MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS

Sang Penolong

Terakhir diperbaharui 4 bulan oleh Redaksi

Malam gelap, di langit tak terlihat satupun kerlip bintang, tidak juga sinar rembulan barang secuil pun. Hawa yang dingin rasa-rasanya membuat siapapun enggan keluar dari peraduan. Seorang gadis remaja duduk termangu-mangu di bibir ranjang, matanya sembab, masih terdengar satu dua isak tangis yang meluncur dari mulutnya. Satu detik, dua detik, gadis itu masih terdiam namun akhirnya ia pun membuka pintu kamarnya kemudian berjalan menuju gudang. Masih segar dalam ingatannya siang tadi kucing kesayangannya mati dibunuh oleh pacarnya, bukan pacar tapi mantan pacar, batinnya dalam hati. Bagaimana bisa dirinya berpacaran dengan manusia sebiadab itu. “Yang, ayo dong.. kali ini aja ya?” “Nggak Vin, please jangan maksa gitu!” “Kamu kenapa sih, kamu nggak sayang sama aku?” “Sayang, tapi nggak harus ngelakuin itu, kan!” “Bullshit! Udah biasa kali jaman sekarang pacaran, ngelakuin gituan.” “Please jangan paksa aku, atau..” “atau apa!? Lo mau minta putus, cih! Boleh aja, tapi lo harus terima hukuman gue dulu.” Alvin langsung mendorong tubuh Danira hingga tersungkur bersama dengan kursi yang gadis itu duduki, saat Danira masih shock akibat dorongan tersebut Alvin segera menerjang tubuh gadis itu, namun belum lagi Alvin menyentuh tubuh Danira sekelebat bayangan berkaki empat menerkam pria itu. Danira hanya sempat melihat kucing kesayangannya meloncat, mencakar beher pacarnya. Kejadiannya begitu cepat yang selanjutnya Danira tahu hanyalah hewan peliharaannya terkapar dengan leher terpelintir nyaris putus. Gadis berseragam putih abu-abu itu hanya bisa mendekap erat hewan peliharaannya sambil menjerit-jerit memanggil nama kucing tersebut.

Sesampainya di depan gudang Danira tak lekas membuka pintu, entah bagaimana tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Ia merasa ada sesuatu yang salah, namun dia tidak tau, apa yang salah?

Danira tinggal di perumahan itu sebabnya hingga malam bangkai kucingnya tak juga dikuburkan, rencananya besok pagi ia dan ayahnya akan mencari tanah kosong untuk mengubur hewan kesayangannya tersebut. Dengan amat pelan Danira membuka pintu gudang, langkahnya menjadi terhenti tatkala melihat kain penutup kucing bergerak seakan ada sesuatu yang hidup di dalam sana. Gadis itu membelalak tangannya reflek membekap mulutnya sendiri, lihatlah di sana, tempat di mana kucing itu berada kini digantikan oleh sosok manusia tanpa busana, posisi tubuhnya merangkak seperti binatang berkaki empat, seolah semua kejutan itu belum cukup sekonyong-konyong terdengar suara bariton laki-laki, “hai Danira..” seketika dunia terasa gelap dan Danira pun jatuh tergeletak di depan pintu gudang.

********

Tiga Minggu Kemudian

“Gimana, tan. Keadaan Danira sekarang?” “Udah semakin baik, meskipun sesekali masih menjerit-jerit dalam tidurnya.” “Syukurlah, boleh Tania lihat Danira, tan?” “Silakan, Danira pasti seneng kamu datang, Oh iya, makasih udah jadi teman terbaik buat anak tante.” Ujar ibu Danira sambil menepuk bahu Tania. “Sama-sama tante, Danira anaknya baik kok tan, di kelas pun banyak yang nanyain Danira, pada mau jenguk, tapi tante tahu sendiri kondisinya masih belum stabil gitu.” Ibu Danira hanya mengangguk-angguk menanggapi kalimat Tania. “Ya sudah sana masuk,” “baik, tan.”

“Woi, lagi ngapain lo?” Tegur Tania tatkala melihat Danira hanya termangu menatap kosong arah jendela. “Elo, mau ngapain sih ke sini?” “Menurut lo gue ngapain?” Jawab Tania enteng. “Nggak jelas lo,” “emang,” berkata Tania masih dengan nada seenaknya. “Lo kenapa nggak masuk sekolah, udah tiga minggu loh, cinta banget lo sama Alvin sampai-sampai lo nggak bisa move on.” “Sok tahu, emang lo peduli sama gue,” “kalau gue nggak peduli masa gue di sini,” Danira menarik napas panjang seakan-akan ia ingin menghirup semua oksigen yang ada di ruangan itu. “Gue nggak tahu, apa salah gue, sampai-sampai semua kejadian buruk ini terjadi sama gue.” Tania menghela nafas. “Dari awal gue udah peringatin lo, jangan mau pacaran sama Alvin, tapi lo malah milih ngejauhin gue ketimbang ngedengerin gue.” Ucapnya dengan suara pelan. “Maaf, gue jahat banget ya? Gue nyesel kenapa gue nggak dengerin lo. Gue bodoh!” Keluh Danira dengan perasaan malu sekaligus penuh terima kasih pada Tania. “Hey, gue gapapa, gue udah maafin lo kok,” jawab Tania dengan suara bergetar. “Dari semua orang yang gue kenal lo yang paling selalu ada buat gue bahkan saat gue udah nyakitin lo, ngerusak pertemanan kita,” ucap Danira menahan isaknya. Tak ayal keduanya saling bertangisan, saling berpelukan, saling memberikan energi positif satu dan yang lainnya.

Setelah dua menit penuh drama itu, akhirnya senyum Danira mulai merekah. Satu dua kali terdengar keduanya terkikik bersama akan tetapi saat sudah tidak ada bahan yang bisa mereka tertawakan Danira pun pelan-pelan membicarakan perihal yang membuat dirinya belum siap keluar rumah hingga saat ini, “tapi persoalannya bukan melulu tentang Alvin atau kucing gue yang mati, ada sesuatu di luar nalar yang hingga detik ini gue nggak ngerti itu beneran atau enggak.” “maksud, lo?” Kening Tania mulai berkerut meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi pada temannya. “Gini, lo boleh percaya boleh nggak, tapi please jangan ketawain gue, jangan anggap gue gila, oke?” “Oke,” Balas Tania sambil mengangguk. Danira mengamati wajah sahabatnya, saat dirasa Tania telah siap mendengarkan maka Danira mulai bercerita mengenai kejadian yang ia alami di malam itu, di depan gudang. “Gue berani sumpah gue bener-bener ngelihat tuh kucing berubah jadi manusia dan yang bikin gue tambah shock, kucing itu, eh maksud gue manusia kucing itu nyebut nama gue,” tandas Danira berapi-api. Tania hanya terdiam, bungkam, tidak tahu harus bagaimana menanggapi cerita tersebut. “Tan, Tania? Jawab gue, apa menurut lo kejadian itu bener-bener terjadi?” Desaknya menuntut jawaban temannya. “Jujur gue bingung mesti ngerespon gimana, apa yang lo ceritain ini buat gue terlalu mustahil, terlalu fiksi gitu.” “Hem, ya, gue rasa juga gitu. Tapi anehnya pas gue nanya ke bokap bangkai kucing itu udah nggak ada di tempatnya semula. Waktu dicari ke seluruh rumah juga nggak ketemu, ditungguin sampai berhari-hari lamanya yang namanya bangkai kan pasti bakal ngeluarin bau, eh tapi sampai sekarang nggak pernah tuh kecium bau-bau nggak enak.” Tania mendengarkan cerita tersebut dengan seksama, ia tidak ingin mengecewakan sahabatnya, tetapi di lubuk hati terdalamnya, dia justru menjadi iba pada temannya. “Tania, woi!” “Eh, iya, ya, gimana?” “Gimana apanya, Lo nggak dengerin gue ya?” “Dengerin kok,” “Yeah, lo gak percaya ya sama cerita gue padahal gue cuma cerita ini ke lo doing.” “Nah, kenapa lo nggak cerita sama bokap nyokap?” “Reaksi mereka gue rasa nggak akan jauh-jauh sama reaksi lo.” “Sorry ya gue mungkin emang nggak percaya, tapi gue di sini siap ngedengerin cerita lo.” “Thanks, ya.” “Ya. Sekarang lo boleh lanjutin ceritanya.” “Oke, gini, setelah kejadian itu gue beberapa kali ngelihat tu manusia jadi-jadian. Pertama waktu gue bangun dari pingsan, gue ngelihat dia ada disebelah nyokap, tapi herannya di situ gak ada yang nggeh sama kehadiran dia.” “Maksud lo cowok jadi-jadian itu bugil gitu pas nampakin diri.” “Anjir, ya nggaklah.” “Tadi lo bilang tuh laki telanjang pas di gudang?” “Iya, gue juga nggak ngerti dia make pakaian siapa atau pakaian dari mana.” “Lo nggak coba nanya gitu sama bokap atau abang lo, siapa tahu mereka kehilangan satu set pakaian plus dalaman.” Sesaat keduanya tertawa, gagasan bahwa pria misterius yang berevolusi dari binatang yang mati, lalu mengenakan pakaian ayah atau kakak danira terasa sangat menggelikan bagi mereka. “Serius dong Tan, apaan sih, aneh banget teori lo.” Seru Danira sambil tertawa. “Ih, justru bener dong, Nir. Perlu diselidiki tuh.” “Nggak ah, ngaco Lo.” Jawab Danira menahan tawa.

Baca juga:  The Lost Dancing Fairy

“Ada baiknya kau mengikuti saran temanmu, agaknya ia memiliki pikiran yang terang.”

Di tengah keseruan dua sahabat tersebut, tiba-tiba terdengar suara yang begitu dekat seakan berada di belakang Tania, gadis itu reflek menoleh, hampir saja dirinya terjatuh dari kursi saking kagetnya demi melihat sesosok manusia berdiri di belakangnya, alih-alih bangkit dari duduknya danira justru meringkuk memeluk guling, keringat dingin membasahi punggungnya.

******

Lima Hari Kemudian

Suasana telah begitu sepi denting jam yang bertengger di meja belajar menjadi latar atas keheningan tersebut. Terdengar hembusan nafas seakan si empunya kamar tengah menggelisahkan sesuatu. Bagaimana tidak, setelah peristiwa aneh yang di alaminya depan gudang, lalu kemunculan laki-laki misterius di dalam kamar saat ia sedang ngobrol bersama Tania, belum lagi kejadian empat hari lalu, semua itu membuat danira semakin pusing.

“Ada baiknya kau mengikuti saran temanmu, agaknya ia memiliki pikiran yang terang.”

Danira mencoba menirukan kalimat laki-laki yang muncul tiba-tiba di belakang tania siang itu, meskipun tak bisa ia pungkiri saat itu tubuhnya menggigil seperti bertemu setan, namun anehnya Danira mampu mengingat jelas apa yang laki-laki itu ucapkan.

“Lo siapa!” Tania berusaha menunjukkan keberaniannya, tetapi Danira tahu temannya sedang gemetar. Alih-alih marah laki-laki itu justru memamerkan senyum, matanya yang bersinar-sinar jenaka membuat tania semakin berani. “Gue tanya lo siapa?” “Perkenalkan nama saya Ucu, bukan begitu Danira?” Laki-laki itu menjawab pertanyaan Tania dengan suara yang dibuat seolah dirinya adalah anak kecil yang menggemaskan, sambil tak henti-hentinya ia menatap Danira dari balik badan sahabatnya. Pasalnya denira memang memberi nama Ucu pada kucing peliharaannya. Saking takutnya gadis itu menutup wajahnya dengan guling yang ia peluk, seakan-akan dengan tindakan tersebut ia dapat menghilang dari pandangan laki-laki misterius itu, akan tetapi agaknya danira belum bisa menilai secara objektif bahwasanya laki-laki tersebut sama sekali tidak menunjukkan tampang ataupun sikap kasar seperti yang Danira bayangkan. Andai saja Danira melihat kesedihan dari mata pria aneh itu ketika melihat sikap Danira yang begitu ketakutan melihat kehadirannya.

Baca juga:  Setitik Embun

Sesaat gadis itu masih belum berani berbuat apa-apa bahkan untuk bernafas pun rasa-rasanya harus di tahannya. Namun semakin lama ia justru menjadi keheranan karena tidak mendengar suara apa pun, dirinya menjadi kebingungan tatkala memberanikan diri membuka mata temannya telah duduk mengawasi dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Ke mana tuh cowok,” bisik Danira hati-hati. “Dia udah pergi.” “Udah pergi?” Tanya Danira ingin meyakinkan pendengarannya. “Iya.” “Oh.” balas Danira dengan suara mengambang. Entah bagaimana danira justru merasa aneh. Saat Danira masih termangu-mangu, dengan hati-hati Tania mencoba memberikan pertimbangannya terkait laki-laki misterius tersebut. “Nira, setelah gue ngobrol bentar sama itu laki, gue rasa lo perlu ngasih dia kesempatan buat ngomong.” “Maksud lo?” “Ya lo ngasih kesempatan dia buat ngomong, ngejelasin apa maunya dia?” “Gue nggak ngerti maksud lo, lo nyuruh gue buat ngasih kesempatan buat manusia jadi-jadian itu ngomong sama gue? Lo sadar nggak sama apa yang lo omongin ini! Gue aja nggak tahu dia manusia atau setan atau apa.” “Iya gue ngerti kok. Gimana bingungnya lo ngadepin ini semua.” “Terus kenapa lo minta gue buat interaksi sama tuh manusia?” “Justru itu Nir, dengan lo ngobrol sama dia lo bakalan ngerti dia itu siapa, apa maunya, kenapa gangguin lo terus? Lagi pula gue ngerasa cowok itu nggak ada maksud jelek sama lo.” “Seyakin itu lo, elo aja baru ketemu sekali, gimana bisa lo segampang itu percaya sama dia, atau jangan-jangan lo udah diguna-guna, ya gue yakin lo udah diguna-guna sih.” “Dengerin gue,” tania mencengkram kedua pundak danira mata keduanya saling beradu, “logikanya kalau misalkan itu laki-laki mau ngecelakain lo, ngebunuh lo atau ngeculik lo, gue rasa dia nggak bakalan ngebiarin lo sampai sejauh ini, lo lihat sendiri tadi kan, dengan gampangnya cowok itu keluar masuk ke kamar lo tanpa nimbulin keributan apapun, sekarang lo pikir deh kalau emang dia pengen berbuat jahat sama lo emang dia nggak bisa ngelakuin itu dari jauh-jauh hari?” Danira bungkam, apa yang Tania katakan sangat masuk akal. Alangkah mudahnya bagi pria tersebut mengambil dirinya dengan cara baik-baik maupun dengan cara yang kasar. “Lo percaya sama gue kan? Gue ngelihat ketulusan di matanya nir, lo tau sendiri gimana gue, penilaian gue atas orang lain hampir selalu tepat.” “Tapi gimana kalau penilaian lo salah kali ini, lo nggak lupa kan sama cerita gue, dia itu kucing gue yang udah mati terus berubah jadi manusia!” “Gue tahu ini pasti berat buat lo, tapi lo mesti lakuin ini biar lo tahu apa yang sesungguhnya laki-laki itu inginkan”

Danira menghembuskan nafas keras-keras. Matanya memindai semua yang ada di kamarnya sampai akhirnya pandangannya jatuh pada jam di atas meja belajarnya, jam 01.21, gumamnya pada diri sendiri. Angan-angannya kembali melayang, setelah sahabatnya pulang Danira mulai berpikir tentang laki-laki yang selama beberapa hari ini menghantuinya, Tania benar jika dirinya tidak memberikan kesempatan pada pria tersebut untuk berbicara berdua barang sebentar, sampai kapanpun Danira tidak akan pernah tahu apa yang diinginkan oleh lelaki itu. Dengan bekal pemikiran tersebut entah bagaimana perasaannya menjadi lebih baik seakan beban berat telah diangkat dari pundaknya.

Keesokan harinya Danira memutuskan untuk kembali bersekolah setelah tiga minggu lamanya dirinya izin. Namun seperti sebuah pepatah, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitu Danira turun dari angkot saat dirinya menyeberang jalan raya tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di sebelah kirinya, peristiwa penculikan itu terjadi tidak lebih dari sepuluh detik sehingga orang-orang tidak begitu memperhatikan pun jikalau ada yang memperhatikannya mereka tidak sempat berbuat apa-apa. Adalah mengejutkan saat beberapa orang sedang sibuk membicarakan mobil merah tersebut, tanpa siapapun sadari sesosok manusia telah lenyap dari tempat ia berdiri sebelumnya.

********

Keempat laki-laki itu tertawa keras-keras dua diantaranya sedang memegangi lengan perempuan yang berseragam putih abu-abu. “Please, Vin lepasin gue, apa sih mau lo!” “Kenapa sayang, jangan marah-marah terus ah, waktu itu kan kita belum sempet senang-senang, jadi sekarang gue ajak teman-teman gue buat senang-seneng bareng.” Terdengar tawa dari sana sini menanggapi perkataan tersebut. “Tolong jangan kayak gini, Vin.” gadis itu berusaha memberontak sembari terus memohon minta dilepaskan, air matanya kian deras membasahi pipinya. Bukannya menjadi iba keempat lelaki itu justru semakin kegirangan melihat Danira yang bercucuran air mata.

Disaat keempat lelaki itu tertawa terbahak-bahak sekonyong-konyong pintu rumah tersebut pecah berserakan, dari pecahan kayu yang bertebaran ke segala arah muncullah seorang pria yang menatap marah kearah Alvin dan ketiga temannya. Meskipun keempatnya terkejut melihat pintu yang berserakan, namun karena mengandalkan jumlah yang banyak maka keempatnya langsung menyerang pria yang berdiri depan pintu yang hancur itu.

Baca juga:  Hujan yang Membawa Ilmu Pengetahuan

Perkelahian itu sendiri tidak berlangsung lama, begitu keempatnya mulai menyerang, dengan kecepatan yang tak terperikan laki-laki misterius itu mampu menangkis, menepis, mengelak, bahkan menyerang balik keempat laki-laki remaja tersebut. Pada akhirnya keempatnya hanya bisa mengerang kesakitan. Ketika pria tersebut berjalan menghampiri Danira tanpa diduga sebelumnya Alvin melempar pisau lipat yang ia bawa ke punggung pria itu, namun alangkah terkejutnya Alvin dan teman-temannya saat pisau itu melesat dengan kecepatan tinggi pria itu hanya mengangkat tangannya, dari telapak tangan itu berpusing sebuah cahaya berwarna kehitam yang kemudian menghisap pisau lipat. Danira sungguh terpukau melihatnya, apalagi saat dirinya mengetahui bahwasanya orang yang datang menolongnya adalah pria yang sama dengan yang selama beberapa hari menjadi hantu baik dalam pikiran maupun dalam tidurnya, itu sebabnya saat pria tersebut menghampiri dan menyapanya, untuk kedua kalinya Danira jatuh pingsan.

Kembali ke masa sekarang,

Danira tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat peristiwa tersebut, bagaimana bisa dia pingsan dua kali hanya gara-gara mendengar sapaan dari seorang laki-laki. Entah bagaimana saat Danira sadar dari pingsannya sahabatnya telah duduk di sebelahnya, tak hanya itu ketika Danira mengawasi sekitar ternyata dirinya telah berada di taman dekat rumahnya, Danira benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa dirinya berpindah tempat begitu saja, saat Danira bertanya kenapa temannya ada di situ, Tania pun bingung kenapa dirinya tiba-tiba bisa ada di situ, menurutnya saat dia sedang berada di kamarnya tiba-tiba ada sesuatu yang menghisap tubuhnya lalu seketika saja dia sudah berada di taman itu.

Meskipun demikian tetap saja gadis itu merasa aneh bagaimana bisa seseorang memindahkan orang lain dengan semudah itu, bukan berarti Danira tidak mengerti bahwa laki-laki itu memang bukanlah manusia biasa. Danira kembali menghela nafas, kini perasaannya menjadi tidak menentu. Rasa-rasanya ada bagian dari dirinya yang hilang, tapi apa?

Setelah kejadian empat hari yang lalu ia sama sekali tidak pernah lagi bertemu dengan laki-laki misterius itu, seakan-akan laki-laki tersebut memang menjauhinya, dia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini, awalnya Danira sama sekali tidak bermimpi akan berjumpa dengan laki-laki itu bahkan saat manusia kucing tersebut hadir Danira merasa begitu ketakutan, akan tetapi setelah peristiwa tempo hari semuanya berubah seratus delapan puluh derajat. “Gue cuma pingin bilang makasih itu doang kok,” berkali-kali Danira meyakinkan pada dirinya bahwa dia hanya ingin berterima kasih pada sosok misterius itu tidak lebih, namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, yang paling tersembunyi dirinya ingin lebih mengenal laki-laki aneh itu.

Beberapa kali Danira bahkan melakukan hal-hal konyol saking inginnya bertemu dengan sosok misterius itu, adakalanya Danira sengaja berlama-lama duduk di depan rumahnya, di waktu yang lain dirinya sengaja membuka jendela kamar di malam hari bahkan pernah juga ia pergi ke gudang barangkali dia bisa menjumpai laki-laki itu di gudang seperti saat pertama kali ia melihatnya. Namun usaha tersebut nyatanya tidak pernah membuahkan hasil.

Danira menyadari jika laki-laki itu ingin hadir dia tidak akan pernah bisa menolak kehadirannya sekalipun dia telah mengunci rapat-rapat pintu dan jendela kamarnya pun saat laki-laki itu tidak ingin ditemui, maka bagaimanapun usaha Danira tidak akan pernah berhasil. Pada akhirnya dirinya hanya bisa pasrah dan terus berharap jika suatu saat nanti dia akan dipertemukan lagi dengan laki-laki misterius yang tanpa disadarinya pelan-pelan telah memerangkap hatinya.

*********

Satu bulan kemudian

Pagi ini mentari bersinar begitu terang cahayanya yang keemasan serta kicau burung di dahan-dahan pepohonan menarik siapapun untuk keluar dari rumah. Tak terkecuali seorang gadis remaja dengan kuncir ekor kuda yang sedang menikmati hangatnya mentari pagi, sesekali kakinya terayun cepat, sesekali melompat-lompat kecil, sesekali berjalan santai. Matanya yang indah terus bergerak-gerak memindai sekitar hingga pandangannya jatuh pada seseorang yang sedang duduk di kursi taman sambil memangku seekor kucing berwarna corak merah dan putih warna yang sungguh cantik. Sedetik gadis itu terdiam namun sedetik kemudian dirinya berjalan cepat menuju orang tersebut.

Meskipun ada sebuah keraguan yang menahannya untuk menemui sosok tersebut namun pada akhirnya gadis itu tetap berjalan hingga pandangan kedua manusia perlawanan jenis tersebut saling beradu, tersungging senyum dari bibir si gadis yang membuat sosok yang duduk di bangku menjadi terbengong-bengong, pasalnya dua kali pertemuan dua kali sosok tersebut menyapa si gadis, maka dua kali itu pula si gadis jatuh pingsan. “Hai Ucu.” “Hai Danira.”

 

Selesai…

 

Beri Pendapatmu di Sini