Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Al-Firdaus, Sekolah Inklusif Terbaik 2012

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jakarta, Kartunet.com – Sekolah Al-Firdaus Solo dinobatkan sebagai penyelenggara pendidikan inklusif terbaik pada ajang Anugerah Pendidikan Inklusif 2012. Acara yang diadakan di Bali, September 2012, diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemendikbud), Hellen Keller International (HKI), dan United States Agency for International Development (USAID).


 


Penghargaan langsung diserahkan oleh wakil menteri Dikbud bidang pendidikan Prof. Dr. Ir. H. Musliar Kasim, M.S kepada pemimpin Yayasan Al-Firdaus sebagai pengelola, Hj. Eny Rahma Zaenah, SE, MM. Gelar tersebut diberikan setelah melihat komitmen Sekolah Al-Firdaus pada pengembangan pendidikan inklusif di daerah Solo meski usia sekolah belum lebih dari 16 tahun.


 


Sekolah Al-Firdaus dinilai telah menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas bagi semua kalangan termasuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) di kota Solo dan sekitarnya. Seperti disampaikan oleh humas Al-Firdaus, Imam Subkhan, mereka tidak menerima siswa dengan seleksi secara akademis. Semua siswa dengan berbagai kebutuhan diterima untuk dikembangkan potensinya. Saat ini ada sekitar 95 siswa berkebutuhan khusus di sekolah Al-Firdaus pada semua jenjang pendidikan dengan rincian tingkat KB/TK 21 siswa, SD 63 siswa, dan SMP/SMA 11 siswa. Kebanyakan dari mereka adalah anak tunarungu, autis, dan kesulitan belajar.


 


Pada tahun 2003, sekolah Al-Firdaus sudah menerapkan sistem pendidikan inklusif yang didukung dengan diadakannya unit Pusat Pelayanan Anak Berkebutuhan Khusus (Puspa). Baru pada 2004, pemerintah meluncurkan program pendidikan inklusif, dan menunjuk sekolah Al-Firdaus sebagai salah satu pelaksana di daerah Solo. Sekitar tujuh tahun kemudian, tepatnya Desember 2011, Al-Firdaus ditetapkan sebagai sekolah Inklusif percontohan nasional oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kemendikbud, Dr Mudjito, Ak M.Si. Saat ini Puspa memiliki 37 orang Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang terdiri dari psikolog, paedagog, okupasi terapis, dan pakar pendidikan luar biasa.


 


Pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang menyertakan semua anak secara bersama-sama dalam suatu iklim dan proses pembelajaran dengan layanan pendidikan yang layak dan sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik tanpa membeda-bedakan anak yang berasal dari latar suku, kondisi sosial, kemampuan ekonomi, politik, keluarga, bahasa, geografis (keterpencilan) tempat tinggal, jenis kelamin, agama, dan perbedaan kondisi fisik atau mental. Konsep ini muncul sebagai solusi adanya perlakuan diskriminatif dalam layanan pendidikan terutama bagi anak-anak penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus.


 


Anugerah Pendidikan Inklusif 2012 berhasil menjaring 150 nominator dari 33 provinsi di Indonesia. Setelah dilakukan serangkaian seleksi, mulai portofolio profil para nominator, presentasi dan penilaian oleh tim juri, akhirnya terpilih 20 orang penerima penghargaan untuk lima kategori, yaitu Pemerintah Daerah Tingkat I (gubernur), Kepala Daerah Tingkat II (Bupati/Walikota), Universitas, Kepala Sekolah/guru dan perseorangan atau tokoh masyarakat.


 


Para penerima penghargaan adalah Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Sumatera Selatan, Walikota Yogyakarta, Bupati Lembata NTT, Bupati Sukabumi, Bupati Payakumbuh Sumatera Barat, Bupati Aceh Besar, Bupati Enrekang, Sulawesi Selatan dan bupati Sidoarjo, Jawa Timur untuk kategori pemerintah daerah. Kategori perguruan tinggi diberikan kepada Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Rektor Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dan Rektor Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Jawa Timur. Kategori sekolah yaitu SMPN 226 Jakarta, SDN 4 Krebet Ponorogo, Pusat Sumber Braile Payakumbuh Sumatera Barat, dan SLBN 1 Palangkaraya Kalimantan Tengah. Sedangkan kategori individu atau tokoh masyarakat diraih oleh Ketua Yayasan Al Firdaus Surakarta, Eny Rahma Zaenah.(DPM)

Kata Kunci:

One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *