Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Dongeng Sepatu

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Di dalam sebuah lemari kayu besar berukir indah milik seorang kolektor, tinggalah berbagai jenis sepatu dengan masing-masing corak dan warnanya. Mereka hidup rukun dan damai. Saling menghormati dan menghargai, sudah menjadi budaya yang melekat pada bangsa mereka. Tidak ada cek-cok, pertengkaran, apalagi perkelahian. Mereka begitu teguh memegang prinsip yang sudah diwariskan turun-temurun itu. Rasa iri, dengki, sombong, jumawa sangat jauh dalam kehidupan para sepatu itu. Mungkin itu sebabnya kenapa suasana di tempat penyimpanan sepatu kita terasa begitu tenang dan damai.

Tapi sayang, kehidupan yang bersahaja itu mulai terancam. Kehadiran sepasang sepatu baru itulah penyebabnya. Dia memang amat manis, cantik, dan sedap dipandang mata. Lihat saja warnanya yang putih dengan kombinasi biru di depan dan di sampingnya! Begitu serasi. Belum lagi bentuknya yang sportif, dengan begitu banyak variasi corak dan ukiran disana-sini. Bahan pembuatnya pun kulit berkualitas tinggi yang tak mudah robek dan tahan terhadap segala jenis cuaca. Bila dipakai, pasti terasa empuk dan nyaman. Karena bagian dalamnya dilapisi dengan busa tebal dan ditutup kain kedap air yang dijahit. Benar-benar sempurna. Tapi rupanya segala kelebihan yang dimilikinya justru membuatnya menjadi sombong dan congkak. Setiap hari kerjanya hanya mengoceh dan membual mengenai segala kesempurnaannya itu. Bukan itu saja, dia juga senang mengejek dan menghina sepatu lain yang dianggapnya lebih jelek darinya. Siapa saja pasti terkena cemoohannya.

 ”Hai, sepatu boot butut, memakaimu pasti sungguh tidak nyaman, ya? Berat, berisik, gerah membuat kaki berkeringat lagi! Bentukmu pun sungguh tak menarik. Apa bagusnya bentuk bagian atas yang panjang dan lebar itu? Masih bagus telinga kelinci.”

Yang diejek Cuma tersenyum. Si sepatu Boot memang terkenal ramah dan penyabar, ”Hehehe, Kamu anak baru memang belum banyak tahu. Biar bentukku seperti ini, tapi aku telah menabur banyak jasa bagi majikan kita. Aku selalu menemaninya mengarungi sungai, merambah hutan, serta menjelajah ke tempat-tampat yang membahayakan. Perlu kamu tahu, bahwa kekuatanku telah terbukti dan teruji. Aku melindungi majikanku dari lumpur, rumput berduri, dan benda-benda asing yang dapat mencelakakan majikanku. ”

”Oh, pantas kamu selalu kelihatan kotor dan berdebu, plus bau lagi! Iiiiiihhhhh, menjijikan! Mengapa tuanku meletakanku bersama dengan si tua yang kumuh
dan jorok ini?”

 ”Jangan begitu!” Space, si sepatu lari angkat bicara.

”Biar bagaimanapun juga diakan sesepuh kita. Kita harus menghormatinya. Telah banyak jasa yang telah diberikannya kepada tuan kita.”

”Diam, Kau! Lebih baik pikirkan saja kain penutupmu yang lusuh itu. Menyedihkan. Juga paku-paku yang ada di bawahmu itu, benar-benar mengerikan. Siapa pun akan langsung berpaling jika melihatmu,” Kini si anak baru malah beralih menghina Space.

”Hei, jaga mulutmu! Aku memang dibuat dan didesain seperti ini, sesuai dengan fungsi dan kegunaanku. Dan aku cukup berbangga, karena akulah anak tuan kita berhasil mendapatkan medali dan piala dalam berbagai kejuaraan lari yang diikutinya. Bentukku yang simple dan sederhana ini justru memudahkan dan meringankan pemakaiku. Sehingga dia dapat berlari seperti angin. Paku-paku yang di bagian depan alasku ini sama sekali tidak membahayakan. Malah dia membantu menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti terjatuh atau terpeleset misalnya. Karena paku-paku ini akan menancap dengan kokohnya di atas lintasan, baik itu yang permukaannya tanah, ataupun karet,”  Ujar spaice dengan berapi-api.

Mendengar penjelasan itu, malah membuat si Sombong tertawa dengan sangat keras. ”Hahahaha, mana mungkin yang memakaimu itu dapat berlari seperti angin? Begitu melihatmu saja orang pasti sudah ragu. Bagaimana nanti kalau talinya lepas? Bagaimana nanti kalau kain tipis atasnya tiba-tiba robek? Bagaimana nanti kalau pakunya tiba-tiba copot atau salah menapak? Mereka takkan berpikir sampai dua kali untuk membuangmu. Hahaha!”

 ”Kurang ajar, dasar anak baru tak tau sopan-santun! Jangan mentang-mentang bentukmu bagus lantas kamu bisa menghina seenaknya! Akan ku……..” Begitu marahnya si Space sampai-sampai ia kehabisan kata-kata.

”Sudah, sudah, biarkan saja dia! Dia berkata seperti itu karena dia memang belum pernah berhubungan dengan dunia luar. Nanti kalau dia sudah dikeluarkan, dan dibawa ke luar, pasti dia akan segera mengubah pikirannya.” Si Tua Boot mencoba melerai.

”Tidak! Biarkan aku memberi pelajaran pada si mulut besar ini! Biar dia belajar bagaimana menghargai. Hai bocah sombong! Kemari kau, akan kukoyak-koyak tubuhmu yang halus itu . Akan kuubah bentuk yang bagus itu menjadi tak beraturan. Biar kau tahu rasa, dan tak bisa membual lagi.”

Dengan tiba-tiba saja dan secara tak terduga, si Space melayang menuju si penghuni baru itu. Paku-pakunya yang tajam dihadapkan tepat ke arah tubuhnya yang ramping. Si Sepatu baru menyadari bahaya yang akan mengancam. Dia berusaha bergerak dan menghindar serangan si Space. Tetapi di samping kirinya telah siap menghadang sepasang pantofel. Sementara di sebelah kanannya, Tiba-tiba saja entah dari mana, telah berdiri sepasang roller balet. Sedangkan di depan dan belakangnya, dihalangi oleh kayu lemari. Begitu takutnya dia menyadari bahwa dirinya terjepit.

”TOOOOLOOOONGG!!!!!!” Dengan keberaniannya yang tersisa, dicobanya meminta pertolongan. Tapi rupanya tidak ada siapapun yang mau menolongnya.

 Gubbbbbrrrrraaaakkkk!!!!! Guuuuubbbbbrrrrraaakkk!!

Suara ribut dan gaduhpun terdengar dari dalam lemari tempat penyimpanan sepatu itu, membangunkan si Tuan kolektor yang sedang terlelap. Dia bertanya-tanya dalam hati, ”Apa yang terjadi ? Jangan-jangan ada tikus. Tetapi nggak mungkin. Lemari ini bebas tikus.”

Dengan rasa penasaran dan khawatir, sang kolektor bangkit dari pembaringannya. Dihampirinya lemari kesayangannya itu. Diputarnya anak kunci yang telah dimasukkan ke dalam lubang sementara suara gaduh masih saja terdengar dari dalam.

 Brrrrraaaaakkkkkkkk!!!!!!

Jantungnya terasa seperti berhenti melihat apa yang terjadi. Seperti sebuah ledakan dahsyat. Lusinan sepatu keluar berhamburan dari tempatnya. Dan mereka
semua menuju ke satu arah, tepat ke arahnya. Sepatu-sepatu itu menyerangnya.

Oh tidak! Untunglah kolektor pemilik sepatu-sepatu itu cepat menghindar. Kalau tidak, mungkin saja ia terjengkang dan jatuh terlentang dengan dada dan perut tertindih oleh puluhan pasang sepatu. Dan pemandangan yang terlihat kini sungguh di luar perkiraan. Sepatu-sepatu itu jatuh tepat berhadapan dengan jari-jari kaki si kolektor. Sepatu baru penyebab segala kekacauan itu terlihat menyembul dibawah sepatu-sepatu lainnya. Ia tampak kesakitan, seluruh tubuhnya penyok dan rata karena tak sanggup menahan beban yang ada di atasnya.

* * *

Kejadian semalam membuat Sang Kolektor tidak habis pikir. Selama hampir dua puluh tahun mengoleksi, tidak pernah ia menemukan keributan terjadi diantara sepatu-sepatu tersebut. Ia telah memeriksa keseluruh sudut lemari tempat penyimpanan, tapi tidak ditemukannya satu milimeter lubang pun. Memang lemari itu sudah dirancang khusus untuk melindungi apa yang ada di dalamnya dengan sempurna. Jangankan tikus, seekor semut pun tak kan mungkin sanggup menembus kayu jati dengan ketebalan hamper lima belas sentimeter itu.

”Pasti penyebabnya ada diantara sepatu-sepatu itu.” Sang kolektor mencoba membuat analisa.

”Pasti ada diantara mereka yang tidak disukai oleh teman-temannya. Tapi siapa? Mereka selalu rukun dan damai selama ini, sampai kedatangan sepatu baru itu,” Kalimat yang terakhir ini membuatnya tersentak, ia pun serentak terlonjak dan berdiri dari duduknya selama ini.

”Iyaaaa! Pasti itu penyebabnya. Kehadiran sepatu baru itu, entah apa yang diperbuatnya, yang jelas itu membuat teman-temannya membencinya.”

”Baiklah kalau begitu.” Sang kolektor beranjak dan berjalan menuju lemari tempat penyimpanan sepatu-sepatu koleksinya.

”Kalau memang dia penyebabnya, akan kupisahkan sepatu baru itu dari yang lainnya.” Ujarnya sambil membuka pintu lemari dan mengambil sepatu cantik itu dari tempatnya.

* * *

”Asyik! Kiki dapat sepatu baru. Lihat, Ma, bagus kan?” Ujar Kiki sambil menunjukkan sepatu baru itu kepada mamanya, yang ditanya cuma tersenyum.

”Ayo, bilang apa sama paman?”

”Terima kasih, ya, Paman.” Ujar kiki sambil memeluk paman yang menghadiahkan sepatu itu padanya.

”Sama-sama, Kiki.” Ujar paman sambil tersenyum. Dalam hatinya ia bersyukur, karena telah merasa membuat keputusan yang tepat terhadap salah satu koleksinya itu.

* * *

Kini sepatu baru yang sombong itu berpindah tangan ke Kiki. Kiki sangat senang menerima hadiah dari pamannya itu. Tak sabar ia menunggu esok. Pergi ke sekolah dengan sepatu barunya.

* * *

Keesokan harinya, Kiki menjadi pusat perhatian teman-temannya. Semua merasa kagum dengan sepatu yang dipakai Kiki. Berbagai pertanyaan pun dilontarkan ke padanya. Dari mana di mendapatkan sepatu cantik itu? Berapa harganya? Dan yang lainnya.

”Aku sama sekali tidak membeli sepatu ini. Pamanku yang memberikannya padaku.” Kiki pun menjawab dengan penuh rasa bangga.

”Wah, senangnya punya paman baik seperti kamu,” Komentar dari salah seorang temannya.

”Iya, ayahku saja jarang memberikan hadiah ke aku. Kamu sungguh beruntung,” Sahut temannya yang lain.

Kiki hanya tersenyum lebar mendengar pujian kagum dari teman-temannya itu. Dalam hatinya dia berkata, ”Sepertinya tidak ada anak yang seberuntung aku.”

Lantas, bagaimana dengan sepatu yang dikenakan Kiki itu? Rupanya dia semakin sombong saja. Di kelas, di saat jam pelajaran berlangsung, sepatu itu terus mengoceh tiada hentinya.

”Hai kawan-kawan! Wah, senangnya bisa berkenalan dengan kalian. Tapi kok, tampang kalian kotor dan jelek begitu, ya? Kasihan. Lihat, nih, aku, biar dalam keadaan bagaimanapun, tapi tetap terlihat cantik dan mengagumkan kan?”

”Wah, jangan sombong begitu, dong! Biar jelek begini kami juga banyak gunanya. Kami telah membantu mereka yang memakai kami ini meraih prestasinya. Kami membuat manusia bisa berlari dengan cepat, membuat kaki mereka nyaman dan terhindar dari berbagai macam kotoran dan sesuatu yang membahayakan. Kamu lihat orang yang memakaiku ini? Dia ini juara satu dikelas. lebih dari itu, berkatku dia menjadi kapten kesebelasan sepakbola di klub-nya, dan kamu harus tahu, kesebelasan yang dipimpin anak ini selalu menjadi pemenang dalam setiap pertandingan.” Timpal salah satu dari sepatu-sepatu yang dihina itu.

 Sepatu cantik namun sombong itu malah mencibir, ”Mana mungkin? Tidak ada yang lebih kuat daripada aku.”

 ”Baik, kita lihat saja nanti.” Ujar sepatu yang dikenakan oleh si juara kelas itu.

* * *

Siangnya, nampak segerombolan anak-anak menuju lapangan rumput yang terletak di belakang sekolah. Mereka terlihat begitu gagah dengan seragam sepakbola yang melekat di tubuhnya masing-masing. Namun yang paling terlihat mengesankan diantara mereka adalah Kiki. Ya, Kiki dengan sepatu barunya. Dengan gaya bak seorang komandan perang, dia melangkah memimpin teman-teman yang berjalan di belakangnya. Jangan heran! Hari ini Kiki ditunjuk sebagai kapten dalam pertandingan melawan sekolah dari desa sebelah.

”Tuh, lihat kan, belum apa-apa pemakaiku ini sudah ditunjuk sebagai kapten kesebelasan.” Sepatu baru itu masih saja mengoceh tentang kehebatan dirinya.

”Jangan sesumbar dulu, pemakaimu itu ditunjuk sebagai kapten karena kapten yang sebenarnya sedang mengalami cedera di lututnya sehingga dia tidak dapat turun main siang ini.” Timpal sepatu bola yang kebetulan berada tepat di belakangnya.

”Benar, dan sekarang tunjukkan kalau kamu ini benar-benar hebat seperti apa yang kamu sesumbarkan,” Dukung yang lain.

”Baik, kita lihat nanti. Dan kalian jangan heran kalau aku nanti akan mencetak banyak gol,” Sepatu yang dikenakan Kiki masih terus sesumbar.

Waktu yang telah dinanti-nanti pun tiba. Semua anak baik itu para pemain maupun supporter dari masing-masing kesebelasan telah berkumpul. Wasit pun meniup peluit tanda babak pertama dimulai. Kesebelasan yang dipimpin Kiki nampak gencar menyerang.

”Ayo, teman-teman, semangat! Jangan beri mereka kesempatan untuk menyerang!” Kiki berteriak-teriak sambil berlari-lari melintasi lapangan hijau itu.

Sementara teman-temannya sibuk menggempur pertahanan lawan. Bola masih dikuasai oleh kesebelasan Kiki. Saling oper, saling umpan dan gocek pun diperagakan oleh mereka. Tapi Kiki masih saja belum mendapatkan bola. Ia berlari menuju ke daerah kotak penalti. Dan pada saat posisinya bebas beberapa senti dari kotak penalti, datanglah bola meluncur dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Tanpa pikir panjang lagi Kiki langsung menendang bola itu ke arah gawang. Tapi…

”Aduh,  sakiiittt!!!!!” Sepatu yang dikenakannya menjerit kesakitan tepat pada saat Kiki mambenturkan bagian depan sepatu ke arah si kulit bundar. Hasilnya, sungguh di luar dugaan. Bola itu menggelinding dengan pelan sekali. Dan tentu dengan sangat mudah dapat di tangkap oleh penjaga gawang lawan. Sementara Kiki terjatuh terlentang dengan posisi kakki menghadap ke arah tiang gawang.

Semua yang menyaksikan kejadian itu tak dapat lagi menahan tawanya. Dengan suara keras mereka berseru dengan nada mengejek.

”Hahahaha! Kenapa kamu, Ki? Keberatan sepatu?”

 Dengan muka bersemu merah, Kiki mencoba bangkit dan berdiri lagi di atas kedua kakinya. Namun baru saja dia berhasil menegakkan lututnya, Datang lagi bola dari sudut kiri lapangan menuju ke arahnya. Spontan Kiki berusaha untuk menguasainya. Namun rupanya sepatu yang dikenakannya tidak dapat diajak bekerja sama. Sepatu itu sepertinya takut bertrubukan lagi dengan bola.

 ”Tidak, tidak, jangan, sakiiit!!!!!!!!” Sepatu itu malah menjerit-jerit ketakutan. Tetapi Kiki berusaha terus untuk bangkit dan menendang bola itu. Namun sepatu yang dipakainya terasa begitu berat. Dan akhirnya, sebelum sempat ujung kakinya menyentuh bola, Kiki kembali terjatuh. Kali ini dengan posisi tubuh menelungkup menindih bola.

Suara tawa pun kembali bergema memenuhi setiap sudut lapangan, ”Ha Ha Ha!!! Kiki, Buka saja sepatumu itu! Dia sepertinya takut sama bola.”

Tanpa berpikir dua kali, Kiki pun berlari ke pinggir lapangan dan melepas sepatunya. Sambil menggerutu dicampakannya sepatu itu begitu saja.

”Huh, Dasar sepatu murahan! Membuat malu saja. Sama sekali tidak bisa diajak kerja sama.”

 Kikipun akhirnya kembali ke lapangan dengan bertelanjang kaki. Sementara itu sepatu yang ditinggalkan itu terlihat tampak lega. ”Waduh, ampun! Untung aku cepat-cepat diamankan, kalau tidak bisa remuk tubuhku oleh benda bulat yang keras itu.”

 Tapi, baru beberapa detik sepatu itu menikmati kelegaannya, Muncul seekor anjing ke arahnya. Dengan penuh rasa ingin tahu, diciumnya sepatu itu dengan hidungnya. Tidak hanya itu, Si anjing itu malah menjulurkan lidahnya dan menjilat-jilat bagian depan sepatu itu.

”Hei, binatang jelek, jangan lancang kamu, ya! Berani-beraninya kamu mengotori tubuhku yang indah ini dengan nafasmu yang bau itu. Pergi! Pergi! Pergiiiiiiii!!!!” Sepatu itu berteriak-teriak menyuruh anjing itu pergi.

Tetapi anjing itu bukannya pergi malah mengarahkan kuku-kukunya ke arah sepatu. Dan beberapa saat kemudian, terlihatlah pemandangan yang mengerikan. Anjing itu merobek, mencakar, dan menggigit sepatu itu hingga tak berbentuk. Setelah puas, anjing itu pun berlalu.

Tags:
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *