Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Kosong

Dino menatap kalender usang itu. Ia menitikkan air mata. Lampu neon satu-satunya yang bertengger di tengah rumah seluas empat meter persegi itu menyebarkan cahaya kuning yang remang-remang. Dino menghempaskan diri di atas kasur. Kasur itu sudah menipis, membuat punggungnya terasa sakit. Tapi dibandingkan hal ini, dia lebih sebal ketika ia telah berbaring. Dia melihat atap yang terbuat dari daun kelapa. Ada beberapa yang berlubang. Dia tak bisa menggantinya dengan yang baru. Dia juga tak akan membiarkan Ibunya yang bekerja lebih keras lagi.

“Tidak apa-apa. Ibu masih kuat”

Ibu selalu berkata begitu. Setiap pagi hari Dino bangun, Ibu telah pergi untuk memecah kerikil. Dino hanya menjadi penyemir sepatu setelah pulang sekolah. Uang yang dia hasilkan dari situ pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah.

Mengingat hal ini membuat Dino kembali menitikkan air mata. Hari ini dia akan menambah jam kerjanya. Dia ingin sekali memberikan hadiah spesial di hari ulang tahun Ibu. Dua hari lagi genap lima puluh tahun usia Ibu. Dino bingung dari mana ia bisa mendapatkan uang lebih. Sedangkan Ibu selalu memastikan kebutuhan sekolah Dino tercukupi. Ibu selalu teliti soal itu. Ibu akan tahu semua yang Dino lakukan dengan uangnya.

Dino menyerahkan uang sepuluh ribu sambil duduk bersimpuh di depan Ibunya. Ibu tersenyum. Wajah Ibu jadi terlihat setengah umur lebih muda.

“Ada masalah apa toh, Nak?” Ibu menyadari air muka Dino.

Dino menggerakkan tangannya tanpa suara. Dia menyampaikan pesan itu dengan gerakan yang serasi. Wanita di hadapannya kembali tersenyum. Dino senang melihat senyum itu. Seperti ia selalu senang dapat tidur di kasur tipis walau tanpa bungkus. Malam itu, rumahnya kembali bertabur debu kasur yang melayang-layang seperti hamparan bintang di cakrawala.

Dino berjalan menuju sekolahnya yang tak begitu jauh dari rumah. Dia teringat sesuatu. Tentang ia telah menyematkan lima ribu di kantong celananya semalam. Dia telah membohongi Ibu. Sejenak langkahnya terhenti oleh penyesalan dalam hatinya. Berbagai bentuk pikiran bergelayut di kepalanya.

“Maafkan Dino, Ibu” serunya dalam hati.

Dua hari berlalu. Hari ini, hadiah apa yang bisa ia beli dengan uang sepuluh ribu?

“Malam ini, ulang tahun Ibu harus ada hadiah yang spesial” bisiknya dalam hati berkali-kali. Pulang sekolah ini, Dino tidak menyemir. Dia berjalan kaki ke pasar, mencari kado untuk Ibu.

“Kenapa terlambat pulang?” Tanya Ibu.

Kening Ibu berkerut. Wajahnya menciut. Sedang Dino berdiri kaku di depan rumah, tak sanggup menjawab. Ibunya kehabisan akal. Dino tak mau menjawab apa pun.

“Masuklah. Ganti pakaianmu. Kita makan malam…”

Selesai makan malam, Ibu langsung berbaring di atas lantai berlapis karpet yang telah berlubang di beberapa sisi. Dino memperhatikan wajah Ibunya yang perlahan tertidur lelap. Wajah Ibu berbentuk oval dan hidungnya mancung dengan rambut pendek namun tak beraturan. Diperhatikannya dengan teliti jari-jari Ibu yang telah banyak bekas luka. Pastilah ia menangis ketika kerikil menggores jarinya. Tapi selama ini, Ibu tak pernah menangis di depan matanya. Dino tahu benar Ibunya yang tegar. Betapa malunya dia untuk menangis.

Dino kembali menitikkan air mata. Apalagi mengingat kejadian kecelakaan bus ketika itu, yang merenggut nyawa Ayah dan sepotong tangan kirinya. Air mata Ibu telah habis di hari itu. Beruntung dia masih bisa disekolahkan Ibu hingga sekarang. Dia menatap lengan kirinya yang hilang. Kosong.

Ingin sekali dia melihat Ibu bahagia. Digoyangkannya bahu Ibu perlahan. Tubuh Ibu mendadak terkejut. Ia lantas bangkit dan memegangi tubuh anaknya.

“Kenapa Nak? Kenapa terbangun di tengah malam, kamu tidak bisa tidur? Ibu tak marah, kamu terlambat pulang… tidurlah, Nak… ”

Dino menggeleng. Dikeluarkannya sebuah kotak kecil berbungkus kertas kado berwarna pink dan juga berpita pink di tengah. Pitanya berbentuk kupu-kupu yang indah. Ibu menatap anak tunggalnya.

Dino menggerakkan satu-satunya tangan yang ia punya. Mendekatkannya ke dada. Dan menggambar tanda hati di udara lantas dilekatkannya di hati Ibunya.

Aku cinta Ibu. Selamat ulang tahun Ibuku. Ini kado dariku. Ingin sekali dia mengatakannya. Namun dia tak bisa bersuara. Pesan-pesan yang ingin disampaikannya itu mengalun indah. Ia dinyanyikan oleh suara hati dan digerakkan dengan harmonis oleh sebentuk senyuman. Lagu ulang tahun bergema. Ucapan Dino membahana di relung hati Ibu.

Tak kuasa lagi Ibu menahan air matanya. Dia sesenggukkan sambil jari-jarinya menarik pita kado. Dibukanya perlahan bagian atas kotak itu. Dino menatapnya sembari tersenyum lega.

Ibunya menatapnya heran

“Kenapa kadonya kosong, Nak?”

Dino kembali bergerak. Seperti berpantonim. Dalam ruang remang, panggung lantai dengan satu jendela. Tesebar debu kasur yang seperti salju. Dino menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribu yang disembunyikannya sejak dua hari yang lalu. Maaf, Ibu. Dino ingin sekali mengatakannya. Tapi dia tetap membisu. Dia hanya menundukkan kepala sampai sejajar kaki Ibu.

“Tak apa, Nak… ” kata Ibu, ia bicara dengan lembut dan sangat hati-hati.

Kubungkus cinta dan bahagia buat Ibu. Selamat ulang tahun Ibu. Dino bergerak sekali lagi. Kata-katanya itu membaur dengan udara dan tersampaikan ke ruang telinga Ibu. Mungkin hanya Ibu yang paling mengerti pesan-pesan itu. Dino akhirnya bisa melihat wajah Ibu bahagia. Dino kemudian bernyanyi di hari ulang tahunnya. Suaranya merdu, meski ia terlahir bisu.

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *