Beri dukungan untuk karya-karya yang telah diterbitkan di event menulis "Imaginasikan Merdekamu!". Tulis saran dan kritikmu sebagai bentuk apresiasi untuk penulis di kolom komentar
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kembalinya Asa, Merdeka dari Belenggu Haluan Kiri

AKBAR.JPG

Terakhir diperbaharui 3 minggu oleh Dimas Prasetyo Muharam

Remang senja telah membungkus pinggir hutan. Sepi suasana. Kental sekali aroma mencekam, membuat bergidik hati.

Betul-betul hening. Tidak ada kicauan burung. Sebelah barat hutan lebat itu, desa Nanas terletak.

Belakangan kondisi desa semakin memprihatinkan. Baik sebelum terjadi September berdarah, maupun sesudahnya. Sebabnya, tidak jauh dari kata harga barang pokok yang melangit.

Ini sebelum September kelam. Apalagi sesudahnya? Makin ciut hati warga. Dicekam rasa takut, mereka memeras keringat memenuhi kebutuhan perut yang kian kejam melilit.

“Ah, lupakan itu! Aku harus cepat-cepat membawa Citra pergi.” pikir seorang lelaki yang waspada melangkah, meninggalkan desa Nanas. Tanpa ragu, ia memasuki kawasan hutan. Diikuti seorang gadis cantik di awal dua puluh, berpenampilan sederhana yang selalu gelisah.

“Gimana ini bang? Citra takut, kalau ada pasukan tentara mengejar.” bisiknya, tidak berani mengeraskan suara. Hamdi, pemuda seperempat abad itu hendak menjawab, ketika mendengar ranting yang patah di sebelah kanannya.

Secepat kilat, ia melemparkan segenggam tanah ke arah suara mencurigakan itu. Betul saja, terdengar umpat caci diiringi letusan senjata api yang ditembakan secara sembarangan. Hamdi menarik keras tangan si gadis untuk berlari ke dalam hutan.

“Ganyaaang! Jangan biarkan lolos jahanam berdua itu!” Hamdi semakin keras berlari, menarik Citra agar berada di depannya. Lelaki itu rela kalau dirinya menjadi prisai si gadis.

“Teruslah kau lari ke dalam hutan! Hati-hati, hindari tempat-tempat gelap!” tegang suaranya, memberi pesan. Si gadis bergegas masuk hutan, diikuti Hamdi yang berhati-hati, berusaha memimimalkan jejak pelarian mereka.

Sesudah beberapa menit mereka masuk hutan. Tidak lagi terdengar suara sepatu menderap dari arah belakang. “Hmm, sadar juga mereka, kalau malam hari, di sini banyak bahayanya.” terkesiap Hamdi oleh pikirannya.

Bergegas dia menarik pundak Citra agar mundur. Sedetik kemudian, terdengar auman dahsyat dari arah depan. Gadis berpakaian lusuh itu menggigil. Spontan memeluk Hamdi.

Pemuda berperawakan gagah itu gelagapan. Tapi tetap membiarkan Citra menenangkan diri dalam dekapan. “Tenang, tenanglah, dik! Kita harus tabah dalam pelarian! Ini masih awal, kita memulai!” bujuk Hamdi.

Citra masih diam dalam getar takut. Hamdi makin waspada. Karena sekelilingnya gelap, rapat sekali pepohonan.

Sadar jika berdiam di situ tidak menyelesaikan masalah, pelan Hamdi beringsut ke samping. Walau tetap memeluk Citra, tangan kanannya telah bersiaga dengan sebilah pisau komando. Dia sadar, setiap saat mata yang bercahaya buas itu bisa mendatangkan maut. Mata yang bercahaya merah, dari hewan ganas, kerabat si kucing.

Hamdi pelan beringsut. Tanpa suara. Berhasil mengecoh si macan yang tengah terlena oleh daging ransum yang dilemparkannya.

Itu cuma sebentar. Entah bagaimana, mendadak macan itu melompat dan menerkam. Hamdi menusukan pisau ke arah mata hewan loreng itu. Tidak kena.

Lantaran merasa sia-sia melawan, Hamdi menggampit Citra dan berlari sekencang-kencangnya. Tidak lagi peduli akan ranting dan semak yang menggores pedih tubuh, dan mengoyak pakaian.

Baca juga:  Dongeng Gemericik Suara Hati (41)

Di belakang, raungan si macan terus mengejar. Hamdi semakin keras memeras tenaga, mengajak Citra menyelamatkan diri. Sampai suatu ketika, kaki mereka melayang, dan jatuh.

Hamdi tidak berusaha untuk berteriak. Dia sadar, ini jurang. Tangan kirinya tetap kokoh mencengkram tangan Citra. Gadis itu melolong ngeri.

Di samping, angin menderu. “Habislah riwayat kami!” pikir Hamdi, sesaat sebelum gelap menyita penglihatannya. Anehnya tidak sakit.

***

Betul keduanya terjun bebas di jurang yang seolah tak berdasar. Betul jika ditinjau, mustahil nyawa mereka selamat. Tapi, kuasa Allah begitu mengagumkan.

Keduanya tersangkut di atas sebuah pohon besar, mungkin ratusan tahun umurnya. Semalaman mereka pingsan. Barulah, ketika pagi, mereka siuman. Sebab keadaan yang agak terang.

Hamdi mengerang nyeri. Kedua tangan menutup mata. Silau begitu cahaya matahari terik menyerbu penglihatan.

Sekujur tubuh rasanya sakit. Belulang seolah dilolosi. Tidak beberapa lama, terdengar rintihan Citra. Gadis itu berusaha akan bangkit. Tapi Hamdi bergegas mencegah.

“Jangan bergerak, dik! Abang perkirakan, kita ada di atas sebuah pohon yang tinggi sekali.” nada cemas itu benar-benar menyadarkan Citra. Akhirnya dia diam. Karena takut jatuh.

“Semua ini tak adil, bang!” keluhnya, merasa risau. Hamdi memandang gadis itu dengan segenap rasa sayangnya. Walau kondisinya awut-awutan, dan kacau, dia tetap cantik.

Hamdi menghela napas, “Sudah terlanjur, dik! Semua ketidak adilan ini, sebetulnya kitalah yang membuat. Aku masuk barisan tani, kamu masuk gerakan wanita, yang sesungguhnya berpaham sesat. Menyekutukan Tuhan dengan logika yang terbatas.” Citra tercenung.

Hamdi juga sama. Sibuk berpikir, apa sebaiknya yang akan dilakukan. Hamdi merenungkan, berapa lama semua ini harus dijalani? Kasihan Citra, istri yang sangat dicintainya itu. Menanggung buah pahit, akibat terlibat dalam gerakan partai merah.

Dia juga tidak munafik. Andilnya begitu besar bagi barisan tani di daerah kampung halaman. Terputus lamunan Hamdi, mendengar erangan Citra. Buru-buru dia beringsut, mendekati istrinya.

Perempuan itu memegang perut sambil meringis. “Masih ada bang, bekal makan kita? Citra lapar!” desah Citra, begitu sakit meraba perut.

Hamdi merogoh-rogoh buntalan. Terkesiap hatinya. Buntalan itu lenyap.

Lelaki muda itu menggeleng lemah, menatap Citra dengan rasa bersalah. Perempuan itu hanya menunduk, kecewa harus menahan rasa nyeri pada perut. Kedua tangan mungilnya memegang perut. Wajahnya memucat. Hamdi mesti berusaha, sekalipun harus mengambil tumbuhan sebagai bahan makanan.

Lelaki muda itu beranjak memandang sekitar. Barangkali menemukan sesuatu yang layak dimakan. Hanya ada kabut awan yang mencekam, selain pemandangan belukar pohon yang lebat dan kaya akan daun hijau.

“Tidak kutemukan sesuatupun, dik. Tahanlah sebentar, semoga Allah memberi petunjuk.” terluncur begitu saja ucapan itu. Kebiasaan yang telah lama ditinggalkan. Citra menatapnya penuh kejut, seakan sudah lupa sama sekali dengan rasa lapar.

Perempuan itu masih memandangnya, diam bertanya. “Aku tidak mengerti! Kenapa bisa seringan tadi berucap seperti itu.” serunya, ingin menegaskan bahwa tidak sengaja melakukan.

Citra akhirnya mengangguk paham. “Maaf bang, kalau boleh Citra berkata, mungkin telah saatnya kita kembali memikirkan, agama yang baik itu!” Hamdi mengiyakan. Agaknya lelaki itu sudah lupa dengan rasa lapar, lebih asik merenungi pemikiran tersebut.

Baca juga:  Gendut jadi Primadona

***

Sore beranjak malam. Angin semakin keras berhembus. Dingin ganas menggigit sembilu. Hamdi berusaha mencari sebentuk rasa hangat dan nyaman, dengan memeluk Citra.

Istrinya itu mengeluh lapar semenjak siang. Ia merasakan hal yang sama. Tapi apa dayanya? Sudah dicoba memakan dedaunan. Rasanya pahit bukan buatan.

Dalam hati, lelaki berpakaian hitam lusuh ini keras berusaha memanjatkan doa. Tentulah yang masih diingat. “Tuhan, jika Engkau Maha Pemaaf dan Maha Pemurah, hilangkan rasa lapar pada istriku! Biarlah laparnya kutanggung. Sungguh, kami adalah selemah-lemahnya makhluk.”

Matanya tiba-tiba berkunang kabur. Pusing bukan buatan kepala. Sejurus berlalu, ia pingsan, sambil memeluk Citra yang telah terlelap.

***

“Hey, Bob! Apakah kamu melihat sesuatu di teropongmu itu?” terdengar seruan seseorang di tengah bisingnya deru helikopter. Sang kawan yang dipanggil Bob pun mengangguk. Memang semenjak tadi dia sibuk mengamati tebing yang unik. Karena lebat tertutupi sebuah pohon yang sangat lebat belukarnya.

“Coba lebih mendekat lagi, Than!” ujar Bob, seolah menemukan sesuatu. Nathan, si pilot helikopter segera berhati-hati mengarahkan kendaraan udara itu ke arah tebing. Senter dihidupkan, menyoroti tebing.

Terkesiap keduanya, menemukan dua sosok yang sepertinya sudah mati. “Itu bukankah mayat manusia, Bob?” Bob menggeleng. Lelaki yang bernama lengkap Roberto Alfaro itu menyahut, “Kalau mereka mati, kenapa salah satunya tampak bergerak-gerak?”

Nathan mengangguk. Segera membukakan pintu, “Kau ini jenius, saudaraku! Ayolah segera lompat ke sana! Jaraknya cukup untuk meloncat bagi seorang mantan Green Barets macam kau.” Bob mendengus, “Mau kusikat lagi, seperti waktu di akademi, monyet jelek!” Nathan mengangkat bahu, mengalah.

Roberto Alfaro berdiri, dan melenting keluar. Tangannya melemparkan seutas tali yang ada pengait di ujungnya, yang jelas saja dapat menancap di salah satu ranting yang kuat. Kemudian, dimulailah proses evakuasi.

***

“Terimakasih, dan tidak ada lagi yang bisa saya sampaikan pada tuan berdua yang telah mengambil nyawa saya dan istri saya dari tangan-tangan maut.” Bob dan Nathan tertawa ramah sambil menepuk pundak Hamdi.

“Tentu, saudaraku! Hak asasilah yang melatar belakangi niat kami. Sejak awal tiba di tebing itu, saya sudah curiga. Mana ada manusia yang sempat-sempatnya pelukan di tempat dan situasi seperti itu?” polos sekali Bob berujar, lalu terbahak-bahak. Diikuti kawannya. Wajah Hamdi memerah.

Ketiganya terlihat segar. Kini berada di kantin rumah sakit bonavid, salah satu yang paling terlengkap alat kedokterannya di Singapura. “Bagaimana kondisi madame, Hamdi?” tanya Nathan selintas lalu. “Cukup baik, tuan. Hanya tinggal rutin memakan hidangan bergizi setiap hari. Kalau saya, sudah pulih, begitu kira-kira yang dikatakan tuan dokter.” tangkas Hamdi menjawab, fasih sekali bahasa Inggrisnya.

“By the way, cerdas sekali kamu berbahasa! Dimana kamu belajar, saudaraku?” tanya Bob, masih santai. Hamdi terdiam.

Mengawasi sekitar yang tidak begitu ramai. “Kalian tidak membenci komunis kan?” agak condong ke depan, kepala lelaki peranakan Madura Bugis itu, seraya melirihkan suara. Bob dan Nathan kembali tertawa ringan. “Hei! Jangan setakut itu!” tukas Nathan. Sambil melambaikan tangan pada pelayan, minta tambah satu gelas teh hijau lagi.

Baca juga:  Ceritaku (1-4)

Hamdi menarik napas. “Saya dan istri adalah mantan anggauta partai merah.” Hamdi berhenti. Mencoba melihat reaksi Bob dan Nathan yang tetap serius mendengarkan. Lalu melanjutkan lagi.

“Awalnya kami adalah penduduk biasa. Maklum, saat itu baru-barunya kami pengantin baru berbulan madu. Kira-kira setahun sebelum September berdarah. Nah, selepas masa indah itu, ada tawaran dari kepala desa agar saya mengikuti sebuah gerakan yang menjanjikan kesejahteraan lahir batin. Tentu bagi warga kelas menengah bawah seperti kami adalah hal yang menarik, bukan? Beranjak dari keyakinan pada janji itulah, saya dan istri bergabung. Berkomitmen melaksanakan tugas-tugas partai.”

Hamdi berhenti bertutur. Menarik napas, meneguk tehnya, lalu memperbaiki posisi.

Akhirnya secara ringkas dia melanjutkan. Betapa lama-lama tugas itu semakin menakutkan. Mengganyang setan desa, istilah partai pada mereka para tuan tanah yang dianggap kejam dan terlampau feodal.

Dalam gerakan itu mereka juga mendapat banyak wawasan melalui didikan yang ketat. Berbahasa, juga pendidikan militer secara singkat. Diajarkan oleh guru-guru berpengalaman yang didatangkan dari mancanegara.

Berbekal prinsip dan pengetahuan inilah keduanya sepenuhnya menjadi Komunis tulen. Hingga sukses melaksanakan banyak oprasi partai, dan paling puncak, akhirnya terlibat pada gerakan di penghujung September yang mengalirkan darah rival kubu politik mereka. Dalam hal ini adalah tokoh perwira, golongan agama dan keseragaman berbangsa.

Hamdi menuntaskan cerita dengan berat. Sebab beban pikiran dan batin yang begitu sarat. “Nah, kini saya dan istri sudah tetap memutuskan bahwa kembali ke agama asal, adalah pilihan yang terbaik. Menyembah Tuhan Yang Tunggal.” imbuh Hamdi lagi. Bob dan Nathan beradu pandangan. Seakan ada satu pemahaman yang tercapai.

“Aku paham, saudara! Kalau saudara balik ke Indonesia, bakal susah sekali penghidupan saudara. Oleh karena itu, Nathan punya satu tanah di Brunei yang bisa saudara jadikan domisili.” ujar Bob, santai. Nathan mengangguk, mempertegas kata-kata saudaranya.

Hamdi menjabat erat-erat tangan kedua lelaki itu secara bergantian. “Terimakasih tuan! Entah bagaimana cara saya membalas budi anda berdua. Sungguh, telah saya temukan pembelajaran berharga dari pengalaman saya akhir-akhir ini.” Bob tertarik, lalu bertanya, “Apa yang saudara temukan? Bolehkah kami tahu?”

Kemudian Hamdi bertutur dengan tenang. Begitu mampu menguasai perasaan. “Bahwa menjadi seorang Komunis tidak akan mendatangkan bahagia dalam hidup. Justru kita semakin bingung karena tujuan hidup makin mengabur, serta terjebak di dalam belenggu labirin kesesatan. Menjadi samar-samar. Nah, satu lagi yang saya dapat. Apapun kondisi kita, umpama terlumuri jelaga, Tuhan tetap ada menemani. Selama itu kita berdoa dan berharap secara konsisten. Hal ini saya rasakan betul ketika menderita kelaparan sebelum anda berdua menolong saya. Rasa bergantung pada Tuhan dan saling menguatkan antara saya dengan istri, dapat mendatangkan pertolongan itu. Setelah saya dan istri sembuh, kami telah mantap memutuskan. Kembali memeluk agama itulah, pilihan terbaik. Sambil mengabdi pada kebajikan secara merdeka sesuai kemampuan.”

Tamat.

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbitkan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.