MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

KEGAGALAN CINTA

Beberapa hari ini aku tidak begitu bersemangat. Aku merasa kesepian. Pikiranku tidak tenang. Ditambah lagi kue yang aku jual tidak terjual semua. Sebenarnya masih bisa dijual di tempat lain tapi aku malas jualan hari ini. Aku merasa sangat mengantuk sehingga aku memutuskan pulang saja.

Setiba di rumah aku melihat raut wajah Ibu yang sedikit terkejut dengan kepulanganku yang agak cepat.

“Mama, besok aku mau libur jualan kue dulu”, kataku pada Ibu sambil meletakkan bungkusan di meja makan, kemudian aku duduk di depan meja makan untuk makan siang.

“Ya tidak apa-apa nak, memang ada saatnya kita merasa capek”, kata Ibu yang duduk berhadapan denganku di meja makan.

“Kue yang sisa sebagian bagikan ketetangga saja”, pinta Ibu dengan ekspresi tenang membuatku merasa sedikit legah namun merasa bersalah.

“Maaf ya ma, kali ini aku mengecewakan Mama, kataku.

“Sudahlah nak, Ibu mengerti karna ibu juga pernah mengalami”, kata Ibu penuh pengertian membuatku merasa tenang.

Setelah makan siang aku memasukkan kue di kantong plastik dan memberikan ke tetangga di depan rumahku, juga membawanya ke rumah Robi.

“Selamat siang”, sapaku di depan pintu.

“Siang nak”, masuk, suara Ibu Robi dari dalam rumah. Akupun masuk sampai ke dapur mendapatkannya yang sedang bekerja.

“Ini tante kue dari rumah”, kataku sambil meletakkannya di atas meja makan.

“Kenapa ada kue nak?” Tanyanya.

“Tadi ada acara kecil-kecilan di rumah sama teman-teman kelasku”, jawabku berbohong. Ibu Robi akan memberiku uang sesuai harga kueku jika seandainya aku bicara jujur karena akan merasa kesihan padaku sementara aku tidak suka dikesihani karena hal yang aku alami itu.

Baca:  Aku dan Malam Mingguku

“Robi dimana tante?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Robi kerumah temannya nak”, jawabnya.

“O ya tante aku pulang dulu mau istrahat.

“Ia nak trimakasih kuenya”.

“ sama-sama tante”.

Aku berjalan keluar dari rumah itu. Namun ketika di luar rumah aku melihat tumpukan kertas di tempat pembakaran sampah.

“Tidak biasanya ada banyak kertas di tempat pembakaran sampah”, batinku, “biasanya disitu yang ada dedaunan kering”.

Aku mulai curiga kalau sampah kertas itu ditulisi sesuatu hal penting  namun karena banyak salah tulis sehingga di remukkan lalu dibuang di tempat sampah.

Aku mulai merasa ada sesuatu tulisan penting di kertas-kertas itu yang harus aku cari tahu. Aku mulai mengingat-ngingat pengalaman waktu aku menulis surat cinta untuk Robi dan meremukkan kertas-kertas jika salah tulis lalu melemparkannya ke tempat sampah.

Aku mengambil semua gulungan kertas-kertas itu dan membawanya pulang.

Dalam perjalanan pulang itu hatiku bergejolak.

“Bagaimana kalau dugaan aku benar bahwa surat itu adalah surat cinta yang ditulis untuk cewek lain …” “ah tidak, tidak. Mungkin saja suratnya akan ditujukan padaku, batinku bergejolak”, semakin aku paksakan surat itu ditujukan padaku, semakin aku ragu.

Robi pernah menolak cintaku dan selama ini dia menganggap aku sampai sebatas adik saja, bahkan beberapa hari ini dia tidak menghargai kehadiranku.

Aku merasah sedih sekali.

Saat kupejamkan mataku, tak kusadari ada air mata yang menetes membasahi pipiku. Aku menarik nafas dalam lalu menghusap air mata di pipiku menggunakan ujung jari jemariku.

Setibah di rumah aku memutuskan langsung tidur saja dan untuk sementara menyimpan kertas-kertas tersebut di dalam laci meja belajarku. Tapi ternyata aku tidak bisa tidur karna penasaran dengan isi tulisan di kertas-kertas sanpah itu.

Baca:  Minah

Akupun mengambil dari laci meja. Jantungku berdebar-debar tidak keruan. Aku menenangkan hatiku lalu membuka gulungan kertas itu ditanganku dan membacanya.

 

Dari Yobi.

Judul surat, kau cinta aku tapi aku cinta dia.

Ternyata dugaanku benar. Aku membaca isinya sampai habis dan sama persis dengan yang dibacakan penyiar radio pada acara bisikan kalbu tadi malam.

Aku langsung merebahkan tubuhku di tempat tidur sambil mengenang masa-masa indah bersama Robi. Hatiku menangis karena dia akan bersama wanita lain dan bukan diriku.

Aku suka caranya menyayangiku dan memperlakukanku. Dia penuh kasih sayang dan perhatian padaku. Namun baru beberapa hari ini dia terpikat dengan cewek lain yang pastinya lebih cantik dariku.

Hari demi hari kulalui tanpa bersemangat. Namun tidak berhasil kusembunyikan dari Ibuku.

“Ada masalah apa lagi nak?” Tanya Ibu sambil duduk disampingku sembari menghusap-husap rambutku penuh perhatian.

Akupun memutuskan mengatakan yang sesungguhnya pada Ibu karna aku tidak sanggup menanggung sendirian perasaan kecewa ini.

“Ma’”, seruku pada Ibu dengan suara berat, “Robi sangat sayang padaku dan memperlakukan aku seperti adiknya membuat aku jatuh hati padanya … aku sangat senang ma tapi sudah dua minggu ini dia cuek sama aku dan beberapa hari lalu aku baru tahu kalau dia ternyata jatuh cinta dengan cewek lain”, kataku sambil menunduk.

Ibu terus menghusap-husap rambutku dengan tangannya membuatku merasa tenang dan tidak sendirian.

“Semua masalah itu ada hikmahnya nak, kamu bersyukur nak karna masih usia segini sudah merasakan sakit gara-gara cinta. Itu artinya kamu cepat-cepat disadarkan sama Tuhan tentang apa itu cinta … disini Ibu mau bilang nak, saat ini di usia ade yang masih seumur jagung, akan lebih baik dan penuh makna dengan mencintai pekerjaanmu sekarang dan cintailah buku-buku pelajaranmu dari sekolah, karna masa depanmu ada disitu. Kalau sudah terbiasa kamu akan melupakan hal-hal yang tidak penting itu”, kata ibu penuh kasih sayang. Aku terdiam mencerna kata-kata Ibu.

Baca:  Ibu dan Anak

“Lakukan saja yang terbaik untuk diri dan masa depanmu maka orang terbaik akan mengejar-ngejar cintamu, percayalah:, kata Ibu penuh keyakinan.

Akupun mengangkat kembali kepalaku dan menatap masa depan yang lebih penting aku perjuangkan.

“Terimakasi ma … Terimakasih”, Ucapku seraya memeluk tubuhnya dengan erat.

(Baca bagian selanjutnya dengan klik “next”)

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbikan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
6 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *