Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

“Mentok” Saat Menulis, Ini Solusinya

“Saya sudah menulis 60 halaman, tapi setelah itu ‘mentok’. Kenapa ya?”. Suatu hari, seorang kawan menanyakan pertanyaan itu pada saya. Spontan, saya tersenyum mendengarnya. Bukan karena pertanyaan itu terasa konyol, tapi justru karena saya sendiri pun sering mengalaminya.

“Mentok” di tengah perjalanan menulis. Ini hal yang memang sering dialami oleh penulis pemula. Setelah menulis sekian banyak, tiba-tiba pikiran terasa kosong, tidak tahu mau menulis apa. Lalu, bagaimana solusinya? Sebelum mencari tahu solusinya, coba kita pikirkan. Kenapa ya kok kita bisa tiba-tiba “mentok” saat menulis? Padahal sebelumnya lancar-lancar saja. Bahkan, dalam kasus kawan saya itu, ia sudah berhasil menulis hingga 60 halaman dengan sukses. Tentunya, 60 halaman bukan jumlah yang sedikit. Bayangkan, ada berapa paragraph, kalimat, dan kata di sana? Dalam 60 halaman itu, sudah berapa macam topic ia ulas? Tapi kenapa tiba-tiba semua ide seakan lenyap dari kepala begitu saja?

Menulis adalah pekerjaan berbagi ilmu. Bagi saya, inilah filosofi yang perlu kita pegang saat hendak mulai menulis. Apa yang kita tulis, adalah apa yang kita pahami atau ketahui-yang kemudian kita bagi dengan orang lain dalam bentuk tulisan. Singkatnya, agar dapat terus berbagi, maka kita perlu terus menerus meng-update pengetahuan. Pengetahuan itu bisa berasal dari mana saja-hasil membaca buku, berdiskusi dengan dosen di kampus, mengikuti kegiatan training dan workshop, nonton film, hingga mendengarkan curhat teman,. Ada banyak sumber di mana kita dapat meningkatkan pengetahuan kita, serta mengambil inti sari dari pengetahuan tersebut.

Kawan saya menulis 60 halaman. Berarti 60 halaman itu adalah hasil belajarnya-hasil ia membaca buku, diskusi, mengikuti berbagai kegiatan, dan lain sebagainya. Jadi, kenapa “mentok” di halaman ke-60? Karena sesungguhnya, ia telah menumpahkan semua pengetahuannya dalam 60 halaman tersebut. Ibarat sebuah teko, bila air di dalamnya telah dituangkan semua ke cangkir, pastilah teko itu akan menjadi kosong. Mau dijungkirbalikkan seperti apapun, teko itu tidak akan pernah bisa mengeluarkan air lagi. Lalu, apa yang perlu dilakukan supaya teko itu bisa mengeluarkan air lagi? Ya, benar. Isi ulang saja teko itu. Isilah kembali teko itu hingga penuh. Semakin penuh teko, semakin banyak dan semakin deras air yang dapat dialirkannya.

So guys, sudah bisakah kamu menangkap apa yang saya maksud? Ya, tepat sekali. “mentok” saat menulis disebabkan karena kita kehabisan ide atau pengetahuan untuk dituliskan. Jadi, kalau “mentok” itu terjadi, kita perlu “mengisi ulang” pengetahuan kita. Belajarlah lebih banyak lagi, tingkatkan lagi pengetahuan dan wawasan. Menjadi penulis bukan berarti “bersemedi” di pojok kamar, lho. Menjadi penulis butuh banyak pengetahuan. Oleh karena itu, aktiflah berkegiatan di luar rumah- mengikuti komunitas, kontribusi di organisasi, mengikuti training dan workshop, rajin membaca, mendengarkan banyak cerita dari orang-orang di sekeliling kita, dan masih banyak cara lain. Semua itu tidak hanya meningkatkan wawasan, tapi juga lambat laun akan mengasah logika berpikir kita, sehingga suatu hari kita dapat menulis dengan analisis yang lebih tajam dan menghasilkan tulisan yang menarik. (RR)

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
Tags:
7 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *