Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Saksi Cinta Kereta Palmerah

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Karya yang agung, begitu megah dengan barisan gerbongnya yang kokoh nan perkasa. Dan lihatlah ketika roda besi itu melintasi rel-rel yang terbuat dari baja hitam yang panjangnya ribuan kilometer itu bunyi yang menggetarkan syaraf motorik begitu terasa. Terdengar mengancam, menghibur, dan mengadu. Mengancam siapa saja yang berani menantangnya dengan berdiri mematung ditengah lintasanya, rel baja. Menghibur siapa saja yang telah asyik mendengarkan lantunan lagu dari sang pengamen yang telah kebal terhadap sejuta kemungkinan nasib baik yang sering menyapanya. Dan mengadu, mengadukan nasib ribuan anak jalanan yang mengandalkan tempat benda maha karya zaman Belanda itu berlabu, untuk mencari barang sesuap nasi. Apakah mereka perduli? Perduli pada orang-orang yang naik diatas gerbongnya? Perduli kepada orang-orang yang tidur di bawah gerbongnya? Perduli pada anak-anak jalanan yang harus mempertaruhkan napasnya, saat melantunkan lagu Ayah di pelataran stasiun tempat pemberhentianya. Apakah mereka perduli? Orang-orang atasan itu! “Hanya Allah yang tahu, dan saksi kekejaman ibu kota di stasiun kereta juga stasiun pembaringan hidup kami. Generasi yang tak pernah diperdulikan kalian, duhai pemimpin bangsa!”

 

Antrian tiket begitu panjang di loket kereta tujuan stasiun Serpong Tanggerang. Kereta itulah, yang setiap hari setia mengantarnya menuju setasiun Bintaro dan dia akan melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya di Larangan Selatan Cileduk. Kereta akan tiba kira-kira satu jam lagi, sementara antrian bagaikan semut merubung gula bekas roti.

 

Seorang Bapak berkacamata minus persegi menyapa: “Baru pulang kerja dik?” Dia menoleh, Bapak berwajah ramah itu tersenyum. “Iya Pak. Antrinya lumayan juga.” Lirihnya membalas senyum Bapak itu.

“Kerja dimana?” Tanya Bapak itu kembali.

“Di toko kaset pasar Palmerah Pak!” Jawabnya halus.

“Bapak darimana?” Tanyanya akrab.

“Ini lo, tadi saya habis menjenguk saudara di Kampung Bandar. Sekarang mau pulang ke Lebak Bulus. Adik hendak pulang kemana?”

“Saya ke Larangan Pak.”

Bapak itu mengamati pemuda yang telah diajaknya bicara. “Nampaknya dia seorang pekerja keras, dan santun ahlaknya. Dan wajahnyapun teduh.” Pikirnya dalam hati, menilai anak muda itu.

“Kamu masih sekolah nak?”

“Alhamdulillah Pak, masih.”

“Kuliah?” Sambung Bapak berkacamata.

“Iya Pak.” Jawabnya tersenyum bangga.

“Kuliah dimana?” “Di UI Pak.”

 

Antrian perlahan surut. Banyak orang dalam antrian yang sudah mendapatkan tiket. Selang beberapa saat keereta jurusan Serpong datang dari arah Utara.

“Adik mau ke bintaro? Itu keretanya sudah datang!” Mereka saling berpamitan, dan bertukar kartu nama.

“Terimakasih lo, mau menemani saya mengobrol. Rasanya kalau mengantri begini kalau nggak ada yang di ajak ngobrol sepi.” Komentar Bapak itu.

“Sama-sama Pak! Saya pamit Pak!”

“Ya, hati-hati lo nak!” Klakson membahana, memberitahu kepada setiap penumpang agar segera masuk kedalam gerbong raksasa. Barisan laki-laki, perempuan perlahan menuju gerbong-gerbong kereta hitam yang berhenti di jalur dua. Itulah, kereta menuju Serpong. Ia mengikuti barisan itu, rasanya bahagia bila sore mengiringi hati yang baru saja pulang kerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

Satu persatu penumpang naik ke atas gerbong. Para pengamen mulai menggenjreng gitarnya, atau sekadar menggoyangkan kecrek tutup botol untuk menyanyikan lagu sumber pendapatan makan bagi mereka. Para pengemis yang berpakaian serba kumal namun megah bagi mereka, sedang memasang muka pilu meminta sedekah kepada setiap penumpang kereta. Seorang gadis berjilbab merah muda ikut antrian menuju gerbong tepat disampingnya.

 

Akhirnya tinggal beberapa orang yang mengantri, dan dia berhasil naik keatas gerbong namun naas, tempat duduk yang tersedia telah penuh. Dia mencari  tempat yang aman untuk berdiri. Disudut gerbong ada tempat yang cukup aman, menghadap jendela yang terbuka pasti nyaman kalau kena angin. Kereta mulai bergerak perlahan saat terdengar suara teriakan. “Tolong copet!” Dia menoleh, dan si gadis yang tadi mengantri disampingnyalah yang berteriak.

 

Gadis itu kembali kepelataran stasiun, kereta mulai cepat bergerak. Merasa tergugah melihat gadis itu mengejar copet sendirian, dirinya melompat dari pintu gerbong yang masih terbuka. Rupanya si gadis kembali berteriak sehingga memancing orang-orang disekitar stasiun untuk mengejar pencopet itu. Tumpah ruah separuh penghuni stasiun mengejar si pencopet yang tunggang langgang lari kearah pasar. Akhirnya pencopet itu berhasil dibekuk di pasar bagian Timur dekat sebuah pasar swalayan.

 

“Ampun !!! Ampun !!! Tolong Bang jangan pukulin saya!” Lirih seorang bocah remaja yang tangan kananya menggenggam sebuah dompet berwarna hijau.

“Gebugin aje ngapain dikasih ampun! Bocah kayak gini, mampusin!” Ujar seorang Preman stasiun berwajah sangar.

Anak itu masih mengaduh. Satu persatu bogem mentah menghujani tubuh kurus itu. Ia yang baru tiba di lokasi segera menghampiri orang-orang yang kehilangan akal itu. “Berhenti!” Ujarnya menggelegar. Namun orang-orang yang telah kehilangan akal itu masih terus melayangkan pukulan ke tubuh remaja laki-laki yang keadaanya sudah babak belur.

“Hei kalian berhenti! Kalau tidak, saya laporkan polisi perbuatan kalian!” Ujarnya sekali lagi. Penyiksaan itu terhenti. Pandangan-pandangan tak setuju tajam menghujam matanya.

“Ngapain Abang ikut campur, biar copet ini mampus!” Preman stasiun protes.

Ia maju satu langkah mendekati preman itu.

“Bang nggak ada cara lain apa untuk menyadarkan copet ini!? Apa harus dipukuli macam begini!? Nggak kasihan apa Abang?” Preman itu menatapnya galak.

“Asal abang tahu aja ye! Nih copet udah sering ngelakuin criminal di stasiun Palmerah, kalau dibiarin bisa ngerugiin banyak orang!” Preman itu mencoba membela tindakan yang dilakukanya bersama separuh penghuni stasiun. 

“Saya faham Bang. Tapi perbuatan kalian bisa membuatnya semakin gencar melakukan criminal!”

“Maka daripada itu dia harus di bikin mampus!” Ujar preman itu sambil mengarahkan pukulanya kearah bocah laki-laki yang mukanya sudah berlumuran darah.

“Tahan! Kalau abang tetap nekat mau mukul anak ini Polsek dekat dari sini. Abang mau saya laporin Polisi!?” Preman dan orang-orangnya akhirnya mengalah.

 

Si gadis berjilbab merah muda baru saja tiba di tempat kejadian. Dia tiba bersama beberapa Polisi.

“Itu pencopetnya Pak!” Ujar si gadis penuh amarah. Polisi hendak memborgol remaja yang masih merintih kesakitan itu.

“Tahan Pak. Biar anak ini menjadi urusan saya! Mbak itu dompetnya silahkan ambil!” Katanya seraya menunjuk dompet yang tergeletak tak jauh dari tangan tubuh penuh luka pukulan itu. Gadis berjilbab merah muda terkesiap heran, sementara 3 Polisi yang mengawalnya mengurungkan niat mereka untuk memborgol si remaja.

“Pak sebaiknya anak ini di bawa ke rumah sakit. Coba Bapak lihat, apa tidak kasihan kalau di borgol lalu di bawa ke kantor Polisi?” Salah seorang Polisi menghampiri anak yang semakin keras suara rintihanya.

 

 

“Benar, kalau begitu segera kita bawa anak ini ke rumah sakit. Luka-lukanya terlalu parah.” Kata polisi itu. Akhirnya bersama 3 orang Polisi ia dan gadis itu menuju rumah sakit dengan ambulans.

“Siapa namamu dik?” Tanyanya ketika berada di dalam ambulans.

“Yansyah Bang!” Jawab anak itu menahan sakit. Gadis berjilbab merah muda memperhatikan percakapan itu.

“Apa yang membuat kamu melakukan hal ini?” Tanyanya lagi.

“Buat biaya makan sama bayar sekolah Bang. Udah 4 bulan saya nunggak spp. Dan … Ibu saya lagi sakit Bang!” Kata anak itu sambil meneteskan air mata.

“Saya terpaksa melakukan ini Bang. Saya ingin Ibu saya sembuh, obatnya sudah habis saya mau diberhentiin dari sekolah. Saya masih ingin belajar Bang, saya masih ingin bersama Ibu!” Akhirnya tangisnya pecah. Mata gadis berjilbab merah berkaca-kaca. “Benar kamu masih ingin sekolah?”

Yansyah mengangguk. “Benar kamu masih ingin bersama Ibu?” Kembali Yansyah mengangguk.

“Baik sepulang dari rumah sakit nanti kita ke rumahmu!” Yansyah terperangah. “Abang mau ke rumah saya? Jangan Bang! Rumah saya nggak pantas buat Abang!” Kata Yansyah mengiba.

“Sudah, jangan kamu pikirkan hal itu.” Ia melirik gadis berjilbab merah yang duduk disebelahnya. Gadis itu masih berkaca-kaca.

“Mbak terharu?” Tanyanya.

“Saya tidak menyangka, alangkah keras perjuangan anak ini demi pendidikan.” Lirihnya. “Begitulah Mbak. Oh ya, apakah isi dompet Mbak ada yang kurang?”

“Alhamdulillah, sedikitpun tidak. Isinya lengkap.” Kata gadis itu menjelaskan. Ambulans tiba di rumah sakit, Yansyah diangkat dengan mengunakan tandu diiringi 3 Polisi. Seorang perawat langsung menangani Yansyah. Polisi yang membawa rombongan Yansyah menemui pihak administrasi.

 

“Tangani dengan baik pasyen kamar 03 semua biaya saya yang bertanggung jawab.” Setelah menangani administrasi Polisi itu menemui Gadis berjilbab merah muda. “Tugas kami sudah selesai, biaya rumah sakit anak itu telah saya selesaikan. Saya pamit, lain kali hati-hati agar kejadian tadi tidak terulang.”

“Terimakasih Pak. Saya akan lebih berhati-hati lain kali.” Polisi itu kembali bertugas bersama 2 anak buahnya.

 

“Oh ya, nama mas siapa?” Tanya gadis itu kepadanya seraya mengulurkan tangan.

“Qais Mbak.” Jawabnya menyambut tangan si gadis.

“Aku Nurul. Terimakasih lo, kamu telah menolong saya. Saya piker copet itu berhasil lolos dari kejaran orang-orang di stasiun, dan dompet saya berhasil dibawa kabur.” “Sama-sama Mbak. Lagi pula, dompet Mbak tentu selamat walaupun anak itu berhasil tertangkap orang-orang stasiun. Yang kasihan adalah anak itu, kalau sampai tak terselamatkan dari amukan orang-orang itu.”

 

Tak lama kemudian seorang perawat menghampiri Qais dan Nurul.

“Mas dan Mbak yang mengantarkan adik tadi?”

“Iya Suster, bagaimana keadaanya?” Tanya Qais.

“Alhamdulillah, dia baik. Sekarang juga sudah diperbolehkan untuk pulang.” Perawat itu menjelaskan.

 

Qais bangkit dari duduknya, “Boleh saya menemuinya?” Pintanya.

“Silahkan!” Mereka bertiga masuk ke ruangan dimana Yansyah di rawat. Remaja itu sedang menikmati sepotong roti yang ditaburi keju halus. Ketika Qais dan Nurul disertai perawat masuk sejenak ia menghentikan makannya.

”Bagaimana keadaanmu Syah?” Tanya Qais, seraya duduk disamping Yansyah. ”Alhamdulillah Bang. Oh ya, saya belum kenalan nama Abang sama Mbak siapa?” Tanyanya sambil menatap kedua orang yang telah menolongnya.

 

 

 

 

 

”Nama Abang Qais.”

”Nama Mbak Nurul.” Ujar Nurul seraya menyalami Yansyah.

”Terimakasih Mbak Nurul dan Bang Qais mau menolong saya. Oh ya Bang, kira-kira kapan saya boleh pulang? Kasihan Ibu lama menunggu saya.”

”Sekarang juga kamu boleh pulang. Kalau kamu merasa sudah baik.” Qais menjelaskan. ”Bagaimana dengan biaya rumah sakit ini Bang. Saya rasa, pasti mahal. Saya nggak punya uang Bang, untuk membayar semua pengobatan saya.” Ujar Yansyah merasa tak enak.

”Kamu tidak usah memikirkan hal itu, semua beres. Yang terpenting kamu sehat, dan kamu bisa ber sekolah besok.” Kata Qais menghibur. Yansyah diantar pulang oleh Qais dan Nurul. Tak hentinya anak itu mengucap syukur kepada Allah, karena dia masih diselamatkan dari amukan orang-orang yang tak pernah mengerti keadaan yang mengharuskan dia mencopet.

 

”Kamu sekarang kelas berapa Syah?” Tanya Nurul.

”Kelas IX Mbak Nur.”

”Sebentar lagi ujian dong?”

”Iya Mbak, do’anya Mbak.”

”Apa cita-citamu nanti kalau sudah besar Syah?” Tanya Qais.

”Saya mau jadi Pilot Bang.”

”Belajarlah terus, semoga cita-citamu tercapai.”

”Amin, itu rumah saya Bang! Mbak!” Mereka tiba disebuah rumah berukuran 10×6 meter. Rumah itu terletak disebuah perkampungan kumuh di pinggir sebuah kali yang Amat tragis keadaan airnya. Yansyah mengajak mereka masuk kedalam rumah, ketika membuka pintu alangkah terkejutnya Qais dan Nurul melihat keadaan rumah bagian dalam. Benda seperti lemari kayu yang sudah tidak memiliki pintu lagi diletakan di pojok rumah sébela kanan, berdampingan dengan sebuah kompor minyak berkarat  yang sedang mengepulkan asap. Sebuah ranjang kayu didesakan dengan sebuah meja triplek disudut lain ruangan. Seorang gadis kecil sedang mengaduk sayur yang baru saja matang. Melihat Yansyah pulang gadis itu langsung melompat menyambutya.

 

“Abang, gimana berhasil nyopetnya?” Tanya gadis itu penuh harap.

“Gagal Lam, malah Abang di pukulin warga.” Yansyah menghela napas. Gadis itu nampak cedí, “Gimana sama Ibu Bang? Dari tadi batuknya nggak berhenti. Terus sesak napasnya terus-terusan kambuh.” Gadis itu menjelaskan.

”Sekarang Ibu sudah istirahat?” Gadis itu mengangguk.

”Sudah makan?”

”Saya saja baru masak, ini tadi pinjem sayuran dari Nyak Madeh.” Kata gadis itu sambil melirik sayur yang telah matang diatas kompor.

”Ya sudah, ini Abang bawa teman. Layani dulu dengan baik mereka yang nolongin Abang dari amukan warga tadi.” Gadis itu dan Yansyah mempersilahkan Qais dan Nurul masuk ke dalam rumah.

 

”Dia adikmu Syah?” Tanya Qais.

”Iya Bang, namanya Nilam.”

”Sekolah?”

”Alhamdulillah Bang, sekarang naik kelas VI.” Dalam hati Qais ada rasa perih. Sebuah suara memanggil Yansyah, suara itu berasal dari ranjang kayu yang baru saja diamati baik-baik oleh Qais.

 

”Yansyah, sama siapa kamu?”

”Yansyah bawa teman Bu.” Yansyah menghampiri wanita itu.

”Uks! Uks!” ”Ibu belum makan?”

”Belum, kamu sudah?”

”Sudah Bu. Lam suapin Ibu dulu, biar Abang yang bikin minum buat Bang Qais dan Mbak Nurul.” Yansyah bangkit begitu juga adiknya yang sedang mempersiapkan 2 gelas minuman.

 

 

 

 

”Maaf Bang, Mbak! Hanya ini adanya.” Kata Yansyah seraya menaruh 2 gelas air putih diatas lantai rumah yang terbuat dari semen.

”Kalian bertiga, tinggal di rumah ini?” Tanya Qais.

”Iya Bang.” Jawab Yansyah datar.

 ”Ayahmu?” Tanya Nurul.

”Ayah saya sudah 3 tahun yang lalu meninggal. Beliau tertabrak kereta waktu pulang ngamen di stasiun Palmerah.” Yansyah menjelaskan dengan mata berkaca-kaca. ”Berdo’alah, semoga Ayahmu menjadi kekasih Allah.” Ujar Qais lirih.

”Lalu, siapa yang membiayai sekolahmu dan adikmu?”

”Sejak Ayah meninggal, sayalah yang menggantikan beliau mencari nafkah keluarga. Kadang saya ngamen, kadang jaga kios punya Koh Budi di pasar, ya … Kalau keadaan terdesak saya melakukan hal yang baru saja saya lakukan, mencopet.” Yansyah menjelaskan panjang lebar.

 

”Walau bagaimanapun juga saya harus jalanin semua ini Bang, Mbak. Demi cita-cita, dan pesan Ayah saya sebelum meninggal.”

”Memangnya apa pesan Ayahmu?” Tanya Nurul.

“Kata Ayah, saya tidak boleh bernasib seperti beliau. Saya harus menjadi orang sukses. Begitu yakinnya beliau menyemangati saya untuk sukses, meski keadaan kami seperti ini.” Qais dan Nurul berkaca-kaca.

“Oh ya Bang Mbak, keasyikan cerita nih. Di minum dulu!”.

 

Usai Shalat Mahgrib Qais pamit pulang pada keluarga Yansyah. “Ini Syah, uang buat kamu makan selama sebulan dan bayar spp. Kalau kurang kamu datang ke rumah Abang! Ini alamatnya.” Kata Qais sambil menyerahkan kartu namanya pada Yansyah.

”Aduh, Bang. Terimakasih! Apa saya nggak ngerepotin Abang?” Lirih remaja itu.

”Insyah Allah, semoga bermanfaat! Yang penting belajar kamu jangan terhambat wujudkan cita-citamu juga pesan Ayahmu.”

”Terimakasih Bang!” Yansyah mengantarkan mereka menuju stasiun. Ketika mereka naik kereta Yansyah berdo’a dalam hati.

”Ya Allah, begitu baiknya mereka. Mereka perduli dengan orang sepertiku, semoga Engkau menjadikan mereka orang-orang yang Shaleh juga kekasihmu di Surga sana. Dan, semoga mereka menjadi sepasang kekasih. Kan seru juga, kayaknya cocok orang sebaik mereka menjadi kekasih di dunia juga di Akhirat.”

 

Palmerah lengang. Terkikis oleh zaman yang semakin ganas. Terkikis oleh Ibunya yang semakin tua dan berang akan keadaan yang menimpanya. Air susunya tercemar oleh limbah-limbah yang beracun. Kulit tanganya yang lembut, kini kasar tercabik oleh anak-anaknya yang tak mengenal kasih sayang bila harus berhadapan dengan kehidupan yang keras. Maka, diatas malam yang sepi nan senyap Palmerah berujar.

 

”Duhai insan manusia! Tidak kasihankah engkau kepada Ibuku Jakarta yang sudah renta. Masihkah kalian tega terus-menerus melukai hatinya dengan kata-kata limbah kalian yang kejam. Masihkah kalian tega, membalas air susunya dengan air tuba kapitalisme kalian. Aku mohon, jaga dan peliharalah Ibuku yang renta nan tua ini!”

 

Hari berganti hari, rotasi bumi bergerak sesuai porosnya. Tidak sedikitpun keluar dari horison yang telah digariskan Tuhan. Bila keluar dari garis itu, maka semesta ini akan berganti menjadi remah-remah. Qais sedang termenung di kamar kosnya. Selama ini, dia hanya berpikir kehidupanyalah yang paling mencekik di dunia ini. Dia, yang sejak kecil sudah di tinggal kedua orang tuanya karena terkena wabah cacar yang menimpa kampungnya. Dia, yang sejak kecil sudah harus menghadapi berbagai macam pekerjaan kuli yang keras demi mempertahankan hidup. Dia, yang sejak kecil, tak pernah merasakan kelembutan seorang Ibu. Saat usianya menginjak 3 tahun, wabah cacar menyerang kampungnya. Hampir separuh penduduk kampung menjadi korban. Termasuk kedua orang tua dan seorang adiknya Khairul. Menjadi korban jiwa wabah itu. Sejak itu ia tinggal bersama seorang Mantri rumah sakit di desanya. Dan ketika berusia 15 tahun dengan berbekal Ijazah SMP ia merantau ke Jakarta untuk bekerja sekaligus bersekolah.

 

 

 

Alangkah sulitnya mencari pekerjaan dengan berbekal Ijazah SMP hingga ia harus rela menjadi kuli bangunan untuk bertahan hidup. Nasibnya berubah ketika ia duduk di kelas 2 SMA. Seorang pemilik pusat perbelanjaan menerimanya untuk bekerja di toko kaset yang berada di pusat perbelanjaan miliknya. Hingga kini dirinya masih mengabdikan dirinya di toko kaset itu. Gajinya cukup untuk membiayai kuliah dan hidupnya. Dan alhamdulillah sebentar lagi dirinya akan diangkat menjadi Dokter.

 

Akhirnya cita-cita yang diangankanya hampir tercapai juga:

”Ayah! Ibu! Khairul! Tak akan ku biarkan orang lain bernasib sama seperti kalian!” Janji yang di ucapkanya saat menghadapi ketiga jasat orang yang disayanginya.

“Yansyah.” Ia menghela napas. “Adikku, kamu mirip sekali dengan Khairul. Bermata sipit, berhidung mancung, berkulit hitam manis, lekuk pipimu, juga sama seperti Khairul ada disebelah kanan. Hanya satu yang tidak menyamaimu dengan Khairul, kamu tidak memiliki tahi lalat di dahi sebelah kiri. Tak apalah, toh kamu telah meredam rinduku pada adikku. Aku berjanji Syah, tak akan ku biarkan kamu bernasib sama seperti Khairul! Menghadap Allah sebelum mewujudkan cita-citanya, juga sama seprtimu Syah. Khairul dulu ingin sekali menjadi Pilot.” Awan-awan menggantung dikelilingi oleh tujuh bidadari nan cantik simbol warna yang megah. Awan-awan itu, pelangi bidadari itu, mengamininkan do’a Qais, mereka dan makhluk seluruh jagat raya mengaminkan do’a hamba-hamba Allah yang tidak mengenal kata menyerah demi mewujudkan cita-cita mereka.

 

Alam berdzikir, memuji kebesaran’nya yang tak pernah bisa tertandingi oleh apapun. Alam bertasbih, memuji keindahan ciptaan’nya yang begitu mempesona, gunung gemunung yang tinggi, dengan pepohonan yang hijau dengan bunga-bunga yang mekar. Angin yang berhembus perlahan menyejukan kerongkongan dan paru-paru yang hitam. Kicau burung, gemericik air sungai, juga lantunan ayat-ayat Allah yang terdengar dari sebuah masjid hati diatas bukit jiwa yang hijau nan teduh. Bunga-bunga kebahagiaan sedang mekar di jiwanya, lantunan dzikir alam menggema dari lisanya. Terdengar ucapan syukur penuh hikmat mengalir dari sungai-sungai kalbunya. Seorang pria berkacamata minus menyematkan lencana mengkilap lambang tugas di dadanya.

 

”Semoga engkau menjadi seorang Dokter yang dapat menyelamatkan banyak orang. Jalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, penuh dedikasi, dan ingat. Lakukanlah semua karena Allah, dan atas dasar kemanusiaan.” Pesan Rektor UI itu yang amat dikaguminya. ”Terimakasih Pak, mohon restunya!”

 

15 tahun kemudian.

”Besar harapan saya, kepada kalian untuk menjadi pilot-pilot yang bekerja dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab penuh. Di tangan kalian, nyawa juga keselamatan banyak orang di amanahkan oleh Tuhan. Kalian telah menempuh pendidikan juga latihan yang keras. Semoga itu semua dapat kalian jadikan bekal juga pedoman selama bertugas di lapangan nanti.” Itulah sekilas pidato yang disampaikan oleh kepala pelatihan pusat penerbangan yang disampaikan kepada 15 orang yang telah dilatih dan siap untuk mengendalikan pesawat.

 

Seorang pemuda dewasa bertubuh tegap dengan lekuk pipi disebelah kanan berada diantara mereka. Hari ini adalah awal penugasan para pilot muda ini. Sebelum menjalankan tugas mereka mendapatkan pengarahan juga sedikit pemeriksaan kesehatan. Seorang Dokter telah di tugaskan untuk meneleti kondisi kesehatan mereka. Yansyah masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan alangkah terkejutnya dia ketika menatap wajah sang Dokter.

 

”Bang Qais!?”

”Yansyah!” Mereka saling berangkulan.

”Gimana kabar Abang?”

”Alhamdulillah aku baik. Terkabul rupanya cita-citamu!?” Yansyah mengulum senyum. ”Terimakasih Bang. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat mewujudkan pesan Ayah dan cita-cita saya.”

 

 

 

”Bagaimana kabar Ibu dan adikmu?”

”Ibu menghadap Allah setahun setelah kunjungan Abang ke rumah saya. Adik saya kini sedang menempuh strata 2 Psikologi di Harvard university.”

 

”Saya turut berduka atas kepergian Ibumu. Do’akanlah beliau selalu, do’a anak yang berbakti akan diterima oleh’nya.”

”Terimakasih Bang. Sekarang paling tidak saya dapat mewujudkan pesan kedua orang tua saya, menjadi orang yang berguna bagi sesama.” Mereka berdua tersenyum.

”Ayo mari, aduh … Keasyikan ngobrol jadi lupa kalau pasyen saya harus diperiksa kondisinya.”

 

Usai pemeriksaan yang singkat itu Qais dan Yansyah menuju rumah Qais di kawasan Pondok Indah. Rumah yang cukup megah, dilatar belakangi oleh kebun mawar juga sebuah kolam ikan yang ditepi kolamnya berhiaskan pernak-pernik yang terbuat dari keramik. Penampilan dalam rumah, jangan ditanya. Hampir semua permukaan dinding dihiasi dengan lukisan-lukisan alam.

 

”Inilah gubuk saya Syah!” Ujar Qais penuh kebanggaan.

”Duhai Abangku alangkah bagusnya gubukmu ini. Kiranya sudikah Abang menampung dinda disini?” Rajuk Yansyah bernada canda.

”Tentu saja. Hehehe!” ”Mari silahkan masuk adikku!” Yansyah duduk disebuah sofa buatan Itali. Seorang wanita datang menyambut mereka. Dan alangkah terkejutnya Yansyah ketika memandang wanita anggun itu, “Mbak Nurul!?” Mereka berjabat tangan. “Apakabar adikku?”

“Aku baik Mbak! Terkabul do’aku rupanya!?” Qais dan Nurul terheran.

”Maksudmu?” Tanya mereka bersamaan.

”Begini Bang, Mbak. Waktu mengantarkan Bang Qais dan Mbak Nurul ke stasiun, saya berdo’a pada Allah begini: ”Ya Allah, begitu baiknya mereka. Mereka perduli dengan orang sepertiku, semoga Engkau menjadikan mereka orang-orang yang Shaleh juga kekasihmu di Surga sana. Dan, semoga mereka menjadi sepasang kekasih. Kan seru juga, kayaknya cocok orang sebaik mereka menjadi kekasih di dunia juga di Akhirat.” Mereka berdua begitu terharu juga bahagia. Tawa mereka menambah riang suasana sore itu.

 

”Wah, kalau begitu gantian. Semoga pilot kita ini mendapatkan jodohnya yang baik!” ”Amin !!!” Ujar mereka bertiga bersamaan. Langit cerah, rotasi Bumi tak berubah sedikitpun. Bintang bersinar, planet-planet tetap beredar sesuai porosnya.         Begitu pula nasib berputar sesuai dengan usaha orang-orang yang mengitarinya.

Tags:

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *