Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

MIMPI BURUK

Aku menahan nafasku yang tersengal-sengal, megap-megap kehabisan udara karena terlalu lama berlari. Paru-paruku terasa sakit. Jantungku berdetak begitu kencang hingga rasanya aku nyaris mendengarnya. Ia tak boleh menemukan tempatku bersembunyi! Aku tak ingin tertangkap! Gemetar kudengar langkah kakinya mendekati tempattku. Susah-payah kuredam suara nafasku yang masih memburu.

Lorong itu begitu sepi dan suram dengan mengandalkan penerangan hanya dari cahaya bulan yang remang-remang. Saat itu aku bersandar tegang pada dinding kelabu lorong yang dingin, di balik truk tua yang agaknya tak lagi terpakai. Sepertinya ia menyadari kehadiranku di balik truk, karena kemudian kudengar langkahnya semakin mendekat. Sebelum ia menemukanku, aku segera melesat berlari menjauhinya. Meski sepasang kakiku terasa seperti agar-agar, namun aku tak boleh berhenti. Aku tak ingin ia berhasil menangkapku. Di sudut tikungan aku berbelok ke kanan. Dengan tersengal aku masih terus berlari tanpa pernah menoleh ke belakang. Aku terlalu takut melihat sosoknya di belakangku. Semakin jauh aku berlari, aku semakin merasa lorong ini bertambah suram. Cahaya semakin lama semakin berkurang, hingga akhirnya kegelapan memenuhi sepanjang lorong yang kulalui. Kepanikanku mebuat aku tak menyadari keadaan di sekelilingku, aku masih saja terus berlari dan berlari tanpa pernah berpikir untuk berhenti. Sampai akhirnya, aku menabrak sesuatu di hadapanku, dan sebelum aku terjatuh, sesuatu itu menangkap tubuhku. Spontan aku menjerit ketakutan.. Aku menjerit dan terus menjerit tanpa henti. Kurasakan guncangan pada bahuku, lalu kudengar sebuah suara memanggil-manggil namaku.

Aku tersadar, kemudian terjaga dari tidurku. Aku menatap wajah lembut pria di hadapanku. Kurasakan sepasang tangannya merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya yang hangat. Tangisku pecah. Rupanya aku kembali bermimpi buruk. Mimpi yang sama selama hampir sebulan ini.

“Tenang sayang, tenang.. Aku ada di sini.. Jangan takut.. Kau baik-baik saja.. Itu hanya mimpi.. Hanya mimpi.. Lupakan saja.. Hanya mimpi..”
Sambil membelai lembut punggungku yang gemetar, lirih kudengar suaranya mencoba menenangkanku.

****

Keesokan harinya aku merasa letih dan tak bersemangat. Sulit rasanya memejamkan mata kembali setelah mimpi buruk semalam. Hari ini terasa suram. Hujan lebat serta gemuruh gunttur di luar rumah menambah gelisah perasaanku.

Sambil mencuci piring aku merenung, memikirkan mimpi semalam. Sudah hampir sebulan mimpi itu selalu menggangguku, membuat tidurku tak nyenyak. Akibat mimpi buruk itu, malam-malamku kini dipenuhi kegelisahan. Aku mulai merasa takut untuk tertidur. Takut jika mimpi itu akan datang kembali. Hembusan angin yang masuk dari kisi-kisi jendela dapur membuatku bergidik. Aku merasakan ada sesuatu yang mengendap-endap di belakangku. Sebelum aku berbalik untuk melihat, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu mencengkram lenganku. Spontan aku menjerit. Piring yang kupegang jatuh dan pecah berserakan di lantai, menimbulkan bunyi yang begitu gaduh.

“Ya tuhan Zia, kau kenapa begitu terkejut? Ini kan aku?” sentak Asmira, membuat aku terkesiap. “Sejak tadi kau kupanggil diam saja, karenanya aku menyenggolmu. Pagi-pagi kau sudah melamun.” cerocosnya, membantuku memunguti pecahan piring di lantai.

Aku hanya sanggup membisu mendengar ocehannya, merasa bingung dengan diriku sendiri. Mengapa aku begitu terkejut?

Asmira adalah sepupu perempuanku. Sudah hampir sebulan ini ia berada di rumahku, menghabiskan masa liburan kuliahnya. Sejak aku menikah, kesibukanku bekerja serta letak tempat tinggalku yang tak lagi berdekatan dengannya membuat kami jarang sekali bertemu. Kebetulan sudah sebulan ini aku berhenti bekerja. Aku tak bisa mengingat jelas bagaimana kejadiannya. Yang kuketahui sebulan lalu aku terbangun, menyadari diriku telah berada di rumah sakit. Dokter mengatakan jika aku terserang radang otak. Sejak saat itu suamiku melarangku untuk kembali bekerja. Meski enggan rasanya menghabiskan sepanjang waktu di rumah saja, namun aku tak ingin membantah keinginannya. Entah mengapa sebulan terakhir ini aku merasa ia nampak berbeda. Tadinya kupikir hal itu disebabkan karena kekhawatirannya kepadaku. Namun setelah kesembuhanku, ternyata ia masih saja nampak murung.

***

Siangnya langit nampak cerah. Hujan telah berhenti, meninggalkan jejak basah pada permukaan kaca. Beberapa genangan air di halaman memantulkan cahaya cerah matahari. Aroma segar rrumput basah membuat kegelisahan dalam hatiku berangsur-angsur berkurang.

Asmira menghampiriku yang tengah termangu menatap tetes-tetes air yang jatuh dari ujung-ujung dedaunan pada sebatang pohon jambu biji di halaman. Ia ingin mengajakku pergi berbelanja. Ini sudah yang ketiga kalinya ia mengajakku, setelah minggu lalu kutolak karena aku merasa kurang enak badan. Sebenarnya hari ini aku juga agak malas keluar rumah, namun tak sampai hati rasanya bila aku harus kembali menolak ajakkannya.

***

Di tengah kesibukan Asmira memilih sepatu siang itu, aku merasa ingin buang air kecil. Ini pasti efek dari banyaknya air yang kuminum sewaktu makan siang. Setelah berpamitan pada Asmira, akupun segera bergegas menuju toilet terdekatt yang letaknya lumayan jauh, berputar-putar, menuruni beberapa anak tangga yang cukup panjang. Membuatku hampir saja tak mampu menahan desakan yang semakin menekan kandung kemihku.

Suasana toilet begitu sepi dan remang-remang. Hal itu membuatku gelisah. Sekilas kutatap pantulan diriku di cermin. Aku nampak pucat dan lelah. Ada lingkaran hitam di bawah mataku.

Usai buang air kecil, aku segera bergegas keluar. Entah mengapa aku semakin merasa tak tenang. Apalagi saat kudengar suara langkah kaki yang bergaung mendekat. Dari keremangan lampu aku melihat sosok bayangan yang melangkah ke arahku. Nafasku tercekat. Lututku gemetar. Detak jantungku terasa bertalu-talu di telingaku. Aku semakin merapattkan diri pada dinding putih yang terasa dingin di belakangku. Bayangan itu melangkah semakin dekat, bertambah dekat. Membuatku semakin dicekam kengerian. Aku menjerit sekuat suaraku ketika kurasakan sepasang tangan hitam mencengkram bahuku.

“Zia! Tenang Zia! Tenang! Ini aku Asmira!”

Asmira? Aku bagaikan disiram seember air dingin menyadari perkataannya. Oh tuhan… Mengapa aku begitu ketakutan? Aku bersandar lemas padanya yang saat itu masih mengguncang-guncang lenganku. Ia membimbingku keluar dari toilet, lalu membawaku masuk ke sebuah Food court terdekat. Dimintanya aku untuk duduk, kemudian diberikannya aku segelas air mineral. Dengan gemetar aku meminum air itu hingga habis. Aku mencoba mengatur nafasku yang masih memburu. Lambat-laun perasaanku mulai tenang. Aku melihat keprihatinan pada sorot matanya. Entah mengapa tatapannya membuatku merasa kikuk.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, mengisi kembali gelas kosong di hadapanku. “Minum lagi.” perintahnya.
“Aku baik-baik saja.” jawabku, kembali menghabiskan air di hadapanku. “Tadi aku hanya terkejut.” jelasku menunduk.
“Kau begitu lama di toilet, membuatku khawatir. Karenanya aku memutuskan untuk menyusulmu.”
Aku hanya bisa diam mendengar penjelasannya. Tak ada yang bisa kukatakan, karena aku sendiripun merasa bingung pada diriku sendiri.
“Sepertinya kau lelah. Lebih baik kita pulang saja.” putusnya.

***

Senja ini suamiku pulang lebih cepat. Kulihat ia agak cemas memperhatikanku.

“Kau baik-baik saja sayang?” tanyanya mengecup dahiku lembut. Sore itu aku tengah duduk di ruang tidur kami. Termangu, menatap cakrawala yang mulai memerah di ufuk barat. Aku tersenyum memeluknya. Kehadirannya selalu mampu membuatku merasa tenang.

“Aku baik sayang.”
Aku membantu membuka dasi dan kemejanya. Ia nampak letih.
“Kau pucat.” ujarnya khawatir, membelai wajahku.
“Ah aku hanya sedikit letih. Kau tahu aku kurang tidur semalam.” sorot matanya nampak prihatin menatapku.
“Kalau begitu lebih baik kau istirahat. Aku tak ingin kau sakit.”
“Jangan cemas, aku baik-baik saja.” Aku tak ingin Aska berlebihan mencemaskanku. Sudah banyak yang harus dikerjakannya di kantor, tanpa perlu ditambahi keadaanku.

Usai makan malam ia memintaku lekas-lekas beristirahat. Karena merasa lelah akupun mematuhi permintaannya. Sebelum tidur ia memintaku meminum obat yang dikatakannya mampu membuat tidurku lebih nyenyak. Ia turut berbaring di sebelahku. Entah karena pengaruh obat atau kelelahan yang kurasakan, tak lama kemudian akupun terbenam dalam tidur yang lelap.

Aku terbangun, terkejut menyadari sebelah tempat tidurku kosong. Mataku terbuka, memperhatikan sekeliling kamar tidurku. Hanya ada aku sendiri. Entah di mana Aska.

Aku turun dari ranjang tidurku, melangkah keluar kamar. Aku merasa haus. Sekilas kuperhatikan jam yang tergantung di dinding. Hampir tengah malam. Di lorong menuju dapur, sekilas aku mendengar suara Suamiku dari kamar Asmira. Dengan heran aku mendekat. Semakin jelas kudengar suaranya berbicara dengan Sepupuku.

“Tidak! Ia tak perlu tahu kejadian itu. Itu akan menyakitkannya.” sanggah Aska.
“Tapi sampai kapan? Sampai kapan kau mau menyembunyikan semua darinya! Semakin hari ia semakin aneh!” protes Asmira. Nada suaranya semakin meninggi.
“Aku tak tahu.” desahnya lelah. “Aku tak tahu Asmira. Aku tak ingin ia tahu peristiwa itu. Aku takut itu akan menghancurkannya.” suaranya begitu penuh dengan keputus asaan.
“Setidaknya kau bisa bawa ia ke rumah sakit.”
“Ia tidak gila!” potongnya.
“Aku tak bilang ia gila!” sahut Asmira. “Hanya saja ia semakin aneh! Ia jadi sering melamun. Terdiam tiba-tiba. Kemudian menjerit tanpa sebab. Ia seperti orang ketakutan! Tak hanya kau yang mencemaskannya, tapi aku juga.”

Aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan sejak tadi. Aku merasa tak enak karena tengah menguping pembicaraan mereka. Namun rasa penasaranku membuat aku tetap terpaku di depan pintu.

“Aku sudah meminta obat dari dokter yang saat itu pernah menanganinya. Ia bilang itu dapat membuat Zia lebih tenang. Kuharap obat itu dapat membantunya beristirahat, tanpa harus diganggu mimpi buruk.”
Aku terkesiap, mulai menyadari jika sejak tadi mereka tengah membicarakanku.
“Sampai kapan kau akan memberinya obat itu? Apa obat itu dapat membuat ia berhenti ketakutan? Aska, kau harus memikirkan kehidupan ia ke depannya nanti. Sekarang aku masih di sini, masih bisa menjaga dan memperhatikannya. Tapi bagaimana jika nanti ia sendiri? Apa kau yakin tak akan terjadi apa-apa terhadapnya? Ayolah, coba berpikir. Mau tak mau kau harus membawanya ke psikiater. Masalah akhirnya ia bisa mengingat atau tidak kejadian itu, semuanya bisa kita serahkan pada ahlinya. Setidaknya kita tak membiarkan ia dalam keadaannya sekarang.”
Aku semakin bingung mendengar pembicaraan mereka. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Apa yang tak kuingat? Apa yang terjadi padaku dan aku lupakan? Ya tuhan… Ada apa sebenarnya?
Cukup lama tak terdengar pembicaraan apapun dari dalam.
“Baiklah, akan kupikirkan semua saranmu.” desisnya kemudian. Kudengar Asmira mendesah tak sabar.
“Jangan terlalu lama berpikir. Kasihan istrimu. Oh ia, Jadi bagaimana hasil Labnya? Apa sudah keluar?” tanya Asmira.
“Sudah, ternyata benar ia pelakunya. Aku benar-benar tak menyangka jika ia bisa sekejam itu.” Geramnya. ” Namun kejadian yang sebenarnya masih menjadi sebuah teka-teki.” lanjutnya.
“Apa bukan dia yang mendorong Zia jatuh dari gedung itu Aska?”
“Aku dan polisi juga berpikir seperti itu, setelah ia memperkosanya, ia mendorongnya jatuh dari gedung itu. Kasihan Zia, hal itu pasti sangat mengerikan untuknya. Aku melarang polisi untuk bertanya pada Zia. Sebenarnya aku lebih memilih jika Zia tak bisa mengingat kejadian itu untuk selamanya. Aku tak ingin ia terluka.”

Sepasang kakiku terasa gemetar begitu hebat. Kulihat benda-benda di sekelilingku bergoyang. Kilasan demi kilasan kejadian melintas di pikiranku.

Malam itu aku terpaksa lembur di kantor, karena harus menyelesaikan pekerjaan yang cukup banyak akibat dikejar deadline. Aku menelpon suamiku, mengatakan jika aku akan pulang agak larut. Ia terdengar khawatir, namun aku mencoba meyakinkannya jika aku akan baik-baik saja. Aku tak punya pilihan, selain mengerjakan pekerjaan malam itu juga. Meski sedikit khawatir dengan suasana kantor yang mulai sepi, namun aku mencoba mengabaikannya. Di tengah-tengah keseriusanku menatap layar komputer, tiba-tiba aku mendengar ketukan di pintu kantorku. Kedudukanku yang cukup tinggi, membuatku memiliki ruangan kerja tersendiri. Meski kecil, namun aku merasa nyaman.

Aku membuka pintu dan melihat Lio teman sekantor yang cukup akrab denganku berdiri tersenyum di balik pintu. Aku telah lama mengenalnya. Dari sebelum aku menikah. Ia pria yang baik menurutku. Kami sering ngobrol ketika jam istirahat berlangsung. Rupanya ia hendak mengajakku untuk pulang bersama. Kukatakan padanya jika pekerjaanku masih banyak, dan mungkin aku akan pulang agak larut. Di situlah awal petaka itu berlangsung.

Sekali lagi aku memeriksa hasil pekerjaanku malam ini. Setelah kurasa semuanya telah sesuai, akupun menyudahinya dan memutuskan untuk segera pulang.

Lorong kantor terasa begitu lengang ketika aku tengah berjalan menuju lift. Saat aku berbelok di tikungan, tiba-tiba sepasang tangan mencengkram kuat lenganku dan menyeretku masuk ke sebuah ruangan. Aku meronta dan menjerit sekeras mungkin. Sebuah tangan membekap mulutku. Spontan aku menggigit tangan itu. Penyergapku tersentak kesakitan. Pegangannya di lenganku mengendur hingga aku dapat meronta melepaskan diri. Aku berlari dengan dipenuhi kepanikan dan perasaan takut yang teramat sangat. Di belakangku kurasakan penyergapku terus mengejarku. Lorong demi lorong kulalui. Namun tak juga aku temukan jalan keluar. Kepanikanku membuat pikiranku buntu. Kemudian aku melihat pintu Lift di sebelah kiriku. Lekas aku menekan tombol, namun sebelum pintu itu terbuka, penyergapku telah berada semakin dekat denganku. Karena tak mau tertangkap, akhirnya aku kembali berlari. Aku tersengal-sengal kehabisan nafas. Kakiku terasa lemas dan gemetar. Kelelahan membuatku terjatuh karena tersandung kakiku sendiri. Susah-payah aku bangkit, namun aku terlambat. Penyergapku telah berhasil mencengkram rambutku dan dengan kasar menarikku. Sebelum aku berhasil menjerit, kurasakan pukulan yang cukup keras di sisi kepalaku. Membuat aku tersentak, telingaku berdenging, pandanganku berkunang-kunang dan mengabur hingga aku tak lagi dapat mengingat apapun.

Saat aku membuka mataku, rupanya aku tengah tergeletak di lantai yang keras dan dingin. Di hadapanku kulihat sosok pria yang membuatku terkejut. Cepat-cepat aku bangkit untuk duduk. Namun sebelum sempatt aku melakukannya, pria di hadapanku tiba-tiba saja menindihku. Untung saja tak lama aku pingsan, hingga ia belum sempat membuka pakaianku.

Sambil menindihku, susah-payah ia mencoba menarik lepas bajuku, hingga akhirnya kancing-kancing blueskupun terlepas berhamburan di lantai. Rontaan dan teriakanku sama sekali tak diperdulikannya. Ia bahkan tak terlihat terganggu dengan semua itu. Ketakutan dan kengerian semakin membuatku hilang akal. Tangisku pecah. Aku mulai kelelahan. Hal itu justru membuat akal sehatku perlahan kembali. Akupun mulai memohon-mohon kepada penyergapku.

“Berhenti, kumohon padamu… Jangan lakukan ini… Kumohon jangan Adri…” pintaku bersimbah air mata.
“Tidak! Aku tak akan berhenti!” hardiknya. ” Aku benci padamu, pada aska, pada kalian berdua.. Aku akan menghancurkan kalian.. Salah sendiri kau lebih memilihnya dari pada aku..” geramnya, merobek pakaian dalamku. Aku hanya sanggup terisak menanggung semua penghinaan ini. Rontaanku sudah tak lagi bertenaga.

“Kumohon Adri, kau tak perlu melakukan hal gila seperti ini..”
“Diam kau!” cercanya. “Kau pikir siapa yang membuatku gila seperti ini? Kau! Kau yang membuatku gila Zia.. Kau telah menghancurkan perasaanku, dan aku akan menghancurkan hidupmu.. Sudah lama aku menunggu saat-saat seperti ini.. Kebetulan aku mendengar kau bicara dengan temanmu itu.. Iblis telah berpihak padaku malam ini.. Dan malam ini akan kubuat menjadi mimpi buruk dalam sepanjang kehidupanmu..” ancamnya, membuat aku bergidik ngeri.

Aku tak pernah menyangka jika ia bisa berbuat sekeji ini padaku. Adri adalah temanku sejak aku masih kanak-kanak. Sejak kecil kami memang selalu bersama. Tak ada aku tanpa Adri, begitupun sebaliknya. Sekolah, kuliah, sampai bekerja kami selalu bersama. Adri selalu ada untukku kapanpun aku membutuhkannya. Aku tak pernah menduga jika selama ini Adri memiliki perasaan lebih padaku. Karena selama ini aku hanya menganggap Adri seperti saudaraku sendiri. Saudara laki-laki yang tak pernah aku miliki. Sampai suatu hari aku mengenal Aska, dan menjalin hubungan dekat dengannya. Sejak saat itu Adri mulai berbeda. Ia mulai nampak tak bersahabat denganAska, padahal sebelumnya Aska adalah teman baik yang dikenalkannya padaku.
Sikap dan tindakannya mulai semakin aneh. Ia sering melarangku jalan dengan Aska. Ia mengatakan padaku jika Aska bukan pria baik-baik. Sampai akhirnya aku tahu jika ia mencintaiku. Bahkan menurutku ia agak teropsesi padaku.

Suatu ketika aku tak sengaja membuka lemarinya dan terkejut melihat banyak macam-macam barang kepunyaanku yang kupikir telah hilang ada di dalam lemarinya. Tersusun dengan begitu rapi. Dari mulai ikat rambut, gelang, boneka, sampai kaus dari masa kanak-kanak kami berdua. Setumpuk album yang berisi semua foto-fotokupun tersimpan di dalam lemari itu. Aku mulai merasa ngeri mengetahui semuanya. Saat itu ternyata ia memergokiku. Akupun tak bisa untuk pura-pura tak menyadari apa yang telah kulihat saat itu. Dengan dipenuhi perasaan kikuk akupun akhirnya bertanya padanya.

“Adri? Mengapa semua barang-barangku ada di dalam lemarimu?”
Sekilas kulihat wajah Adri menegang, kemudian kembali tenang. Ia tersenyum padaku. Namun entah mengapa senyumnya terasa aneh di mataku. Seperti dibuat-buatt.
“Ah itu aku tak sengaja menemukannya. Aku lupa mengembalikan jadi kusimpan saja sendiri.”
Alasan yang aneh nenurutku. Begitu banyak barang kepunyaanku di sana. Hampir satu lemari. Aku tak mengatakan apapun mendengar jawabannya. Aku masih dipenuhi keterkejutan.

Puncaknya adalah saat hubunganku dengan Aska semakin serius. Hingga kami memutuskan untuk menikah. Mendengar hal itu Adri nampak sangat marah.

Sore itu aku dan Adri hanya berdua di halaman belakang rumahku. Hati-hati aku menjelaskan rencana pernikahanku dengan Aska. Mendengar perkataanku Adri serta-merta bangkit, mencengkram lenganku dan menguncang-guncangnya. Wajahnya yang tampan menyeringai mengerikan. Aku hanya terkesiap menatapnya syok.

“Mengapa Zi, mengapa? Mengapa kau tak pernah menyadari jika aku mencintaimu? Aku yang selalu ada untukmu, bukan Aska! Aku yang lebih mengenalmu bukan dia! Tapi mengapa? Mengapa kau justru mencintainya? Mengapa kau tak bisa mencintaiku!”
“Adri lepas! Kau ini apa-apaan?” hardik Asmira yang saat itu tiba-tiba datang di tengah-tengah kami, menarik tubuhku dari cengkraman tangan adri yang terasa menyakitkan lenganku. Dengan bingung aku menatap Adri dengan perasaan iba dan ngeri.
“Maafkan aku Adri, aku aku hanya menganggapmu seperti saudaraku sendiri, kupikir selama ini kaupun begitu. Aku tak pernah menyadari jika kau menganggapku lebih dari itu. Maafkan aku, kuharap kau bisa menerima keputusanku menikah dengan Aska.”
“Tidak! Aku tak akan pernah rela melihatmu bahagia bersama dengannya.” ancamnya, melangkah meninggalkanku. Aku hanya tertegun. Tatapan terakhirnya begitu menusuk benakku. Dalam hati aku merasa bersalah karena telah menyakiti perasaannya. Bagaimanapun juga aku dan ia sudah begitu lama bersahabat.
“Sudah berkali-kali kukatakan, Adri itu teropsesi padamu. Tapi kau tak pernah percaya.” ujar Asmira, menyadarkanku dari ketertegunan.

Sejak saat itu Adri mulai menjauh dariku. Meski aku dan ia bekerja di kantor yang sama, namun ia seolah tak mengenalku. Terkadang ketika jam makan siang berlangsung, aku tak sengaja melihatnya memperhatikanku ketika kebetulan kami makan di kafetaria yang sama. Ingin aku menegur dan menghampirinya. Tak enak rasanya seperti ini. Namun aku khawatir jika ia memang tak mau lagi mengenalku. Jadilah semenjak sore itu aku dan ia seperti dua orang yang tak pernah mengenal. Ada perasaan sedih yang menggayut di hatiku jika kuingat bagaimana dekatnya hubungan kami dahulu. Betapa mudahnya cinta berbalik menjadi benci.

“Kau jahat Adri! Jahat!” jeritku putus asa.
Aku tak menyangka jika ia bisa begitu kejamnya terhadapku. Ia telah menodaiku. Ia memperkosaku dengan begitu tak berbelas kasihan. Begitu mudahnya sebuah kasih sayang berubah menjadi kebencian mendalam. Hingga ia begittu tega menghinakanku sehina ini.

Aku hanya mampu terisak di sudut ruang yang suram. Tertunduk meratapi kejamnya dendam. Sekilas kulihat wajahnya yang penuh kepuasan yang keji. Begitu tak dapat kukenali lagi sosoknya yang dulu pernah kusayangi.

“Jangan menangis sayang…” desisnya di telingaku. Kemanisan di suaranya mebuatku semakin meringkuk ketakutan.
“Kubilang jangan menangis!” hardiknya tiba-tiba. Membuatku tersentak. “Aku benci mendengarmu menangis. Dulu tangisanmu selalu dapat membuatku luluh, tapi sekarang aku benci mendengarnya! Berhenti atau kunikmati tubuhmu sekali lagi.” ancamnya. Sorot matanya membuatku bergidik. Seolah ingin memakanku.

Susah-payah aku menahan isak tangisku. Aku tak ingin memberinya alasan untuk melakukan perbuatan bejat itu lagi padaku.

“Tunggu sampai suamimu tahu apa yang telah terjadi pada istrinya yang nakal ini.” ejeknya, hampir-hampir membuat isakanku kembali pecah. Hatiku bagaikan disayat-sayat membayangkan apa yang akan dikatakan Aska melihat keadaanku saat ini.
“Ia pasti akan mencampakanmu.” Kudengar ia terkekeh membayangkan ucapannya.
Entah mengapa perkataannya membuatku merasa begitu takut. Takut jika semua itu benar. Aku takut jika Aska akan menganggap buruk diriku.
“Ia pasti akan menganggapmu wanita murahan, wanita jalang! Lihat pakaianmu. Aku tak yakin ia akan mau menerimamu lagi.” sekali lagi kudengar ia terkekeh senang. Tawanya membuatku muak! Telingaku panas mendengar ocehannya. Dadaku sesak dipenuhi kemarahan. Aku benar-benar benci padanya. Ingin rasanya aku membunuhnya saat ini juga.

“Sebentar lagi suamimu pasti datang. Aku ingin melihat bagaimana ekspresinya melihat…”
(Plakk…!!!) Reflek tanganku menampar wajahnya. Kemarahan dalam diriku tak mampu lagi kuredam. Kulihat ia terkejutt, tak menyangka akan tindakanku. Rasa takut yang kurasakan tiba-tiba saja menghilang, berganti dengan kemarahan yang begitu kuat.

“Puas…! Puas kau lakukan ini padaku…! Senang kau…! Kau laki-laki gila! Laki-laki jahat…! Kejam…! Tak punya hati…! Beruntung aku tak pernah jatuh cinta padamu…!”hardikku berapi-api. Ia hanya termangu menatapku tak percaya.
“Aku tak akan membiarkan kau puas mempermalukan suamiku…! Lebih baik aku mati saja…!” Akalku tak lagi sehat. Aku terlalu takutt melihat kepedihan di wajah Aska jika melihat keadaanku saat ini. Aku juga tak ingin memuaskan kegilaan Adri. Entah apa yang kupikirkan, rasanya jalan terbaik untuk mencuci semua aib yang terjadi padaku malam ini hanyalah kematian. Tanpa pernah kumengerti, langkahku membawa aku berlari menuju tepi gedung. Kulihat adri menatapku ngeri, saat kupanjat pagar pembatas.

“Tidak tidak Zia…! Tidak….! Jangan…! Jangan lakukan ini!”
Kutepiskan tangannya yang mencoba meraih lenganku. Akalku seolah tak lagi berfungsi. Rasanya aku tak lagi mampu berpikir jernih.

“Kau puas… Kau akan puas Adri… Aku akan mati… dan tak ada lagi yang akan bisa kau lakukan untuk menyakiti aku dan suamiku…”
Sebelum aku tterjatuh dari lantai lima gedung itu, sekilas kulihat kepedihan di sepasang matanya yang kelam.

Aku tersungkur di depan pintu kamar itu. Mengingat peristiwa pedih yang sempat terlupakan olehku. Pintu di hadapanku terbuka. Nanar kutatap wajah suamiku yang terkejut melihat kehadiranku. Seketika keterkejutan di wajahnya berubah menjadi kepedihan mendalam saat ia melihat keadaanku.

“Zia, sayang..”
Ia mengangkat dan merengkuhku ke dalam pelukannya. Tangisku pecah. “Jangan menangis… jangan menangis sayangku… Semuanya baik-baik saja… Kau baik-baik saja…” bisiknya, mencoba meredakan tangisku. Ia membawaku duduk di kursi di ruang tamu. Diusapnya lembut punggungku, namun tangisku tetap saja mengalir. Dari sudut mata aku melihat Asmira menyeka ujung-ujung matanya yang basah.

Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikiranku. Ternyata aku tidak mati. Aku selamat. Padahal lantai lima gedung itu begitu tinggi. Oh Aku seolah baru bangun dari tidur yang teramat panjang. Hanya saja, mimpi buruk itu kini menjadi kenyataan pahit hidupku.

“Apa, apa kau tahu yang sebenarnya telah terjadi padaku malam itu Aska?” tanyaku terbata-bata menahan isak. Aska masih memelukku erat.
“Ya, tapi kau tak perlu memikirkan apapun sayang. Sekarang kau baik-baik saja. Dokter bilang benturan di kepalamu sudah tak berbahaya. Keajaiban tuhan masih menyelamatkanmu.” jelasnya.
“Tapi tapi aku aku telah ternoda Aska. Aku aku ttak bisa menjaga kehormatanku sebagai seorang istri.” tangisku kembali pecah membasahi baju di bagian dadanya.
“Memangnya mengapa?” tanyanya, lembut dilepaskannya aku dari pelukannya. Ditatapnya dalam-dalam kedua mataku. “Itu tidak penting Zia. Semua itu kecelakaan. Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun. Perasaanku masih sama. Tak akan pernah berubah. Apapun yang terjadi.”
Aku menatapnya tak percaya. Kutemukan kesungguhan di sepasang matanya yang teduh. Kembali kubenamkan wajahku di dadanya. Keraguan masih mengayuti perasaanku. Benarkah ia masih menganggapku sama? Apakah tak sedikitpun perasaannya berubah terhadapku.
“Zia, berhenti berpikir yang terburuk. Percayalah padaku. Apa menurutku cintaku hanya sebatas itu? Sudahlah, kau satu-satunya untukku. Aku mencintaimu sampai kapanpun. Tak perduli apapun yang terjadi, cintaku tetap utuh untukmu.” bisiknya, mengecup puncak kepalaku.
“Terima kasih Aska. Kau begitu baik. Aku sangat mencinttaimu. Amat sangat mencintaimu. Aku aku begitu takut jika kau meninggalkanku.”
“Tak akan, aku tak akan meninggalkanmu. Kau istriku. Cintaku. Sayangku selamanya. Sekarang ayo kita istirahat. Sudah dini hari.” ajaknya membimbingku menuju ruang tidur.
“Tapi masih banyak yang ingin kutanyakan.” desahku, mengikuti langkahnya menuju ruang tidur.
” Kita bisa bicarakan besok sayang. Sekarang kau istirahat. Aku ingin kau tenang ketika kita membicarakan hal itu.”

Lembut ia membaringkanku di ranjang, menyelimutiku, kemudian merebahkan diri di samping sambil memelukku.
“Selamat tidur sayangku.” bisiknya, mengecup ringan bibirku.

***

Keesokkan paginya ketika aku terjaga, aku melihat Aska berdiri memunggungiku, kudengar ia tengah sibuk menelepon.

Otakku berputar mengingat kejadian semalam. Betapa banyak pertanyaan yang memenuhi benakku. Nanar kutatap punggung pria yang betapa amat kukasihi ini. Betapa keraguan masih mengisi rongga dadaku. Aku merasa tak lagi pantas untuknya. Ia teramat baik untukku. Namun aku sadar, aku tak akan pernah sanggup bila harus kehilangannya.

Kulihat ia menutup telepon dan berbalik menghadapku. Senyum di wajahnya merekah saat ia melihat aku telah terjaga.

“Selamat pagi My Sweet Heart.”
Ia menghampiriku dan mengecup lembut bibirku.
“Pagi juga sayang.” balasku tersenyum. Suaraku terdengar parau akibat terlalu lama menangis semalam. Ia mengambilkanku segelas air di samping ranjang tidur kami. Perhatiannya membuat tenggorokanku tercekat. Ia duduk di sampingku, menggenggam lembut sebelah tanganku. Kedua matanya dalam menatap mattaku.

“Kau tak bekerja hari ini?” tanyaku.
“Tidak, aku ingin menghabiskan hari ini bersama istriku.” Matanya berkedip nakal. Aku nyengir lebar melihatnya.
“Aku sudah telepon Ted. Minta dia mengosongkan jadwalku hari ini. Ingat? Aku kan bosnya.” pongahnya, pura-pura membusungkan dada. Aku tertawa melihat aksinya pagi ini.
“Aku bahagia dapat mendengarmu kembali tertawa. Kau terlihat jauh lebih cantik.” ujarnya sendu, menjumput rambutku yang terurai, kemudian lembut disisipkannya ke balik telingaku.
Aku terdiam mendengar ucapannya.
“Apa, apakah yang sebenarnya terjadi padaku setelah aku terjatuh malam itu?” tanyaku menerawang.
“Apa kau tak bisa untuk melupakan saja semua itu sayang? Itu bukanlah hal yang menyenangkan untuk diingat.” pintanya, menatap sendu wajahku.
“Apakah aku tak berhak tahu?” desahku. “Aku tak ingin terus-menerus diganggu oleh berbagai macam pertanyaan di kepalaku.”
Lama ia terdiam, mempertimbangkan permintaanku. Ia nampak merenung. Sorot matanya terlihat buram. Ia menarik nafas panjang.
“Baiklah. Apa yang ingin kau ketahui?”
“Segalanya.”
Ia nampak merenung sejenak kemudian mulai bercerita.

“Malam itu aku merasa gelisah menanti kepulanganmu. Sampai jam 11 malam kau belum juga mengabarkan kapan kau akan pulang. Aku semakin merasa tak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi saja kantormu. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk padamu. Mungkin aku berlebihan. Tapi kau memang tak pernah pulang selarut itu. Suasana kantormu terlihat sudah begitu sepi. Aku bertemu satpam di pintu gerbang dan mengatakan ingin menjemputmu. Ia telah cukup mengenalku, karenanya tanpa pikir panjang ia langsung mengizinkan aku untuk masuk. Setelah memarkirkan mobil aku berjalan berputar menuju pintu masuk gedung. Ketika aku tengah melangkah, aku mendengar suara benda berat jatuh tak jauh di depanku. Alangkah terkejutnya aku ketika kulihat dua sosok tubuh yang tak terpaut jauh terbaring diam. Tanpa sadar aku segera bergegas berlari. Alangkah terperanjattnya aku ketika mendapati sattu dari sosok tubuh itu adalah dirimu. Aku begitu kalut dan ketakutan. Apalagi ketika kulihat darah yang menggenang di bawah kepalamu. Aku bergegas menggendongmu ke dalam mobil. Setelah itu aku berlari menuju pos satpam agar ia membantuku mengurus tubuh yang lain. Aku segera bergegas membawamu ke rumah sakit. Tak lama kemudian satpam itu datang dengan ambulans, membawa tubuh yang tak kalah membuatku terperanjat. Adri, teman yang dulu begitu dekat denganku. Aku tak sempat berpikir apapun karena aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu. Ketika kulihat dokter keluar dari dalam UGD, aku segera bergegas menghampirinya. Setelah berbasa-basi menanyakan identitasku, sekali lagi aku dibuatt terperanjat. Ia mengatakan jika kau tak hanya jatuh dari gedung, namun kau juga telah menjadi korban kekerasan seksual. Dikemudian hari aku baru menyadari pakaianmu yang koyak, Aku terlampau mengkhawatirkan keselamatanmu, hingga hal itu luput dari perhatianku. Mendengar pernyataan dokter, aku merasa limbung. Aku langsung teringat dengan Adri. Berbagai macam dugaan tergambar di kepalaku. Hanya saja semuanya seperti tak masuk akal. Mengapa kau dan Adri bisa sama-sama terjatuh dari gedung itu? Untuk sementara dugaan-dugaan itu tersingkir oleh penjelasan dokter mengenai dirimu. Benturan yang cukup keras di kepala membuat keadaanmu cukup gawat. Akhirnya dokter pun memindahkan dirimu ke ruang ICU. Aku tak hentinya berdo’a demi keselamatanmu. Aku begitu takut kau pergi meninggalkanku. Keesokkan harinya aku mendengar jika nyawa Adri tak bisa diselamatkan. Ia mengalami pendarahan otak yang cukup parah. Berhari-hari hingga berminggu-minggu kau dalam keadaan koma. Membuat aku semakin putus asa setiap harinya. Sampai tiga minggu kemudian, keajaiban datang. Tuhan mengabulkan do’aku. Kau tersadar dari komamu. Ternyata kau melupakan beberapa kejadian sebelum kecelakaan itu berlangsung. Dan aku meminta dokter untuk menutupi semuanya darimu. Meski aku merasa kejadian malam itu masih menjadi sebuah misteri, namun aku tak ingin kau mengingatnya. Aku merasa jika hal itu pasti akan menyakitkan perasaanmu. Sepulangnya kau dari rumah sakit, keanehan demi keanehan sering menimpahmu. Kau jadi sering bermimpi buruk dan menjerit saat tidur. Kau jadi sering melamun dan paranoit. Sering menjerit tiba-tiba, seperti orang ketakutan. Pokoknya kau jadi semakin aneh. Menjadi sangat pendiam. Dokter bilang itu akibat dari trauma yang kau alami. Meski kau tak bisa mengingatnya, namun alam bawah sadarmu terus membayangkan kejadian itu. Sekarang setelah kau dapat mengingat semuanya, aku berharap kau tak lagi dihantui ketakutan. Aku begitu cemas melihatnya.”

Sepanjang Aska bercerita, aku hanya terdiam. Beberapa kali aku terkesiap mendengar ceritanya. Apalagi ketika kudengar bagaimana keadaan Adri. Ternyata ia ikut melompat menyusulku. Aku tak mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Kurasa opsesinya terhadapku membuat ia tak lagi berakal sehat.

“Bukan Adri yang menjatuhkan aku dari gedung itu Aska.” desahku. ” Aku sendiri yang melompat menjatuhkan diri. Aku takut menghadapi reaksimu jika kau menemukan keadaanku saat itu. Aku begittu putus asa. Kurasa, kurasa Adri menyusulku melompat. Sepertinya ia sudah gila. Ia sudah tak waras.” jelasku terbata-bata. Merenung mengingat kejadian malam itu.

“Sudahlah, sudahlah, jangan kau ingat-ingat lagi. Lupakan saja. Anggap semua itu hanya mimpi buruk. Yang akan lekas berlalu dan terlupakan.” bisiknya, membelai bahuku.

Sejak aku berhasil mengingat semuanya, aku tak lagi dihantui mimpi buruk dan ketakutan-ketakutan yang tak beralasan. Hanya saja terkadang ingatanku membawa kenangan akan Adri. Terkadang aku tak mengerti dengan perasaanku. Ada saat-saat di mana aku merindukannya. Adri dulu pernah menjadi seseorang yang berarti untukku. Pernah ttanpa sadar air mataku jatuh ketika mengingat bagaimana dulu ia begitu baik padaku.

Saat itu aku bisa merasakan bagaimana sayangnya ia terhadapku. Dulu Adri tak pernah sekalipun membuat aku menangis. Ia selalu menjaga dan melindungiku. Jika harus kuakui, kepergiannya membuat hatiku terasa sakit. Begitu rumit rasanya sebuah perasaan. Kepergiannya membuat aku sadar jika ternyata aku mencintainya. Meski tak sebesar cintaku pada Aska, namun tak bisa kupungkiri jika aku memiliki cinta untuknya. Maafkan aku, tak bisa mencintaimu seperti engkau mencintaiku. Mencintai Adri membuat aku mampu melepas kebencian yang menyesakkan dadaku akan peristiwa malam itu. Kini aku dapat mengenang Adri dengan cinta, tanpa membuat hatiku pedih karena trauma masa lalu. Cinta pernah melukaiku, namun cinta juga yang menyembuhkannya.

17/02/17

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *