pembulu daraaaaaaaaaaaaaaaaah!
Aku pengembara yang muncul dari balik keterangan, eh salah gk efektif dan gk jelas katanya, masa ada kata keterangan.
... hadeuh... ini Pendekar Syair Berdarah udah muncul? Heiss... entar dulu. Ini baru giliran Sakawuni dan Nyai Paricara.
Hahahahaha...!
maksudnya apa coba ckckckckckckckckck
nah, jadi agak terkait nih mas Sakti dengan kata2 "ajaib" di KBBI itu. Apakah ada strategi untuk pemilihan diksi atau kata itu sendiri? Saya khawatir jika terlalu banyak variasi kata alias pakai banyak kata2 "ajaib" dari KBBI, nanti malah tidak dimengerti pembaca. Mungkin bagi pembaca yang kritis akan menjadi penasaran ketika menemukan kata baru. Namun bagi yang kurang kritis dan langsung menyerah sepertinya agak sulit juga. Terutama bagi masyarakat yang awam.
Nah, ini paradigma yang harus diubah, Dimas.
[1] Kita jangan beranggapan pembaca tidak mengerti. Justru kewajiban kita untuk merangsang pembaca agar mencari tahu lebih banyak lagi.
[2] Penyajian kata-kata "ajaib" dalam KBBI adalah bentuk sumbangsih penulis dalam memelihara kelestarian budaya, dalam hal ini adalah bahasa Indonesia. Tentu kita tidak ingin lebih banyak lagi kata yang hilang dari perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Kita pernah kehilangan kata: apatah, leka, dan banyak lagi kata yang hilang. Kata "bila" yang bermakna "kapan" pun sekarang sudah nyaris tak pernah dipakai dalam tulisan. Bahkan, kata "bila" sering salah diartikan sebagai "apabila."
[3] Bahasa kita sebenarnya sangat kaya. Namun, karena kurang digunakan, popularitasnya menurun, kemudian hilang perlahan-lahan. Contohnya ya kata titis dan tatas ini. Setiap kali saya menyampaikan dua kata ini di forum-forum penulisan, banyak yang menyangka ini bukan kata dari bahasa Indonesia. 
[4] Percayalah bahwa pembaca kita adalah orang-orang yang cerdas. Kalaupun mereka tidak mengetahui makna kata yang kita pakai, asalkan kata itu tepat penggunaannya, maka kecerdasan pembaca akan membimbing mereka untuk mencari tahu makna yang sebenarnya. Biasanya, pertama kali mereka akan berusaha mengartikan lewat konteks bahasa. Kemudian, perlahan-lahan mereka akan mengerti secara persis definisi kata tersebut seiring dengan seringnya mereka menemukan kata-kata tersebut dalam konteks kalimat yang berbeda.
[5] Jangan ragu menggunakan kata-kata "ajaib" itu. Kita pemilik bahasa Indonesia, maka kita yang harus menjaganya dengan terus menggunakannya dalam karya-karya tulisan.
"Kata titis dan tatas, bukannya harus menyesuaikan dengan tulisan yang kita tulis? selama kita menulis artikel tentu saja kata-katanya mudah di fahami oleh banyak kalangan, namun kata-kata yang terlalu ilmiahpun terkadang membosankan dan memusingkan pembaca. Masalah strategi tergantung penulisnya, dan cerita fiksi lebih baik di tulis dengan kata sederhana dan pastinya di mengerti banyak orang."
Maaf sang prabu, saya mencoba memaparkan pemahaman saya!
Kata yang sederhana atau sedikit ilmiah, mungkin tergantung pada segmen pembaca. Kalo mau nulis cerita anak atau remaja, tentu akan lebih baik kalo pakai kata-kata sederhana. Tapi kalo tulisan yang ditujukan untuk pembaca dewasa, ga ada salahnya sesekali pilih kosakata yang lebih berbobot.
Kupikir banyak kosakata yang cenderung ilmiah pada novel-novel Dan Brown, tapi kan tetap aja seru buat dibaca. Jadi mungkin tergantung dari penulis mengolah kosakata itu sendiri menjadi kalimat yang menarik dan mudah dicerna.
Gitu gak ya mas Sakti?
#edisi sok tahu 
kalo tulisan udah pernah diterbitkan di buku, sok tahu juga ga apa2 qo Dan. 
Hmmm, siapa ya yang anda maksud?
:D
Ya. Tepat sekali. Ketepatan tersebut memang tetap harus memperhatikan segmen pembacanya juga. Namun, tentu saja kita tidak boleh beranggapan bahwa pembaca kita "pasti tidak tahu" kalau kita memakai kata "ajaib" itu. Sebagai penulis, kita tetap memiliki kewajiban untuk mencerdaskan pembaca dan memelihara bahasa Indonesia. Jadi, jangan terlalu khawatir menggunakan kata-kata yang sulit dan aneh.
Catatan: kata-kata ajaib yang saya maksudkan bukan kata-kata asing [yang kita ambil dari unsur bahasa asing], tetapi kata-kata yang sudah ada dalam KBBI tetapi jarang dieksplorasi.
Mencerdaskan pembaca dengan kata-kata kita... Hmmm, kedengarannya keren juga 
Kalo mas Sakti sendiri, untuk mengeksplorasi kosakata itu gimana caranya? Selain membaca refrensi cerpen atau novel dari penulis senior, kira-kira jenis buku apakah yang perlu dibaca seorang penulis agar dapat mencerdaskan pembaca?
Aku dengar, buku-buku psikologi itu perlu juga ya mas dibaca oleh seorang penulis agar dapat mengolah karakter cerita?
Caranya sederhana saja, Dani. Banyak membaca dan banyak menulis.
Ya, buku psikologi sangat membantu kita dalam membuat desain karakter.
Buku psikologi populer yang saya suka, misalnya, tulisan-tulisan Martha Bolton dan Deborah Tannen, biasanya berjenis psikologi komunikasi.
Psikologi komunikasi ya? Boleh tuh kayaknya buat refrensi 
Ya. Konteksnya sedikit berbeda, Senna. Dalam hal ini, penggunaan istilah asing secara berlebihan memang membuat tulisan cenderung membosankan. Titis dalam hal ini berangkat dari dua spirit utama:
[-] penggunaan kata yang tepat.
[-] eksplorasi dalam cara ungkap terhadap sesuatu menuntut kita untuk mencoba-coba kata yang berbeda, mencoba-coba cara ungkap yang berbeda. Namun, dalam mencoba-coba kata/kalimat yang berbeda itu harus tetap merujuk kepada spirit pertama: "ketepatan dalam memilih kata."
coba cek tulisan2 Andrea Hirata. terkadang dia menyelipkan kata2 ilmiah yang dapat membuat tulisannya jadi terkesan lebih "berbobot"
Yups... tepat! Tulisan Andrea Hirata banyak menggunakan kata-kata yang jarang dieksplorasi penulis lain. Dan, ini yang membuat tulisan Andrea Hirata memiliki kekuatan sihir.
saya setuju dengan kalimat empu sakti yang mengatakan bahwa gunakan kata-kata yang jarang ditemukan oleh pembaca, karena pembaca akan berusaha memahami makna dari kata itu, mungkin bermula dari konteks bahsanya kemudian sampai kepada saat dimana si pembaca akan mengetahui maksa secara ditel tentang kata tersebut, saa ketika saya membaca karya-karya pramudya, banyak kata-kata yang jelimet tapi saya penasaran ingin mengetahuinya dan akhirnya ketika sudah tau arti sebenarnya malah semakin semangat membacanya 
Yups... tepat sekali, Rafik...
Tak ubahnya seperti game. Kalau terlalu sulit diselesaikan akan membuat kita malas. Kalau terlalu mudah pun akan terasa membosankan. Nah, penggunaan kata-kata yang "kurang populer" ini pun semestinya mempertimbangkan hal tersebut. Jangan terlalu banyak, nanti seperti game yang terlampau sulit diselesaikan, dan akhirnya ditinggalkan. Jangan pula terlalu mudah, karena itu akan membosankan. Ini akan terasa pada saat kita membaca cerpen dewasa yang ditulis dengan bahasa anak-anak. Terasa monoton dan tidak menarik. Seperti game yang terlalu mudah diselesaikan.
yaps, analogi yang pas mas
, seerti game, terlalu sulit bikin kesel, akhirnya game itu dibanting dan rusak, terlalu gampang jadi bosanin, akhirnya ditinggal-tinggal juga
, oke kalo gitu saya semedi dulu mencari-cari pertanyaan lain lagi, tapi tetap monitor pastinya!

Hadir juga, mas Sakti! <^^/
Setuju sama Dimas. Aku kira juga tadinya nama orang, soalnya sepupuku ada yang namanya Titis *curcol:D*
Titis dan tatas itu bahasa Indonesia bukan ya mas? Kok aku baru dengar ['_']
Nah, kan... apa saya bilang? Ada yang menyangka titis tatas bukan bahasa Indonesia. Hehehehe....
Post new comment
Tulisan Terkait
- Menulis Resensi Buku
- Cara Mendisiplinkan Diri Demi Karier Kepenulisan
- TIPS MENULIS JURNALISTIK
- MENJAGA FOKUS CERITA DALAM CERPEN
- Menaruh rahasia di tempat membuka rahasia :)
- Asyiknya Menulis Kalimat Narasi
- Latihan Memperbaiki Kalimat
- MEMILIH TOPIK
- Lomba Karya Tulis 4th Eccents (Deadline: 24 Juni 2011)
- LEGITIMASI PENGGUNAAN ISTILAH PENYANDANG DISABILITAS





