Beri dukungan untuk karya-karya yang telah diterbitkan di event menulis "Imaginasikan Merdekamu!". Tulis saran dan kritikmu sebagai bentuk apresiasi untuk penulis di kolom komentar
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

KECIL-KECIL JADI PAHLAWAN

Terakhir diperbaharui 2 bulan oleh Redaksi

“Hahaha, kamu adalah makhluk yang begitu kecil. Bila ada sesuatu terjadi di hutan ini, pasti kamu tidak akan bisa lekas menyelamatkan diri, kamu pasti terjebak dan mati duluan di dalam sini!” Ledek Bomba congkak. Bomba adalah seekor gajah, dan sebagaimana yang dikatakan oleh para manusia, gajah adalah salah satu hewan terbesar penghuni hutan.

“Jangan sombong, Bomba. Soal takdir dan kesempatan hidup, hanya Tuhan yang bisa menentukan, kamu tidak bisa menentukan takdir hidupmu sendiri…” ucap Kimmy – yang ternyata merupakan seekor semut yang tadi diledek Bomba.

“Tetap saja, kau itu terlalu kecil, Kimmy. Bisa jadi kau tak akan bisa menyelamatkan seisi hutan ini jika suatu hari nanti terjadi apa-apa. Maka biarkanlah aku, Bomba Si Gajah, yang akan diakui sebagai sosok pahlawan…” ucapnya seraya mengangkat tinggi-tinggi kepalanya.

“Terserah kau sajalah…” ucap Kimmy seraya berjalan meninggalkan gajah nan congkak itu. Lebih baik ia menyingkir saja, kembali ke sarangnya, menyaksikan para semut pekerja menyelesaikan kegiatan mereka. Ya, Kimmy adalah ratu dari kawanan semut.

***

 

Sesampainya di sarangnya, ternyata Kimmy telah ditunggu oleh sesosok makhluk bersayap persis di depan sarangnya. Ialah Lady, si ratu lebah, yang sarangnya hanya berjarak beberapa meter dari sarang Kimmy dan kawan-kawannya.

 

“Hi, Lady, kau mencariku?” tanya Kimmy ramah.
“Hi, Kimmy. Begitulah. Apa kamu sedang sibuk?” tanya Lady merasa tak enak.

 

“Tidak, aku barusan habis berjalan-jalan saja. Ada apa Lady? Kau tampak begitu panik…” kata Kimmy khawatir.

“Ah, begini… Lebih baik kita ke hulu sungai saja, ke sarangnya Natasha si kupu-kupu. Mungkin dia juga harus tahu semua ini, kalau bisa sih semua penghuni hutan ini…” jawab Lady resah.

Baca juga:  Kembalinya Asa, Merdeka dari Belenggu Haluan Kiri

“Lady, lebih baik jelaskan dulu padaku, agar aku enak menyampaikan semua ini kepada tetua hutan nantinya…” Kimmy memberi solusi.

“Baiklah. Kurasa lebih baik begitu. Tadi ketika aku sedang berjalan-jalan pagi, aku melihat sekelompok manusia dengan mesin-mesin besar dan mobil-mobil besar yang mengarah ke hutan ini. Sekilas yang kudengar adalah hutan ini akan turut berperan sebagai pelebaran wilayah pemukiman warga, dan pohon-pohonnya akan ditebangi untuk mendukung pabrik kertas yang akan dibangun juga di sekitar sini…”

“Apa? Manusia? Lagi-lagi!” Kimmy menggeram. Lady memandang ratu semut sahabatnnya tersebut.

“Sabar, jangan gegabah. Sebaiknya, kita melapor bersama-sama pada Paman Simba saja. Bagaimana?”

“Baiklah. Ayo, lebih cepat lebih baik…” jawab Kimmy. Lady mengangguk. Maka mereka berdua – dengan cara berjalannya masing-masing, memutuskan untuk pergi ke ujung hutan, ke rumah Paman Simba Si Singa yang ditunjuk sebagai tetua hutan untuk saat ini.

***

Paman Simba menundukkan kepala dengan bulu-bulu yang sudah memutih itu. Dia sedih, dia putus asa. Bagaimana mungkin hutannya yang asri dan tenang akan segera berubah hanya dengan beberapa tangan manusia dan beberapa buah mesin yang bekerja? Dia harus melakukan sesuatu. Laporan Kimmy dan Lady tadi jelas mengganggu pikirannya, sehingga ketika malam telah hampir berganti pagi pun, raja hutan itu tetap tidak dapat memejamkan matanya. Sepertinya, jalan satu-satunya adalah mengumpulkan seluruh hewan penghuni hutan ini untuk mengadakan diskusi dan menentukan langkah selanjutnya.

***

Singkat cerita, semua hewan penghuni hutan berkumpul, dari berbagai spesies hadir semua. Dari bangsa unggas, mamalia, sampai spesies serangga, semua ada disitu.

“Jadi, begini anak-anak. Sesuai dengan berita yang disampaikan oleh Kimmy dan Lady kemarin, kita harus melakukan sesuatu untuk melindungi hutan ini dari serangan para manusia.” Ucap Paman Simba membuka pertemuan.

“Nah, aku akan menyerang mereka, mengamuk, menghancurkan mesin-mesin itu, aku, kan Bomba, gajah terkuat…” ucap Bomba menyela.

Baca juga:  Kemerdekaan di puncak Jaya

“Jangan, Bomba!” seru Lady. “Kalau kamu tertangkap, kamu bisa ditembak sama mereka…” lanjutnya kemudian.

“Tapi kalau bukan hewan-hewan besar yang beraksi, siapa? Apa kamu, lebah kecil? Memang apa yang bisa kamu lakukan?” tanya Bomba pongah.

“Tapi kurasa kata-kata Lady tidak ada salahnya, Bomba…” ucap Kimmy gusar.

“Kau lebih tak bisa apa-apa lagi, Kim, sudahlah, tidak usah ikut campur…”

“Hentikan, anak-anak!” seru Paman Simba menengahi perdebatan.

“Apa yang dikatakan oleh Kimmy dan Lady benar, kita tidak akan menggunakan hewan-hewan besar dalam misi ini, karena akan sangat sulit melawan mereka, para manusia. Justru, nanti kalian bisa jadi mati atau terluka…”

“Lalu, sekarang bagaimana?” tanya Bomba tak senang.

“Biarkan Kimmy dan Lady yang mengatur semuanya…” putus Paman Simba. Semuanya mengangguk. Kalau Paman Simba sudah memutuskan semuanya, maka semua harus tunduk, apa lagi, ini untuk kebaikan bersama. Eh, tidak semua, ding, ada Bomba yang masih asyik menggerutu seraya berjalan pulang.

“Kimmy, Lady, kupastikan rencana kalian tidak akan berhasil!” ejeknya. Tapi kedua ratu dari kawanannya masing-mmasing itu tidak peduli, mereka malah acuh dan meneruskan langkah.

***

Hari yang ditelah dinantikan itu tiba. Paman Simba meminta para penghuni hutan tetap berjaga di sarangnya masing-masing. Kecuali Kimmy dan Lady, mereka mengatur kawanannya untuk melancarkan aksi yang telah direncanakan sebelumnya. Bahkan Hana – ratu tawon, juga ikut membantu.

“Kapan mereka akan kembali ke hutan ini?” tanya Hana.

“Kira-kira setengah jam lagi, aku menguping percakapan mereka kemarin sore,” jawab Kimmy.

“Oke…” Hana mengangguk. Tapi tidak sampai setengah jam, ,mereka mendengar suara derap langkah kaki yang banyak, dan riuhnya percakapan. Itu pasti para manusia ; tepatnya, para manusia jahat yang mau mengambil alih tempat tinggal mereka.

“Semuanya, atur posisi…” kata Kimmy. Lady dan Hana memerintahkan yang sama kepada pasukan mereka. Mereka berusaha untuk tidak ribut, dan mengatur barisan dengan diam-diam. Untuk beberapa saat lamanya, mereka membiarkan para manusia itu bekerja dengan tenang. Satu persatu pohon mulai ditebang dengan mesin gergaji. Salah satu pekerja keliru menginjak tanah yang berisi sarang semut, yang ternyata sudah diisi oleh para kawanan Kimmy. Pekerja itu kalangkabut diserang sekawanan semut. Bengkak-bengkak dan merah seluruh tubuhnya karena digigiti. Kepanikan soal semut belum mereda, dua orang pekerja sekaligus membuat kekeliruan, mereka menjatuhkan dua sarang serangga ; sarang tawon dan lebah yang berada di dua pohon yang berbeda. Kini ganti kawanan Hana dan Lady-lah yang beraksi, menyerang mereka sampai tak berdaya. Mendengar kepanikan dan kehebohan, para pekerja yang berjarak sedikit jauh dari mereka menghampiri, dan mulai menolong ketiga manusia itu dari serangan ketiga pasukan serangga.

Baca juga:  Acara Maulid Nabi yang Penuh Keberkahan

“J A N G A N A M B I L H U T A N K A M I!” seru Kimmy, Hana dan Lady. Daripada situasi semakin runyam, para pekerja itu memutuskan untuk membawa kembali peralatan mereka dan pergi sejauh-jauhnya dari hutan itu. Paman Simba dan seluruh penghuni hutan lain, keluar dari sarang mereka seraya bertepuk tangan, mengelu-elukan Kimmy, Lady dan Hana yang berhasil dengan ide mereka. Bahkan Bomba – si gajah yang awalnya terlihat sombong dan meremehkan mereka, kini mengangkat belalainya tinggi-tinggi, memberi penghormatan tertinggi kepada ketiga ratu serangga tersebut.

“Kalian hebat, aku mengaku kalah…” ucapnya.

“Tidak ada yang kalah ataupun menang, Bomba. Hutan ini milik bersama, dan kita semua wajib melindungi dan menjaganya, tentu dengan cara masing-masing,” kata Lady bijak seraya menyentuhkan sayapnya kepada telinga Bomba. Kimmy dan Hana mengangguk mengiyakan. Setelah itu, yang mengejutkan terjadi. Lady terkulai jatuh ke tanah, ia mati setelah mengemban misi terakhir dan terbaiknya sebagai ratu lebah. Tugasnya akan digantikan oleh ratu yang baru nanti. Semua bersedih atas kematian Lady, tapi Lady mengepakkan sayapnya dengan bahagia. Ia tersenyum menyaksikan teman-temannya sesama hewan, hidup rukun dan bahagia selamanya. Selamat jalan, Lady.

SELESAI

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbitkan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.