Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Pejuang Penjual Tempe

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Matahari mulai menguncupkan sinar senyumannya tanda akan datangnya waktu petang. Seperti biasa, Aku mulai hendak siap-siap menjemput les adik tercinta. Suasana sore itu sungguh menyegarkan tapi macet sehingga membuatku lama sampai di tempat les. Di sepanjang jalan macet itu, tiba-tiba pandanganku tertuju pada seorang bapak tua yang sedang mengayuh sepeda lambat tapi santai. Aku pun mulai mengalihkan pandanganku dan lekas kencang menuju tempat les. Sesampai di tempat les, Adikku sudah menunggu didepan pagar tanpa ada teman yang menemaninya. Kami pun langsung tancap gas untuk pulang.

 

Di perjalanan pulang, aku bertemu kembali dengan bapak tua tadi. Aku pelan-pelan mendahuluinya tanpa melirik hanya mendengar suara lantang yang dia ucapkan,

 

“Tempe… Tempe.. Tempeee buu Tempee..”.

 

Ternyata dia adalah penjual tempe di sore hari. Dari spion aku melihat tangan yang dia pergunakan hanya satu tangan yaitu tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya tak sempurna dan tertutup oleh kaos lengan pendeknya. Hatiku sungguh tersentuh dan berguman,

 

“Astagfirullah, sungguh penuh perjuangan sekali bapak itu. Walaupun hanya dengan satu tangan dia tetap semangat menjalani hidup dan mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan anak istrinya”.

 

Sesampai di rumah aku pun sudah tak memikirkannya lagi. Pikiranku sudah mulai dipenuhi dengan tugas kuliah yang menumpuk. Aku mulai melanjutkan mengerjakan tugas. Beberapa jam kemudian suara lantang itu terdengar lagi. Terdengar juga suara ibu yang memanggil penjual tempe itu. Berburu-buru aku melihat dari kaca jendela. Terlihat ibu membeli tempe lumayan banyak dan penjual tempe itu melayaninya dengan senyuman yang ramah sekali. Setelah penjual itu pergi, aku mulai menghampiri ibu.

 

“Ibu, penjual itu sering lewat sini ya?” tanyaku

 

“Iya sayang. Kan tempe yang kamu makan tiap hari itu beli di Pak Jono itu.”

 

“Namanya Pak Jono, bu?”     

 

“Iya. Memang kenapa?” jawab ibu dengan senyuman.

 

“Enggak kok bu”       

 

Di sore selanjutnya aku tak bertemu bapak tua itu. Pikirku mungkin yang kemarin adalah kebetulan saja. Beberapa hari kemudian aku minggu tenang sebelum masa ujian semester. Tak ada pun kegiatan yang kurencanakan selain di rumah untuk hibernasi sesekali.

 

Pagi ini ingin rasanya untuk jalan-jalan menghirup udara pagi. Sudah lama pula aku tak seperti ini semenjak duduk di bangku kuliah. Sungguh udara pagi benar-benar sejuk, tak kurasa menghirup polusi. Seandainya saja setiap hari dan setiap saat udara di Kota Surabaya seperti ini pasti tak kan ada penyakit akibat polusi tercemar.

 

Waktu menunjukkan pukul 06.00 matahari mulai terbit. Aku pun bergegas pulang setelah sampai di Suramadu. Setapak demi setapak ku lewati. Aku melihat di ujung pinggir jalan sana bapak tua penjual tempe yang kapan hari dibuat penasaran olehnya. Ku beranikan diri untuk menghampirinya.

 

“Bapak jual tempe ya?”

 

“Iya nak. Beli tempe berapa bungkus?”

 

“Hmm… sebentar pak, maaf pak gak jadi. Uang saya ketinggalan kayaknya”

 

“Adik ini, anaknya Ibu Marwan ya?”

 

“Loh bapak kok tau?”

 

“Iya kan ibunya adik sudah langganan tempe sejak Bapak pertama kali jualan tempe ini.”

 

“Emang Bapak sudah lama jadi penjual tempe ya, pak?”

 

“Iya dik, semenjak Istri saya meninggal kira-kira 5 tahun yang lalu.”

 

“Maaf pak, buat Bapak sedih.”

 

“Gak kok, Nak.”

 

“Jadi sekarang Bapak tinggal sama anak bapak ya?”

 

“Bapak tinggal sendiri, Nak. Saudara-saudara bapak tinggal di pulau jawa. Makanya Bapak jualan tempe pagi, siang, sore kadang sampai malam, hanya untuk makan dan ngumpulin uang syukur-syukur bisa umroh.” Ia bercerita dengan berkaca-kaca. 

 

“Saya salut dengan bapak.” Aku juga dipenuhi keharuan.

 

“Hehehehe… ini, Nak! Tempenya bawa aja.”

 

“Tapi Pak saya gak bawa uang, atau Bapak minta waktu lewat depan rumah saya aja ya, Pak?”

 

“Iya gampang, Nak. Ya sudah Bapak mau keliling lagi ya. Kapan-kapan kita sambung lagi ngobrolnya.”

 

“Iya bapak. Terima kasih. Hati-hati ya, pak!”

 

Bapak tua itu mengayuh sepedanya dan mulai tak terlihat dari pandanganku. Sungguh dia adalah orang yang benar-benar penuh semangat, pantang menyerah. Walaupun satu tangannya tak sempurna dan orang yang disayanginya sudah tiada tapi dia tetap punya semangat untuk hidup. Bahkan di sisa hidupnya itu dia masih punya keinginan untuk melaksanakan ibadah kepada-Mu Ya Allah.

 

Sesampai di rumah aku melaksanakan sholat dhuha dan tak lupa untuk mendoakan bapak tua penjual tempe itu agar keinginannya dikabulkan oleh Allah dan tetap diberi kesehatan serta semangat dalam menjalani hidupnya.

 

 

Editor: Putri Istiqomah Priyatna

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *