Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Aku dan Malaikat Kecilku

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Menjadi seorang kakakk mungkin banyak menjadi keinginan setiap orang. Tapi tidak denganku, aku lebih memilih menjadi seorang anak tunggal atau bungsu sekalian daripada aku menjadi seorang  kakakk. Aku memang sangat tidak menyukai anak kecil, apalagi semenjak kelahiran adikku yang diberi nama Rizal,  membuatku semakin tidak betah saja aku di rumah.

 

Alasannya karena berisik dengan nyanyian-nyanyian tak bernada yang digumamkan oleh bocah kecil yang bernama Rizal itu. Bukan hanya karena tangisan Rizal tapi aku rmerasakan semenjak kelahiran Rizal semua orang yang kukenal kini hanya memperdulikannya. Ayahku, Bundaku, dan semua orang-orang yang mengenalku pasti akan menanyakan.Rizal.

 

“ Hallo Tina apa kabar? Bagaimana dengan adikmu Rizal? Dia apa kabar? Sudah bisa apa? Rewel tidak? …… (dan Bla bla bla) “ semuanya saja menanyakannya.

 

Masih kecil saja sudah menjadi pusat perhatian semua orang. Apalagi nanti kalau sudah besar, bisa besar kepala mungkin.

 

Rizal si bocah kecil sekarang sudah berumur 3 tahun. Sudah pandai berbicara dan yang pasti selalu pandai menjadi pusat perhatian orang-orang. Aku selalu enggan menjaganya meski Bunda memaksaku. Melihat mukanya saja ingin rasanya aku merobek mulutnya saat ia mencoba tersenyum sok manis di depanku, apalagi kalau aku menjaga, itu mimpi buruk bagiku.

 

***

 

Suatu hari ketika aku sedang asyik menonton siaran tv, bocah kecil itu tiba-tiba masuk ke rumah dengan tergesa-gesa dan berdiri tepat didepanku.

 

“ Kakakk.. Kakakk… Bunda mana? ” ucapnya

 

“ Tau “ jawabku sinis

 

Ya, aku memang selalu bersikap sinis kepadanya mungkin karena aku masih tak terima dengan kenyataan bahwa aku memang memiliki seorang adik.

 

“ Ih kakak.. ”

 

“ Udah udah sana minggir ah. Ganggu aja lo ! “

 

Kemudian tanpa pikir panjang dia langsung berteriak lantang memanggil

 

“Bunda… Bunda…”  bukan hanya sekali tapi berkali-kali dan itu membuatku marah.

 

“ Eh Dek, ga usah teriak-teriak bisakan? Cari Bunda tuh bukan pake mulut. Berisik tau ! Udah cari sana di dapur gak usah teriak-teriak lagi “ ucapku marah

 

Dengan wajah tertunduk ia segera berlari ke dapur mencari Bunda, dan menangis dipangkuan Bunda. Sesaat Bunda langsung menghampiriku.

 

“ Kamu tuh kenapa si? Jangan galak dong sama adik sendiri “ kata mama

 

“ Lagian siapa juga yang mau punya adik! “ ucapku tanpa berdosa

 

‘Plaaaaaaaak’

 

Satu tamparan Bunda tepat berakhir dipipi kananku yang sontak membuatku tercengang dan tak kuasa menahan air mata yang kini mengalir deras membasahi kedua pipiku,

 

“ Tina jaga ucapan kamu ! Biar bagaimanapun dia itu adikmu sendiri. Suka tidak suka dia itu tetap saudaramu Tina, dia adikmu. Siapa sih yang udah ngajarin kamu bicara lancang seperti itu? Hah? Siapa? Itu gak sopan Tina “

 

“ Tapi dia udah ngerebut semuanya dari aku. Ayah, Bunda semuanya gak ada yang peduli lagi sama aku. Yang Ayah sama Bunda pikirin tuh, cuma Rizal, Rizal, Rizal, dan Rizal. Ayah sama Bunda gak pernah ada waktu lagi buat aku, semuanya udah direbut sama Rizal. Aku tuh kayak asing dirumah sendiri, Bun. “

 

Rizal yang mematung disamping Bunda hanya menunduk dan menangis, berusaha agar tangisannya tak mampu terdengar olehku ataupun Bunda. Aku menatapnya dengan penuh kesal. Bahkan amarahku memanas ketika aku berusaha untuk melihatnya lebih dalam. Ingin rasanya menjambak rambutnya dan mencubit kedua pipinya dengan keras. Tapi aku masih memiliki perasaan dan masih mampu untuk mengendalikan amarahku.

 

“ Puas lo, Dek? Hah? Puas? “ sambil menatap tajam ke arahnya yang sedang menangis.

 

Aku segera berlari keluar rumah mencari udara segar untuk menerbangkan semua amarah dan kekesalanku hari ini. Aku pergi ke taman di depan danau. Aku duduk sendiri sambil menangis dan menantikan awan senja datang menyapa. Bayang amarah Bunda, rasa sakit akibat tamparan Bunda masih mampu kurasakan. Tak mudah untukku melupakan semuanya, ini pertama kalinya Bunda marah sehebat itu sampai ia mendaratkan tamparannya kepadaku.

 

“ Tuhan.. Aku hanya ingin kasih sayang Bunda dan Ayah sama seperti saat aku belum mempunyai adik. Tuhan… ku akui ini salah tapi jujur aku haus akan kasih sayang Bunda dan Ayah yang dulu “ gertakku dalam hati

 

Saat awan senja menyapa bersama kemelut mega berwarna kuning itu datang. Aku berusaha mengusap air mata yang mulai mongering dipipiku. Aku membasuh wajahku dengan air danau agar nampak sedikit segar. Aku memutuskan untuk pulang.

 

Dedaunan dijalanan seakan mentertawakan keadaanku kali ini. Kejadian siang itu seakan menjadi putaran filem pendek yang tak henti-hentinya diputar di depan kelopak mataku. Tamparan Bundalah yang selalu membuatku meneteskan air mata.

 

Pintu rumah tertutup rapat ketika aku kembali. Tapi ku lihat Rizal diteras depan rumahku sedang mondar-mandir seakan mengkhawatirkan sesuatu. Aku menghirup napas panjang untuk menghadapinya. Langkahku semakin mendekati Rizal.

 

“ Asyik kakakk pulang.. Bunda kakakk pulang, Bun.. Kakakk pulang.. Kakakk dari mana aja? Tadi aku nyariin kakak loh seharian sama Bunda sama Ayah “ kata Rizal

 

Aku hanya menatapnya sejenak dan bergegas pergi meninggalkannya tanpa memperdulikannya sedikitpun. Aku segera masuk ke kamar dan mengunci rapat-rapat kamarku. Aku ingin langsung terlelap tidur tapi ketukan pintu Bunda menghalangiku. Aku tak menghiraukan panggilan Bunda diluar sana. Ku dengar Bunda hanya mengucap,

 

“Kakakk, Bunda minta maaf, tak seharusnya Bunda lakukan itu sama Kakakk “

 

Aku mengakhiri perkataan Bunda dengan memejamkan mata untuk segera terlelap tidur agar dapat berisitirahat sejenak dari semua beban yang kini aku hadapi.

 

***

 

Aku melangkah perlahan menuju danau untuk melepas rasa lelah dan kepenatan yang masih terasa hingga hari ini. Tapi langkahku terhenti diujung gang rumahku saat seekor kucing hitam menghalangi jalanku menuju danau. Aku phobia kucing. Itu hal yang paling menakutkan bagiku.

 

Kucing itu berjalan menghampiriku, tubuhku mulai lemas ketika melihat langkah demi langkah diayunkan oleh kucing hitam itu. Mungkin kucing itu tak berniat untuk menggangguku atau numpang lewat dihadapanku. Tapi namanya juga phobia pasti akan selalu merasa takut. Yang bisa ku lakukan kali ini hanya berteriak dan berharap akan ada yang menolongku. Tapi jalanan kali ini sepi, sangat amat sepi. Tak ada satu orangpun yang berlalu lalang disini.

 

Setelah cukup tenang dan kucing itu tak lagi ada dihadapanku, aku mulai membuka mata perlahan demi perlahan. Kucing itu memang sekarang menghilang entah kemana tapi kini sang monster kecil Rizal lah yang kini tepat berada di kelopak mataku.

 

“ Kakakk ga apa-apa kan? “ tanya Rizal

 

“ Oh.. Engga ! Ngapain kamu disini? “

 

“ Mau nolongin kakak. Soalnya kakak tadi teriak-teriak ya udah aku kesini. Kakak mau kemana? Aku ikut ya, Kak “

 

“ Udah ah ga usah pulang aja sana “

 

“ Pokoknya aku mau ikut sama kakak “

 

“ Engga ! “

 

“ Kakak “ sambil bersikap manja kepadaku

 

“ TERSERAH “ ucapku tepat ditelinga kirinya

 

Aku segera berlari menuju sebrang jalan.

 

‘Braaaaaaaaaaaak’

 

Langkahku segera terhenti. Perlahan aku membalikan badan untuk mengetahui apa yang terjadi. Air mataku tak mampu aku bendung. Tangaku dingin, kakiku gemetar, bola mataku menatap lesu.

 

“ RIZAAAAAAAAAAAAAAAAL ”

 

Aku langsung berlari kearah Rizal.

 

“ Darah? ” iya darah.

 

Aku Rizal berlumuran bersimpah darah. Matanya tertutup rapat. Napasnya pelan, tubuhnya terbujur kaku. Aku tak kuasa melihatnya. Menangis saat memeluknya hingga si pengendara mobil mengantarkanku dan Rizal sampai rumah sakit. Saat itu aku sadar satu hal bahwa,

 

“ Rizal tak mengerti apa-apa. Bukan salah dia, tapi hanya keegoisanku yang ingin selalu mendapat kasih sayang Ayah dan Bunda. Harusnya aku mengerti bahwa dia lebih butuh perhatian dibanding aku. Dia lebih butuh segalanya dibanding aku. Aku sudah besar, sudah dewasa tak sepantasnya aku iri kepada pada Rizal. Sungguh aku tak bermaksud membencinya ”

 

Aku mengecup kening Rizal sebelum dia masuk keruang perawatan. Dan berbisik,

 

“ Kakak minta maaf sama kamu dek. Kakak sayang kamu, jangan tinggalin kakak yaa “

 

Aku menunggu dokter keluar untuk tau keadaan adikku.

 

“ Tinaaa “ ucap Ayah

 

“ Ayah… Bundaaa… maafin Tinaa “ aku menangis tersedu-sedu menyesali apa yang telah terjadi

 

Bunda menguatkanku,

 

“ Sayang, Bunda tau ini bukan salah kamu, Bunda gak nyalahin kamu. Tapi Bunda mohon satu hal sama kamu. Jangan pernah kamu membenci Rizal. Dia adikmu, Sayang. Meski sekarang anak Bunda itu ada dua tapi sayang Bunda selalu sama. Bunda selalu sayang kamu dan adikmu. Bunda mohon ya, Nak! ”, kata Bunda sambil menyapu air mata yang membasahiku.

 

***

 

Dokter keluar ruangan dan bilang bahwa itu hanya luka ringan dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi kejadian ini membuatku sadar akan semuanya membuatku mampu membukakakn hati bahwa dia memang adikku. Rizal mulai membuka matanya. Dan dia langsung menatap ke arahku.

 

“ Kakak “

 

“ Iyaa sayang “ ucapku lembut sambil mengusap rambutnya

 

“ Rizal seneng kakak udah baik sama Rizal ”

 

“ De. Maafin kakak ya kalo kemarin-kemarin kakak sering marah-marah sama Rizal “

 

“ Iya kakak engga apa-apa kok “

 

“ Kakak sayang sama Rizal “

 

“ Rizal juga, Kak. Nanti kita maen robot-robotan bareng yaa, Kak”

 

“ Iyaa tapi kamunya janji sama kakak kalo kamu akan cepet sembuh oke “

 

“ Iya Kakak “

 

Sejak kejadian itu aku mulai bisa menerima keadaan Rizal. Rizal adalah adikku, bukan bocah kecil. Tapi dia malaikat kecilku yang selalu mencoba bersikap baik kepadaku. Aku yang salah menilainya. Tapi kini aku sadar.

 

 “ Tuhan terima kasih, Engkau telah memberikan aku cobaan yang membawaku kearah kedewasaan “

 

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *