Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Harmoni Cinta di atas Trans Jakarta

Aku menelusuri trotoar jalan yang makin semerawut saja. Banyak pedagang kaki lima yang mengambil sebagian badan jalan, serta banyaknya parkiran liar dari barisan sepeda motor. Hal ini membuatku harus lebih berhati-hati berjalan. Mengingat kondisi mataku yang sudah buta total, ditambah penduduk kota yang tak perduli alias tak tau caranya membantu orang buta. Mereka seenaknya saja menyenggol badanku karena mereka berjalan terlalu terburu-buru. Pernah sikutku tidak sengaja menyikut payudara seorang perempuan yang membuat dia marah-marah sehingga hampir saja lelaki di sampingnya menampar wajahku. Untungnya dia melihat tongkat yang aku pegang.

“Oh, Lu buta, sorry, deh, kalau begitu.” Kata laki-laki itu yang kemudian berlalu dengan perempuan itu.

Aku adalah pegawai telemarketing di salah satu bank swasta yang Alhamdulilah sudah berbaik hati membuka lahan pekerjaan kepada kaum disabel seperti aku. Mereka sudah sadar dengan undang-undang yang dicanangkan pemerintah untuk menyediakan lahan sebesar 1% untuk kaum disabel. Ku akui, pekerjaan itu sangat membosankan dan banyak kawan-kawan disabelku yang akhirnya mengundurkan diri dari pekerjaan itu dengan berbagai macam alasan.

Selain merasa jenuh harus seharian di depan komputer dan pesawat telepon karena harus menghubungi para nasabah yang tidak pernah habis itu, tidak jarang juga kami sebagai telemarketing dicacimaki nasabah karena telah dianggap menyita waktu mereka. Ada juga yang mengancam akan menutup rekeningnya di bank tempatku bekerja hanya gara-gara sering mendapatkan telepon dari seorang telemarketing seperti kami.

Apa boleh buat, kami harus ikhlas menerima segala risiko yang terjadi. Karena jauh-jauh hari, ketika kami baru saja diterima, kepala tim kami telah mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan itu.

Aku juga ingin sih sebenernya mengundurkan diri seperti teman-temanku itu, tetapi ibuku melarang.

“Wi, cari kerja itu sekarang susah, apalagi orang kagak pedaksa kayak Lu. Sabar dulu, entar kalau gaji Lu udah cukup buat bikin usaha sendiri, silakan, deh, kalau Lu mau keluar.” Nasehat ibuku dengan logat betawi yang lumayan kental ketika suatu sore aku pulang kerja dengan wajah yang kusut seperti kaset tip yang sudah lecek. Perasaanku ketika itu memang sedang tak karuan, sudah banyak makian dari nasabah yang aku hubungi, ditambah omelan kepala tim karena aku gagal mencapai target nasabah pada satu bulan terakhir itu untuk bergabung pada asuransi yang kami tawarkan.

Tak terasa, aku telah sampai di halte bus trans jakarta harmoni. Terdengar ramai para calon penumpang mengantre tiket.

“Mau beli tiket, ya, Mas?” Sapa seorang wanita sambil memegang tangan kiriku.

“Iya, Mbak.” Aku kaget karena kehadirannya mengejutkan aku

“Ya, sudah, Mas nunggu di sini saja dulu! Biar saya yang belikan. Antreannya panjang, Mas!” wanita itu menarik tanganku ke tempat aman dari antrean para penumpang. Aku menurut saja.

“Pakai uang saya saja dulu, Mas!” Katanya ketika melihat tanganku hendak merogoh kantong celanaku untuk mengeluarkan dompet. Aku mengiyakan saja. 1 menit, 2 menit, 3, 4, 5, 6, 7, , …. hingga 15 menit dia tidak kembali juga. Aku resah, jangan-jangan aku ditipu. Hampir saja aku memutuskan mengikuti antrian untuk membeli tiket tatkala dia menahan aku dengan memegang tangan kananku.

“Maaf, Mas, lama, antreannya sungguh terlalu! Yuk kita masuk!” Wanita itu dengan nyaman memegang tangan kananku.

Aku meminta agar aku diperbolehkan memegang pergelangan tangannya, sesuai kesepakatan tak tertulis dalam hal gandeng-menggandeng kaum tunanetra. Ia menyetujui, karena dia sendiri menggunakan baju lengan panjang. Langkahnya gesit, ia sepertinya menyenangi jalan cepat, untung langkah-langkahku bisa menyeimbanginya.

“Kecepatan enggak cara berjalan Saya?”

“Oh enggak, Mbak, Saya sudah terbiasa.” Aku tersenyum menjawab pertanyaan itu.

Kemudian Kami tak saling bicara sepanjang perjalanan menuju pintu halte bus, dikarenakan bisingnya keadaan sekitar.  Di pintu halte, kami harus menunggu kira-kira 20 menit lagi, kata penjaga pintu halte, ada beberapa armada trans Jakarta yang mogok karena sopirnya ingin naik gaji. Terpaksa masing-masing koridor berbagi armada yang tersisa.

Bus yang ditunggupun datang, penumpang berebut naik masuk ke dalamnya, aku ditarik kernet bus sambil mendapat instruksi agar aku melangkah dari mulut pintu halte ke pintu bus; sedangkan penumpang yang lain mendapat omelan sang kernet karena aksi dorong-dorongan mereka yang tidak punya aturan itu.

Di dalam bus, aku dan wanita itu mendapat tempat duduk yang bersebelahan. Dia duduk di sebelah kananku. Bus mulai berjalan tanpa suara pengumuman yang biasanya diputar ketika bus mulai berangkat. Kemungkinan bus ini dari koridor lain. Atau mungkin pengeras suaranya sudah rusak. Maklum, terkadang orang-orang di kota ini kurang rasa akan memiliki.

“O, ya, Mbak, namanya siapa?” Aku membuka pembicaraan.

“O, ya, lupa, namaku Secilia. Kamu?”

“Aku Wijaya, Mbak. Mbak, sudah bekerja?”

“Kok masih panggil, Mbak? Kan, sudah tahu namanya. Iya, aku konsultan di PT Bimasakti Sentosa. Mas ?”

“Loh, Anda panggil saya, Mas, kan sudah tahu juga nama saya. Saya seorang telemarketing di salah satu Bank suasta cabang Harmoni.”

“Ya, karena Anda seorang laki-laki dan saya perempuan, enggak sopan kalau saya hanya panggil nama saja.”

“Loh, ajaran siapa itu?”

“Ibuku yang bilang begitu. Sedari kecil aku sangat ditekankan dalam hal kesopanan. Aku harus manggil Mas kepada kaum lelaki.”

Aku manggut-manggut saja, enggan berkomentar.

“Terus bagaimana caranya Mas Jaya bekerja? Maaf, seperti yang saya ketahui saat ini, Mas Jaya, kan tunanetra. Sebagai telemarketing, Paling tidak Mas Jaya  diharuskan mengoperasikan komputer.”

“Ya, komputernya sudah dilengkapi pembaca layar, jadi kita dimungkinkan untuk mengakses data-data yang berbentuk teks di dalam komputer itu. Tugas pembaca layar, adalah membacakan setiap teks yang muncul di layar yang nantinya diterjemahkan dalam bentuk suara yang berupa bahasa. Kan, kita cuma mengakses data nasabah kemudian menghubunginya.”

“Terus, telponnya juga pakai pembaca layar?” Aku tersenyum-senyum mendengar pertanyaan itu.

Enggak, Lia, telepon itu, kan sangat mudah pengoperasiannya, sebagian besar dari kami hapal dengan tiap tombol-tombol di telepon itu. Jadi pembaca layar tidak perlu dipasang di pesawat telepon.”

Secilia mengungkapkan kekagumannya,“Wah bearti feeling-nya kuat, ya, Mas? Saya saja terkadang harus melihat tulisan di tiap tombol pesawat telpon itu.”

Aku kembali tersenyum mendengar kepolosan itu.

“Iya,  ditambah kebiasaan yang sudah terlatih.”

“Terus…, Mas bisa nulis SMS?”

“Ya…”

“Bagaimana caranya?”

Aku keluarkan hp-ku yang sudah antik itu karena telah ku beli sejak aku kelas tiga SMA. Hingga bekerja aku belum berganti HP. Bukan tidak mampu, tetapi sayang aja karena hp ini masih bagus. Padahal teman seusiaku sudah ada yang berganti sampai 20 kali karena berbagai macam alasan.

Dari pada aku menjelaskan panjang lebar dengan kata-kata, langsung saja aku demonstrasikan cara aku berkirim SMS dengan menggunakan ponsel yang sudah dilengkapi dengan pembaca layar. Secara tidak langsung, aku pun mendapat nomor teleponnya. Langsung aku simpan nomor itu.

Setelah aku selesai mendemonstrasikan, Secilia terkagum-kagum karena melihat hal yang baru di depan matanya.

“Dasar orang kota yang kampungan.” Makiku dalam hati.

Di pemberhentian berikutnya, seorang ibu dan balitanya masuk ke dalam bus trans Jakarta. balita itu mulai menangis di dalam bus. Aku merasa terganggu karena suaranya tidak semerdu Ridho Roma. Terdengar serak dan nyaring. Terkadang dia menjerit seperti rocker sejati yang baru mendapat pengakuan dari fans-nya. Sehabis berteriak, balita itu batuk-batuk seperti Kakek-kakek yang akan mati. Trans jakarta pun mulai penuh dan AC sepertinya sudah kurang mampu untuk mendinginkan hatiku. Benar-benar melanggar hak azasi manusia dalam hal kenyamanan. Untuk menghilangkan kejengkelanku, aku kembali mengobrol dengan Lia.

            “O, ya, Lia anak ke berapa?”

“Aku anak ke dua, Mas, dari tiga bersaudara. Mas Sendiri?”

“Saya anak ke lima dari lima bersaudara.”

“Asli mana Mas?”

“Saya asli Jakarta. Lia asli mana?”

“Jawa tengah Mas, tepatnya Solo. Cuma aku lahir di jakarta.”

“Iso ngomong jowo sampean?”

Secilia sepertinya tersenyum.

“Ora Mas, sitik-sitik-lah. Saya enggak pernah pulang kampung, karena sudah enggak ada keluarga di kampung. Lagi pula saya enggak di ajari bahasa Jawa sama orang tua. Ya, jadi beginilah, saya cuma bisa bahasa Indonesia. Mas, Betawi asli?”

“Iya, saya Betawi asli.” Aku mengembangkan senyum.

“Ah, Saya enggak percaya! Betawi asli kok bisa ngomong Jowo. Tampangnya juga kayak wong Jowo.”

“Hehehe! Saya enggak tahu, deh, Li, tapi silsilahnya memang begitu. Ayah dan ibu saya emang sudah lama tinggal di Jakarta. Dan mereka mengaku Betawi asli. Ya, mungkin benar juga yang kamu bilang.”

Pemberhentian berikutnya, Secilia harus menyudahi pembicaraanya karena ia harus turun. Ia sangat senang dapat bertemu aku. Dia berharap komunikasihnya dapat berlanjut dikemudian waktu.

Jujur aku menyayangkan dia harus turun, karena aku pikir Secilia adalah teman ngobrol yang menyenangkan di sepanjang perjalananku. Aku kira, dia akan sampai Lebak Bulus sama seperti aku.

Kini perjalananku di temani dengan rengekan balita yang suaranya kian lama kian lantang saja. Kalau aku menjadi orang tua balita itu, lebih baik memilih turun kemudian naik taxi demi kenyamanan bersama.

“Boleh numpang duduk,  Mas?” Tanya seorang wanita yang berdiri di depanku.

“Oh silahkan!” Aku acuh tak acuh.

Ia pun duduk, semerbak aroma frash lemon tea memenuhi rongga hidungku. Aku keluarkan laptop demi mengusir kebosanan. Laptop ini sering ku bawa-bawa kemana saja sebagai temanku ketika mengalami perjalanan panjang seperti ini. Ibuku was-was sebenarnya melihat aku membawa-bawa laptop, mengingat jakarta yang kejam, tetapi aku pasrah saja. Toh, kalau waktunya hilang, ya, sudah!

Aku membuka internet dan mulai berselancar di jejaring sosial. Aku buka profilku. Wow, ternyata banyak yang menulis ucapan selamat ulang tahun di wall-ku! Dari teman SD sampai teman kuliah. Dari gebetanku sampai mantan calon isteriku…

Aku periksa tanggal di kalender laptopku. Ternyata benar, ini hari ulang tahunku. Aku sendiri lupa kalau hari ini aku ulang tahun. aku kirimkan ucapan terimakasih melalui wall mereka masing-masing, namun lama-lama aku jenuh juga. Rasa-rasanya tiap menit wall-ku terus bertambah 10 ucapan. Akhirnya aku bikin status ucapan sebagai rasa terimakasihku atas kepedulian mereka.

“Selamat ulang tahun ya Mas!” Seseorang tiba-tiba menyalami tanganku. Kulitnya halus dan hangat.

“Oh, iya, terimakasih.  Kamu nggak jadi turun, Lia?”

“Aku bukan Lia Mas, tapi Lisa. Teman Mas itu sudah turun tadi.”. Aku gelagapan mendengar suaranya yang bening dan halus itu. Bodohnya aku menganggap dia adalah Lia.

“Oh, Lisa, penumpang baru, ya? Maaf-maaf.” Laptop di pangkuanku hampir merosot jatuh ke lantai bus. Untungnya Lisa langsung menahan leptop itu.

Enggak, kok, aku naiknya bareng Mas, cuma aku nggak kebagian tempat duduk. Banyak juga, ya, Mas yang ngucapin ulang tahun di facebook, Mas Jaya.” Nada bicaranya dengan nada senyuman. Menurut azas kesopanan, hal tersebut sudah melanggar etika karena mengintip profil orang yang sedang buka facebook.

“Iya.” Kataku sambil membuka profil Mahar Masykur untuk membalas ucapannya. Wanita itu mendekat

“Fotonya mirip sama balita yang lagi nangis itu.” Bisiknya ke telingaku. Amboi, nafasnya hangat dan segar!

“Masak?”

“Ye, enggak percaya…” Lisa mengajukan pembelaan, aku mengalah.

“Memang dia siapa?”

“Dia itu kakakku…”

“Kok, enggak mirip sama Mas?”

“Kakak ketemu gede.”

“Ukh, dasar, Mungkin balita itu adik kandungnya…”

“Barang kali”

Aku sudahi saja aktifitas penjelajahanku di dunia maya karena aku pikir lebih baik aku mengobrol dengan wanita yang Insya Allah cantik dan asyik ini.

Aku tutup laptopku kemudian aku masukkan ke dalam tas kerjaku.

Dari perkenalan singkatku, aku mengetahui bahwa nama lengkapnya adalah Lisa Amalia. Dia lahir di Jakarta, namun kedua orang tuanya berasal dari Meulaboh Nangro Aceh Darusalam. Semenjak tsunami melanda kampungnya beberapa tahun yang silam, dia dan keluarganya tidak pernah pulang kampung karena seluruh keluarga di Aceh serta harta bendanya sudah terbawa hanyut oleh arus air laut.  Ia anak pertama dari dua bersaudara. Dan kini  ia berkuliah di Universitas Indonesia, studi Sastra Jerman. Sekarang sudah memasuki semester yang kesepuluh. Ketika aku bertanya tentang skripsi, dia tertawa kecil kemudian menjelaskan bahwa dia akan menyelesaikan kuliahnya tanpa membuat skripsi, karena kampusnya membolehkan hal tersebut dilakukan. Alasan dia tidak membuat skripsi karena dia tidak mau direpotkan dengan urusan-urusan yang mungkin saja akan menyulitkan dia dalam pembuatan skripsi. Dia dapat menyelesaikan studinya di jurusan itu juga sudah sangat bersyukur. Ini adalah semester terakhirnya, insya Allah beberapa bulan kedepan dia akan lulus. Namun hal yang menggelisahkan hatinya yaitu, dia takut tidak mendapatkan pekerjaan setelah ia lulus kuliah nanti. Aku memberikan motivasi serta semangat bahwa rezeki itu sudah diatur oleh Tuhan yang Maha Esa, tergantung kemampuan kita dalam menjemput rezeki itu.

Aku menanyakan tujuan perjalanannya dengan bus ini. Dia menjelaskan, bahwa dia habis dari Kwitang, mencari buku-buku bekas untuk perkuliahannya. Namun sayang buku yang dicarinya tidak ditemukan. Terpaksa, dia pulang dengan tangan hampa. Dia sangat berharap, bahwa temannya berhasil mendapatkan buku tersebut dan mau meminjamkannya untuk dipotokopi.

Aku beranikan diri bertanya tentang pacarnya yang tidak menemani dia dalam mencari buku itu. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah punya pacar. Dia berkesimpulan bahwa lelaki itu hanya bisa menyakiti hati wanita. Kesimpulan itu dia dapat dari teman-temannya yang curhat kepadanya sambil menangis tersedu-sedan setelah kegadisannya berhasil direnggut oleh pacarnya dan pacarnya itu kabur entah kemana. Untungnya dia tidak hamil.

“Mas punya pacar?”

Kukatakan sejujurnya kepadanya aku tidak punya pacar. Dulu pernah, namun tidak bertahan lama. Kukatakan kepadanya bahwa dulu pacarku adalah seorang yang materialistis. Uang jajanku nyaris terkuras habis gara-gara terus membelikan dia pulsa untuk ponsel-nya. Yasudah, aku putuskan saja pacarku itu daripada aku melarat.

Sepertinya Lisa bersimpatik kepadaku.

“Jadi kesimpulannya, cowok dan cewek itu sama-sama berengseknya. Tetapi tidak semua cewek begitu kok.” Lisa menegaskan.

“Dan enggak semua cowok begitu, kok.” Aku menambahkan.

Bus berhenti, seorang penumpang naik, mulai terdengar musik khas Gita Gutawa. Suara musik itu sepertinya terdengar dari salah satu penumpang yang baru saja naik.

Harmoni cintaku, kini datang, nyanyikan suara hatiku…” Suara itu langsung terpotong karena penumpang itu menerima panggilan dari ponselnya. Balita itu pun masih saja menangis, si Ibu sedang membujuknya dengan kotak musik yang dibawanya. Namun benda itu tidak banyak membantu.

Aku melanjutkan obrolanku dengan Lisa.

Ku tanyakan banyak hal tentang hobinya. Dia adalah seorang kutu novel, namun belum ada satu novel pun yang dia buat. Dia tidak suka dengan novel karya dalam negeri karena dia menilai bahwa novel dalam negeri kini tidak ada yang berkualitas. Dia bukan tipe orang yang suka masak-memasak, bahkan hingga sekarang dia belum bisa memasak. Namun dia suka makan. Dia menyukai seafood, fastfood, ya, pokoknya makanan-makanan yang biasa di sukai orang luar negeri (tidak termasuk daging marmut  dan rumput laut). Dia tidak terlalu menyukai musik, namun beberapa lagu saja itupun bukan musik indonesia.

Harmoni cintaku, kini datang…” lagu itu terpotong lagi karena penumpang itu mengangkat ponselnya. Nada bicaranya mulai tidak bersahabat, sepertinya dia mulai kesal dengan si penelepon. Si ibu mulai menembang untuk balitanya. Dari Gundul-Gundul Pacul, Gambang Suling, Nina Bobo versi Jawa, hingga tembang Lingsir Wengi. Balita itu makin keras menangis ketika ditembangkan lagu Lingsir Wengi. Entah dia tidak suka atau dia takut dengan tembang itu. Beberapa penumpangpun ikut protes ketika tembang Lingsir Wengi mulai dinyanyikan.

Aku kembali berbicara dengan Lisa. Lisa juga menyukai film luar negeri, tetapi tidak termasuk Titanic ataupun Romeo and Juliet. Entah alasannya apa, aku tidak dijelaskan lebih lanjut. Tetapi yang jelas ada satu film yang sudah 20 kali dia tonton, namun dia tidak bosan-bosan juga. Yaitu tentang kisah Armagedon yang turun ke bumi. Entah alasannya apa, aku juga tidak dijelaskan lebih lanjut.

Sisa waktu perjalanan kami habiskan dengan membahas sebuah novel yang sama-sama pernah kami baca. Lisa begitu antusias membicarakan tokoh yang ada di novel itu serta jalan ceritanya. Aku hampir saja tidak dapat mengimbangi obrolannya karena jujur, aku sendiri sudah lupa dengan isi cerita di novel itu. Ketika dia lupa dengan nama salah satu tokoh dalam cerita itu, aku langsung menyebutkan nama tokoh yang terlintas diotakku. Dia langsung mengiyakan saja. Padahal aku hanya asal ngomong. Seingatku, itu bukanlah tokoh yang dia maksud. Tetapi, ya, sudahlah, lagi pula tujuan utamaku bukanlah mengajak diskusi, namun hanya ingin mendengar ia berbicara untuk mendapatkan simpatinya.

Obrolan ditutup dengan menceritakan kisah hidup kami masing-masing secara singkat. Dari semenjak kecil hingga sekarang. Di dalam kisahnya, aku terkejut pada pengakuannya. Ternyata dia adalah seorang penderita toxoplasma. Sejak kelas 6 SD, dia sudah divonis oleh dokter bahwa dia akan mengalami kebutaan. Dan saat ini, dia sudah memasuki fase low vision tingkat menengah namun dia tidak mau digolongkan sebagai orang tunanetra. Dia bersama keluarganya terus melakukkan pengobatan medis maupun alternatif dan hasilnya dapat memperlambat penurunan pengelihatannya. Tekatnya di dalam hati, dia ingin lekas sembuh. Agar dia tidak menjadi seorang yang tunanetra.

“Aku belum siap Mas, jadi seorang tunanetra.” Tuturnya dengan nada yang sedih.

“Jika Tuhan berkehendak,  kamu harus siap, Lis. Jadi orang tunanetra asyik, loh!”

Aku telah merasakan obrolan kami semakin intim saja, rasa-rasanya kami mulai tertarik satu sama lain. Dari gaya bicaranya, kata-katanya, bahkan sikapnya menunjukan ke arah itu. Obrolan yang berdurasi sekitar 40 menit itu memang terasa sebentar bagi kami.

Harmoni cintaku, kini datang…” Lagu itu kembali terpotong bukan karena panggilan itu diangkat, namun sepertinya ponsel itu dibanting.

Mengenal Wijaya Ferdi

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
Tags:
2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.