Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Luna & Hawn: Pencuri Cahaya

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Luna 12 tahun, dan Hawn 8 tahun, hidup di masa dimana petir-petir di dalam awan bisa ditarik dengan pilar-pilar penjaring petir yang menjulang tinggi. Petir-petir yang seolah ditarik langsung dari langit itu kemudian menjadi sumber energi tak terbatas yang menjadikan bumi tercahayai sepanjang waktu dan hampir tak memiliki malam.

 

Meski demikian tetap ada tempat-tempat gelap. Dan hutan-hutan.

 

Hutan … tempat yang lebih pantas untuk tempat tinggal seekor gajah ketimbang untuk lokasi sebuah rumah hunian di negeri yang hampir tanpa malam.

 

Ratusan kilometer dari kota tempat tinggal mereka yang dikelilingi gurun tandus, padang ilalang, dan pohon-pohon yang tumbuh dengan diatur, Erthli, nenek mereka, tinggal di sebuah desa yang dikelilingi bukit-bukit alam dan berbatasan dengan hutan. Rumah sang nenek berbatasan langsung dengan Hutan Hilang yang dilarang untuk dimasuki lantaran merupakan hutan dengan pohon-pohon berumur ribuan tahun – hutan yang permukaan tanahnya tak bisa disentuh oleh cahaya matahari namun konon memiliki tempat-tempat di mana bintang-bintang akan berjarak seuluran tangan.

 

Hawn sering mendengar cerita-cerita tentang hutan, namun baru untuk pertama kalinya ia melihat hutan. Ia terpesona. Hutan Hilang. Sejak awal kedatangannya ia memandangi hutan itu dengan penuh keingintahuan. Seperti apa dalamnya? Segelap apa?

 

Malam hari pertama kedatangan setelah makan malam dan menjelang tidur ia pergi ke beranda atap rumah. Seolah telah tersihir oleh pesona hutan ia ingin mengakrabkan diri dengan teman barunya itu. Namun, sesaat sebelum kembali menikmati hutannya sejenak dipusatkannya perhatiannya ke angkasa di atasnya untuk sesuatu yang telah direncanakannya jauh sebelumnya.

 

Dipandanginya langit dengan penuh harap. Lalu, berangsur-angsur wajah penuh harapnya berubah menjadi wajah kecewa; bahkan meski di langit bulan tampak nyaris bulat sempurna.

 

Perhatian Hawn kemudian beralih pada hutan dengan siluet-siluet pepohonan raksasanya yang membentang luas di depan. Ia mulai menggulirkan asanya, dari langit ke hutan. Dari cahaya ke kegelapan.

 

Luna menyadari kegundahan adiknya,

 

“Kenapa?” tanyanya.

 

“Apa pernah Kakak berpikir kalau dunia ini terlalu terang?” tanya Hawn tanpa basa-basi.

 

Luna tersenyum kecut. Pertanyaan Hawn untuknya terbilang ganjil bahkan menjurus kasar. Bukan jenis pertanyaan yang ingin didengarnya. Namun, ia sudah terbiasa dengan sikap adiknya yang tidak pernah mempermasalahkan batasan.

 

“Maksudmu apa?”

 

“Katanya tempat ini desa. Tapi, malamnya ternyata sama saja seperti di rumah,” jelas Hawn tanpa merasa bersalah. “Lampu-lampu yang ada di luar terlalu bersinar.”

 

“Setahuku ada dua hal yang membuat suatu tempat disebut desa. Pertama, masyarakatnya hidup dari bercocok tanam. Kedua, penduduknya sedikit. Desa sama sekali bukan berarti tempat yang teknologinya tertinggal atau terbelakang,” jelas Luna. “Kenapa? Kau keberatan kalau lampu-lampu di desa juga terlalu bersinar?”

 

“Langit malamnya jadi terlihat samar. Apa artinya malam jika kita tidak dapat melihat bulan dan bintang? pikir Hawn.

 

Langit, batin Luna dengan satu tarikan napas yang cukup berat. Ada bumi dan ada langit.

 

“Hawn,” ujarnya kemudian. “Sebenarnya, dunia ini seperti apa?” Ia ingin tahu. Ia kerap ingin tahu itu. Berharap bisa tahu.

 

“Seperti apa? Hm …”

 

“Penuh hal-hal menarik?”

 

“Yah, memang cukup banyak.”

 

“Apa akan ada bedanya kalau aku bisa melihat?”

 

Hawn ragu untuk menjawab. “Yah …”

 

“Kupikir juga begitu,” Luna menghela napas lesu. “Andai saja aku bisa melihat. Sehariiiii saja.”

 

“Satu hari?”

 

“Ya. Sekadar untuk merekam sebanyak mungkin hal-hal menarik di dunia ini.”

 

“Tapi …”

 

“Kenapa?”

 

“Satu hari tidak akan cukup.”

 

“Yang sangat ingin kulihat cuma beberapa.”

 

Ibu, Ayah, kau, dan aku …

 

Aku ingin tahu siapa aku. Aku ingin tahu adakah bedanya antara aku dengan wajah dan tanpa wajah. Aku ingin tahu adakah bedanya antara kau dengan wajah dan tanpa wajah.

 

“Tetap tidak akan cukup.”

 

“O? Begitu?”

 

“Tapi, tenang saja. Sabar saja. Nanti juga ada yang jatuh.” Pasti. Harus. Bagaimanapun caranya.

 

“Maksudmu?”

 

“Kakak ingat aku baru kemarin bilang bintang jatuh bisa mengabulkan segala permohonan?”

 

“Ya.”

 

“Aku akan carikan satu untuk Kakak.” Hawn mengarahkan pandangannya ke hutan, jauh ke dalam. Aku pasti mendapatkannya bagaimanapun caranya, batinnya.

 

“Aku sendiri ingin Kakak bisa melihat indahnya dunia ini. Itu akan jadi permohonan pertamaku. Dan akan terus jadi permohonanku sampai terkabul.”

 

“Sungguh?”

 

“Sungguh!”

 

Luna tersenyum senang. Wajahnya berseri dan jadi tampak lebih bercahaya dari bulan purnama yang tercemari pendaran terang lampu.

 

“Wow; terima kasih. Aku janji pasti membalasnya. Nanti, setelah bisa melihat aku juga akan mencari bintang jatuh sampai dapat dan permohonannya adalah apa pun yang kau ingin.” Ia percaya Tuhan tapi belum tahu Tuhan bisa melakukan apa untuknya. Jadi, meski sadar bintang jatuh tidak akan sehebat Tuhan, ia mencoba menaruh harapan besar bahwa bintang jatuh bisa melakukan sesuatu untuknya.

 

“Janji?”

 

“Janji.”

 

Keduanya mengaitkan kelingking sebagai ikrar kesepakatan.

 

“Sekarang kita harap saja semoga cerita soal bintang jatuh itu benar.”

 

“Ya. Semoga.”

 

“Dan,” kata Luna, “jangan terlalu memaksakan diri.”

 

Keduanya lalu menunggu. Penuh harap. Namun, malam itu hingga lewat tengah malam tak juga terlihat satu bintang pun yang jatuh.

 

Hawn merasa tak berdaya. Pandangannya terpaku ke hutan. Terlalu terang, batinnya sedih.

 

**

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *