Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Ferdi Story (7-15)

Besoknya, Ferdi terbangun. Dilirik jam dindingnya dan ternyata sudah jam 7 pagi, itu berarti Ferdi terlambat ke sekolah. “Yah, gue telat. Ya sudah nggak apa-apa deh, Cuma klass meeting doang kok. Gue nggak masuk juga nggak apa-apa.”
Akhirnya Ferdi pun hanya bermalas-malasan saja ditempat tidur.
Pagi itu, Susan juga sudah bangun. Dia berjalan ke kamar Ferdi dan mengetuk Pintu Ferdi.
”Fer, Fer, bangun Fer! Udah siang. Lo nggak shalat subhu yah tadi. Sorry, gue juga ke siangan. Semalam yayang gue telepon sampe jam tiga pagi.” Kata susan dengan nada membangunkan seseorang sambil mengetuk pintu kamar.
”Katanya kakak masa bodo sama Ferdi… Trus, ngapain kakak bangunin Ferdi?” Kata Ferdi dengan nada ngambek.
”Tadinya sih mau begitu. Tapi gue mikir semalaman gue kagak tega. Kalau lo napa-napa, gue sama siapa lagi?  Entar gue nggak ada yang beliin makanan lagi. Buka dong pintunya Fer, Kakak mau masuk.” Kata susan dengan nada memelas.
Ferdi pun segera membuka pintu kamarnya lalu Susan pun masuk. Susan duduk di sisi ranjang Ferdi.
“Nih, Kakak gantiin.” Kata susan sambil memberikan kartu isi ulang WFC yanng bernilai Rp 100.000. “Gue udah lama beli ini, Cuma…, gue kelupaan terus untuk ngasih ini ke lo.” Ferdi pun menerima kartu focer itu, walau pun masih agak kesal dengan Susan.
Sebenarnya sih, kartu itu baru dibeliin Toni tadi malam. Sebenarnya malam itu, Susan menelepon Toni dan mengadukan masalahnya dengan Ferdi. Susan telah melarang Toni untuk menggantikan focer itu, Cuma dia nekat membelikkannya untuk Ferdi. Malam itu, Toni langsung mengantarkan focer tersebut ke Susan dan melarang Susan untuk memberi tau Ferdi bahwa Toni yang membelikkan focer itu.
“focernya simpen aja kak!” Jawab Ferdi jutek.
“Hlo kenapa Fer, lo masih nggak terima? Lo tuh maunya gimana sih…, gue tuh bingung!” Kata Susan yang perasaannya menjadi jengkel.
“Maksudnya, simpen aja buat Kakak! Ferdi Cuma mau waktu itu Kakak langsung cepet-cepet ngegantiin focernya!Dan sekarang, Ferdi belum butuh focer itu. Ngerti Kak?”
”Yasudah, kalau nggak mau focer ini. Oh yah, Kakak mau ke salon, mau potong rambut. Kamu mau ikut nggak? Habis dari salon Kakak shoping sebentar terus nanti kakak teraktir deh. Mau nggak? Oh yah Kakak lupa, kamu hari ini sekolah nggak? Soalnya, Pak Topo, lagi nggak enak badan. Istrinya tadi yang menelpon.” Kata susan dengan nada mengalah dengan sikap ke-kakakannya sambil bangkit dari tempat tidur Ferdi.
”Nggak Kak, Cuma klass meeting doang. Lagian Cuma buang-buang waktu doang di sanah. Yaudah deh aku Ikut Kakak aja.” Kata Ferdi yang mulai menampakan keceriaannya.
”Yudah, mandi sanah, terus ganti baju. Kakak tunggu!” Kata Susan sambil melangkah pergi dari kamar Ferdi.
Ferdi pun melakukkan semua yang Susan perintahkan kepadanya. Akhirnya dia selesai.
”Kak, Kak susan, Ferdi udah siap Kak!” Kata Ferdi memanggil-manggil Susan sambil mencarinya.
”Iya Fer, bentar, gue make bedak dulu. Lo panasin mobilnya yah!  Kita make mobil Fanthur mamah. Gue udah minta izin kok. Koncinya sama mamah Fer. Minta gih!” Perintah Susan sambil memoliskan pelembab diwajahnya.
Ferdi pun menuruti perintah Kakaknya itu lalu dia pergi ke kamar Mamah. Rupanya beliau sedang asyik menonton TV. Ferdi mengetuk pintu kamar itu dan berkata:”Mam, Mamah, ini Ferdi mah. Bisa buka pintunya bentar nggak mah?”
Ibu Ferdi pun membukakan pintu kamarnya lalu berkata:”Ada apa Ferdi?  Kok kamu nggak ke sekolah hari ini? Bukan hari ini belum libur Fer?”
” Iya benar mah, habis Ferdi capek. Lagian, disanah nggak belajar kok. Lagi class meeting.”
”ooo. Terus ada perlu apa sama Mamah Fer?”
”Gini mah, saya dan Kak Susan-kan mau pergi,  boleh nggak kami minjam mobil mamah?”
 
”Oh… Iya, tadi Kakakmu juga udah bilang kok ke Mamah. Yaudah, Mamah ambilkan koncinya. Bentar yah.” Kata sang ibu yang langsung berbalik dan menarik sebuah laci meja dan mengambil sebuah konci mobil miliknya.
”Nih Fer, koncinya. Oh yah, mobil mamahkan Bensinnya sudah hampir habis, tolong sekalian diisi yah! Nih uangnya. Hati-hati lo bawa mobilnya.” Kata sang ibu sambil memberikan sebuah konci mobil dan selembar uang 50.000-an.
”Oh yah mah insya Allah.”
Ferdi meninggalkan kamar ibunya lalu menuju ke kamar Kakaknya.
”Fer, udah cantik belom gueh? Soalnya, Toni cowok gue mau nyamperin gue di salon. Tadi gue telpon dia. Dan katanya dia mau temenin gueh.” Kata Susan sambil narsis di depan Ferdi.
”Udah kok, percaya deh sama Ferdi. Penampilan Kakak nggak bakal ngecewain.” Jawab Ferdi yang membanggakan hati kakaknya.
”Yah semoga Fer. Yuk berangkat. Mobilnya udah dipanasin belom?” Kata Susan sambil membereskan peralatan make-up-nya
”Yaampun, Ferdi lupa Kak.”
”yeh, gimana sih loh? Cepet panasin! Terus sekalian dikeluarin mobilnya.” Kata Susan jengkel.
”Baik kak.”
Ferdi menuju garasi dan langsung menghidupkan mobil itu. Dia gas mobil itu kurang lebih dua menit lalu mengeluarkan mobil itu dari garasi ke halaman rumah.
Susan telah menunggunya di sanah.
“Fer, yuk berangkat. Tapi, yang nyetir lo yah! Gue lagi males nyetir.” Kata Susan sambil membuka pintu depan mobil sebelah kiri lalu masuk ke dalamnya.
”Yaudah Kak.” Kata Ferdi sambil menjalankan mobil itu perlahan.
”Kita ke arah mana kak?” Kata Ferdi sambil melajukan mobil itu menelusuri beberapa perumahan elit di sekitar kompleksnya.
”Kita ke piranti mall. Kata teman kampus Kakak, di sana salon rambutnya bagus pelayanannya.”
”OK deh.” Kata Ferdi sambil memutar stir mobil ke arah jalan raya.
Ferdi berjalan ke arah yang mereka tuju yaitu piranti mall. Di dalam perjalanan, Ferdi melihat beberapa temannya, sedang berdiri di pinggir jalanan.
”Kak, kayaknya itu temen-temen Ferdi deh.” Kata Ferdi sambil memperlambat laju mobil itu.
”Coba, lo Perhatiin benar-benar! Entar salah orang lagi.”
”Bener kok Kak. Ngapain yah mereka disitu?” Kata Ferdi yang kini meminggirkan mobilnya ke pinggir jalan lalu menarik rem tangan mobil itu.
”Loh turun gih! Tanyain, mereka lagi ngapain di situ.”
Dia menghampiri mereka.
”Anna, guestina, Alia dan Tania, sedang apa kalian di sinih?”
”Kami sedang menunggu taksi. Kami akan pergi ke piranty mall.” Jawab Alia mewakili semua.
”Piranty? Sama dong, bareng yuk! Mobil gue kebetulan kosong. Cuma ada kakak gue doang.” Kata Ferdi sambil melirik ke arah mobil.
”Nggak usah Fer, biar kami naik taksi aja.” Jawab Anna menolak.
”Eh, bukannya shalat berjama’ah itu lebih baik dari pada shalat sendiri-sendiri?” Kata Ferdi sok berceramah.
”Memang sih, tapikan kami nggak enak sama Kakak kamu.” Kata Gustina sambil menatap bingung serta serba salah kepada Ferdi.
”Nggak apa-apa kok, Kakak gue baik, pasti dia senang kok. Jadi ada temen ngobrol di sepanjang perjalanan. Dan mobil gue nggak mubajir serta uang buat naik taksinya bisa buat beli yang lebih bermanfaat di sanah.” Kata Ferdi sambil menunjuk-nunjuk mobilnya sekali gus menunjuk susan yang sedang duduk di bangku depan.
Mereka pun berunding memutuskan untuk menerima atau menolak tawaran Ferdi.
”Ya sudah, kami bareng loh. Tapi benar yah, Kakak lo nggak galak.” Kata Tania mewakili.
”Tenang aja.” Mereka pun menuju mobil yang dibawa Ferdi.
”Kak, rupanya teman-teman aku juga memiliki tujuan yang sama. Mereka juga ingin pergi ke piranty mall. Boleh yah kak mereka bareng kita!”
”Oh silahkan! Marih Adik-adik naik ke mobil Kakak. Tapi, mobilnya jelek nggak apa-apa yah?” Kata Susan sambil membukakan kunci pintu tengah dari mobil tersebut.
”Nggak apa-apa kok Kak, kan setiap harta yang kita miliki itu pada hakikatnya adalah titipan Allah. Jika kita mensyukurinya pasti Allah akan memberikan yang lebih bagus.” Kata Anna sambil membuka pintu mobil itu lalu masuk diikuti oleh ke tiga temannya.
Susan hanya tersenyum mendengar Anna berdakwah.
“Kita akan segera berangkat!” Kata Ferdi sambil membuka pintu kemudi lalu masuk dan setelah itu menutupnya lagi.
”Sudah siap semua? “ Kata Ferdi sambil menekan tombol Rem pengunci.
Mereka menjawab:”sudah.”
 ”OK deh, marih kita berangkat! Bismillahirahmanirahim!”
Ferdi kembali melajukan mobilnya.
”Adik semua teman sekelasnya Ferdi?” Kata Susan membuka pembicaraan.
”Iya kak.” Jawab mereka.
”Kakak boleh tahu nama kalian?”
Alia mewakili mereka semua berkata:”Boleh kak. Yang berjilbab itu namanya Siti Nur hasanah, yang pakai baju warna pink namanya Tania, dan yang pakai perhiasan accessories itu adalah Guestina, dan saya sendiri adalah Alia. Kalau Kakak sendiri?”
”nama saya Shila Susanti, sekarang saya berkuliah di UNJ ngambil jurusan Mipa Fisika.”
”kak, susah nggak kuliah di sanah?” Kata Gustina sepertinya tertarik.
”Ah nggak kok, asalkan mau belajar dengan tekun. Pasti gampang.”
Tiba-tiba Ferdi Ngerem mendadak sehingga membuat semua orang yang berada di dalam mobil itu Berteriak historis dan kepala Anna terjeduk kursi bagian depan.
”Fer! Lo gimana sih? Siti Nurhasanah sampai kejedot kepalanya tuh. Geblek lo yah?” Kata Susan sambil marah-marah.
”Maaf-maaf, maaf semua! Tadi ada kucing nyebrang dan aku hampir menabraknya. Jadi aku ngerem mendadak. Ann, kepala lo nggak napa-napa?” Kata Ferdi sambil menebarkan pandangan ke seluruh penumpang.
”Nggak kok Fer, Cuma agak pusing dikit doang. Entar juga ilang.” Kata Anna agar tidak menimbulkan kehawatiran.
”Yasudah Ann, kamu bersandar saja di korsi itu. Biar pusingnya cepat ilang. Maafin gue yah Ann!” Kata Ferdi yang perlahan mulai kembali memajukan mobilnya.
”Makasih Fer, lagian kitakan juga harus menyayangi seluruh mahluk-mahluk yang diciptakan Allah.” Kata Anna sambil menyandarkan kepalanya di kursi.
Kondisi pun kembali normal dan mereka melanjutkan ngobrolnya. Banyak hal-hal yang mereka obrolkan. Sampai-sampai Susan memperbincangkan tentang Indri kepada mereka dan menanyakan siapa Indri sebenarnya. Mereka kurang respon ketika Susan membicarakan tentang Indri karena mereka memang kurang akrab dengan Indri. Terlebih lagi Anna, dia tidak berkomentar sama sekali akan hal itu.
 
Setengah jam berikutnyah, sampailah mereka dihalaman parkir dari piranty mall tersebut. Mereka semua turun dari mobil itu kecuali Ferdi. Ferdi harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Setelah itu Ferdi turun menyusul mereka. Ferdi bergabung dengan mereka semua.
”Ann, kepala lo masih pusing nggak?” Kata Ferdi sambil mengelus-ngelus kepala Anna.
”Nggak Fer, udah agak baikan kok.”
”Yasudah kalau gitu.”
Mereka semua memasuki mall itu.
”Kalian berempat sekarang mau ke mana?” Tanya Susan sambil menebarkan pandangan ke arah Alia, gustina, Tania, mau pun Anna.
Guestina menjawab mewakili mereka:”Kami akan ke toko buku.”
”Oh, kalau gitu kita berpisah di sini. Kakak mau ke salon dulu.”
” Baik kak, makasih yah Kak atas semuanya.” Kata Alia mewakili sambil menjabat tangan Susan dan diikuti ketiga temannya.
”Sama-sama.” Jawab Susan.
Mereka pun berpisah di pintu masuk mall tersebut. Dan Ferdi memilih untuk mengikuti Kakaknya ke salon.
 
” Ngapain lo ngikutin gueh. Emangnya lo juga ingin ikut potong rambut sama gue?” Tanya Susan.
”Kakak ini bagai mana sih? Ferdikan bertugas nemenin Kakak, kok nggak boleh ngikutin Kakak. Gimana sih?” Jawab Ferdi agak binggung.
” Emang lo mau Bete di salon? Mendingan lo ngawasin Siti Nur hasanah gih. Soalnya tadi gue liat, mukanya udah pucet-pucet gitu. Gue hawatir dia kenapa-napa.” Kata Susan sambil meng-ekspresikan rasa kehawatirannya.
”Perduli amet, dia juga entar istirahat kok kalau misalnya dia udah kecapean.” Kata Ferdi jutek.
”Ferdi…!!! Jadi cara lo gitu. Ngebiarin temen kesakitan dan kagak peduli dengan apa yang terjadi dengan temen-teman lo itu. Lebih baik lo tinggalin gue sekarang, dan jangan ketemu gue lagi  kalau gitu caranya, gue benci punya Adik kayak begitu!” Kata Susan dengan nada marah.
”Iya-iya kak, Ferdi akan menyusul mereka semua.” Kata Ferdi yang sepertinya takhluk dengan gertakan Susan.
”Nah, gitu dong, Itu baru adiknya Kakak. Cepetan gih! Entar kalau gue udah mau pulang pasti gue ngubungin lo kok.” Kata Susan yang sepertinya senang mendengar jawaban Ferdi.
”Baik Kak.” Kata Ferdi sambil meninggalkan Susan.
Mereka berpisah dan Ferdi pergi menuju toko buku untuk menyusul teman-temanya. Akhirnya, mereka pun berhasil Ferdi temukan. Mereka sedang asyik memilih-milih buku yang menarik menurut mereka. Ferdi menghampiri mereka semua.
”Hai! Gue ikutan milih-milih buku dong!” Kata Ferdi sambil mengobrak-abrik buku yang berada di depannya.
”Silahkan Fer, kan toko buku ini untuk siapa aja.” Jawab Alia setengah bercanda.
Ferdi pun memilih buku-buku cerita yang menurut dia menarik. Ada dektektif konan, ada komik sincan, ada harry potter terbaru yang udah dia beli dan sedang dia baca, dan buku-buku lainnya yang tidak kalah menarik. Ferdi pun hanya membaca-baca saja dan tidak ada niat untuk membelinya. Tetapi Ferdi tertarik sama salah satu buku yang menceritakan tentang sejarah perjuangan tentara islam dalam melawan kaum yahudi yang terjadi pada abad pertengahan.
”Ann, lihat deh buku ini! Menurutmu gimana?” Kata Ferdi sambil berjalan mendekati Anna lalu memberikan buku itu ke tanggannya.
Sejenak, Anna membaca isi buku tersebut dengan melihat daftar Isinya.
”hmmm… bagus, aku cukup tertarik sama buku ini. Tapi, harganya cukup mahal bagiku.” Kata Anna sambil menutup buku tersebut dan kembali menyerahkannya ke Ferdi.
”kamu tertarik? Tenang Ann, nggak usah mikirin harga buku ini, yang kita Fikirkan manfaat atau hikmah yang kita dapat ambil dari isi buku ini.” Ferdi pun menuju kasir untuk membayar buku tersebut.
Setelah itu Ferdi kembali kepada Anna.
”Beres, buku ini udah gue beli. Gue juga suka sama buku ini kok.” Kata Ferdi sambil menenteng buku tersebut.
”Berapa hargannya?” Tanya Anna sambil melirik buku itu.
”Sudahlah, enggak usah difikirin. Harganya itu urusan gueh. Lagi untuk buku setebal ini udah wajarlah kalau agak mahal sedikit.”
Sekedar Info, buku itu tebalnya kira-kira setebal buku Harry potter bagian6 mungkin agak tebal sedikit. Karena buku itu banyak memuat kumpulan-kumpulan kejadian penting dalam perang jihad.
”Gueh Cuma mau tahu doang Fer!” Kata Anna masih penasaran.
”RP100.000.”
”Hmmm.” Jawab Anna sambil mengekspresikan ketidak mampuannya untuk membeli buku itu.
“Tenang aja, kita akan membacanya sama-sama. Dan ini, tolong titip buku ini di tasmu yah!” Ferdi memberikan buku itu ke Anna untuk di titipkan ke tasnya.
Tak beberapa lama kemudian, Alia, Tania, dan Guestina menghampiri mereka berdua.
”Hei, lo semua mau nggak nganterin gue bentar aja, buat nyari perhiasan accessories?”
”Gue sih mau-mau aja, tapi yang lain gimana?” Kata Ferdi.
”Gue juga mau kok nemenin.” Jawab Anna singkat. Begitu pun dengan teman-teman   lainnya, mereka semua juga setuju menemani Guestina untuk mencari perhiasan accessories.
 
 
Setelah mereka membayar semua buku yang mereka beli, kemudian mereka keluar dari toko  buku itu. Mereka berjalan ke tempat penjualan accessories itu yang lokasinya tidak jauh dari toko tersebut. Setelah mereka tiba di sanah, mereka pun menunggu Guestina untuk memilih-milih berbagai macam Accessories, Alia dan Tania juga Ikut membantu untuk memilihkan Guestina accessories yang pantas.
“Ann, lihat deh kalung-kalungan ini, sepertinya pantes deh kalau kamu gunakan.” Kata Ferdi sambil mengambil kalung aksesoris dari tempatnya lalu diperlihatkan ke Anna.
Ketika kalung itu ingin dipakaikan ke Anna, Ferdi melirik Wajah Anna. Alangkah terkejutnya Ferdi ketika melihat wajah Anna yang terlihat cukup pucat dan keringat dingin bercucuran di wajahnya. Dengan segera kalung itu dikembalikan lagi ke tempatnya.
”Astagfirullah Al-azim Anna, lo pucet banget Ann. Lo belum makan yah?” Kata Ferdi yang kini sepenuhnya memperhatikan kondisi Anna.
” Udah kok Fer tadi, sebelum berangkat ke sini. Tapi nggak tau,kok badan gue jadi nggak enak gini yah? Mata gue mulai kunang-kunang, perut gue mual rasanya ingin muntah Fer.”
Dengan spontan, Kening Anna bersandar ke dada Ferdi dan Tanpa memberi kesempatan ferdi untuk melakukkan sesuatu, Anna pun langsung muntah mengenai baju Ferdi.
Anna dengan suara yang lemas berkata:”Maaf fer! Gue nggak sengaja, gue nggak bisa menahannya!”
 ”Nggak, nggak apa-apa Ann, yuk kamu duduk aja di korsi. Mari aku pegangin! Biar kamu nggak terjatuh.”
” Nggak usah Fer, gue masih sanggup jalan sendiri kok.”
Ferdi meminta korsi dari karyawan toko tersebut.
Anna pun berjalan sendiri walau pun udah seperti orang mabuk. Dan akhirnya sebelum dia sampai ke korsi, dia pun hampir terjatuh. Untung saja, tangan Ferdi segera menangkap tubuh Anna. Sehingga kepala Anna tidak terbentur lantai. Ternyata, Anna tak sadarkan diri atau pinsan. Ferdi pun memanggil ketiga temannya yang lain untuk menolong Anna.
Orang-orang pun berkerumun. ”Kenapa Mas temannya?” Kata seorang Bapak-bapak sambil mendorong troli yang penuh dengan belanjaan.
”Dia pinsan!” Seru yang lainnya.
Ferdi dan ketiga temannya panik melihat kejadian itu.
”Tania, Guestina, Alia, yuk! Segera bawa dia ke polik klinik! Siapa yang mau Bantu gue gotong dia?” Tanya Ferdi sambil terburu-buru.
”Yaudah Fer, aku dan Alia yang Bantu.” Jawab Gustina yang mulai memegang tangan Anna.
”OK deh, Tania, nih konci mobil, cepetan lo kelantai dasar, buka pintu mobil dan nyalahkan mesinnya agar kita segera berangkat secepatnya. Alia dan Guestina, lekas angkat dia! Gue kepalanya, dan lo berdua terserah bagian tengah atau kaki nya.” Kata Ferdi dengan panik yang mulai menyentuh kepala Anna.
Mereka pun mengangkat Anna dan berjalan cepat. Mereka berjalan melewati lif. Untung saja ketika mereka sampai di depan pintu lif, pintunya langsung terbuka dan lif itu dalam keadaan kosong.
“Anna, bertahanlah!” Batin Ferdi. Muka Anna tampak lebih pucat, tangannya pun dingin. Ferdi pun semakin panik dibuatnya. Dan ketika dia sampai di lantai dasar, Ferdi langsung menuju mobil dan Tania sudah membukakan pintu-pintunya.
Ferdi meminta bantuan dua orang juru parkir dari mall itu untuk mengantikan kedua Temannya untuk menggotong Anna.
 “Kalian semua masuk ke mobil! “ Seru Ferdi kepada ketiga temannya.
Yang diperintahkan pun melakukkan itu.
Lalu Anna diletakkan di pangkuan ke tiga temannya itu.
”makasih yah Pak!” Kata Ferdi sambil menutup pintu bagian tengah lalu berjalan masuk melalui pintu kemudi. Ferdi segera melajukan mobil itu dengan cepat menembus jalan raya yang cukup ramai.
Lima menit kemudian, sampailah mereka di sebua polik klinik.
Anna pun belum sadar-sadar juga. Mereka mengelurkan tubuh Anna dari mobil dengan perlahan. Lalu, Anna segera dibawa ke dalam polik klinik tersebut.
Ferdi berbicara kepada resep sionis:”Selamat siang! Kami membutuhkan pertolongan Anda secepatnya karena teman kami sampai saat ini belum sadarkan diri juga.”
Resep sionis pun langsung mempersilahkan mereka untuk membawa Anna Ke ruang dokter.
”Selamat siang Pak.” Kata Ferdi panik.
”Siang. Silahkan letakkan pasyen di kasur itu!” Perintah sang Dokter.
Mereka pun meletakkan Anna di atas kasur pemeriksaan itu. Ferdi memerintahkan Tania untuk mengurus administrasinya.
Dokter pun memeriksa tubuh Anna.
”Hmmm, kami rasa dia hanya kecapaian aja dan telat makan. Sehingga dia menjadi tak sadarkan diri.” Jawab Dokter tenang.
Dokter pun mengambil alcohol dan membasuhnya ke seluruh tubuh Anna.
Ferdi keluar dan mencari makanan. Untungnya di luar ada toko makanan kecil. Setelah Ferdi membeli makanan itu, Ferdi pun kembali ke ruang dokter. Ferdi melihat Anna sudah sadarkan diri.
”Fer, gue ada di mana?” Kata Anna dengan nada lirih.
”Di klinik. Lo tadi pinsan di toko accessories, terus gue bawa aja lo ke sini. Sekarang lo makan yah! Biar lo cepat pulih.” Kata Ferdi sambil memberikan sebungkus roti coklat ke Anna.
”Maaf yah Fer, gue jadi ngerepotin loh. Seharusnya gue nggak kayak gini.” Kata Anna sambil menerima roti tersebut.
”Nyantai aja Ann, setiap manusiakan harus saling tolong menolong. Gue mau lo pulih sekarang, jadi lo makan yah!” Kata Ferdi menasehati.
”Makasih Fer. Entar gue gantiin uang loh!” Kata Anna yang mulai memakan potongan-potongan roti tersebut.
”SST, udah nyantai aja!” Kata Ferdi berbisik.
”Ann, jangan telat makan lagi yah! Kalau besok lo masih capek, sebaiknya lo nggak usah masuk sekolah dulu. Lagian juga Cuma class meeting.”
”Tapikan, itu bisa nambah nilai Fer. Kalau gue nggak masuk entar gue dianggap alfa dong.”
”Loh ngerti disayang nggak sih? Entar gue suruh bikinin surat izin dokter kalau lo takut dianggap alfa.” Kata Ferdi sedikit jengkel.
”Pasyen dipersilahkan meninggalkan ruangan ini. Mas, ini resep yang harus Anda tebus.” Kata sang Dokter sambil memberikan tulisan resep ke Ferdi.
”Pak, bisa buatkan surat izin untuk pasyen?” Kata Ferdi.
”Saya sudah membuatkannya kok. Saya mendengar percakapan kalian.” Kata sang Dokter dengan senyuman penuh arti.
”kalau begitu terima kasih banyak pak!” Kata Ferdi sambil mengambil surat itu dari tangan dokter dan memberikannya ke Anna.
” Sama-sama. Oh yah, jagain pasyenn! Dia masih perlu istirahat yang cukup.”
“Oh pasti Pak! Jarang ada cewek seperti dia! Baik, penyabar, cantik pula.” Jawab Ferdi tersenyum.
“ih… apaan sih!” Kata Anna sambil menyubit punggung Ferdi karena malu.
“Auch! Kok genit sih say? Kan sakit, aku kan jadi malu didepan Pak dokter.” Kata Ferdi manja.
Dokter hanya tersenyum saja melihat canda mereka.
“nggak usah didengerin Pak, kadang-kadang kalau obatnya lagi abis memang suka begini.” Kata Anna balas bercanda.
“Oh…, gitu yah.” Dokter menanggapi.
Ferdi menyubit tangan Anna.
“auch…!.” Kata Anna sambil mengusap tangannya.
“kan jadi satu sama. Makasih yah Pak!” Kata Ferdi sambil keluar dari ruangan dokter dan diikuti oleh Anna.
”Iya sama-sama. Jangan lupa Jagain pasyen! Hehehe…” Kata Dokter sambil tersenyum dan meletakkan pulpennya di atas meja.
Mereka menuju ke kasir dan menebus semua obat-obat yang tertulis pada resep dokter.
”Semuanya Rp40.000 mas.” Jawab seorang apotiker.
Tanpa fikir panjang, Ferdi pun membayar obat tersebut.
Setelah semua selesai, Mereka pun keluar dari klinik tersebut dan langsung menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan. Ferdi pun memutuskan untuk mengantarkan Anna sampai rumahnya.
”Ann, kalau lo ngantuk, lo tidur aja di mobil yah! Gue anterin lo kok sampai rumah loh.”
”nggak usah Fer, gue udah cukup bikin lo repot. Biar gue dan teman-teman naik taksi aja.”
”Anna… Please deh, gue Cuma mau nganterin lo doang kok kerumah dan gue nggak ngerasa direpotin sama loh. Terimalah Ann! Soalnya, gue yang bertanggung jawab atas semua ini.”
Anna tetap menolak dan dengan sedikit berbohong, akhirnya Ferdi berhasil membawa Anna untuk mengantarkan sampai ke rumahnya.
Akhirnya, Ferdi berhasil mengantarkan Anna kerumahnya dan sampai di rumah Anna dengan selamat.
”terimakasih yah, udah nyediain waktu buat nganterin gueh. Semoga nanti gue bisa ngegantiin duit lo secepatnya.” Kata Anna sambil keluar dari dalam mobil yang diikuti oleh ketiga temannya.
”Anna… Nggak usah mikirin duit yang udah gue keluarin buat loh. Gue iklas kok. OK Ann, yang gue mau, lo mau nurutin nasehat gue doang. Jangan telat makan, dan jangan terlalu memforsil tenaga loh. Alia, guestina, dan Tania, lo mau juga gue anterin pulang?” Tanya Ferdi kepada mereka bertiga.
”Nggak usah Fer, lagian juga kami mau main dulu dirumah Anna.” Kata Tania mewakili.
”OK deh kalau gitu. Gue cabut yah!” Kata Ferdi sambil melajukan mobilnya perlahan.
”yah, hati-hati Fer. Sekalih lagi makasih atas bantuannya.” Kata Anna agak meninggi karena mobil Ferdi sudah bergerak agak jauh dari mereka.
”yo’i. Ann, istirahat yang cukup! Gue nggak mau lagi denger lo pinsan gara-gara lo telat makan atau kecapaian.” Kata Ferdi setelah mobilnya memutar balik berlawanan Arah.
”Iya Fer.” Jawab Anna singkat.
Setelah itu, Ferdi melajukan mobilnya meninggalkan rumah Anna.
 
Di perjalanan, Ferdi menelepon Kakaknya. Telpon Ferdi pun dijawab.
”Hallo, Lo di mana Fer?”
”Kak, Ferdi abis nganterin Anna. Tadi dia muntah-muntah di mall terus pinsan. Baju Ferdi ampe kena muntahnya nih Kak. Sekarang Aku di jalan mau jemput Kakak.” Kata Ferdi sambil menyalahkan lampu sen untuk berbelok ke arah kanan di sebuah perempatan.
”Fer, Kakak nggak usah lo jemput, sebaiknya lo pulang, biar gue dianterin Toni aja. OK!”
”Yaudah Kak kalau begitu.” Ferdi menutup telponnya.
“astagfirullah al-azim! Gue ampe lupa. Mamah nyuruh gue beliin bensin ni mobil.” Ferdi pun melajukan mobil itu mencari pom bensin. Untungnya pom bensin gampang ditemukan. Setelah Ferdi mengisi bensin di pom bensin itu, Ferdi segera menuju rumahnya.
 Beberapa menit kemudian dia pun sampai di rumahnya. Di depan rumah, Ibu Ferdi sudah menantinya. Beliau berkata:”Fer, Kakakmu ke mana?”
”Kakak masih di mall sama temannya mah. Katanya dia entar pulangnya nyusul.” Kata Ferdi sambil mematikan mesin mobil dan melangkah keluar.
”Hmmm.” Kata Ibu Ferdi yang sebaliknya berjalan ke arah mobil itu.
”mah, bensinnya udah disiin, aku mau ke dalam dulu yah! Mau ganti baju.” Kata Ferdi sambil memandang ibunya masuk ke dalam mobil.
”Oh yah deh. Mamah pergi dulu yah! Kamu jaga rumah. Jangan kemana-mana!” Kata sang Ibu sambil kembali menyalahkan mesin mobil itu lalu melajukannya kembali meninggalkan rumah.
”Oh iya  mah.” Kata Ferdi agak meninggi.
Ferdi pun masuk ke dalam rumah dan mengganti bajunya yang telah berlumuran dengan muntah. “hmmm Anna-Anna, Gue kok jadi simpatik gini sama lo yah? Gue kok jadi ada rasa sayang sama lo. Sejak kejadian tadi. Ah, sudahlah, nggak usah difikirin lagi. Yang penting, tanggung jawab gue kepada nasip dia udah selesai.” Batin Ferdi. Ferdi merendam bajunya dan dia pun mandi. Setelah itu, dia menuju kamarnya untuk mengganti baju lalu menyalahkan komputer kesayangannya. Dia mainkan game-game yang telah terinstall di komputernya. “Hmmmm, motor GP, winning11, udah lama lo semua nggak gue mainin. Gue masih ingat nggak yah cara maininnya? Ah, moga aja masih.”
Ferdi memainkan game-game tersebut. Percis orang stres, dia teriak-teriak sendiri jika dia menang atau pun kalah.
Sudah 2 jam, Ferdi bermain game, namun dia masi tetap asyik. Akhirnya, HP Ferdi berdering. Ternyata itu telpon dari Kakaknya.
“Hello Kak, ada apaan?”
”Fer, lo dimana? Di rumah nggak ada orang yah? Dari tadi gue pencet bell, terus gue telpon rumah tapi nggak ada yang jawab.”
”Ah, masa kak! Ferdi di rumah kok. Cuma Mamah sedang pergi. Mungkin Ferdi nggak denger kali.”
”Yeh, dasar budek kalih lo yah? Cepetan bukain pintu Fer!”
Susan langsung menutup teleponnya. Ferdi pun membukakkan pintu tersebut.
Setelah terbuka, susan langsung masuk dan duduk di ruang tamu sambil menghela nafas panjang.
Ferdi kembali menutup pintu itu  lalu duduk di samping Kakaknya.
”Cieee, wajah baru kak? Kakak lebih cantik deh.”
”Ah masa sih? Emang, tadi Toni juga bilang begitu sama gue.”
Susan pun merasa PD setelah mendapat pujian seperti itu.
”Oh yah, tadi gue dibeliin coklat, nih buat lo satu!”
Susan pun memberikan coklat itu ke Ferdi.
”Asyik! Makasih yah kak!” Kata Ferdi yang langsung merobek bungkusnya dan memakannya.
Susan hanya mengangguk. “Fer, gimana kabarnya Anna?”
”yah nggak tahu kak. Yah, semoga aja dia udah baikan sekarang.” Kata Ferdi sambil mengunyah coklatnya.
”Fer, menurut gue nih, mendingan lo PDKT aja sama dia. Gue rasa itu lebih baik buat lo.”
”Kakak ini gimana sih? Ferdikan sayangnya sama Indri. Bukan sama Anna.”
”Tapikan, Anna itu orangnya baik, ramah, dan sopan lagi Fer. Mungkin kalau gue jadi lo, dia udah gue deketin, dan gue udah ambil hatinya.”
” Emang menurut kakak indri jahat gitu? Kak, Indri juga baik! Bahkan dia sangat perhatian sama Ferdi. Sedangkan Anna, mana perhatiannya? Asal tahu aja kak, dia nggak ada sama sekali perhatiannya sama Ferdi! Di sekolah juga dia nggak pernah tuh, yang namanya ngebantu Ferdi kalau bukan disuruh atau diminta. Buat apa kak!”
”Eh Fer, gue bilangin yah biar lo nggak terlalu goblok di dalam mahamin perasaan cewek. Dia nggak bantuin lo, karena mungkin dia malu Fer! Dan itu wajar Fer buat seorang cewek. Gue yakin, dia merhatiin lo tapi secara diem-diem dan mungkin lebih dari Indri rasa perhatiannya ke lo. Gue yakin itu semua kok!”
”Yaudah, kalau kakak yakin akan hal itu, nggak apa-apa kok buat Ferdi. Tapi Kak, emang kenyataannya gitu kok! Malah Ferdi mikir, bahwa Ferdi itu bukan tipe cowok yang Anna inginkan. Dari kami pertama masuk Kak, Anna itu jarang memulai pembicaraan sama Ferdi. Lebih sering Ferdi yang memulai dahulu jika  kami ingin ngobrol.”
”Eh, gue udah bilangkan ama lo, dia itu malu sama lo! Dan perasaan itu wajar untuk cewek. Lo denger nggak si tadi?”
”Iya-iya kak, Ferdi Denger. Tapi Ferdi tetap belum mau untuk PDKT sama dia. Karena, di hati Ferdi hanya Indri Kak.”
”Hmmmm, emang lo goblok! Liat, lo nyesel ntar kalau lo nggak mau ngedapetin dia.”
Susan pun bangkit dan pergi meninggalkan Ferdi. Ferdi melamun sejenak di ruang itu tapi beberapa menit kemudian, dia juga ikut meninggalkan ruangan itu.
“Apa yang disesalin, Anna biasa-biasa aja kok. Apa yang istimewa dari dia. Bedanya dia memakai jilbab sedangkan Indri tidak. Gue rasa dia makai jilbab itu hanya ingin dibilang cewek soleha atau mungkin dia seorang anggota rohis yang mengharuskan untuk dia memakai jilbab. Tapi, astagfirullah al-azim, kok gue jadi berperasangka buruk yah sama dia? Ann maafin gue Ann! Gue nggak bermaksud untuk menjelekkan lo.” Batin Ferdi.
Ferdi kembali ke kamarnya. Dia hanya memandangi screen saver yang tampil di layar komputernya. Kemudian, Dia mematikkan komputernya lalu berbaring di tempat tidur sambil menyalahkan radio tape. Dan beberapa waktu kedepan, nggak ada hal-hal yang terlalu penting untuk diceritakkan, semua berjalan seperti biasa.

Mengenal Wijaya Ferdi

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *