Beri dukungan untuk karya-karya yang telah diterbitkan di event menulis "Imaginasikan Merdekamu!". Tulis saran dan kritikmu sebagai bentuk apresiasi untuk penulis di kolom komentar
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kemerdekaan di puncak Jaya

Di suatu hutan belantara tepatnya di kawasan pegunungan Jaya Wijaya, hiduplah bermacam-macam binatang, seperti Anjing, kangguru, cendrawasi, kakatua, serigala, beruang, serta elang. Di dalam hutan, ada seekor raja nuri yang memimpin kerajaan hutan. Ia  berkata, “Rakyatku, lihatlah, air bah itu mengalir dari salju abadi di puncak sana! saya khawatir air itu akan menenggelamkan kita semua,” katanya cemas. “Pasti ada binatang yang merusak salju di sana hingga permukaannya mencair. Siapa di antara kamu yang berhasil membunuhnya akan aku angkat sebagai penerusku!” tambah raja. Seekor Anjing tua membujuk cucunya, “Nak, bunuhlah binatang yang merusak salju itu agar alam kita tetap terjaga,” pinta nenek. “Ya Nek, akan aku laksanakan,” jawab cucunya. “Bawalah bambu-bambu runcing ini sebagai tombakmu dan makanan ini sebagai bekalmu nanti,” pinta nenek.

 

Kemudian, ia mengajak kedua temannya, yaitu kangguru dan cendrawasi untuk pergi bersama-sama. Ketika mereka sedang mendaki gunung, datanglah pemimpin serigala beserta kawanannya menghadang mereka di tengah jalan. Pemimpin serigala berkata, “Hi, mau ke mana kalian?!” bentaknya keras. “Tuan kami ingin pergi ke puncak untuk menyelamatkan salju abadi,” jawab anjing. “Tidak boleh, ini adalah daerah kami!” bentak pemimpin serigala. Kangguru berkata, “Jika kalian tidak membiarkan kami lewat maka kami akan memukul kalian sampai mati! marah kangguru. Ia menghantam kepala pemimpin serigala itu dengan gadahnya yang  besar ketika ia menyerang kangguru. Anjing pun ikut menombak semua kawanan serigala lainnya hingga mati.

Baca juga:  DARAH DAN KERINGAT TUMBAL BANGSA

 

“Wah, hebat sekali kalian, sekali pukul musuh-musuh langsung mati!” tepuk cendrawasi yang sedari tadi menyaksikan pertarungan temannya di atas ranting pohon. Setelah itu, dilanjutkannyalah perjalanan mereka mendaki puncak Jaya. Semakin lama mereka mendaki, semakin dingin pula udara di puncak sana. Ketiga tubuh binatang itu mulai mengigil karena ada salju selama perjalanan. “kawan-kawan, marilah kita makan bekal yang ku bawa agar tubuh kita kuat menahan dingin,” kata anjing sembari membuka tasnya. Ketika mereka sedang asyik makan, tiba-tiba datanglah beruang kutub bertubuh besar menerkam kangguru dari belakang. Datanglah juga 2 beruang besar lainnya yang siap menerkam anjing dan cendrawasi. Pertarungan dimulai satu lawan satu, kangguru menendang-nendang perut beruang sangat keras. anjing dengan ganasnya membabi buta mengigit kaki beruang, sedangkan cendrawasi mematuk-matuk kepala beruang. Tangan beruang mencengkram leher kangguru sebelum ia mengambil gadahnya. Di sisi lain, anjing dan beruang saling mengigit, sedangkan cendrawasi terus mematuk dan mencakar beruang hingga musuhnya jatuh ke dalam jurang. Setelah itu, cendrawasi langsung menolong kangguru yang sebagian tubuhnya telah ditelan oleh beruang, ia mematuk-matuk kepala beruang itu hingga kangguru bisa terlepas dari mulutnya. Ia mencakar-kacar mata beruang itu hingga bola matanya terlepas dari tempatnya dan mendorong musuhnya jatuh ke dalam jurang. Pertarungan antara beruang dan anjing pun semakin sengit. Beruang menghantam kepala anjing hingga ia jatuh terguling. Anjing pun tidak putus asa, ia balik menyerang musuhnya hingga jatuh. Kemudian, ia menombak musuhnya hingga mati.

 

Kemudian, dibangunkannyalah kangguru oleh anjing dan cendrawasi, tetapi ia tidak bangun-bangun. Mereka menangis sangat sedih karena kangguru telah mati. Cendrawasi berkata, “Jing, bawalah kangguru ke kampung, biarkan aku saja yang membunuh musuh-musuh di atas sana,” cemas cendrawasi memikirkan keselamatan anjing yang penuh luka ditubuhnya. “Ta ta taapiii aku tidak bisa membiarkanmu sendiri di sini, cendrawasiii,” tangis anjing. Ia sangat mempedulikan keselamatan cendrawasi. Ia tetap menaiki puncak sambil menggotong kangguru walaupun tubuhnya lelah dan sakit.

Baca juga:  Sang Penolong

 

Tibalah mereka di puncak Jaya, perjuangan mereka belum selesai walau fisik sudah tidak mampu. Mereka harus membunuh elang yang telah merusak salju abadi agar tidak ada lagi binatang-binatang yang merusak alam. Pertarungan mereka dimulai di udara, cendrawasi menyerang elang dengan cakarnya. Si Elang pun balik menyerang cendrawasi dengan mematuknya hingga ia jatuh di atas salju. Selanjutnya, elang terbang menukik tajam ke bawah untuk menerkam anjing, tetapi sebelum ia menerkammnya, ia jatuh mati karena anjing telah menombaknya duluan. Lalu anjing berlari menemui cendrawasi. ia berduka lagi karena cendrawasi telah mati. Lalu digotongnyalah kedua sahabatnya itu menuruni puncak. Selama perjalanannya kembali ke hutan, ia terus berdoa agar mereka bisa hidup kembali. Tibalah mereka dengan selamat, anjing dilantik menjadi raja hutan, sedangkan  jasad kangguru dan cendrawasi dimumikan untuk mengenang jasa-jasa mereka. Kini salju abadi di pegunungan Jaya Wijaya terjaga karena tidak ada lagi binatang-binatang yang  berusaha merusaknya. Tamat

 

Pesan moral dari anjing, kangguru, dan cenrawasi : perjuangan hidup untuk mencapai tujuan memang tidaklah mudah terkadang kita harus menghadapi banyak permasalahan, duka, sakit dan kehilangan. Namun, orang-orang yang bisa mencapai tujuannya adalah orang-orang yang punya mental kuat. Inilah arti dari pencapaian kemerdekaan sejati, yaitu terus berjuang sampai mencapai tujuan walau tubuh dan jiwa terasa lelah. Suatu saat jika tujuan itu tercapai, janganlah lupa dengan orang-orang yang telah membantumu selama ini karena tanpa mereka pencapaian itu tidak akan terjadi.

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbitkan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
5 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.