Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Mengenal Schizophrenia (Disabilitas Psikososial)

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Mungkin, yang ada disini ada yang sudah tahu mengenai schizophrenia, atau mungkin juga belum. Sedikit cemilan informasi mengenai Schizophrenia yang termasuk disabilitas mental pada individu.

Mungkin ada diantara kita yang belum menyadari atau diam-diam saja karena stigma negatif karena gangguan psikososial ini.

Langsung saja yaaa masuk ke

1. Pengertian Schizophrenia

Schizophrenia ditemukan oleh Emil Kraeplin pada 1893, kemudian dikembangkan oleh Emil Kraeplin, Eugen Bleuler dan Kurt Schneider. Di dalam dokumennya Eugen Bleuler, ia mengidentifikasi Schizophrenia yang terdapat pada kaum tua Mesir Pharaonic, adanya Tekanan, dementia, seperti halnya gangguan pikiran dalam Schizophrenia diuraikan secara detil di dalam buku tentang hati, macam-macam penyakit fisik dianggap sebagai gejala dari hati dan uterus dan bearasal dari pembuluh darah atau keadaan penuh dengan nanah, urusan fecal, setan atau racun.
Emil menyebut Schizophrenia dengan dementis praecox, dementis: diluar dari jiwa seseorang, praecox : sebelum terjadinya tingkat kematangan seseorang, jadi dementia praecox adalah penyakit yang disebabkan oleh patologi yang spesifik yang berupa hilangnya kesatuan antara pemikiran, perasaan, tindakan dalam diri seseorang yang meliputi waham, halusinasi, dan perilaku motorik yang aneh. Menurut Eugen, Schizophrenia berasal dari kata skizos : pecah belah dan phren : jiwa. Jadi, Schizophrenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (psikosis), halusinasi, khayalan (kepercayaan yang salah), pikiran yang abnormal dan mengganggu kerja dan fungsi sosial.
Davidson dan Neale (dalam Anita, 2004) menyebutkan bahwa Schizophrenia merupakan suatu kelompok gangguan psikotik yang dicirikan dengan adanya gangguan pikiran, emosi dan perilaku seseorang, dimana ide-idenya seringkali tidak logis, adanya persepsi yang salah, gangguan dalam aktivitas motorik dan memiliki afek yang datar bahkan seringkali tidak sesuai. Hal ini menyebabkan individu semakin menjauh dari orang-orang disekitarnya dan individu tidak mampu menangkap realita yang terjadi, dan mereka juga sering mengalami halusianasi dan
delusi.

Menurut Kamus Lengkap Psikologi (2000), Schizophrenia didefinisikan sebagai satu nama umum sekelompok reaksi psikotis, dicirikan denga pemunduran emosional dan afektif dan tergantung pada tipe dan adanya halusinasi, delusi, tingkah laku negativistis, dan kemunduran atau perusakan yang progresif.
Berdasarkan DSM IV-R (dalam Journal Of Psychiatri, 2008), schizophrenia adalah suatu gangguan yang terjadi sekurang-kurangnya enam bulan termasuk symptom fase aktif selama satu bulan yang diikuti dengan adanya delusi, halusinasi, disorganisasi dalam bicara, tingkah laku yang kasar, dan symptom negatif.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Schizophrenia adalah kekacauan jiwa yang serius ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (psikosis), halusinasi, khayalan (kepercayaan yang salah), pikiran yang abnormal dan mengganggu kerja dan fungsi sosial yang dicirikan dengan adanya gangguan pikiran, emosi dan perilaku seseorang, dimana ide-idenya seringkali tidak logis, adanya persepsi yang salah, gangguan dalam aktivitas motorik dan memiliki afek yang datar bahkan seringkali tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

2. Gejala-gejala Schizophrenia

Karakteristik utama orang yang menderita gangguan emosi berat dan sangat berat adalah kehilangan hubungan dengan dunia nyata, serta proses berpikir yang terpecah, dengan menunjukkan perilaku yang tidak tepat dan gejala-gejala seperti (dalam American Journal Of Psychiatri,
2008):

a. Gejala positif

Menunjukkan tanda seperti paranoid, sukar berbicara, pikiran kacau dan kadangkala perlakuan menjadi tidak terkendali. Pasien kerap mengalami halusinasi dan mendengar suara orang bercakap yang menyuruh mereka melakukan sesuatu hal. Biasanya pasien akan melakukan perbuatan yang dia sendiri tidak tahu akibatnya. Pasien lebih suka mengisolasi diri, tidak mau berbaur dengan orang lain, berbicara atau tersenyum seorang diri, mutu kerja yang menurun, sukar tidur, selalu merasa resah.
b. Gejala negatif

Pasien kehilangan upaya dalam membuat perencanaan, berbicara, menunjukkan emosi dan mencari kegembiraan dalam hidup. Gejala ini sering dianggap kemurungan.
c. Gejala kognitif

Pasien mengalami kesukaran dengan pikiran yang menumpuk, ingatan yang terganggu dan adakalanya mereka tidak boleh membuat sembarang keputusan. Bagaimanapun, gejala ini memberi kesan negatif dalam jangka masa panjang dan mempengaruhi kehidupan pasien. Gejala lain dapat mengakibatkan kemurungan, keresahan berpanjangan dan kadangkala timbul keinginan bunuh diri.
Davidson dan Neale (dalam Anita, 2004) membagi gejala schizophrenia

menjadi :

a. Gejala positif, yang terdiri dari halusinasi dan delusi,
b. Gejala negatif, yang terdiri dari avoliation, anhedonia, alogia, dan afek datar (flat affect).

3. Karakteristik Schizophrenia

Ada beberapa karakteristik yang dikemukakan oleh Cameron (dalam Wulan, 2008) :

a. Adanya gangguan dalam berhubungan dengan realitas, yang ditandai dengan adanya delusi dan halusianasi,
b. Adanya gangguan emosional, yang tertampil dalam tingkah laku impulsif dan sulit diramalkan,
c. Adanya gangguan dalam berhubungan dengan objek disekitarnya,
d. Adanya gangguan dalam fungsi mempertahankan diri,
e. Adanya gangguan bahasa dan berpikir yang diawali oleh regresi pada penderitanya dan mengakibatkan kecakapan proses berpikir sekundernya menjadi rusak,
Schizophrenia ditandai dengan gangguan dalam pemikiran dan dalam mengekspresikan pikiran melalui pembicaraan yang koheren dan bermakna (dalam Schizophrenia). Gangguan dalam isi dan pikiran, gangguan yang paling nyata pada isi pikiran mencakup waham (delusi), waham adalah suatu keyakinan yang salah yang tidak dapat dijelaskan oleh latar belakang budaya penderita ataupun pendidikan; penderita tidak dapat diyakinkan oleh orang lain bahwa keyakinannya salah meskipun banyak bukti kuat yang dapat diajukan untuk membantah keyakinan penderita, waham memiliki bentuk yang berbeda ada beberapa jenis waham yaitu (dalam schizophreniasymptoms) :
a. Grandeur (waham kebesaran) : penderita yakin bahwa mereka adalah seseorang yang sangat luar biasa.
b. Guilt (waham rasa bersalah) : penderita merasa bahwa mereka telah melakukan dosa yang sangat besar.
c. Ill health (waham penyakit) : penderita yakin bahwa mereka mengalami penyakit yang sangat serius.
d. Jealousy (waham cemburu) : penderita yakin bahwa pasangan mereka telah berlaku tidak setia.
e. Passivity (waham pasif) : penderita merasa mereka dikendalikan atau dimanipulasi oleh berbagai kekuatan dari luar.
f. Persecution (waham kejar) : penderita merasa dikejar-kejar oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mencelakainya.
g. Poverty (waham kemiskinan) : penderita takut akan mengalami kebangkrutan, dimana kenytaannya tidak demikian..
h. Reference (waham rujukan) : penderita merasa dibicarakan oleh orang lain secara luas.
Gangguan dalam bentuk pikiran, orang yang mengalami schizophrenia cenderung berfikir dalam bentuk yang tidak terorganisasi dan tidak logis, bentuk atau struktur proses pikiran dan juga isinya seringkali terganggu. Klinisi menyebut jenis gangguan ini sebagai gangguan pikiran. Gangguan pikiran dapat dikenali melalui gangguan dalam organisasi, pemrosesan, dan kendali pikiran. Kelonggaran dalam asosiasi merupakan satu dari konsep empat A Blueler. Bentuk pembicaraan orang yang mengalami Schizophrenia seringkali tidak teratur, dengan bagian kata yang dikombinasikan secara tidak sesuai atau kata-kata dirangkai untuk membuat rima yang tidak bermakna, kurang menunjukan keterkaitan antara ide atau pikiran yang diekspresikan. Pada penderita yang parah pembicaraannya tidak dapat dimengerti.Tanda-tanda yang kurang umum terjadi mencakup neologisme yaitu kata-kata yang yang diucapkan penderita kurang atau tidak memiliki arti bagi orang lain, perseverasi yaitu pengulang yang tidak sesuai namun menetap pada kata- kata yang sama, clanging yaitu merangkaikan secara bersama kata atau bunyi berdasarkan rima, blocking yaitu secara tiba-tiba pembicaraan atau pikiran terputus. Gangguan lebih sering terjadi selama episode akut namun mungkin juga muncul pada fase residual, gangguan pikiran yang muncul diluar episode akut berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk (Salmon, 1974).

Kekurangan dalam pemusatan perhatian orang-orang dengan schizophrenia akan tampak mengalami kesulitan menyaring keluar stimulus yang tidak relevan dan menggangu, kekurangan yang menyebabkan hampir tidak mungkin untuk memusatkan perhatian dan mengorganisasikan pikiran mereka, karena ketidaknormalan otak yang mempersulit mereka untuk memusatkan perhatian tugas yang relevan dan menyaring keluar informasi yang tidak penting. Orang yang mengalami schizophrenia tampak waspada berlebihan, atau menjadi benar-benar sensitif terhadap suara-suara yang tidak relevan, terutama tahap awal gangguan (Salmon, 1974).
Gangguan gerakan mata penderita schizophrenia kronis menunjukan tanda-tanda gangguan gerakan mata gangguan gerakan mata meliputi gerakan mata yang tidak normal saat menelusuri sebuah target yang bergerak melintasi lapang pandangan. Gangguan gerakan mata tampaknya melibatkan kerusakan pada proses proses involunter di otak yang bertanggung jawab terhadap perhatian secara visual (Alloy, 2004).
Gangguan persepsi halusinasi termasuk gangguan yang paling umum pada Schizophrenia merupakan gambaran yang dipersepsi tanpa adanya stimulus dari lingkungan. Halusinasi dapat melibatkan setiap indra, halusinasi Taktil (seperti digelitik, sensasi listrik, terbakar), halusinasi Somatis (seperti merasa ada ular yang menjalar dalm perut), halusinasi Visual (melihat sesuatu yang tidak ada), halusinasi Gustatoris (merasakan dengan lidah sesuatu yang tidak ada), halusinasi Olfaktoris (mencium bau yag tidak ada), halusinasi pendengaran suara-suara mungkin didengar sebagai perempuan atau laki-laki dan seperti berasal dari dalam atau dari luar kepala individu, orang yang mengalami halusinasi mungkin mendengar suara-suara tersebut berbicara tentang mereka dalam bentuk orang ketiga yang memperdebatkan kebaikan atau kesalahan mereka. halusinasi yang disebabkan obat cenderung berupa visual dan sering meliputi bentuk-bentuk abstrak. Halusinasi schizophrenia kebalikannya cenderung lebih berbentuk penuh dan kompleks (Brown, 2007).

Gangguan emosi gangguan afek atau respon emosional pada schizophrenia ditandai oleh afek yang tumpul (afek datar). Afek datar disimpulkan dari ketiadaan ekspresi emosi pada wajah dan suara. Penderita schizophrenia berbicara secara monoton dan mempertahankan wajah tanpa ekspresi, penderita tidak mengalami rentang normal dalam respon emosi terhadap orang-orang dan kejadian-kejadian atau respon mereka tidak sesuai (Halgin, 1997).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa seseorang yang menderita Schizophrenia mempunyai beberapa karakteristik seperti waham, adanya gangguan dalam berhubungan dengan realitas, yang ditandai dengan adanya delusi dan halusianasi, gangguan emosional, yang tertampil dalam tingkah laku impulsif dan sulit diramalkan, adanya gangguan dalam berhubungan dengan objek disekitarnya, adanya gangguan dalam fungsi mempertahankan diri, adanya gangguan bahasa dan berpikir yang diawali oleh regresi pada penderitanya dan mengakibatkan kecakapan proses berpikir sekundernya menjadi rusak, yang ditandai dengan gangguan dalam pemikiran dan dalam mengekspresikan pikiran melalui pembicaraan yang koheren dan bermakna.

4. Faktor penyebab Schizophrenia

a Kekurangan Fisiologis

Menurut O’Leary dkk. (dalam schizophrenia), kekurangan fisiologis yang mendasar dalam kemampuan untuk mempertahankan stimulus yang relevan dan mengabaikan stimulus yang mengganggu orang-orang yang Schizophrenia.
b Impuls-impuls yang berasal dari id

Menurut pandangan psikodinamika oleh Sigmun Freud, Erik Erikson, dan Harry Stack Sullivan (dalam Anita, 2004), Schizophrenia mencerminkan ego yang dibanjiri oleh dorongan- dorongan seksual primitif atau agresif atau impuls-impuls yang berasal dari id yang jadi penyebab halusinasi dan waham, sehingga mengancam ego yang dapat mengakibatkan seseorang mundur ke periode awal dari tahapan oral, yang disebut narsisme primer.
c Prinsip conditioning dan belajar observasi dalam perspektif belajar mungkin memegang peranan dalam perkembangan beberapa bentuk perilaku Skizofrenik. Menurut operant conditioning, imbalan mempengaruhi frekuensi verbal yang aneh dibandingkan yang normal dan pasien di rumah sakit dapat dibentuk untuk menampilkan perilaku yang aneh. Menurut Teori sosial-kognitif, adanya modelling terhadap perilaku Skizofrenik yang terjadi di rumah sakit jiwa (dalam Kagan, 1998).
d Dari perspektif biologis Schizophrenia dapat disebabkan oleh (dalam schizophrenia) :

1) Faktor genetis,

Menurut Charney, Nestler, Gottesman & Bunney (dalam Anita, 2004), Schizophrenia dipengaruhi kuat oleh faktor genetis. Menurut Erlenmeyer-Kimling dkk. (dalam Wulan, 2008), Schizophrenia sebagaimana banyak gangguan lainnya, cenderung menurun dalam keluarga.
Menurut Erlenmeyer-Kimling dkk., serta Kendler & Diehl, peningkatan risiko Schizophrenia pada orang-orang yang memiliki hubungan biologis dengan penderita gangguan. Menurut APA (dalam American Journal Of Psychiatri, 2008), serta Kendler & Diehl (dalam Anita,
2004), secara keseluruhan, keluarga tingkat pertama dari orang-orang yang mengalami Schizophrenia (orang tua dan saudara kandung) memiliki sekitar sepuluh kali lipat risiko yang lebih besar untuk mengalami Schizophrenia dibandingkan orang lain yang berada di sekitarnya.
Menurut Gottesman, semakin dekat hubungan genetis antara orang yang didiagnosis Schizophrenia dan anggota keluarga mereka, semakin besar concerdance rate (kecenderungan) mengidap Schizophrenia pada keluarga mereka. Menurut Rosenthal dkk.(dalam Wulan, 2008), anak yang di adopsi dan dibesarkan terpisah dari ibu kandungnya beresiko tinggi mengidap Schizophrenia.
Menurut Lewin, Malaspina dkk. (dalam Anita, 2004), ayah yang berusia lebih dari 50 tahun pada sebuah penelitian, memiliki kemungkinan tiga kali lipat untuk memiliki anak yang mengalami Schizophrenia daripada ayah yang berusia kurang dari 25 tahun. Rathus, et al., 1991 (dalam Suryani, 2006), mendapatkan penyebab Schizophrenia yang di klasifikasikan menjadi :
a) Distinct Heterogenity Model

Model ini menyatakan bahwa schizophrenia disebabkan oleh kerusakan gen yang dapat diikuti oleh gen-gen tertentu dan yang hanya disebabkan oleh faktor lingkungan. Schizophrenia catatonic, misalnya, mungkin merupakan penyakit yang muncul secara genetis yang akhirnya diikuti ketidaknormalan gen pada kromosom tertentu.
b) Monogenic Model

Model ini menyatakan bahwa semua bentuk schizophrenia dapat disebabkan oleh suatu gen yang cacat. Gen yang cacat ini akan menyebabkan schizophrenia pada orang yang menerima gen itu dari kedua orang tuanya (monozygote), namun kemungkinannya kecil bila hanya dari satu orang tua (heterozygote).
c) Multifactorial-Polygenic Model

Menurut model ini, schizophrenia disebabkan oleh pengaruh berbagai gen, trauma biologis prenatal dan postnatal dan tekanan psikososial yang saling berinteraksi. Aspek schizophrenia muncul bila faktor-faktor itu berinteraksi melebihi batas ambang tertentu.
2) Faktor biokimia,

Menurut Kane (dalam Wulan, 2008), Obat-obatan neuroleptik menghambat dan mengurangi aktivitas reseptor dopamin sehingga dapat menghambat transmisi berlebih dari impuls-impuls neuron yang dapat meningkatkan perilaku Schizophrenia. Menurut Busatto dkk. (dalam Jamaluddin, 2004), kita seharusnya juga memperhatikan bahwa neurotransmitter seperti norepinefrin, serotonin, dan GABA, juga mempengaruhi perilaku Schizophrenia.
3) Infeksi virus,

Menurut Mertensen dkk., serta Tam & Sewell (dalam Lazarusli, 2005), teori virus dapat mempengaruhi penemuan dari banyaknya jumlah orang yang kemudian mengalami Schizophrenia apabila dilahirkan pada musim dingin. Ketidaknormalan otak merupakan hasil dari infeksi virus pada masa prenatal, nutrisi janin yang tidak adekuat (kurang bergizi), kerusakan genetis, atau trauma kelahiran, atau komplikasi (McGlashan & Hoffman, McNeil, Cantor- Graae & Weinberger, Rosso dkk., Wahlbeck dkk. dalam Anita, 2004).
4) Ketidaknormalan otak,

Para peneliti mencoba menggunakan teknik pencitraan otak yang modern, termasuk PET scan, EEG, CT scan, MRI yang dapat menggali kerja bagian dalam dari otak. Menurut Gur dkk., Ettinger dkk., dari hasil penelitian pemindaian otak menunjukkan hasil adanya ketidaknormalan otak pada orang-orang yang menderita Schizophrenia. Penemuan yang paling jelas dari kerusakan struktural di otak dibuktikan oleh pembesaran ventrikel di otak yang terjadi pada tiga hingga empat pasien Schizophrenia (Coursey, Alford, & Safarjan dalam Anita,
2004).

Otak dari pasien Schizophrenia rata-rata lima persen lebih kecil dari volume otak pada individu normal, dengan pengurangan volume terbesar pada korteks serebral (Cowan & Kandel dalam Lazarusli, 2005). Berkurangnya akrifitas gelombang otak pada korteks preffrontalis dari pasien Schizophrenia (Kim dkk., Ragland dkk. dalam Wulan, 2008). Ketidaknormalan korteks prefrontalis (yang mengendalikan berbagai fungsi kognitif dan emosional) pada penderita Schizophrenia mengakibatkan mereka mengalami kesulitan dalam mengorganisasikan pikiran- pikiran serta perilaku-perilaku dengan turut menampilkan tugas-tugas kognitif pada tingkat yang lebih tinggi, seperti memformulasikan konsep, memprioritaskan informasi, dan memformulasikan tujuan dan rencana (Barch dkk., Bertolino dkk., Callicot dkk. dalam Brodjonegoro, 2006).
Gangguan pada fisiologis otak di daerah subkortikal dapat mengakibatkan ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga terjadi ketidaknormalan pada pengaturan emosi, perhatian, pembentukan ingatan, berpikir (dalam schizophrenia). Menurut Haber & Fudge (dalam Brodjonegoro, 2006), Schizophrenia melibatkan terlalu aktifnya reseptor dopamin otak, yaitu reseptor yang terletak di neuron pascasinaptik di mana molekul dopamin terikat (teori dopamin). Penelitian terhadap pengaruh dopamine dilakukan dengan menggunakan tiga macam obat bius, yaitu phenothiazine, amphetamine, L-Dopa. Tubuh akan mengubah L-Dopa menjadi dopamine dan kadang-kadang menyebabkan gejala-gejala seperti schizophrenia (Sue, et al. dalam Brodjonegoro, 2006), dan amphetamine. Penyumbatan dopamine mungkin mempengaruhi gejala- gejala schizophrenia, tetapi tidak menjadi penyebab munculnya penyakit tersebut. Perubahan aktifitas dopamine mungkin terjadi setelah munculnya psikosis dan bukan sebelumnya (Sue, et al., 1986 dan Davison, et al., 1994 dalam Sri, 2007).

5) Faktor keluarga.

Faktor keluarga adalah adanya hubungan keluarga yang terganggu sejak lama dianggap berperan dalam perkembangan dan perjalanan gangguan Schizophrenia (Miklowitz dalam Hillary, 2007). Terjadinya komunikasi double-blind dalam keluarga menurut Gregory Bateson dkk. (dalam Nevid, 2005) berkontrubusi meningkatkan risiko terhadap perkembangan terkena Schizophrenia, contoh komunikasi ini yaitu seorang ibu yang bersikap dingin ketika anaknya mendekatinya, memarahi anak untuk menjaga jarak, selalu menyalahkan apapun yang dilakukan anak, menjaga pembicaraan tentang ketidakkonsistennya, tidak mentolerir kedekatan hubungan, tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk berpendapat, mengejar anak dengan tuntutan orang tua; hal ini dapat mengakibatkan anak menjadi tidak terorganisasi dan kacau. Pola komunikasi yang tidak jelas, samar-samar, terganggu, pembicaraan yang sulit untuk diikuti dan sulit untuk ditangkap intinya, sering ditemukan pada keluarga dari pasien Schizophrenia (Wahlberg dkk.dalam Nevid, 2005).

Menurut Miklowitz dalam Nevid (2005), orang tua dari penderita Schizophrenia menunjukkan tingkat penyimpangan komunikasi yang lebih tinggi daripada orang tua pada orang normal.
Selain itu, expressed emotion yang terganggu dalam anggota keluarga seperti bersikap kejam, mengkritik, tidak mendukung cenderung menimbulkan penyesuaian diri yang sangat buruk dan memiliki rata-rata kecenderungan untuk kambuh lagi penyakit yang dideriatnya setelah ia keluar dari rumah sakit (Cutting & Docherty, King & Dixon dalam Dadang, 2008).
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Schizophrenia disebabkan oleh adanya kekurangan fisiologis, impuls- impuls yang berasal dari id, conditioning, serta dilihat dari perspektif biologis.

Stigma negatif :
pemalas, bodoh, tidak berharga, tidak aman bersama, perilaku kekerasan (verbal dan non verbal), diluar kendali, selalu butuh pengawasan, kerasukan setan, penerima hukum dari Tuhan, tidak terduga, tidak dapat diandalkan, tidak bertanggung jawab, tidak dapat diobati, tidak memiliki hati nurani, tidak berkompeten untuk berkeluarga, menurunkan, tidak mampu bekerja, sepanjang hidup tidak sehat, membutuhkan rawat inap seumur hidup, jorok.

Referensi :

Sardjono, Tyaseta Rabita Nugraeni. (2008). Penulisan Ilmiah. (tidak diterbitkan). Depok : Universitas Gunadarma.
Komunitas Skizofrenia Indonesia (KPSI), 7 modul PSIKOEDUKASI SKIZOFRENIA
UNTUK CAREGIVERS/PELAKU RAWAT/KELUARGA.(2014).

Catatan :
1.Untuk mendiagnosa apakah anda/orang terkena ini tidak bisa sembarangan, butuh proses yang panjang. Proses ini hanya bisa dilakukan oleh Psikolog, psikiater, atau perawat jiwa.
2.Kebetulan langsung mendengar dari Prof.A.M.Heru Basuki yang kebetulan meneliti ini. Berikut perkataan beliau :

“Schizophrenia berasal dari beberapa faktor yakni keturunan, neurotransmitter, dopamin, psikososial (hal ini terjadi karena pria yang lari dari tanggung jawabnya karena sudah menghamili perempuan di luar nikah sehingga anak menjadi lahir tanpa kasih, hal ini diperparah dengan sang Ibu yang menolak anaknya yang membuat anak menjadi bingung karena kehilangan kasih sayang) dan mempunyai masalah dalam ekonomi”.

Terima kasih sudah berkenan membaca. Semoga bermanfaat, dapat dipahami dan dimengerti.

Kata Kunci:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *