DINGIN

Namaku Lina. Aku akan bercerita salah satu kisah.
Di pagi yang dingin. Bagaikan di salju. Membuatku ingin kembali ke alam mimpi.
Sehabis subuhan, aku enggak langsung keluar. Hanya berdiam diri di kamar.
“Srak-srek! Srak-srek!”
Suara langkah kaki, bapak. Nenuju ke kamarku.
“Lin, apa kamu belum bangun?”
“Sudah pak.”
“Kalau sudah bangun, kok enggak keluar? Apa kamu enggak subuhan?”
“Tadi aku sudah subuhan, pas bapak ke masjid. Terus mau keluar kamar, rasanya males. Soalnya dingin banget.”
“Kalau dingin, bikin minuman hangat. Biar tubuhnya terasa hangat.”
“Iya, pak. Kira-kira kapan, ya, pak? Ibu pulang dari rumah, nenek?”
“Kalau enggak disuruh nginap lagi. Nanti sore, ibumu pulang.”
Aku hanya tersenyum. Menanggapi ucapan, bapak.
Setelah itu, bapak meninggalkan kamarku.
AKU bergegas ke dapur. Membuat teh hangat, untuk diriku sendiri.
Setelah minum teh hangat dinginnya lumayan berkurang.
AKU kembali ke kamar. Enggak lupa mengambil buku.
AKU berbaring di balik selimut tebal.
Ditemani hujan. Yang suaranya begitu merdu, bagaikan alunan musik.
“Semoga saja dengan adanya membaca buku, sambil tiduran. Bisa ke alam mimpi.”
Gumamku, dalam hati.
Namun, walau cuacanya dingin, mendukung untuk tidur. Aku enggak dapat terlelap, sampai waktu sudah siang. Sampai buku yang aku baca pun sudah sampai halaman terakhir.
Perutku bernyanyi.
“Kruyuk-kruyuk! Kruyuk-kruyuk!”
Gegara belum kemasukan nasi.
“Kayanya, dingin-dingin gini. Makan nasi goreng, pasti enak.”
Sesudah makan. AKU enggak pergi kemana-mana.
Walaupun sudah siang. Hujan belum berakhir. Dingin masih terasa. Cuma enggak separah tadi pagi.
“Bapak apakah enggak merasa dingin?”
Tanyaku. Sembari duduk di sampingnya.
“Ya dinginlah. Ini, bapak menikmati kopi. Agar mendapat kehangatan.” Jawabnya.
“Bapak sudah makan atau belum?”
“Sudah tadi, nak. Sama sambal dan ikan asin. Kamu sudah makan, nak?”
“Sudah, pak. Sama sambal dan nasi goreng.”
“Nasi goreng dari mana?”
“Itu, aku barusan bikin.”
“Oh begitu.”
“Iya. Hujannya awet banget, ya, pak?”
“Iya. Untungnya, bapak enggak sedang menjemur padi.”
Aku hanya manggut-manggut. Mendengar penuturan, bapak.
“Kamu dari tadi ngapain aja di kamar?”
“Baca-baca buku. Tadinya mau tidur, tetapi enggak bisa. Bapak ngapain aja dari tadi?”
“Baca-baca koran. Syukurlah kalau enggak tidur.”
“Emangnya kenapa?”
“Tidur pagi-pagi itu enggak baik. Rejekinya bisa diambil, ayam.”
“Masa si?”
“Iya, nak.”
Menit demi menit telah berlalu. Waktu pun terus berputar. Siang telah berganti sore.
Hujan akhirnya usai. Rasa dingin yang sejak pagi menghampiri. Perlahan pergi dari tubuh ini.
Selesai.

Aku hanya orang biasa. Yang suka berimajinasi.

Baca:  Destiny
Bagikan artikel ini
Linatun Nisa
Linatun Nisa
Articles: 18

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *