Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

CERITAKU (2-4)

Tentu bukan itu saja pengalaman yang menandai akhir dari penglihatan normalku. Pernah pula aku terjatuh di jalan menuju kelasku. Jalan yang membentang mulai dari gerbang sekolah hingga ke pintu yang mengarah ke koridor-koridor di depan ruangan-ruangan kelas itu berlapis aspal sehingga sangat mulus untuk dilewati kendaraan. Namun tidak begitu halnya saat bersentuhan dengan kulit manusia. Aku yang terhuyung-huyung menahan berat tasku mendadak terhempas jatuh. Penyebabnya sama, kehilangan keseimbangan. Dan lututku yang mencium permukaan aspal  yang kasar dengan keras terluka. Luka besar yang cukup menjengkelkan karena tentu saja rasanya perih. Namun karena sudah mendekati waktu masuk kelas aku tidak sempat lagi merasakannya. Dengan tergesa-gesa aku berjalan ke kelas secepat yang bisa kulakukan dengan langkah terseok plus bonus luka di lutut. Sampai di kelas aku langsung duduk di kursiku. Luka di lututku tidak terlihat karena tertutup tepi bawah rok yang mencapai beberapa senti di bawah lutut. Berhubung guru untuk mata pelajaran pertama sudah datang maka aku tidak sempat pergi ke UKS untuk mengobati lukaku. Kupikir nanti saja deh. Dua jam pelajaran kukira tidak terlalu lama sehingga rasa perih di lutut masih bisa kutahan.

Tepat ketika itu guruku menyuruh siswa yang piket hari itu untuk membersihkan papan tulis yang belum sempat dihapus. Tanpa berpikir aku yang memang kebagian piket pada hari itu bangkit dan maju ke depan (mungkin juga refleksku itu dipengaruhi oleh otak yang merasa bersalah karena kesiangan, hehehe. Jadi otomatis aku tidak sempat ikut bekerja dengan regu piketku). Sebelum aku sempat menyentuh penghapus whiteboard sebuah teguran dari guru menyapa telingaku.

“Hei, itu kenapa kakinya?”

Rupanya beliau melihat luka yang berdarah di kakiku. Dengan agak malu aku menjawab  bahwa aku jatuh di depan tadi. Sambil bicara (dengan muka merah tentunya) Terbayang olehku pohon kaktus besar yang berdiri tidak jauh dari TKP jatuhku tadi. Pikiran itu membuatku malu sekaligus kesal setengah mati karena kaktus itu jelas menonton semua adegan jatuhku dari awal sampai akhir, namun ia hanya berdiri saja di sana seolah menertawakanku.

Bapak guru bahasa Indonesiaku yang baik hati itu lalu segera memerintahkan seksi PMR di kelas kami untuk mengobatiku. Dengan patuh sang petugas PMR yang kebetulan namanya mirip denganku, yaitu Nova, segera pergi ke UKS untuk mengambil obat-obatan yang diperlukan. Ketika ia datang lagi ke kelas ia langsung membersihkan lukaku dengan cairan alkohol, lalu dibubuhkannya obat luka banyak-banyak. Aku sangat berterimakasih. Rasa perih di lututku itu agak berkurang sehingga tidak terlalu mengganggu lagi. Terima kasih ya sobatku yang cantik. Namun sama seperti teman-teman lainnya yang kini bagaikan ditelan bumi, ia pun sudah tidak tentu lagi rimbanya.

Kali lainnya lagi aku jatuh dari ankutan umum. Bagaimana sih ceritanya? Hehehe, tenang saja. Tidak terlalu parah kok karena angkutan umum itu sedang dalam keadaan berhenti. Ceritanya begini, saat itu pelajaran sekolah untuk hari itu sudah selesai. Aku dan teman-temanku segera keluar kelas untuk pulang ke rumah. Sudah banyak angkutan umum yang berderet di depan sekolah untuk mengantar para siswa pulang (dengan ongkos jalan tentunya, hehehe). Kucari angkutan yang menuju ke jurusan rumahku lalu aku naik. Ketika mobil berhenti di perhentian di dekat rumahku mendadak kakiku terasa lemas sehingga saat turun dari mobil rasanya tidak menapak permukaan jalan. Tubuhku yang kehilangan topangan kedua kaki pun langsung terjerembab ke atas jalanan berkerikil dengan posisi muka lebih dulu. Spontan orang-orang yang melihat kejadian itu menolongku. Aku kembali didudukkan di dalam mobil . Pak supir yang baik hati lantas menanyakan letak rumahku. Sementara mobil berjalan aku yang pada waktu itu belum menjadi seorang tunanetra mencuri pandang ke arah kaca spion dan betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang tersaji di permukaannya. Mukaku lebam dan ada bagian yang berdarah. How come? Padahal aku tidak terlalu merasa sakit. Setelah kuperhatikan pantas saja tidak sakit. Luka itu letaknya di dekat mata sebelah kanan. Dari dulu syaraf-syaraf tubuhku yang sebelah kanan memang tidak berkembang sebaik yang kiri. Begitu pula dengan kepekaannya sehingga sekarang bila aku membaca dengan braille aku menggunakan tangan kiri karena lebih peka.

Sejak saat itu orang tuaku memutuskan untuk mengantarku ke sekolah setiap hari. Namun tidak lama kemudian terpaksalah aku absen dari sekolah karena kepalaku mulai sakit sehingga tidak mampu lagi berjalan jauh dan mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah.  Bukan itu saja, penglihatanku pun mulai mengabur sehingga pada suatu saat orang tuaku membawaku ke dokter spesialis mata. Namun setelah melihat kondisiku dokter menganjurkan agar kami berkonsultasi ke dokter spesialis bedah syaraf yang pernah menangani operasiku  pada saat usiaku sembilan tahun. Mendengarnya, aku agak kesal. Masa Cuma begini saja sudah curiga sama tumorku sih? Malas sekali aku ke dokter bedah syaraf (Hehehe, sebagaimana lazimnya orang yang tidak terlalu peduli pada kondisinya. Tentu saja aku yang tidak berpikir ke arah sana menjadi kaget). Selain itu terselip juga kekhawatiran yang tidak sempat terlintas di benakku waktu umur sembilan tahun. Bagaimana kalau aku harus dioperasi lagi? Bagaimana jika aku harus tinggal di rumah sakit dalam waktu lama seperti saat itu? Apakah penglihatanku bisa kembali normal setelah operasi? Pertanyaan yang terakhir ini pun kujawab dengan sok tahu. Bisa!

Maka dengan berbekal keyakinan bahwa penglihatanku akan kembali normal setelah operasi aku berangkat ke tempat praktek dokter itu. Setelah menjalani serangkaian tes dan juga difoto dengan MRI akhirnya diperoleh keputusan yang sudah kuduga sebelumnya. Aku harus operasi lagi. Tumor yang bersarang di otakku ternyata sudah sejak lama mengeluarkan cairan pekat yang kini menekan syaraf penglihatan. Bila dibiarkan tekanan itu akan semakin besar seiring dengan makin banyaknya jumlah cairan yang dikeluarkan si teroris yang terbilang cukup jinak tersebut. Hehehe, bagaimana tidak? Pertumbuhannya yang lambat membuatnya mendapat predikat jinak meski kalau sudah kambuh rasanya sangat aduhai.

Yups, itulah yang terjadi. Aku diinapkan di rumah sakit. Kepalaku digunduli untuk persiapan operasi. Malangnya, dokterku yang terhitung sudah senior itu sakit dan harus dirawat di rumah sakit pula. Sempat terjadi kebingungan pada saat itu namun untung segera ada dokter pengganti. Namun aku sangat kecewa karena penglihatanku masih tetap seperti itu. Hingga akhirnya dokter menjelaskan bahwa syaraf yang sempat terhimpit itu memerlukan waktu untuk pulih seperti sediakala. Untuk itu aku mesti sabar. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Kutahan kemarahan bercampur kecewa plus kesal yang hampir meledak di benakku karena aku tahu ucapan dokter itu benar, jadi tidak akan ada gunanya bila aku marah-marah karena itu toh tidak akan memperbaiki keadaan. Malah mungkin aku akan capek sendiri jika menuruti nafsu untuk marah tersebut.

Hari-hari yang kulewati di rumah sakit rasanya panjang sekali. Kejenuhan merambat dengan pasti karena aku tidak bisa lagi membaca untuk menghabiskan waktu. Namun Allah memang Maha Kuasa. Dalam keadaan yang entah sadar atau tidak aku diberi macam-macam penglihatan yang mau tidak mau membuatku terhibur dan fresh . (aku sendiri tidak tahu apakah itu halusinasi atau mimpi, yang jelas disyukuri aza deh! Hehehe.). Bermacam gambar yang pernah kulihat di buku cerita dan majalah silih berganti muncul (entah di dalam kepalaku atau di mata, I didn’t know exactly). Pernah pula aku merasa seperti berdiri di sebuah lapangan terbuka namun di sekelilingku udara amat berkabut. Di sela-sela kabut itu kuliha seorang pemuda tengah mengendarai sapu. Hehehe, Subhanallah. Mungkin aku tersedot ke dunia Harry Potter ketika itu. Khayalan yang agak keterlaluan, tapi mengingat bahwa itu di luar kendaliku maka aku tidak bisa disalahkan dong, hehehe.

Selain itu ada juga hal yang bila kuingat kembali sangat membuatku terharu. Yaitu saat aku merasa tercebur dalam sebuah kenangan manis. Awalnya aku tidak melihat apa-apa namun telingaku mendengar sayup-sayup suara orang sedang membersihkan beras dengan tampah yang diayunkan ke atas dan ke bawah. Maka beras yang ada dalam tampah itu akan terlempar ke atas namun segera jatuh kembali ke tampah saat diayun turun. Mendadak segalanya menjadi terang. Aku melihat rumah tetanggaku. Di depan rumah kulihat istri tetanggaku yang sebenarnya saat itu sudah meninggal sedang membersihkan beras dengan cara itu. Suasana saat itu terlihat seperti aslinya yaitu saat aku masih seorang siswa SD. Beras yang berjatuhan dari tampah yang dipegang  istri tetanggaku yang biasa kupanggil dengan sebutan Mbah Putri itu berjatuhan ke tanah dan dipatuki oleh beberapa ekor ayam kate yang dulu dipelihara Mbah Putri di rumahnya. Di sudut depan halaman ada sebuah kandang yang tidak terlalu besar berisi beberapa ekor merpati dan dederuk. Ah, benar-benar mengharukan. Mbah Putri sangat baik padaku. Beliau pandai memasak, namun yang paling kusukai adalah tempe goreng buatan beliau. Dulu aku sering meminta tempe goreng kepada beliau dan tidak jarang pula jika aku sedang bermain bersama cucunya yang kadang-kadang datang ke sana beliau mengajakku makan bersama. Sungguh kenangan yang manis. Sekarang tidak pernah lagi kujumpai tempe goreng selezat buatan Mbah Putri. Hiks, hiks, sudah dulu ya catatannya buat hari ini? Lain kali munkin akan kusambung lagi.

Cchrysanova Dewi

Mengenal Cchrysanova Dewi

Chrysanova Prashelly Dewi adalah alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Subang. Gadis yang mengalami ketunanetraan sejak berusia lima belas tahun ini gemar menulis, membaca, dan mendengarkan musik

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *