Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Mengenali Gangguan Emosi dan Tingkah Laku (GETL)

Jakarta, Kartunet.com – Dinamika keadaan yang melatarbelakangi anak dengan Gangguan Emosi dan Tingkah Laku (GETL) beserta gejala-gejalanya perlu ditelusuri untuk memberikan pemahaman yang jelas tentang anak GETL. Dengan memahami hal itu akan mempermudah dalam usaha menanggulangi atau memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anak.


Dari berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah anak GETL, berikut dibahas mengenai kondisi atau keadaan fisik, masalah perkembangan lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.


Faktor Kondisi atau Keadaan Fisik. Beberapa ahli meyakini bahwa disfungsi kelenjar endokrin dapat mempengaruhi timbulnya gangguan tingkah laku atau dengan kata lain kelenjar endokrin berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Bahkan dari hasil penelitiannya, Gunzburg (Simanjuntak, 1947) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endokrin ini mengeluarkan hormon yang memengaruhi tenaga seseorang. Bila secara terus menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya.


Kondisi fisik ini dapat pula berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat memengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhannya, baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.


Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif dari lingkungannya. Sebagai akibatnya, timbul perasaan rendah diri, perasaan tidak berdaya atau tidak mampu, mudah putus  asa, dan merasa tidak berguna sehingga menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan kelainannya untuk menarik belas kasih lingkungannya. Dengan demikian, jelaslah bahwa kondisi atau keadaan fisik yang dinyatakan secara langsung dalam ciri-ciri kepribadian atau secara tidak langsung dalam reaksi menghadapi kenyataan, memiliki implikasi bagi penyesuaian diri sesorang.


Faktor Masalah Perkembangan. Erikson (Singgih D. Gunarsa, 1985: 107) menyatakan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego anak dapat mengatasi krisis ini, keegoan yang matang akan terjadi, sehingga individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan masyarakatnya.


Adapun ciri yang menonjol dari masa krisis individu adalah sikap menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan karena anak sedang dalam proses menemukan jati dirinya. Anak menjadi merasa tidak puas dengan otoritas lingkungan, sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak seperti marah, menegang, memberontak, dan keras kepala.


Sebagaimana diuraikan di atas bahwa segala tindakan yang dilakukan anak pada masa kritis bertujuan untuk menarik perhatian yang didorong oleh tuntutan pengakuan egonya. Jika pada masa ini anak banyak mendapatkan rintangan dan tantangan, akan timbul akibat yang dapat merugikan kelangsungan fungsi-fungsi dan psikis pada masa ini dan dapat mengakibatkan kemunduran individu.


Pada masa ini jiwa anak masih labil dan banyak mengandung risiko. Jika anak kurang mendapatkan bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa, anak akan mudah terjerumus pada penyimpangan tertentu dan menjadikan anak termasuk dalam anak GETL.


Faktor Lingkungan Keluarga. Dalam pembahasan sosial, keluarga menjadi ruang sosial pertama bagi anak. Keluarga pulalah yang memiliki pengaruh terbesar akan kelangsungan perkembangan anak. Karena, dari keluargalah anak menadapatkan pengalaman pertama perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menjadikan anak GETL. Dalam hal ini, ada banyak aspek keluarga yang menyebabkan terjadinya anak GETL, seperti faktor kasih sayang, keharmonisan keluarga, dan ekonomi keluarga.


Kurangnya kasih sayang yang diterima anak dapat mengakibatkan anak mencari kasih sayang dan perhatian di luar rumah. Dalam kasus lain, anak mugkin saja tidak mencari kasih sayang di luar rumah, tetapi anak dengan sengaja melakukan tindakan yang tidak sesuai norma untuk menarik perhatian lingkungan keluarganya.


Lain halnya dengan kasus di atas, sebagian anak ada yang mendapatkan kasih sayang yang berlebihan dari keluarga hingga anak tumbuh menjadi anak yang manja. Karena perlakuan ini anak menjadi ketergantungan dan mudah menyerah, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan rendah diri.


Keharmonisan dalam keluarga juga berpengaruh dalam perkembangan anak. Kondisi rumah yang kacau dan keluarga yang terpecah sangat berpeluang menjadikan anak dalam keluarga sebagai anak GETL.


Di samping hal di atas, lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu penyebab tidak terpenuhi kebutuhan anak. Padahal, hal seperti yang kita ketahui bersama pada tingkat perkembnagan tertentu anak memiliki keinginan-keinginan untuk menyamai teman yang lainnya.


Tidak terpenuhinya kebutuhan anak dalam keluarga akibat ekonomi lemah mendorong anak mencari jalan sendiri yang kadang mengarah pada tindakan antisosial. G.W. Bawengan (1977) menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara relative dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian, penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.


Faktor Lingkungan Sekolah. Selain sebagai tempat pendidikan, tak jarang sekolah menjadi tempat penyebab timbulnya gangguan tingkah laku dan emosi pada anak. Hal ini seperti yang dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam rangka pembinaan anak didik kea rah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga menjadi penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.


Faktor Lingkungan Masyarakat. Bandura (Kirk dan Gallagher, 1986) menyatakan bahwa salah satu hal yang nampak memengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu meniru perilaku orang lain. Di samping meniru hal-hal positif, di lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negative yang dapat memicu munculnya perilaku menyimpang. Hal ini dapat terjadi lebih tinggi lagi di kota-kota besar yang mana di dalamnya tersedia berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang kurang tersaring oleh budaya lokal.


Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang bersifat negative. Di satu pihak para remaja menganggap kebudayaan asing tersebut benar, sementara di pihak lain masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber pada adat istiadat dan agama.


Selanjutnya, konflik juga timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di rumah bertentangan dengan norma dan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Misalnya, seorang anak dalam keluarga ditekankan untuk bertingkah laku sopan dan menghargai orang lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam masyarakat di mana banyak ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap saling menghargai.


Gangguan atau hambatan emosi dan tingkah laku yang dialami anak GETL mempunyai dampak negative bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Perasaan tidak berguna bagi orang lain, perasaan rendah diri, tidak percaya diri, perasaan bersalah, dan lain sebagainya menyebabkan anak GETL merasakan adanya jarak dengan lingkungannya.


Salah satu dampak serius yang dialami anak GETL adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri sendiri. Apabila anak GETL kurang mendapatkan perhatian dan penanganan dengan segera, anak GETL akan semakin terperosok dan jarak yang memisahkan anak dari lingkungan sosialnya akan semakin bertambah besar.


Terkait tekanan batin yang berkepanjangan ini, Schloss (Kirk dan Gallagher, 1986) disebabkan oleh ketidakberdayaan yang dipelajari dan tidak mampu merespon dengan baik terhadap stimulasi sosial, keterampilan sosial yang minim, dan konsekuensi paksaan yang berpengaruh pada tekanan batin yang berlarut-larut.


Untuk menghadapi hal-hal di atas, kita hendaknya dapat memngaruhi lingkungan mereka, mengajar, dan menguatkan keterampilan sosial antarpribadi yang lebih efektif, serta menghindarkan mereka dari ketergantungan dan penguat ketidakberdayaan.(Nir)


editor: Herisma Yanti

Fatinah Munir

Mengenal Fatinah Munir

Fatinah Munir adalah wanita kelahiran Jakarta 21 Februari 1992 dengan nama asli Lisfatul Fatinah. Calon guru yang senang dipanggil Fatinah ini sedang menyelesaikan kuliahnya di Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Jakarta. Keinginannya untuk bisa bermanfaat dan mengispirasi bagi banyak orang membuat Fatinah mendirikan Komunitas Peduli Anak Jalanan (KOPAJA) dan aktif mengajar anak-anak pemulung dan dhuafa di Kebayoran Lama dan Rawamangun. Wanita pemimpi yang gemar backpacking ini menseriusi ketertarikannya pada dunia literasi sejak 2010 dengan menjadi bagian dari keluarga besar Forum Lingkar Pena untuk cabang Ciputat dan saat ini bergabung di Forum Lingkar Pena Wilayah Jakarta Raya sebagai Sekretaris Jenderal (2013-2015). Fatinah pernah bekerja sebagai reporter di Majalah Muzakki dan Media Hikmah. Sampai saat ini menjadi kontributor di kartunet.com. Bagi yang ingin bersilaturahim dengan Fatinah bisa melalui www.fatinahmunir.blogspot.com, surat elektronik [email protected], Facebook Lisfatul Fatinah Munir, dan twitter @fatinahmunir.

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *