Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Antara Ria Ian

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

“Ian, cewek yang biasa duduk di situ gak ada!” ucap seorang pemuda bertubuh gempal pada seorang temannya.

 

Temannya pun mulai memperhatikan sekeliling taman tersebut. Ia terlihat seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang. Ia memperhatikan ke seluruh penjuru taman dengan seksama. Namun, pada akhirnya ia tertunduk menatap sapu tangan putih yang ada di genggaman tangan kanannya.

 

“Nggak ada ya? Sayang sekali padahal aku mau balikin sapu tangan ini.” ucap lelaki muda berkacamata yang disapa Ian ini dengan nada penyesalan.

 

“Besok pagi coba aja ke sini lagi, mungkin dia di tempat yang sama lagi. Udahlah jangan sedih gitu. Cinta itu harus diperjuangkan bro..”

 

“Aku gak yakin besok pagi dia bakal ke sini lagi, Dod. Dia kan pelukis. Mungkin dia udah bosen melukis di sini lagi.”

 

“Kalau belum dicoba kan kita nggak tahu. Pokoknya besok pagi kita kesini lagi buat nemuin cewek itu. Aku temenin kamu deh Ian. Aku sebenarnya penasaran cewek macam apa yang bikin kamu klepek-klepek kayak gini.”

 

“Males aku ngomong sama kamu, Dod! Niatku tuh cuma balikin sapu tangan ini sama bilang terima kasih ke cewek itu karena udah nolongin aku pas jatuh dari motor kemarin pagi. Aku gak sempet bilang terima kasih soalnya dia keburu pergi.”

 

“Iyo Mas Bro, aku cuma bercanda. Yuk pulang!”

 

Kedua pemuda itu pun pergi meninggalkan taman. Sebelum pergi, pemuda bernama Ian memandangi taman dan sebuah bangku antik yang terletak di pinggir taman. Pandangan matanya seakan menyiratkan bahwa ia ingin bertemu gadis pemilik sapu tangan putih tersebut.

 

Gadis berambut pendek, berwajah bayi, berkulit putih dan memakai topi rajutan berwarna abu-abu. Iya, itulah gambaran gadis penolong yang masih diingat jelas oleh Ian. Setelah beberapa saat akhirnya Ian pun pergi bersama Dodi dengan perasaan kecewa.

 

Setelah mereka berdua pergi, gadis yang penampilannya mirip dengan apa yang diingat oleh Ian muncul dan duduk di bangku taman. Ia ditemani oleh sebuah buku sketsa dan kotak pensil. Beberapa orang yang mengenalnya menyapa dan menanyakan kabarnya. Gadis manis itu hanya tersenyum dan membuat gerakan-gerakan tangan dan jari-jemarinya. Beberapa orang yang melihatnya pun tersenyum dan membalas gerakan tangannya dengan gerakan tangan dan jemari pula. Gadis itu pun tersenyum kembali dan terlihat begitu senang.

***

 

Keesokan paginya, kedua pemuda tersebut kembali mengunjungi taman. Masih dalam misi yang sama yakni bertemu dengan si gadis penolong Ian. Pada awalnya mereka tak tahu bahwa gadis itu selalu duduk di bangku taman yang sama. Sebelumnya mereka kebingungan harus mencari dimana gadis itu biasanya. Namun, seorang anak kecil yang sering bermain di taman memberi tahu Ian bahwa gadis yang dicarinya selalu duduk dan menggambar di tempat yang sama setiap pagi. Mengetahui hal tersebut, Ian merasa lega. Ia pun berharap setidaknya ia bisa mengucap terima kasih dan mengembalikan sapu tangan gadis itu ketika bertemu.

 

Beruntung, pagi itu si gadis penolong Ian sedang duduk di bangku yang sama ditemai dengan buku sketsa dan kotak pensil. Gadis itu terlihat sedang fokus menatap ke arah taman lalu kemudian jari-jemarinya mulai menari bersama pensil di atas kertas buku sketsa. Sejenak Ian memandangi gadis itu dari kejauhan. Entah kenapa Ia merasa tak asing dengan wajah gadis itu. Temannya pun terheran-heran dengan sikap Ian.

 

“Woi, Ian! Bengong aja ni bocah. Tuh cewek yang kamu cari ada di sana! Samperin aja!” ucap Dodo sembari mendorong Ian menuju gadis itu.

 

“Apaan sih Dod? Bentar dulu! Aku bingung musti ngomong apa ke dia. Apa gak usah aja kali ya?”

 

“Ya elah, apa musti aku yang ke sana dulu? Kamu gak gentle bro!”

 

“Berisik ah! Udah kita pulang aja!” Ian pun beranjak meninggalkan taman itu.

 

Saat ia akan menaiki sepedanya, tiba-tiba saja Dodo merebut sapu tangan putih yang sedari tadi berada di tangan Ian. Setelah merebut sapu tangan tersebut, Dodo berlari ke arah gadis si pemilik sapu tangan itu.

 

“Woi, Dod! Balikin tuh sapu tangan!” teriak Ian dengan kerasnya.

 

Ia pun terburu-buru meletakkan sepeda gunung kesayangannya lalu berlari mengejar Dodo. Namun terlambat, Dodo telah menemui gadis itu. Tampak Dodo memperlihatkan sapu tangan putih kepada gadis itu dan menunjuk ke arah Ian. Gadis itu pun menoleh ke arah Ian. Ia terlihat tersenyum saat pandangannya tertuju pada Ian. Ian hanya mematung di tempatnya berdiri yang tak jauh dari gadis itu. Melihat wajah manis gadis yang tersenyum itu, ia terlihat sedikit terpesona. Ian pun melontarkan senyumnya pada gadis manis penolongnya itu. Tanpa Ian sadari, Dodo sudah berada di sebelahnya sedari tadi.

 

“Wah, pangeran berkacamata kita rupanya terpesona akan cantiknya si gadis pelukis. Ehem..!” ledek Dodo dengan sedikit akting yang terlalu dibuat-buat. Ia pun menepuk pundak Ian beberapa kali.

 

“Udah samperin aja sana!”

 

“Kamu tadi ngomong apa aja sama dia? Awas kalau kamu ketahuan ngomong yang jelek-jelek tentang aku!” ancam Ian dibarengi dengan kepalan tangan kanannya.

 

“Wes.. sabar bro! Kalau mau tahu tanya aja sama orangnya langsung! Udah sana!”

 

Dodo mendorong Ian menuju gadis itu sekali lagi. Ian pun berjalan menuju gadis itu. Ian terlihat menoleh ka arah Dodo beberapa kali. Ia terlihat seakan meminta Dodo untuk menemaninya. Dodo hanya menggelengkan kepalanya dan melakukan gerakan tangan seakan ia sedang mengusir seekor kucing. Saat ini, Ian tak memiliki pilihan lain selain menemui gadis itu sendiri.

 

Gadis itu tepat berada di hadapan Ian saat itu. Jarak mereka saat itu hanya satu meter. Saat gadis itu mengetahui keberadaan Ian, ia pun menoleh ke arah pemuda itu. Nampak wajahnya yang manis dan putih tersenyum kepada Ian. Ian hanya termangu menatap gadis yang selama ini berada dalam gambaran-gambaran di kepalanya.

 

Gadis itu masih terlihat sama di hadapan Ian seperti saat pertama mereka bertemu di hari kecelakaan itu. Gadis berkulit putih, berambut pendek, dan mengenakan topi rajutan berwarna abu-abu. Ian tak bisa berkata apa-apa saat pandangan mereka bertemu. Untuk beberapa saat, mereka berdua hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain.

 

Melihat kejadian yang ada di hadapannya, Dodo menjadi sedikit kesal. Ia tak berharap Ian hanya diam saja. Dodo menginginkan Ian mengajak gadis itu berbicara. Dodo pun menelepon Ian yang sedari tadi mematung di depan gadis itu.

 

“Ha..Halo?” ucap Ian yang masih setia memandangi gadis itu.

 

“Woi, jangan diem aja Ian! Ajak dia ngomong! Kamu ini malah ngelamun!” teriak Dodo dengan kencangnya yang membuat Ian kaget dan terbangun dari lamunannya.

 

“Ah kamu Dod, gak penting. Aku tutup nih!” ucap Ian yang dengan segera mematikan ponsel miliknya.

 

Setelah menutup telepon dari Dodo, Ian menyempatkan diri menarik napas panjang. Dengan penuh rasa percaya diri Ian mencoba untuk mengajak gadis itu bicara.

 

“Kamu ingat sama aku nggak?” tanya Ian kepada gadis itu. Suaranya terdengar bergetar dan seperti orang yang gugup.

 

Gadis itu hanya mengangguk dan menunjukkan sapu tangan putihnya.

 

“Iya, aku cowok yang dulu kamu tolong pake sapu tangan itu. Terima kasih ya sudah nolongin aku waktu kecelakann itu. Ehm! Kalau boleh tahu nama kamu siapa?”

 

Gadis itu tak menjawab pertanyaan Ian. Ia hanya menunjuk ke arah ujung kertas sketsanya. Rupanya di sana tertulis nama panggilan si gadis itu.

 

“Oh, jadi nama kamu Ria. Namamu mirip sama namaku. Namaku Rian tapi biasa dipanggil Ian. Kamu suka menggambar di sini?”

 

Gadis bernama Ria tersebut tak menjawab pertanyaan Ian. Ia hanya menggangguk lalu tertunduk memandangi gambar buatannya.

 

“Kalau aku lihat, gambar buatanmu terlihat bagus dan profesional. Wah kamu pasti berbakat sekali ya! Wah..” sanjung Ian disambut dengan tawanya.

 

Gadis itu pun tersenyum mendengar sanjungan Ian. Ria mempersilahkan Ian duduk di sebelahnya. Beberapa kali Ian mengajukan pertanyaan kepada Ria. Namun, Ria hanya mengangguk jika jawabannya iya dan menggelengkan kepalnya jika jawabannya tidak. Ian tidak menaruh curiga dengan cara menjawab Ria. Ian mengira mungkin Ria terlalu gugup atau malu untuk mengeluarkan suaranya. Namun, kebersamaan mereka tidak bertahan lama. Saat jam lonceng taman berdentang 7 kali, Ria dengan terburu-buru mengemasi barang-barangnya. Ian yang berada di sebelah Ria kebingungan dengan sikap Ria.

 

Ian pun mempertanyakan hal yang membuat Ria terburu-buru. Sempat terpikir olehnya jika Ria masih anak SMA dan harus berangkat sekolah. Namun, hari itu adalah hari minggu, hari libur untuk anak sekolahan. Lalu apa yang membuatnya terburu-buru? Ian menanyakan hal itu, namun tak ada jawaban dari Ria.

 

Wajah Ria terlihat begitu cemas saat waktu telah menunjukkan pukul 07.05 WIB. Setelah memberekan barang-barangnya, Ria pun bergegas akan  meninggalkan  taman. Saat Ria hendak pergi, Ian memegang lengan kanan Ria dan menanyakan perihal kepergiannya. Namun, Ria tak menjawab dan ia berusaha melepaskan dirinya dari Ian sekuat tenaga.

 

Ian masih tak melepaskan tangannya dari Ria. Ia ingin mendapatkan jawaban dari Ria. Ria memberontak dan berusaha melepaskan genggaman tangan Ian. Pada akhirnya, genggaman tangan Ian terlepas. Tetapi, usaha Ria rupanya telah membuat benda yang sangat penting baginya terjatuh. Ria bertambah panik saat mengetahui benda itu tak ada.

 

Ia mencari benda itu yang mungkin terbenam di dalam rimbunnya rumput taman. Ian membantu Ria mencari benda itu walaupun ia tak tahu pasti benda apa yang sebenarnya dicari oleh Ria. Saat sedang mencari, Ian menemukan benda aneh yang terlihat seperti alat bantu untuk mendengar. Ian berpikir jangan-jangan benda itulah yang dicari oleh Ria. Jika memang iya, berarti apa yang ia dan Ria lalui hari ini mulai masuk akal. Ian pun menujukkan benda itu pada Ria yang saat itu sibuk mencari di rimbunnya rumput.

 

“Ini yang kamu cari?” tanya Ian dengan nada suara rendah sembari menunjukkan alat bantu itu kepada Ria.

 

Begitu melihat benda itu, Ria terlihat kaget lalu menundukkan kepalanya. Ia pun mengangguk pertanda bahwa iya itu adalah miliknya.

 

Ian menatap Ria lalu tersenyum kepadanya.

 

“Benda ini sangat berharga. Kamu jangan sampai menghilangkannya lagi ya.” Ia pun meraih tangan kanan Ria lalu menaruh benda itu di telapak tangannya.

 

Ria hanya tertunduk dan sempat menitikkan air matanya. Setelah menerima alat pendengarnya, Ria pun memasang alat itu di telinga kanannya.

 

“Maaf ya, soal sikapku tadi. Aku bener-bener merasa bersalah.” ucap Ian dengan penuh rasa penyesalan. Ian lalu menyeka air mata Ria dengan sapu tangan putih milik gadis itu yang tertinggal di bangku taman.

 

Ria pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia pun lalu menggerakkan tangan dan jari-jemarinya seakan memberikan kode kepada Ian. Saat melihat gerakan jari jemari Ria, Ian teringat akan kode yang sama yang pernah dilihatnya. Gerakan itu sama seperti gerakan gadis kecil yang sering muncul dalam ingatannya.

 

Bayangan-bayangan masa lalu yang telah dilupakannya merasuk kembali ke dalam kepalanya. Saat teringat akan hal itu, Ian merasakan sedikit sakit di kepalanya. Bayangan-bayangan masa lalunya yang bagaikan puzzle semakin terlihat jelas. Sosok gadis kecil itu pun semakin terbayang oleh Ian. Sosok gadis berusia 7 tahun yang entah siapa. Entah kenapa saat melihat sosok Ria, Ian teringat akan gadis itu.

 

Ria terlihat sangat khawatir dengan kondisi Ian. Ia pun menatap Ian dengan pandangan yang menyiratkan sebuah pertanyaan apakah Ian baik-baik saja.

 

“Aku nggak apa-apa. Kepalaku cuma agak pusing. Mungkin gara-gara kurang tidur. Hehe, gak usah khawatir.” ucap Ian kepada Ria. Ian lalu melepas kacamatanya dan mengusap-usap kedua matanya.

 

Saat melihat wajah Ian tanpa kacamata, Ria merasa bahwa wajah itu nampak tak begitu asing baginya. Ia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya. Tetapi, ia tak bisa mengingat dengan jelas dimanakah ia melihat wajah Ian.

 

“Lho, kamu bukannya mau pergi Ri? Gak pa pa nih?” tanya Ian pada Ria.

 

Ria hanya menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia lalu menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya sejenak. Dengan ekspresi wajah yang tenang, ia menatap Ian kembali. Ekspresi wajahnya seakan berkata bahwa ia tidak apa-apa.

 

Saat mereka sedang duduk berdua di bangku taman tempat biasa Ria menggambar. Tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang terlihat tergesa-gesa menuju ke arah mereka. Melihat wanita itu, Ria terlihat gelisah. Ian yang masih merasa sedikit pusing tidak menaruh perhatian pada kedatangan wanita tersebut.

 

“Ria! Kamu kok masih di sini? Kenapa nggak pulang sih?! Cowok itu siapa?” ucap seorang wanita paruh baya dengan nada panik.

 

“Kamu kan sudah tahu kalau udah jam 7 kamu harus pulang! Kamu bikin bapak khawatir Ri!”

 

Ria menggerakkan tangan dan jemarinya kepada wanita itu. Ia memberikan kode yang artinya tidak diketahui oleh Ian.

 

“Gimana Bapak sama Ibu nggak khawatir Ri? Kamu masih di sini sampai jam segini udah gitu sama cowok lagi. Dia siapa? Temen kamu?”

 

 Mendengar ucapan wanita itu, sontak Ian berdiri dan menyalami tangan kanan wanita itu.

 

“Ah kenalin tante, nama saya Ian. Ria pernah nolongin saya waktu saya kecelakaan. Jadi saya ke sini mau bilang terima kasih sama balikin sapu tangannya.” ucap Ian kepada wanita paruh baya itu yang ternyata adalah Ibu dari Ria.

 

“Oalah, kamu yang ditolong Ria waktu itu. Ria udah cerita sama saya. Gimana? kamu nggak apa-apa?” tanya wanita itu dengan nada bicara lebih halus yang jauh berbeda dengan nada bicaranya yang sebelumnya.

 

“Alhamdulillah udah sehat kok tante. Untung aja Ria sempet nolongin saya waktu itu.”

 

Saat Ian sedang bicara, wanita tersebut tak henti-hentinya memperhatikan wajah Ian. Ia memperhatikan Ian dengan seksama dari atas sampai bawah. Ian sedikit merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu.

 

“Kamu jangan-jangan Ian anaknya Pak Arif Rahman ya?” tanya wanita itu pada Ian.

 

“Kok tante tahu sama bapak saya? Tante kenal ya?” tanya Ian dengan penuh rasa penasaran.

 

“Masyaallah, Ian! Ini kamu? Ini beneran Ian yang dulu sering main sama Sarah? Kamu masih hidup ternyata nak. Terakhir saya denger kabar, kalau kamu di Jakarta.” ucap wanita itu.

 

Wanita itu lalu memeluk Ian yang agak kebingungan dengan penjelasan dari wanita itu.

 

“Kamu tinggal dimana sekarang nak?” pertanyaan lain muncul dari wanita itu.

 

“Maaf tante, tante kenapa bisa tahu soal saya dan keluarga saya? Tante siapa? Saya merasa tidak pernah bertemu tante sebelumnya.”

 

“Kamu nggak inget? Saya dulu tetangga kamu Ian. Kamu sering main ke rumah saya. Kamu juga sering main sama Sarah saudara kembar Ria. Tapi, Sarah dan Neneknya meninggal karena kebakaran di pusat perbelanjaan. Kamu inget Sarah kan? Dia mirip seperti Ria.”

 

Masih dalam keadaan bingung, Ian mencoba mengingat-ingat nama Sarah.

 

“Sarah? Jadi gadis kecil itu Sarah? Dia sudah meninggal?”

 

“Iya, Sarah dan Ria adalah saudara kembar. Tetapi mereka berdua tinggal terpisah, Sarah tinggal sama saya dan neneknya, sedangkan waktu itu Ria tinggal sama Bapaknya di Bandung. Karena kesehatan Ibu saya, dengan ijin suami saya, saya dan Sarah tinggal di rumah Ibu saya dan menjadi tetangga kamu. Tetapi, Sarah dan Neneknya menjadi korbah kebakaran saat mereka mengunjungi Mall.

 

Kamu sedih sekali waktu kamu tahu Sarah sudah meninggal. Kamu kabur dari rumah lalu mengalami kecelakaan. Bapak dan Ibu kamu lalu membawamu ke Jakarta untuk menjalani pengobatan.” ucap wanita itu dengan nada bicara yang bergetar.

 

Ria datang menghampiri wanita yang juga ibunya tersebut. Ia pun memeluk ibunya yang menangis akibat teringat akan kenangannya bersama Sarah.

 

“Jadi, dulu saya dan Sarah berteman baik tante? Maaf tante saya nggak bisa ingat dengan jelas.”

 

“Kalian berdua sangat akrab. Kamu sering menemani Sarah berlatih piano. Kamu juga selalu mendukung Sarah sebelum mengikuti kompetisi. Kamu tidak mempermasalahkan diri Sarah yang tidak sempurna secara fisik. Kamu tetep menjadi temennya walaupun ia sama sekali tidak bisa bicara.” cerita wanita itu lagi dengan nada suara yang makin bergetar akibat ia tidak bisa menahan rasa sedihnya.

 

“Saya bener-bener minta maaf tante, saya tidak bisa ingat kenangan saya dengan Sarah. Maaf.” Ian merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengingat apapun tentang dirinya dan Sarah.

 

Ia hanya bisa meminta maaf kepada wanita itu, karena ia telah membuat wanita itu mengingat kembali kenangan sedih tentang anaknya yang telah tiada.

 

“Saya bersyukur bisa ketemu lagi sama kamu, Nak. Walaupun kamu lupa kenangan akan Sarah, tetapi sikap dan perilaku kamu masih tetap sama seperti dulu. Kamu punya hati yang tulus untuk menerima seseorang yang tidak sempurna secara fisik. Ria sama dengan Sarah. Ia tidak bisa berbicara bahkan untuk mendengar pun sangat sulit baginya. Tetapi, kamu mau bersikap baik padanya. Kamu anak yang baik Ian. Terima kasih.”

 

Mendengar ucapan wanita itu, Ian tersenyum lalu berkata

 

“Tidak ada alasan bagi saya untuk memperlakukan Ria dan Sarah secara buruk tante. Mereka juga manusia ciptaan Tuhan sama seperti saya. Ria meskipun berbeda dari saya, tetapi ia tetap istimewa. Ria sangat jenius dalam menggambar. Begitu pula dengan Sarah, Sarah pasti sangat pintar bermain piano. Walaupun mereka memiliki kekurangan, tetapi mereka pasti memiliki kelebihan yang nggak semua manusia miliki. Saya justru merasa mereka sempurna tante.”

 

Wanita itu menitikkan air mata setelah mendengar ucapan Ian yang begitu menggugah perasaanya. Ria memeluk ibunya makin erat dan erat. Ian pun tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak tersebut. Ia merasa bahwa wanita itu pasti menahan beban yang berat dalam membesarkan kedua putrinya yang “istimewa”.

 

Ria yang sempat mendengar ucapan Ian, tersenyum pada Ian. Ian pun terlihat malu saat melihat senyuman Ria yang begitu manis. Melihat wajah Ian yang memerah, Ria teringat akan wajah yang sama yang pernah dilihatnya dulu. Ria teringat akan foto anak laki-laki berusia 7 tahun yang wajahnya merah karena malu ketika di foto.

 

Foto itu ditunjukkan kepadanya oleh kakak kembarnya yakni Sarah. Begitu menyadari bahwa anak laki-laki itu adalah Ian, Ria tersenyum lebar. Ia tak pernah menyangka akan bertemu sosok anak lelaki baik hati yang pernah menjadi teman baik kakaknya semasa ia hidup.

 

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *