Melacak Jejak Sejarah di Museum Daerah Kabupaten Subang

Subang adalah salah satu kota yang terletak di provinsi Jawa Barat. Bagiku, kota yang tidak seberapa besar ini memiliki makna yang cukup penting, mengingat sudah lebih dari separuh umurku kuhabiskan di kota yang berbatasan langsung dengan Bandung ini, dengan Gunung Tangkubanparahu menjulang dengan gagah di sebelah selatan.

Kehadiran gunung yang mewarnai kenampakan alam Kabupaten Subang ini pun turut memperkaya produk pertanian dan perkebunan yang dihasilkan, yang antara lain berupa nanas, teh, dan karet.

Ragam komoditas perkebunan ini terutama diperoleh dari dataran tinggi berhawa sejuk di kaki Gunung Tangkubanparahu, yang juga terkenal dengan aneka wisata alamnya seperti air terjun yang tercurah dari atas gunung, pemandian air panas, dan tentu saja kawah gunungnya.

Namun, tidak hanya Subang bagian selatan saja yang kaya dengan objek wisata alam. Di bagian utara yang berbatasan dengan Laut Jawa pun banyak dijumpai pantai-pantai yang kerap dikunjungi wisatawan, seperti Pantai Pondok Bali, Patimban yang kini telah menjadi pelabuhan internasional, dan lain sebagainya.

Namun, selain itu ada pula hal lain yang tersembunyi, yaitu wisata sejarah.

Memang, wisata sejarah barangkali memang tidak sepopuler jenis wisata lainnya, khususnya di daerah tempat tinggalku. Banyak yang berpendapat bahwa mempelajari sejarah adalah hal yang membosankan.  Namun, aku tidak sependapat. Bagiku, mengetahui riwayat masa lalu tidak kalah serunya dengan mengikuti outbond yang sering dilakukan di berbagai tempat wisata di Gunung Tangkubanparahu , yang identik dengan hamparan perkebunan teh yang terbentang luas.

Apalagi, daerah tempat tinggalku ini ternyata memiliki sejarah yang panjang, dimulai dari zaman es hingga sekarang. Hal itu dipertegas oleh kunjunganku ke Museum Daerah Kabupaten Subang pada 26 Agustus 2014 yang lalu, dimana aku yang masih menikmati semester-semester awal di bangku perkuliahan berpetualang menjelajah waktu.

Sebenarnya, selain museum ini Subang masih memiliki beberapa objek wisata sejarah lainnya, seperti situs Nyi Subang Larang yang di zaman dahulu merupakan tempat tinggal istri Prabu Siliwangi, Museum Amerta Dirgantara Lanud Suryadharma, dan Rumah Sejarah Lanud Suryadharma Kalijati yang merupakan saksi bisu menyerahnya Belanda pada Jepang pada 8 Agustus 1942. Namun, karena padatnya jadwal kuliahku saat itu, baru Museum Daerah Kabupaten Subang saja yang sempat kukunjungi.

Museum ini sendiri terletak di pusat kota Subang yang tentunya mudah untuk diakses dari segala penjuru kota. Yang unik, gedung dimana koleksi museum ini dipamerkan juga adalah sebuah bangunan bersejarah warisan masa kolonial Belanda, yang kini dikenal dengan sebutan Wisma Karya.

Tepatnya, gedung yang kini digunakan juga sebagai tempat perkantoran ini diresmikan pada tahun 1929. Dan sejak saat itu, gedung yang memiliki nama asli Societeit ini digunakan sebagai gedung pertemuan, dimana orang-orang yang mayoritas adalah para demang, pegawai, dan petinggi Pamanoekan en Tjiasem Landen berkumpul, berpesta, bermain bilyar atau golf,  dan sebagainya.

Pamanoekan en Tjiasem Landen sendiri adalah sebuah perusahaan perkebunan, yang arealnya mencakup hampir seluruh wilayah Kabupaten Subang sekarang.  Perusahaan ini berdiri pada masa kekuasaan pemerintah Inggris, tepatnya pada tahun 1812. Ketika itu, dua pengusaha yang bernama Munting dan J. Shrapnell membeli tanah tersebut, namun di tahun 1840 kepemilikannya berpindah pada Pieter Willem Hoffland yang merupakan seorang saudagar kopi asal Belanda. Dan, di kemudian hari sosok tuan tanah yang ketika itu menguasai nyaris seluruh wilayah Subang itu diabadikan dalam bentuk patung di Museum Daerah Kabupaten Subang.

Namun, bukan itu saja. Kabarnya, alun-alun kota Subang yang terletak tidak jauh dari gedung ini dulunya adalah sebuah lapangan golf yang sangat luas, terbukti dari adanya peralatan golf kuno di museum ini,  meski sayangnya lapangan golf tersebut kini tidak terlihat lagi bekasnya, karena kebutuhan akan pembangunan kota yang terus berkembang perlahan telah menggerus sisa-sisa masa silam.

Kembali ke koleksi museum, benda-benda yang dipamerkan cukup menjawab rasa ingin tahuku mengenai riwayat kota tempat tinggalku ini, meskipun jumlahnya memang tidak banyak.

Dari sanalah aku akhirnya tahu bahwa pada zaman es wilayah Subang bagian utara merupakan laut, terlihat dari adanya fosil kerang dan aneka makhluk laut lainnya.

Namun, tidak hanya wilayah laut saja yang kaya dengan peninggalan fosil-fosil. Bergeser ke daratan, wilayah ini pun tidak ketinggalan memberikan kekayaan peninggalan masa silam.

Dari penjelasan yang mencapai pendengaranku, ternyata di museum ini terdapat pula fosil tanduk banteng purba serta rahang atas Stegodon alias gajah purba. Selain itu, fosil rusa , babirusa,  dan kerbau purba turut pula mewakili keragaman fauna pada masa itu.

Tepatnya di era Pleistocen, dimana daratan benua Asia, Sumatera dan Jawa yang masih bersatu memudahkan migrasi hewan. Itulah sebabnya, di Museum Nasional yang berada di Jakarta Pusat pun terdapat fosil Stegodon.

Namun, yang membuatku semakin takjub adalah fakta bahwa fosil makhluk hidup yang ada di Museum Daerah Kabupaten Subang ini tidak hanya berasal dari makhluk-makhluk kerajaan atau kingdom Animalia. Terdapat pula fosil-fosil kayu yang berasal dari era yang sama. Sungguh merupakan hal yang menakjubkan, mengingat bahwa kayu tersebut tidak hancur atau mengalami dekomposisi kendati telah melalui masa ribuan tahun.

Informasi tentang flora dan fauna itu kemudian berlanjut dengan berbagai artefak dari masa prasejarah, dimana peradaban manusia mulai berkembang kendati mereka belum mengenal tulisan. Fakta ini kuketahui dari berbagai peralatan batu yang terpajang di sana, seperti kapak perimbas, kapak sepatu, dan kapak lonjong.

Melaju ke zaman perundagian dimana manusia mulai mengenal aneka teknologi, terdapat sebuah artefak yang cukup mengesankan berupa sebuah bejana perunggu yang telah berusia 2.000 tahun. Pada masa itu, benda yang terbuat dari perunggu ini biasa digunakan di dalam upacara-upacara ritual pemujaan terhadap arwah leluhur atau disebut juga animisme.

Menariknya, benda berukuran besar ini ternyata hanya ditemukan di tiga tempat di Nusantara, yaitu Kerinci, Madura, dan Subang, dimana bejana perunggu yang ditemukan di Subang merupakan yang terbesar di Indonesia.

Dan yang membuatku lebih terkesan, di permukaannya terdapat berbagai corak yang membuktikan bahwa teknologi metalurgi pada masa itu telah cukup maju. Bahkan, kabarnya corak yang berasal dari kreativitas manusia masa silam tersebut merupakan yang paling kompleks dibandingkan dua bejana perunggu lainnya. Sungguh sebuah kebanggaan tersendiri bagiku sebagai warga Subang, dan terutama anak bangsa Indonesia.

Dan di kemudian hari aku sempat mendengar bahwa corak-corak hasil kreativitas para leluhur ini akan dijadikan corak batik khas Kabupaten Subang. Corak ini disebut tumpal, berupa segitiga yang meruncing ke atas , yang melambangkan kehidupan bawah, tengah, dan atas dalam kepercayaan masa itu.

Memasuki masa sejarah, khususnya Hindu-Buddha, ternyata Subang pun memiliki peninggalan sejarah yang cukup menarik. Arca Nandi, lembu yang merupakan hewan tunggangan Dewa Siwa turut pula menjadi bukti peradaban manusia dari zaman ini.

Masih dari era sejarah, terdapat pula keramik-keramik antik yang merupakan bukti hubungan Nusantara dengan Tiongkok, khususnya dinasti Yuan dan Ming. Dinasti Yuan yang didirikan oleh suku bangsa Mongol tersebut bermula dari tahun 1271dan berakhir pada 1368. Sedangkan dinasti Ming berdiri setelahnya, yaitu pada 1368 hingga 1644.

Beralih ke zaman yang lebih modern, koleksi yang ada dimulai dengan berbagai artefak dari zaman kolonial Belanda. Salah satunya adalah patung P. W. Hoffland. Patung ini memiliki kisah yang unik, dimana artefak berbahan perunggu ini semula berada di pemakaman Kerkoff Subang.

Namun, patung ini kemudian hilang dicuri. Barulah bertahun-tahun kemudian benda yang menjadi saksi kejayaan perusahaan Pamanoekan en Tjiasem Landen ini ditemukan dan dipindahkan ke tempatnya yang sekarang, yaitu di Museum Daerah Kabupaten Subang.

Sayangnya, aku masih belum mengetahui informasi lengkap mengenai hilangnya patung dan penemuannya kembali. Yang jelas, patut disyukuri bahwa artefak ini sudah ditemukan kembali dan menjadi bukti sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Subang, khususnya aku, yang ingin mengetahui riwayat kota tempat tinggalnya.

Selain itu, terdapat pula aneka senjata kuno, seperti pistol peninggalan VOC, samurai penjajah Jepang, dan keris serta kujang milik para demang yang pernah mengepalai daerah Subang pada masa lalu.

Berbagai peralatan rumah tangga pun tidak ketinggalan, seperti telepon dan peralatan makan antik.

Itulah kisah perjalananku menjelajahi sekelumit sejarah Kabupaten Subang. Melalui benda-benda ini, cukup banyak yang dapat dipelajari mengenai masa silam. Mari kita jaga kelestarian warisan sejarah kita, karena benda-benda koleksi Museum Daerah Kabupaten Subang tersebut adalah identitas budaya yang semestinya menjadi kebanggaan kita semua.

 

Subang, 12 Januari 2023

 

Last Updated on 4 bulan by Redaksi

Oleh Cchrysanova Dewi

Chrysanova Prashelly Dewi adalah alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Subang. Gadis yang mengalami ketunanetraan sejak berusia lima belas tahun ini gemar menulis, membaca, dan mendengarkan musik

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *