MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

PELANGGAN YANG KRITIS

Terakhir diperbaharui 9 tahun oleh Redaksi

Seperti biasa, siang ini warung makan Ceuk Mumun di penuhi pelanggan. Para kuli bangunan, yang usai mengerjakan pekerjaan berat. Banyak duduk beristirahat di warung ini. Ceuk Mumun senang, melihat kursi warungya penuh terisi.

            “Ceuk,” tegur seorang pelanggan.

”Iya Kang.” Ceu Mumun menghampiri meja orang itu.

”Saya teh, pesan nasi satu.” Ceuk Mumun mulai mencatat.

”Terus, Kang?”

”Tempe separuh, tahu satu, sama sambel setengah sendok. Berapa Ceuk?” Ceuk menghitung biaya makanan orang itu.

”Tempe sebaruh Rp.500,- tahu satu 15 nasi satu Rp.3500,-” Sebelum Ceuk Mumun usai menghitung, orang itu bangkit berdiri sambil memandang tajam Ceuk Mumun.

”Ah gelo Ceuk, nasi satu Rp.3500,-? Kalau sepiring jadi berapa atuh?” Ceuk nampak kaget, sementara orang disekitar mereka tertawa mendengarkan kata-kata pelanggan itu.

Beri Pendapatmu di Sini
Baca juga:  PERJUANGAN PUTRA BANGSA