Terima kasih dukungannya selama ini hingga Kartunet mencapai usia yang ke-11 19 Januari 2017
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

MENGENAL SISTEM BRAILLE JEPANG

 

Bahasa Jepang menjadi salah satu bahasa dunia yang banyak dipelajari dewasa ini.   Jepang adalah salah satu Negara super power yang berpengaruh di dunia internasional. Perekonomiannya sangat maju, sampai-sampai Negara Barat, khususnya Amerika kewalahan menghadapi perang dagang dengan Jepang. Barang-barang elektronik dan otomotif produksi Jepang merajai pasaran dunia.

Selain itu budaya popular Jepang seperti musik, drama, komik, dan kartun sangat digemari oleh generasi muda di seluruh dunia. Tak heran jika sedikit demi sedikit Bahasa Jepang menggeser Bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional nomor satu.

Namun yang paling sulit dipelajari dalam Bahasa Jepang adalah tulisannya. Aksara Jepang cukup rumit karena berbeda dengan aksara latin. Ada tiga macam aksara yang digunakan dalam Bahasa Jepang, yaitu kanji, katakana, dan hiragana. Ketiganya memiliki fungsi masing-masing. Kanji yang merupakan huruf gambar berasal dari Cina digunakan untuk menyatakan sebuah kata. Hiragana digunakan untuk menyatakan akhiran sebuah kata. Sementara katakana digunakan untuk menuliskan kata-kata serapan, nama Negara, dan orang asing.

Dari ketiga aksara tersebut kanji paling sulit dipelajari. Untuk membaca buku, majalah, dan surat kabar dalam Bahasa Jepang,sedikitnya 2.000 huruf kanji harus dikuasai. Itu sebabnya kamus kanji menjadi salah satu kamus yang wajib dimiliki orang Jepang.

Lalu bagaimana para disabilitas netra membaca dan menulis dalam Bahasa Jepang? Seperti halnya di Negara lain, tunanetra di Jepang juga membaca dan menulis dengan menggunakan Huruf Braille. Tetapi sistem Braille Jepang berbeda dengan sistem Braille pada umumnya. Jika umumnya disabilitas netra mempelajari Braille berdasarkan abjad latin A sampai Z, disabilitas netra Jepang mempelajari Braille berdasarkan suku kata misalnya A I U E O, Ba bi bu be bo, Ka ki ku ke ko dan lain-lain.

Dalam Bahasa Jepang Huruf Braille diberi nama Tenji yang berarti titik timbul. Untuk menulis satu suku kata dalam Braille Jepang diperlukan dua petak riglet. Dalam system Braille Jepang, tidak dikenal tanda huruf besar, tanda koma, tanda pemisah, serta tulisan singkat. Membaca tulisan Braille Jepang hampir sama dengan membaca notasi musik.

Dari ketiga aksara Jepang yang biasa digunakan, hanya hiragana dan katakana yang dibuat simbol braillenya. Tenji adalah kombinasi dari katakana dan hiragana. Sedangkan kanji tidak memiliki simbol braille. Simbol barille tidak mungkin digunakan dalam aksara kanji karena aksara kanji merupakan huruf gambar dan jumlahnya banyak.

Para produsen buku Braille Jepang biasanya terlebih dulu akan mengalih hurufkan semua materi yang tertulis dalam aksara kanji ke dalam aksara katakana dan hiragana. Baru setelah itu materi dialih hurufkan ke dalam Braille. Tapi dengan kemajuan teknologi dan banyaknya bantuan relawan para produsen buku Braille, Jepang tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan buku-buku yang diperlukan oleh disabilitas netra ini. Terbukti Jepang memiliki ribuan judul buku Braille yang dapat dibaca oleh para disabilitas netra secara cepat. Perpustakaan Braille juga banyak tersebar di Jepang, salah satunya adalah Japan National Braille Library. Buku Braille juga bisa dinikmati di perpustakaan-perpustakaan umum.

Sayangnya informasi tentang sistem Braille Jepang masih belum banyak diketahui oleh para disabilitas netra di luar Jepang khususnya disabilitas netra di Indonesia. Padahal minat para disabilitas netra Indonesia untuk belajar Bahasa Jepang sangat besar. Minimnya informasi mengenai sistem huruf Braille Jepang membuat para disabilitas netra menjadi ragu-ragu untuk belajar Bahasa Jepang.

Puluhan tahun lalu Balai Penerbitan Braille Indonesia (BPBI) Abiyoso banyak menerima kiriman buku Braille dari luar negeri, termasuk dari Jepang. Karena tidak ada yang bisa membacanya akhirnya buku-buku braille Jepang itu rusak begitu saja dimakan rayap.

Mengingat minat para tunenetra pada Bahasa Jepang cukup   besar, sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan tunanetra dan produsen buku Braille di Indonesia untuk mencari informasi tentang sistem Braille di berbagai Negara, khususnya yang sistem braillenya berbeda, seperti Jepang. Sehingga akan semakin banyak bahasa asing yang bisa dikuasai oleh para disabilitas netra di Indonesia.

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *