Kartunet menuju usianya ke-12, nantikan program-program seru dari kami!
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Safrina, Api dari Minomartani

Safrina

Aku meletakkan remote televisi sambil tersenyum. Aku melihatnya lagi di televisi karena ia mendapatkan penghargaan nasional. Beberapa bulan lalu aku juga melihatnya, ada segmen khusus yang meliput dirinya sebagai guru inspiratif, ditulis koran nasional prestisius, dan mendapat apresiasi dari pelbagai institusi. Sempat juga kulirik akun facebook-nya, dan astaga…kudapati ia sudah menjejak kaki di tanah suci. Ia pun berhasil menjadi penyandang cerebal palsy pertama yang lulus di UNY dalam jangka waktu kurang dari empat tahun. Kali ini aku akan bercerita tentangnya: tentang sebuah mimpi yang pernah ia katakan kepadaku.

Namanya Safrina. Safrina adalah seorang penyandang cerebral palsy yang menjadi seorang guru di sebuah SLB. Ia pun juga aktif di LSM yang mengusung isu difabel di Yogyakarta sejak awal kuliah beberapa tahun lalu. Aku ingin memperkenalkan Safrina kepada kalian agar dapat menginspirasi dan memacu difabel yang lain untuk berkembang menjadi lebih baik, lebih bermartabat dan dihargai dimata masyarakat. Banyak jalan yang telah ia lalui sebagai sarana aktualisasi diri. Harapannya sangat luhur: dengan memperkenalkan prestasinya, masyarakat dapat lebih kritis dan peka dalam menilai potensi penyandang disabilitas yang kadangkala masih dipandang sebelah mata.

Beberapa ratus hari sebelum hari ini, aku menepati janji bertemu dengan Safrina. Aku sudah lelah membaca pesannya yang berisi motivasi menulis yang sering ia ambil dari buku-buku motivasi.

Aku dan Safrina memang berencana menerbitkan sebuah buku─mungkin hanya mencetaknya di percetakan─tapi kami tak peduli. Janji itu terucap saat kami sedang duduk di gazebo yang berwarna hijau di ujung lapangan rumput fakultas kami. Saat itu, senja menemani kami dengan memberikan pendaran yang mengagumkan. Sebetulnya, aku cuma duduk-duduk saja di gazebo─sedang tak ada yang dikerjakan karena memang sudah waktunya pulang. Awalnya kami cuma bicara ngalor-ngidul, kemudian mulai mengerucut pada satu hal.

Merajut mimpi─kuharap bukan mimpi yang salah.

“Mungkin kita bisa bertemu di hutan mlanding berdua.”

“Berdiskusi,” ujarku lagi.

Aku meneruskan obrolan lagi dengan Safrina. Aku heran saat melihat raut muka Safrina berubah. Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan setelah aku mengatakan kalimat itu. Kuharap aku tak menyakiti hatinya. Matanya berputar kesana kemari seperti komidi putar pasar malam. Aku penasaran apa yang ia pikirkan. Kulihat matanya mulai menghitung daun-daun beringin yang bersebaran di atas sajadah rumput. Dia bagai langit yang sulit sekali kutebak tingginya.

“Aku dulu dikira anak idiot,” ucapnya sambil memandangku.

“Maksudmu?”

“Aku bersekolah di SLB khusus tunagrahita sampai kelas tiga karena salah diagnosa. Sampai akhirnya ada guru yang peduli denganku. Dan aku sangat bahagia karena aku hanya cerebral palsy.”

Saat mendengar itu, hatiku bergenderang keras.

“Saat semua orang di sekolah tahu aku cerebral palsy, semua berubah. Pelajaranku tidak hanya dua apel ditambah dua apel, tapi aljabar-aljabar sederhana,” ia terhenti sejenak dan kemudian berkata lagi, “dan juga perkalian.”

“Kamu terus bersekolah di SLB?” tanyaku.

Ia menggeleng, “Aku melanjutkan di sekolah inklusi. Sampai sekarang bisa masuk di PTN pun karena sebuah perjuangan panjang.”

Aku dan Safrina berbincang lama sampai akhirnya senja memisahkan kami. Saat ia beranjak pergi, ada catatan kecil yang tersimpan di kepalaku yang akan kutanyakan besok.

Lagi.

Aku dan Safrina bertemu di hutan mlanding, bukan tanpa alasan─merencanakan misi rahasia yang kami anggap sebagai bubuk amunisi, yang semoga bisa meledak. Kami membuat novel─lebih tepatnya kumpulan buku harian! Bercerita tentang manusia tertindas dan berdarah-darah melawan kemunafikan dunia. Tokoh utamanya cukup misterius, menyukai menulis padahal dia sendiri tidak bisa menulis. Otaknya mengalami kerusakan─banyak ahli yang menyebutnya cerebral palsy.

“Kamu ikut UN ketika SMA?” tanyaku memulai pertemuan. Kulihat ia mengangguk pelan dengan mata yang berbinar.

“Lulus?” ucapku lagi. Entah mengapa binar matanya meredup.

“Tanganku kaku dan athetosis. Aku berkali-kali berusaha menghitamkan tanpa harus keluar garis. Tanganku gemetaran. LJK-ku tak karuan bentuknya─lecek dan kotor, mirip bungkusan tempe.”

Dengan seksama aku mendengarkan ceritanya. Aku baru tahu jika ia tak lulus dari SMA karena LJK tak terbaca dengan baik, padahal 90% jawaban ia tahu jawabannya. Waktu itu tak ada pendamping dan sedikit orang yang peduli dengan keberadaan Safrina. Melihat seperti ini, ada banyak pihak yang membantu dan akhirnya ia bisa masuk ke PTN satu angkatan denganku.

“Aku yakin akan lulus, meskipun tidak sepenuhnya. LJK adalah penghalang nyata bagiku. Seteliti apapun aku menghitamkan LJK, tetap saja akan mbleber-mbleber. Bulatan itu terlalu kecil─bahkan jika dibesarkan sampai sepuluh kali tetap saja tidak akan pernah rapi. Lagipula tidak akan ada pendamping─aku tidak akan minta bantuan selain kepada Allah dan diriku sendiri─tapi tentu aku tak keberatan jika ada yang ngasih aku jawaban,” ucapnya sambil terkekeh.

Aku sering berpikir, betapa beruntungnya Safrina. Dia memiliki keluarga yang sangat peduli terhadap dirinya. Aku tak bisa membayangkan jika Safrina terlahir di pulau terpencil, tentu ia tidak akan jadi seperti ini─hanya dilecehkan, dianggap tidak berguna dan bahkan dipasung seperti yang aku lihat di televisi kemarin. Ada anak cerebral palsy yang dipasung duabelas tahun karena dianggap kerasukan siluman.

Memang, pepatah don’t judge the book by the cover kadangkala benar. Tapi orang sering menghakimi tanpa adanya bukti─cuma mengira-ngira dan membuat hipotesis sebagai kesimpulan akhir. Ini jelas tidak adil. Aku pun sering belajar makna kehidupan darinya. Saat orang mulai terjebak hedonisme dan menjadi hipokrit, adanya Safrina dapat memberiku satu alasan untuk terus bertahan: bahwa kejujuran sebetulnya mudah, meskipun sulit pada awalnya.

Tulisan tangannya memang gedhe-gedhe dan awut-awutan─tangannya berkata bahwa jangan salahkan ia karena aku mengalami ketegangan. Ketika bicara ia seperti menelan suku kata dan tidak jelas─lidahnya berkata jangan salahkan ia karena aku sulit dikendalikan. Ketika berjalan ia seperti orang mabuk dan sempoyongan─kakinya bicara bahwa jangan salahkan ia karena aku tak terkontrol dengan sempurna. Hal tersebut mengisyaratkan satu hal, ada beberapa bagian otaknya yang rusak, jangan hina Safrina karena ia juga punya perasaan. Itu, ucapan yang sering ia katakan tanpa bersuara.

Ia juga pernah berujar, “Semua manusia sama, haknya─berbeda dalam beberapa hal dan itu biasa. Safrina tak bisa memaksa orang untuk mengerti kebutuhan Safrina, justru Safrina-lah yang harus hijrah─mencari kualitas diri, sejajar dan terbang melesat meninggalkan orang-orang itu..”

Impian Safrina─dan juga aku tentunya─hanya satu: inklusi dalam segala hal, tentu saja ritual keagamaan tidak termasuk dalam kategori ini. Awalnya memang sulit─aku juga ingin bermain bola tanpa harus ditertawakan, dan Safrina juga ingin makan di kantin dengan nyaman tanpa harus membuat risih orang.  Kadang aku juga takut kacamataku terlepas saat berdesakan di dalam angkot dan dia pun sering merasakan kepayahan saat akan turun dari angkot.

Aku terdiam sejenak. Mataku menyapu rumput basah di bawah pepohonan. Dalam hati, aku merasa terlalu berdosa kepada diriku sendiri. Aku terlalu banyak maunya dan kurang bersyukur.

“Safrina, Insha Allah beberapa hari lagi kamu bakal dapet naskah yang bagus,” ujarku dengan mata terbuka lebar. Aku bertekad akan menyelesaikannya dalam dua hari.

Ia pun mengangkat bibirnya

Hari itu ternyata adalah hari terakhir kami membahas novel. Aku dan Safrina mulai tenggelam dalam skripsi dan aktivitas melenakan. Aku juga tak pernah menyelesaikan naskah novel yang sudah 75% itu. Kami pun hilang dalam rutinitas masing-masing dan tak kusangka aku bertemu lagi dengannya di layar televisi dengan segudang prestasinya.

Saat selesai menonton wawancaranya di televisi, aku lantas membuka file naskah novel yang tersimpan lima tahun lalu. Ia telah berhasil mewujudkan sebagian mimpinya yang bahkan belum tertulis. Novel impian kami tak pernah selesai, namun segala yang tertulis dalam naskah-naskah itu satu-persatu telah mampu ia raih dan diwujudkan.

. Salam semangat untukmu! Semoga inklusi semakin membumi!

Kartunet.com adalah media warga, tiap tulisan, foto, atau materi lainnya adalah tanggung jawab sepenuhnya dari kontributor sebagai pembuatnya.
22 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *