Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Fitra, Tunanetra Bisnis Mobil Omset Ratusan Juta

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Fitrah dan istri

Jakarta, Kartunet – “Tunanetra itu ‘kan hanya terbatas pada penglihatan aja, tapi pikiran nggak terbatas. Jadi kenapa kita nggak menggunakan kemampuan kita untuk me-manage orang?” Itulah sebuah hal sederhana yang terbesit di pikiran Fitra untuk memulai sebuah wirausaha. Pada saat banyak tunanetra dilatih untuk menjadi pemijat, operator telepon, atau terampil mengoperasikan komputer bicara,  Fitra justru tertarik memanfaatkan kemampuan manajerialnya dan mengembangkan bisnis jual beli mobil dengan omset hingga 800 juta per bulan.

Tahun 2001, Fitra  mengalami sebuah kecelakaan mobil yang kemudian mengubah hidupnya menjadi seorang tunanetra. Kondisi tersebut membuatnya kehilangan pekerjaan dan merasa terpuruk. Meski begitu, ia tidak membuang waktu untuk larut dalam kesedihan. Ia kembali memutar otak agar dapat memiliki penghasilan lagi. Maka, bisnis jual beli mobillah yang menjadi pilihan. “Waktu masih awas sudah pernah bisnis seperti ini, tapi belum terlalu fokus. Sejak tunanetra, saya mulai jadikan bisnis ini sebagai mata pencaharian saya,” katanya.

Muhammad Salahuddin Fitra memulai bisnis jual beli mobil pada tahun 2003. Ketika masih melihat, Fitra sudah pernah menjalani bisnis serupa. Saat itu, setiap hal dikerjakannya sendiri. Akan tetapi sejak menjadi tunanetra, mau tidak mau dirinya harus banyak bergantung pada orang lain.  Memang tidak mudah menjalani bisnis besar seperti ini dengan kondisi tunanetra. Meski demikian, Fitra percaya bahwa ia masih bisa mengecek mobil yang akan dibelinya dengan menggunakan indera-inderanya yang lain. Hanya dengan merabanya, Fitra mampu mengecek kondisi interior dan mesin mobil, kemudian memutuskan bagian mana yang kurang bagus dan perlu diganti. Sedangkan untuk kondisi eksterior dan test drive diserahkan pada orang nondisabilitas yang membantunya.

Awalnya bisnis tersebut dijalani Fitra dengan bantuan saudara-saudaranya. Namun seiring berjalannya waktu, keluarga yang membantunya telah memiliki kesibukan sendiri dan Fitra mencari orang lain untuk membantunya. Kini ia menjalani usaha tersebut dengan bantuan karyawan dan ibundanya di bagian keuangan. Meski tunanetra, nyatanya Fitra tetap mampu menggaji empat orang karyawannya tersebut. Ia memiliki dua orang karyawan tetap dan dua orang karyawan freelance. Keempat orang tersebut membantu Fitra dalam pemilihan mobil yang akan dibeli, pengecekan dan perbaikan pada bagian-bagian tertentu yang diperlukan sebelum dijual kembali. Beruntung Fitra telah mengenal keempat orang tersebut sejak ia masih bisa melihat. Pertemanan yang sudah berlangsung cukup lama membuat keempat karyawannya itu tak pernah meragukan kemampuan manajerial Fitra. Sebaliknya, Fitra juga dapat mempercayai mereka dalam menjalani bisnisnya.

Sebelumnya, Fitra sempat memiliki sorum untuk memajang mobil dagangannya. Namun karena beberapa alasan, kini ia menjual mobil-mobilnya di kediamannya di kawasan Hutan Kayu, Jakarta Timur. Melalui iklan-iklan yang dipajangnya di internet maupun surat kabar, pembeli pun berdatangan. Ada kalanya calon pembeli merasa ragu ketika berhadapan dengan Fitra yang tunanetra. “Tapi setelah melihat kondisi mobil yang saya jual, pelanggan nggak pernah complain. Akhirnya mereka sendiri yang mempromosikan saya dari mulut ke mulut sampai sekarang,” ujar pria 36 tahun itu.

Hampir sembilan tahun Fitra menjalani usaha jual beli mobil. Berbagai pengalaman sempat dialaminya, termasuk ketika ia tertipu di tahun 2004. Sempat ia membeli sebuah mobil yang ternyata hanya memiliki surat-surat palsu. Akhirnya Fitra harus berurusan dengan polisi dan kehilangan modal awalnya sekitar 65 juta, serta harus memulai bisnisnya dari awal lagi. Menurut dia, berbisnis jual mobil seperti ini memang mengandung risiko yang besar, baik bagi tunanetra maupun orang awas pada umumnya.

“Mobil yang saya kendarai waktu kecelakaan dulu itu saya jual, lalu dananya saya putar sehingga bisa jadi modal untuk usaha jual beli mobil sekarang ini,” cerita Fitra. Setelah kejadian penipuan yang dialaminya, ayah dari dua orang putera itu tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba mencari rekan kerja yang bisa membantunya memberikan modal untuk membangun usahanya lagi. Akhirnya, ia dipercaya oleh tiga orang pemodal untuk mengelola sejumlah dana untuk melanjutkan usaha tersebut. Jika sebelumnya dengan modal sendiri Fitra hanya memiliki omset puluhan juta per bulan dan hanya mampu memperdagangkan satu unit mobil, maka dengan bantuan ketiga pemodal tersebut kini Fitra mampu  menjual beli sekitar delapan sampai lima belas unit mobil tiap bulan dengan omset sekitar 500 sampai 800 juta.

Fitra merasa sangat bersyukur. Dengan memiliki hubungan pertemanan yang baik, dirinya yang tunanetra tetap mendapat kepercayaan dari rekan-rekannya untuk mengelola sejumlah dana yang tidak sedikit. Fitra menuturkan, kejadian penipuan yang dialaminya memang memberinya pelajaran berharga. Kepercayaan dari rekan-rekannya itulah yang membuatnya bangkit dan berhasil membangun kembali bisnis yang menjadi sumber penghasilannya. “Uang bukanlah segala-galanya, tapi kepercayaanlah yang lebih penting,” tutur Fitra.

Bagi Fitra, otomotif adalah sebuah hobi. Tidak heran jika alumnus FISIP Universitas Indonesia itu sangat menikmati apa yang ia jalani saat ini. Ia pun menuturkan, bahwa menjalani wirausaha seperti ini membuatnya memperoleh banyak teman baru. Pelanggan-pelanggannya yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat serta memiliki latar belakang profesi yang berbeda-beda menjadikan Fitra memiliki banyak relasi baru. Dengan ponselnya yang tidak ter-install program talks, Fitra pun menghafal sebagian besar nomor-nomor kontak relasi-relasinya.  Hal itu membuatnya dapat tetap menjalin hubungan baik dengan banyak orang. “Bukan nggak mungkin relasi-relasi baru akan membawa kita untuk merambah ke bisnis-bisnis yang lain,” katanya. (RR)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *