Beri dukungan untuk karya-karya yang telah diterbitkan di event menulis "Imaginasikan Merdekamu!". Tulis saran dan kritikmu sebagai bentuk apresiasi untuk penulis di kolom komentar
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Puisi Matahari

Terakhir diperbaharui 12 tahun oleh Dimas Prasetyo Muharam

Seberkas garis menembus jendela berterali.
Merambatkan gelonbang-gelombang tranversal pagi di pipi lembut seorang putri.
Dikala ia membuka matanya, segenap alam berseri menari.
Angin bernyanyi, tetes embun meniti.

Akulah sang bintang di kala itu.
Bersinar atas kuasa tanpa meragu.
Kubakar tubuh ini tuk sekedar menghangatkanmu.
Walau terkadang kau tiada tahu.

Ingatlah hangatku dikala senyum merona.
Layaknya musim semi hai bunga sakura.
Namun tiada lupakanku ketika hati meradang rana.
Karena aku kan selalu ada, walau engkau di sebrang dunia.

Ini cinta yg tak ada sesal.
Mengisi detik dengan ketulusan kekal.

Depok, 5 Maret 2009
(ketika semua mati dan hidup kembali)

Baca juga:  Hujan yang Membawa Ilmu Pengetahuan
Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbitkan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
Tags:
8 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.