MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

PENYESALAN TANTAN

Terakhir diperbaharui 4 bulan oleh Redaksi

Tutung, si lutung merah hidup di kawasan hutan Meratus Kalimantan Selatan. Sudah menjadi kebiasaannya setiap hari membantu ibu memetik buah-buahan di hutan sebagai persediaan makanan.

“Jangan terlalu masuk ke dalam hutan ya, Nak. Banyak hewan buas yang kelaparan yang mengincarmu sebagai makanannnya!” pesan Ibu Tutung setiap kali ia berpamitan akan mencari buah-buahan.

Saat sedang asyik memetik buah-buahan untuk persediaan makanan, Tutung melihat ada sesuatu yang bergerak dan mendengar bunyi aneh dari balik semak-semak.

“Siapa itu?” tanya Tutung sambil melihat ke arah semak-semak. Namun tak ada jawaban, ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya.

Tutung mulai ketakutan karena semakin lama bunyi dari semak-semak semakin nyaring dan seperti ada yang sedang mengawasinya.

“Duh, jangan-jangan ada hewan buas yang ingin memangsaku.” Tutung melihat ke sekeliling hutan. Rupanya ia sudah terlalu masuk ke dalam hutan dan tak menyadarinya.

“Ah, karena persediaan buah-buahan di pinggir hutan sudah menipis, aku jadi masuk jauh ke dalam hutan dan melanggar pesan Ibu,” sesal Tutung.

Ketika suara berisik dari semak-semak sudah tak terdengar lagi. Dengan lincah Tutung berayun dari satu pohon ke pohon lain hingga sampai ke rumahnya.

“Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu khawatir saat melihat Tutung pulang ke rumah dengan napas terengah-tengah dan tubuh berkeringat.

Tutung pun menceritakan kejadian yang ia alami ketika memetik buah. Saking takutnya ia sampai lupa membawa buah-buahan yang sudah dipetik. Ditemani Ibu, Tutung kembali ke dalam hutan untuk mengambil buah-buahan yang tertinggal.

Baca juga:  Tanpa batas jarak dan waktu

“Siapa kamu? Kenapa kamu makan buah-buahan yang sudah aku petik.” Tutung terkejut saat melihat buah-buahan yang ia petik hampir habis dimakan seekor monyet yang memiliki warna bulu coklat kemerah-merahan seperti dirinya.

“A… aku Tantan. Maaf aku sudah memakan buah yang kamu petik tanpa minta izin terlebih dulu karena aku lapar,” kata Tantan si Bekantan. Bekantan adalah jenis primata yang memiliki hidung panjang dan besar. Salah satu keunikan bekantan jika dibandingkan dengan jenis primata yang lain yaitu pada sela-sela jari kaki bekantan terdapat selaput sehingga bisa berenang. Selain mahir berenang, bekantan juga bisa menyelam beberapa detik karena terdapat katup pada hidungnya.

“Apa kamu yang sejak tadi mengintipku dari balik semak-semak?” selidik Tutung.

“Iya.”

“Kenapa kamu sampai ada di wilayah hutan kami? Hutan ini bukan habitat tempat tinggalmu?”

“Aku tersesat.”

“Bagaimana kamu bisa tersesat?” Tutung menatap Tantan dari ujung kaki hingga kepala. Bulu Tantan pun sangat kotor.

“Sebenarnya aku tersesat karena memisahkan diri dari kelompok saat rombongan kami yang dipimpin oleh ayahku sedang mencari persediaan makanan.”

“Kenapa harus memisahkan diri?”

“Aku ingin merdeka dan hidup bebas. Aku tidak mau hidupku diatur. Harus melakukan ini dan itu. Jadi saat ayahku lengah, aku kabur. Tadinya aku pikir pasti menyenangkan hidup bebas di hutan tanpa ada yang mengatur. Namun kenyataannya…” Tantan menghentikan ucapannya. Air matanya pun membasahi pipi. Ia menyesali keputusannya.

“Ya sudah kamu tidak usah bersedih. Besok pagi, kami akan mengantarmu kembali ke kelompokmu,” hibur Ibu Tutung.

“Benarkah aku bisa kembali lagi ke kelompokku?”

“Tentu saja, tapi kamu harus ingat ya Tantan. Jika kamu sudah kembali ke kelompokmu jangan memisahkan diri lagi. Bekantan memang seharusnya hidup berkelompok untuk melindungi satu sama lain dari serangan musuh. Seperti pepatah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.”

Baca juga:  PELANGI DAN CINTA

Tantan mengangguk mengerti dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Ibu Tutung lalu mengajak Tantan ke rumah mereka untuk beristirahat dan berjanji akan mengantar Tantan pulang agar bisa berkumpul kembali dengan keluarganya di hutan bakau yang menjadi tempat hidup bekantan.

 

SELESAI

Beri Pendapatmu di Sini