Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Menulis Berfilsafat, Menulis dari Hati

Berfoto bersama bang Uki di depan Biro Rektor UIN SU
Berfoto bersama bang Uki di depan Biro Rektor UIN SU

Memiliki hobi menulis, pria yang merupakan anak dari orang tua yang berlatar belakang pendidik ini, namanya besar berkat hobinya itu. Mengikuti lomba karya ilmiah sejak di bangku sekolah dan menulis buku-buku ajar selama mengajar, Muhammad Syukri Albani Nasution, SH.I, MA dikenal sebagai Penulis Medan.
***

Orang tuanya termasuk orang yang hobi menulis walau tidak dipublikasikan. Diam-diam ternyata mengalir hobi itu dari ayahnya. Ia mulai mengikuti lomba menulis sejak sekolah menengah. Juara M2IQ (Musabaqoh Menulis Ilmu Quran) tingkat Provinsi mendapat juara 1. Saat kuliah juga mengikuti Kesbangpol Linmas mendapat Juara III, dan Lomba Menulis Tingkat Daerah mendapat Juara I.

Syukri mulai menulis intensif pada tahun 2006. Selesai dari S1 ia berjumpa dengan Ali Murtadho. Dan saat itulah tulisannya mulai dikomersilkan. Tak hanya sebatas kalangan UIN SU, Uki, sapaan akrabnya, juga merupakan Anggota Jurnal Eljinsi. Jurnal khusus bagi penulis-penulis mahasiswa Jurusan Jinayah Siasah di UIN SU. Ternyata namanya terkenal ke kampus seberang, jadilah ia diminta menulis Mading.

Bagiku membaca itu ibarat ‘orang yang gak buang-buang air, sakit’ dan menulis adalah ‘membuangnya’. Jadi menulis itu ekspresi dari membaca.

Pria yang senang menulis pengalaman cintanya ini berhasil memikat pembaca tidak hanya di Sumatera, namun merambah ke luar. Lewat buku yang berjudul Menikmati Indahnya Sakit Hati tercatat sebagai buku terlaku. Buku ini terbit pada 2008 dengan seri I oleh penerbit Cita Pustaka Media Bandung, dan sekuelnya Heart Book II oleh Wal Ashri Publishing tahun 2009.

Bagi kalangan UIN SU, Syukri Al Bani adalah dosen terproduktif dalam menulis. Tulisannya wara-wiri di media nasional. Hingga ia sendiri mengaku pernah diminta untuk tidak sering-sering menulis untuk memberi ruang kolom bagi penulis muda lainnya.

Sebagian besar bisa dibilang justru menulis adalah sumber penghasilan terbesar baginya. Jika mengajar dalam perbulan sudah bisa dibaca honornya, tetapi menulis royaltinya bisa sampai 12 juta. Belum lagi hasil menulis artikel dan opini yang terhitung 600 ribu per bulan.

Sehari-hari, Syukri menghabiskan waktu dengan kegiatan menulis dan mengajar. Dan butuh kiat-kiat serta komitmen dalam menulis. Beliau suka mengantongkan buku catatan kecil. Karena katanya ide itu bisa datang sewaktu-waktu. misalnya saat menyetir terlintas ide bagus, maka ia tak segan berhenti ke tepian jalan untuk sekedar menuangkan ide tersebut. Makanya sempit sekali waktu untuk bisa menulis.

“Kalau saya lebih suka menulis di ruang kerja. Jam menulis biasanya malam. Pulang, istirahat dahulu, nanti jam 12 bangun, shalat tahajud lalu nulis. Kalau di rumah nunggu anak dan istri tidur dulu baru bisa menulis. Saat belum menikah dulu, biasanya menulis menjelang shubuh. Tapi sekarang gak bisa seperti dulu, karena anak malah bangunnya sebelum shubuh, jadi biasanya tengah malam. Tips lainnya aku selalu sarankan untuk bawa ini…” sambil menunjuk buku catatan yang selalu dikantonginya.

Pria yang sudah menghasilkan 10 buku ini rencananya akan menerbitkan karya terbarunya dalam bentuk novel. “Ini novel pertama saya. Saya terinspirasi dari buya Hamka.” Akunya film tenggelamnya Kapal Van Der Wick justru telah membangkitkan kembali sastra Indonesia. Sekarang film Indonesia sudah dipenuhi glamor, pragmanitas. Kalau kita nonton film Rhoma kata-kata ‘Mau kemana kau Ani?’ sudah payah ditemukan, bahasa sekarang itu sudah dicampur adukkan. Makanya dari situ ia terinspirasi untuk membuat novel yang sama.

Mengajar mata kuliah Filsafat sehari-hari menjadi biasnya dalam menulis. Dengan mantap Syukri mengaku menulis justru sedang berfilsafat. Karena filsafat itu merangkai suatu kemungkinan lalu menuliskannya.

Di akhir wawancara ia mengatakan, “Penulis di kota Medan sudah gila-gila. Coba kalian lihat surat kabar lainnya, rata-rata yang menulis mahasiswa artinya menulis bukan lagi ruangnya orang-orang hebat, ternyata sekarang menulis ruangnya mahasiswa. Jadi artinya media sudah menjadikan menulis sebagai ruang berekspresi. Orang bisa terkenal lewat menulis.

Tambahnya lagi, “Biasakanlah menulis. Menulislah dari apa yang ada di hati. Jangan pernah memaksakan diri. Menulislah dengan genre sendiri. Menulislah dari sesuatu yang kita ketahui.”

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *