Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kenali Tunawicara Lebih Jauh

Jakarta, Kartunet.com – Tunawicara merupakan individu yang mengalami kesulitan berbicara. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang atau tidak berfungsinya alat-alat bicara, seperti rongga mulut, lidah, langit-langit dan pita suara. Selain itu, kurang atau tidak berfungsinya organ pendengaran, keterlambatan perkembangan bahasa, kerusakan pada system saraf dan struktur otot, serta ktidakmampuan dalam control gerak juga dapat mengakibatkan keterbatasan dalam berbicara. DI antara individu yang mengalami kesulitan berbicara ada yang sama sekali tidak dapat berbicara, dapat mengeluarkan bunyi tetapi tidak mengucapkan kata-kata dan ada yang dapat berbicara tetapi tidak jelas.


Disabilitas pendengaran pada umumnya dialami oleh individu yang lahir sebelum waktunya (premature). Penyandang disabilitas bicara ini memiliki beberapa karakteristik antara lain memiliki suara sengau, cadel, bicara tidak jelas dan tidak mengeluarkan suara saat berbicara, cenderung pendiam, pandangan tertuju pada satu obyek, menggunakan komunikasi non verbal dan bahasa tubuh untuk mengungkapkan pendapat, pikiran dan keinginan, serta lebih memilih berkomunikasi secara tertulis.


Masalah yang utama pada diri seorang tunawicara adalah  mengalami kehilangan/terganggunya fungsi pendengaran (tunarungu) dan atau fungsi bicara (tunawicara), yang  disebabkan karena bawaan lahir, kecelakaan maupun penyakit. Umumnya anak dengan gangguan dengar/wicara yang disebabkan karena faktor bawaan (keturunan/genetik)  akan berdampak pada kemampuan bicara  Walaupun tidak selalu. Sebaliknya anak yang tidak/kurang dapat bicara umumnya masih dapat menggunakan fungsi pendengarannya walaupun tidak selalu. Anak dengan gangguan dengar/wicara dikelompokan sebagai berikut :


a)                  Ringan (20 – 30 db)


Umumnya mereka masih dapat berkomunikasi dengan baik, hanya kata-kata tertentu saja yang tidak dapat mereka dengar langsung, sehingga pemahaman mereka menjadi sedikit terhambat.


b)                  Sedang (40 – 60 db)


Mereka mulai mengalami kesulitan untuk dapat memahami pembicaraan orang lain, suara yang mampu terdengar adalah suara radio dengan volume maksimal


c)                  Berat/parah (di atas 60 db)


Kelompok ini sudah mulai sulit untuk mengikuti pembicaraan orang lain, suara yang mampu mereka dengar adalah suara yang sama kerasnya dengan jalan pada jam-jam sibuk. Biasanya kalau masuk dalam kategori ini sudah menggunakan alat bantu dengar, mengandalkan pada kemampuan membaca gerak bibir, atau bahasa isyarat untuk berkomunikasi.


Karakteristik tunawicara:


a)                  Berbicara keras dan tidak jelas


b)                  Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya


c)                  Telinga mengeluarkan cairan


d)                  Menggunakan alat bantu dengar


e)                  Bibir sumbing


f)                    Suka melakukan gerakan tubuh


g)                  Cenderung pendiam


h)                  Suara sengau


i)                    Cadel


Cara membantu tunawicara:


a)                  Bicara harus jelas dengan ucapan yang benar


b)                  Gunakan kalimat sederhana dan singkat


c)                  Gunakan komunikasi non verbal seperti gerak bibir atau gerakan tangan


d)                  Gunakan pulpen dan kertas untuk menyampaikan pesan


e)                  Bicara berhadapan muka


f)                    Latihan gerak bibir dengan cermin


g)                  Latihan menggunakan bahasa isyarat


h)                  Jika masih memungkinkan, periksakan kepada tenaga profesional untuk mendapatkan alat bantu dengar.

Mengenal Rafik Akbar

Tiada Mata Tak Hilang Cahaya

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
3 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *