Puisi: Ratapan Dewi Hutan

Kudengar bisikan angin yang mendayu,

Merayu pepohonan yang diam namun perlahan berdansa

Di tengah hutan yang setiap cabangnya bergemerisik sendu,

Bersama suara sungai yang mengalun merdu

Bak nyanyian dewi hutan yang pilu.

Tanganku terangkat menggapai bintang yang berkilauan bak permata,

Tapi bintang itu tak mudah kugenggam,

Ia bisa kugapai, iya,

Tapi tak mampu kumiliki seperti cincin di jemariku,

Bukan seperti kalung yang melingkar indah di leherku.

Oh, bisakah kau dengar, rembulan?

Ku ingin memiliki satu saja bintang di langit,

Tak untuk kugenggam selamanya,

Tapi daku ingin menyimpannya di hati,

Membawanya sepanjang hidupku.

Tak banyak permintaanku, hanya satu bintang,

Yang kan kujaga dalam dadaku, menjadi denyut jantungku,

Kan kupeluk ia selamanya, hingga denyutku berhenti,

Atau tubuhku tetap abadi dalam cahayanya,

Hingga dunia lupa padaku yang pernah mendamba.

Tiada ingin daku melepasnya, walau seribu bintang datang,

Tiada ingin daku menggantinya dengan kilau yang lain,

Maka berikanlah daku, oh rembulan,

Satu saja kawanan bintangmu untuk kupegang selamanya,

Jatuhkan ia ke dalam pangkuanku, dan kan kujaga ia.

Baca:  Angka 12
Bagikan artikel ini
Nurul Rahmah
Nurul Rahmah

Penulis asal Cihaurbeuti, Ciamis, kelahiran 2003, tinggal di Sukaraja, Sukabumi. Alumni SLB-A Budi Nurani, lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Seseorang yang jatuh cinta habis dengan seni sunda dan sastra epik.
Follow Instagram: @nurul.rahmah14
Follow Twitter/X: @NRGaza
follow channel telegram: t.me/nrgaza

Articles: 22

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *