MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

Dongeng Gemericik Suara Hati (13)

Terakhir diperbaharui 9 tahun oleh Tyaseta Rabita Nugraeni Sardjono

Apaaaa….!
Dalam diam…..
Sunyi……
Menorehkan sesuatu…..
Ah……
Guna….guna….
Pertengahan? Asik juga….
Tapi…..
Saat berjalan-jalan, ada yang ngoceh sendiri, wah, seperti Tingit nih, asyiiiik ada temennya, aku ternyata kagak sendirian bro. Wih, gila…..kalah…..bahasanya….kereeen…..
Kupu-kupu putih
Ada seekor kupu-kupu putih yang Mara dapati di sebelahnya saat terbangun saat ia tidur dalam posisi miring kiri, satu sayapnya ke hidungnya persis, dan satu sayapnya lagi menghadap ke atas. Mara merasa itu adalah kekasihnya yang sangatlah dicintainya dulu yang bernama Ten sebelum menikahi suaminya sekarang yang bernama no.
Ten sampai berganti keyakinan, namun mati dengan keyakinan yang berbeda, dan kelitan saat akan memejamkan mata dengan ekspresi marah pada mukanya, namun Mara membisikkan perkataan “Bahwasannya aku udah mengikhlaskan kepergianmu, maafkan aku”, sembari mencium bibirnya.
Suatu hari, Mara menemukan kupu-kupu putih itu lagi, ia berkata dalam hati “Kalau itu memang benar kamu Ten, maka kamu berhenti dan diam disana (sambil menunjuk), namun, bila itu bukan kamu, maka kamu pergilah dan hilanglah untuk selamanya”, kemudian kupu-kupu itupun berhenti.
Mara dalam perkataan yang tulis oleh hantu “Berarti itu betul Ten, karena kupu-kupu putih yang berwarna putih seperti cat itu benar-benar diam saat diminta untuk diam, dan anehnya saat saya sedang bersusah hati, saya menulis curahan hati melalui perkemen kertas dan kupu-kupu itu selalu muncul.
Setelah diusir dari Istana, dan dan suami entah kemana, lah masa bodohlah, kepintaran memang gitu sih bro. Tingit mencari sekolahan yang menyadiakan makanan dan minuman gratisan.

Beri Pendapatmu di Sini
Baca juga:  Salah Sangka