Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Mengenal Ciri-Ciri Anak Berbakat

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Jakarta, Kartunet.com – Ada banyak ciri-ciri yang mampu mengidentifikasikan seorang anak sebagai anak berbakat. Menurut Matinson (1974), setidaknya ada 14 ciri yang mengidentifikan seseorang sebagai anak berbakat.


 


Pertama, anak berbakat menurut Matinson harus mempunyai pengamatan yang tajam. Maksudnya adalah suatu benda, kejadian, atau gejala alam mungkin biasa saja di mata orang-orang dan anakpada umumnya. Akan tetapi, itu semua bisa menjadi suatu hal yang sangat menarik bagi anak berbakat yang akan mengamati dan menganalisis lebih dalam lagi.


 


Kedua, anak berbakat memiliki kemampuan berkonsentrasi untuk waktu yang panjang pada tugas dan minatnya. Hal ini bisa tampak ketika anak berbakat sedang melakukan aktivitas yang diminati dan sesuai keberbakatannya. Anak berbakat bisa bertahan jauh lebih lama dalam berkonsentrasi saat mengerjakan tugas dibandingkan anak pada umumnya.


 


Ketiga, anak berbakat menonjol dalam pola berpikirnnya yang kritis. Anak berbakat lebih banyak bertanya dan kritis terhadap apa yang ada di sekitarnya. Sikap kritis yang dimiliki anak berbakat tidak hanya pada lingkungannya, tetapi juga kritis kepada dirinya sendiri. Maksudnya, anak berbakat memiliki intesnsitas yang tinggi dalam mengkritisi diri sendiri dan menginstropeksi diri dalam segala hal yang telah dilakukannya. Jika memilik masalah, anak berbakat tidak hanya menanyakan kenapa dirinya bisa ada dalam  tapi juga menganalisa ke belakang dan dampaknya ke depan.


 


Keempat, anak berbakat senang mencoba hal-hal baru. Karena anak berbakat cenderung penantang dalam mencari pengalaman, keinginan atas segala hal yang menarik baginya diikuti oleh minat yang kuat dan kefokusan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal pada umumnya.


 


Kelima, anak berbakat mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi. Dalam ciri ini, anak berbakat menunjukkan kemampuannya dalam berimajinasi dan mengonsep suatu instrument melebihi anak pada umumnya.


 


Keenam, sebagaimana anak berbakat pada umumnya di masyarakat, anak berbakat senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah. Misalnya, anak berbakat senang dan kerap kali terlibat aktif dalam kegiatan karya ilmiah atau kompetisi penelitian.


 


Ketujuh, anak berbakat cepat menangkap hubungan-hubungan sebab akibat. Ciri yang satu ini berhubungan dengan daya kritis yang tinggi yang dimiliki anak berbakat. Anak berbakat mampu menganalisis dan menangkap hubungan sebab akibat dari suatu kejadian atau runutan siklus dalam ilmu pengetahuan tertentu.


 


Kedelapan, anak berbakat mempunyai perperilaku yang terarah pada tujuan. Kebanyakan dari anak berbakat sudah memiliki cita-cita atau rencana spesifik untuk masa depannya. Tingkat fokus yang tinggi yang dimilik anak berbakat berdampak pada keterarahan perilaku anak berbakat untuk mencapai tujuan masa depan yang direncanakan sendiri.


 


Kesembilan, anak berbakat mempunyai daya imajinasi yang kuat. Ciri yang satu ini erat korelasinya dengan kemampuan anak berbakat dalam menganalisis dan menangkap hubungan sebab akibat. Imajinasi anak berbakat biasanya membuahkan sebuah penemuan benda, konsep lingkungan, ataupun karya sastra.


 


Kesepuluh, karena anak berbakat memiliki kesenangan mencoba hal-hal baru, anak berbakat cenderung memiliki banyak kegemaran. Meskipun memiliki ketertarikan pada banyak hal, anak berbakat tetap mampu menjaga kefokusannya pada banyak hal yang diminatinya.


 


Kesebelas, anak berbakat mempunyai daya ingat yang kuat. Daya ingat yang kuat ini yang membedakan anak berbakat dengan anak pandai. Jika anak pandai mampu mencapai prestasi karena ketekunannya, anak berbakat mencapai prestasinya karena daya ingatnya yang kuat. Ketika sekali dijelaskan atau mendapatkan pengarahan, anak berbakat langsung mengerti dan menggingatnya dalam jangka waktu yang lebih lama daripada anak pada umumnya.


 


Kedua belas, anak berbakat adalah anak yang tidak cepat puas dengan prestasinya. Anak berbakat memiliki pribadi yang kompetitif, setiap hal yang dilakukannya berdasarkan kompetitif dan tidak mudah puas dengan yang telah dihasilkannya. Oleh karena itu, anak berbakat selalu mengembangkan kemampuannya meskipun pada satu posisi anak berbakat terkesan egois dan tidak mau mengalah.


 


Ketiga belas, anak berbakat cenderung peka (sensitif) dan sering kali menggunakan intuisi (firasat). Kepekaan anak berbakat bisa saja dikarenakan anak berbakat sangat kritis akan hal-hal di sekitarnya. Sehingga, ketika menemukan ketidaknyamanan dengan sekitarnya, anak berbakat peka akan penyebab ketidaknyamanannya.


 


Terakhir, anak berbakat cenderung menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan. Kebebasan yang dimaksud di sini adalah kebebasan dalam mengembangkan keberbakatannya. Anak berbakat tidak ingin ruang geraknya untuk memenuhi minat dan batasnya dibatasi.


 


Terkait keempat belas ciri-ciri yang dikemukakan Matinson di atas, Utami Munandar mananggapi bahwa sebenarnya ciri-ciri anak berbakat tidak banyak berbeda dari anak pada umumnya. Hanya saja, anak berbakat memiliki ciri tersebut dalam derajat yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan anak pada umumnya. Selain itu, tidak semua anak berbakat memiliki semua ciri-ciri tersebut. Ciri-ciri di atas bisa muncul beberapa saja pada anak berbekat, tetapi dengan tingkat yang tinggi. (nir)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *