MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

HURUP BRAILLE IDENTITAS TUNANETRA

Saat ini aktivitas tunanetra dibidang  menulis dan membaca sudah dipermudah dengan adanya komputer bicara, dan smart phone yang juga sudah bicara. Tidak lagi selalu menggunakan hurup braille sebagai salah satu cara menulis dan membaca.

Tentunya kemudahan tersebut sangat disyukuri oleh para tunanetra di seluruh dunia, sebabnya karena para tunanetra sudah semakin banyak memperoleh sumber inpormasi dengan menggunakan smart phone, dan komputer  jika kedua piranti tersebut dilengkapi program pembaca layar.

Dilain sisi hurup yang ditemukan oleh Luis Braille ini, keberadaan dikalangan para tunanetra semakin minim penggunaanya oleh para tunanetra.

Tetapi penulis,  menemukan suatu komonitas yang dalam aktivitasnya sangat membutuhkan hurup braille untuk mempermudah kegiatan mereka.

Bukan sekedar aktivitas membaca, dan menulis biasa. Tetapi ini adalah  medharmagita. Ini adalah kegiatan yang tumbuh berkembang di Pulau Bali, ditekuni sebagian besar oleh para pemeluk agama Hindu.

Nyanyian dalam dharmagita berisi tentang ketuhanan, susila, dan juga tentang tatacara persembahan dalam agama Hindu. Jua tersilip tentang Kepahlawanan di dalam bait dharmagita tertentu.

Mepesantian adalah sebutkan bagi mereka yang sedang melantunkan tembang-tembang dharmagita.

Mepesantian juga dilakukan oleh komonitas tunanetra di Pulau Bali, tunanetra ini, membentuk seka santi (perkumpulan para peminat dharmagita), seka santi ini diundang untuk mengiringi suatu upacara agama Hindu.

Bait-bait nyanyian dalam dharmagita, sudah tersusun dalam bentuk buku. Sesuai dengan isi buku tersebut. Ada buku kidung Dewa Yajnya untuk nyanyian yang mengiringi persembahan kepada para Dewa, buku kidung manusa Yajnya  adalah buku yang memuat nyanyian yang digunakan untuk mengiringi upacara untuk manusia.

Para tunanetra di pulau Bali, menggunakan buku dengan tulisan awas sebagai pedo,anya, tetapi buku tersebut disalin ke dalam hurup braille.

Baca:  LUMPUHNYA INTERNET MENGANCAM HIDUP DISABELITAS

Proses penyalinan buku ini dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya: ada orang yang membacakan buku awas yang disalin, adanya kertas, dan adanya alat tulis reglet dan pen, serta adanya orang yang mampu menulis hurup braille.

Untuk memperjelas hal ini, penulis melakukan wawancara dengan Komang Soma. Beliau sudah menekuni Pesantian ini dari tahun 2000. Kiprah beliau di dunia pesantian sudah sering diundang untuk menembangkan bait-bait dharmagita.

Tentunya dalam prakteknya beliau selalu membawa buku kidung ataupun buku geguritan sebagai pegangan atau pemandu saat menkidung. buku itu, sudah dialih aksarakan ke dalam aksara braille.

Mepesantian dengan menggunakan  buku braille sangat membantu para tunanetra yang menekuni pesantian ini. Karena dalam setiap penerapanya gegitaan atau nyanyian kidung berjalan  seiring dengan gambelan gong, suara puja pemangku ataupun pedanda,  dan lain sebagainya. Sungguh tidak memungkinkan untuk memakai piranti yang menggunakan program pembaca layar. Apalagi dalam pementasan pesantian yang diiringi oleh geguntangan, yang merupakan musik pengiring saat pupuh-pupuh dalam dinyanyikan oleh seka Santi. Penulis juga merasakan hal yang sama saat mekidung ataupun menyanyikan kidung-kidung mengiringi upacara agama. Meskipun tidak semahir Komang Soma tetapi penulis juga dalam lingkungan keluarga sering menembangkan kidung-kidung yang ada dalam dharmagita.

Berdasarkan kenyataan tersebut, marilah bersama-sama kita tetap melestarikan hurup braille sebagai hurup kita para tunanetra. Karena menurut penulis, masih banyak kegiatan para tunanetra yang membutuhkan hurup braille sebagai media untuk membaca, dan menulis.

Penulis juga seorang pendidik di Taman Pendidikan Saren Rare, sebuah sekolah swasta. Di sana penulis sering terbantu oleh hurup braille, seperti: mencatat bait lagu anak-anak untuk ngajar di TK, mencatat materi yang akan disampaikan dalam rapat karyawan, dan mencatat beberapa hal saat mengajar di jenjang SD.

Baca:  Penyandang Disabilitas sering Diabaikan di Kereta Api

Bayangkanlah jika pada suatu hari kita ada dalam keadaan yang tidak ada listrik, pada saat yang sama kita juga harus mencatat dan batrai gaget kita habis. Yang ada hanyalah alat tulis braille dan kertas, apakah kita akan langsung minta tolong orang awas untuk mencatat? Setelah itu kita pinjam catatanya? Ya kalau ada yang mau bantu kita. Tetapi jika semua sibuk dengan urusanya masing-masing? Meskipun kita sudah dipermudah oleh berbagai program pembaca layar, dan fiture-fiture canggih tetapi kita sebagai tunanetra jangan sampai terlena/mabuk dengan kecanggihan tersebut, sampai melupakan hurup kita. Malu sekali saya jika mendengar ada tunanetra yang tidak bisa hurup braille dasar, dan terlalu meremehkan hurupnya para tunanetra. Memang kita tidak boleh terlalu rewel dengan masa lalu, dan kita harus hidup seperti air yang mengalir. Tetapi apakah sampai melupakan hurup braillle? Apakah mau kita disebut buta hurup? Nanti jika sebutan itu ada kita mengatakan pencemaran nama baiklah, diskriminasilah, dll. Marilah kita tetap memanfaatkan kecanggihan tehknologi, tetapi kita juga harus menguasai penulisan braille dasar. Kita harus bisalah nulis alvabet, angka, dan tanda baca umum dalam hurup braille.

Kalau tidak kita melestarikan hurup kita, siapa lagi? Karena itu adalah identitas kita para tunanetra. Seperti halnya orang awas, dia sudah punya ciri khas hurup, yaitu hurup yang ditulis dengan pensil, pulpen, dll intinya adalah hurup yang bisa dia baca hanya dengan melihatnya saja.

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbikan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Developer