MENGATASI KETERBATASAN TANPA BATAS
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

Sepucuk Surat Untuk Kenangan

Foto-Utk-Lomba-kartunet.jpg

Sudah beberapa malam Cokro sukar memejamkan mata. Pikirannya selalu tertuju ke suatu titik. Hatinya selalu bertanya tentang keberadaan Ambarwati. Sebab, beberapa hari ini gadis itu tak terlihat. Biasanya ia selalu membantu ibunya mengurus buah-buahan dan sayur-sayuran di kebun.

Cokro sudah berusaha berkunjung ke rumah Ambarwati, tetapi kediaman itu sepertinya kosong. Tak ada yang menyahut, tak ada pula yang membukakan pintu. Pemuda itu mencoba bertanya kepada orang-orang sekitar, tetapi mereka pun tak mengetahuinya.

“Di manakah engkau, Ambarwati? Tak biasanya kau menghilang tanpa kabar.” Cokro menghela napas, lalu berusaha untuk terlelap.

Keesokan paginya, ternyata yang ditunggu-tunggu pun datang. Saat Cokro hendak pergi ke kebun bersama ayahnya, tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk pintu.

Seketika itu wajah Cokro berseri-seri karena gadis yang dicarinya beberapa hari ini sudah berada di hadapannya. “Kau ke mana saja, Ambarwati? Aku …,”

Gadis itu lantas memotong ucapan Cokro, “Maafkan aku, Mas. Waktuku hanya sedikit. Bolehkah aku berbicara denganmu saat ini juga?”

Cokro mengerutkan alis, “Ada apa, Ambarwati? Mengapa kau tampak terburu-buru?”

“Nanti akan kujelaskan, Mas. Aku tunggu di taman, ya?” Tanpa menunggu jawaban Cokro, Ambarwati langsung melangkah pergi, menghasilkan suara berderik dari lantai kayu.

Setelah meminta izin kepada ayahnya, Cokro langsung menyusul keberadaan Ambarwati.

“Kau kenapa, Ambarwati?” tanya Cokro, setelah beberapa saat saling diam.

Kesiur angin pagi menyapa muda-mudi itu. Rambut panjang Ambarwati sedikit berantakan akibat terbawa angin.

Sesaat gadis di hadapannya itu memutar-mutar rambutnya yang panjang sampai menutupi dadanya. “Tolong dengarkan aku ya, Mas?”

Cokro mengangguk.

“Aku tak tahu bagaimana caraku memulai kisah ini. Beberapa hari aku tak terlihat karena ada kejadian yang telah mengguncang perasaanku. Sungguh, aku tak ada maksud untuk menyakiti Mas Cokro. Namun, aku tak sanggup, manakala ini harus kusembunyikan. Satu minggu lalu, ayah mengajak aku ke rumah majikannya bernama Tuan Herold. Aku heran, mengapa aku harus menghadap Tuan Herold? Namun, ayah memaksaku untuk ikut ke sana. Ayah sama sekali tak memberi tahu alasan mengapa aku harus ke sana. Dengan terpaksa aku menuruti perintah ayah. Lalu aku dan ayah menaiki dokar kepunyaan Tuan Herold. Kereta kuda itu sengaja dibawa pulang agar kami tak perlu mencari kendaraan lagi. Sesampainya di rumah majikan ayah, anehnya kami disambut dengan ramah. Aku duduk di samping kiri ayah, lalu mendengar semua percakapan mereka. Jantungku berdebar cukup keras, saat Tuan Herold mengatakan ingin mengawinkan aku dengan putranya. Sebab, anak Tuan Herold merasa kesepian di Bumi putera ini. Tuan Herold berjanji hidupku tak akan menderita. Sebagai imbalannya, ia memberi sejumlah uang kepada ayah. Ternyata ayah menerima uang dan perjodohan itu.” Ambarwati menggigit bibirnya agar air matanya tak jatuh.

Baca:  Pengalaman Salah Pencet

Cokro sungguh tak menyangka, ternyata ini jawaban dari menghilangnya Ambarwati. Padahal ia telah berjanji akan meminang gadis itu, setelah ia memiliki penghasilan yang cukup. Namun, takdir tak memihak padanya. Dengan berat hati, ia merelakan gadis yang dicintainya itu dimiliki laki-laki lain.

“Aku tak menyangka ayah setega itu, Mas. Meski dikawinkan secara sah, tetap saja ada uang di baliknya.” Akhirnya bulir-bulir air mata itu pun menjatuhi kedua pipi Ambarwati.

Cokro lantas mendekap gadis itu, sambil membelai mahkotanya secara perlahan. “Tak apa, Ambarwati. Lagi pula, kau sudah berumur 14 tahun. Meski mulanya aku yang hendak meminang engkau, tetapi tak apa bukan aku. Sungguh, aku tak tega kau sengsara, bilamana kau menolak perintah orang tua sendiri. Terima saja, Ambarwati. Mungkin kita tak ditakdirkan untuk bersama.”

Beberapa hari setelah kejadian itu, Cokro seakan kehilangan separuh hatinya. Ia tak enak makan, tak enak tidur, dan selalu melamun. Mendengar hal-hal yang berkaitan dengan, Belanda, telinganya seperti terbakar. Rasanya ia ingin memusnahkan segala tentang Belanda.

“Apakah mereka belum puas telah menguasai bangsa ini? Sampai perempuan-perempuan pribumi pun dikuasainya. Apakah tak ada hak pribumi untuk mencinta? Cokro mengumpat-umpat sambil melihat bintang-gemintang dari jendela.

Menyaksikan putranya yang sedang berdiri di dekat jendela itu, sang ibu menghampiri, lantas memberi nasihat, “Le, dengar kata ibumu ini. Tak baik kau dirundung rasa kesal berkepanjangan. Ingat, Le. Ia bukan jodohmu. Ayah bisa mencarikan perempuan yang lebih baik darinya. Kau tak pantas hanya karena perempuan tak semangat lagi. Apakah kau tak ingin membahagiakan ayah dan ibu? Kejarlah cita-citamu, Le. Itu lebih penting, daripada terus-menerus meratapi tentang cinta.”

Cokro lalu memeluk ibunya, meminta maaf karena telah bersikap tak baik semenjak Ambarwati dipinang pemuda Belanda. Perempuan setengah baya itu pun mengusap-usap kepala putra kesayangannya. Sang ibu hanya menginginkan Cokro meraih impiannya. Perihal perempuan, sedari dulu keluarganya tak senang dengan perjodohan. Jadi, Cokro dibebaskan memilih siapa pun dan dari kalangan mana pun.

Baca:  PENGUMUMAN CERPEN CINTA DAN MERDEKA

Hari-hari selanjutnya Cokro telah menikmati aktivitasnya dengan sukacita. Semangatnya muncul kembali, berkat dorongan dari kedua orang tuanya. Sang ayah tak ketinggalan, memberi wejangan kepadanya. Katanya, orang sukses adalah orang yang mampu mengubah rasa sakitnya menjadi api semangat yang membara. Jikalau ingin menjadi laki-laki hebat, maka masalah cinta jangan sampai menghambat cita-cita.

Cokro memang berasal dari keluarga menengah ke bawah dan tak berpendidikan tinggi. Ia hanyalah lulusan sekolah desa (Volkschool) selama 3 tahun. Di sana hanya sekadar belajar membaca, menulis, dan berhitung. Jadi, ia tak ada kuasa untuk mencegah perjodohan Ambarwati dengan pemuda itu. Meskipun demikian, setidaknya ia menguasai tiga hal tersebut untuk menunjang bisnisnya kelak.

Dua tahun kemudian, saat Cokro hendak masuk ke dalam rumah seusai merawat perkebunannya, tiba-tiba ia melihat sepucuk surat yang tergeletak di depan pintu. Surat itu dipungutnya. Seketika keningnya berkerut karena tak biasanya ada yang mengirim surat.

Pemuda berusia 16 tahun itu pun berjalan menuju kamarnya, lantas duduk di tepi ranjang. Ia membuka surat itu, kemudian membacanya.

Mas Cokroaminoto, bagaimana kabarmu? Semoga Mas Cokro selalu sehat beserta keluarga. Sebelumnya aku meminta maaf karena tak ada perbincangan setelah peristiwa itu. Sungguh, aku pun merasakan kepedihan itu, Mas. Setiap malam aku selalu menangis. Aku telah mengecewakan Mas Cokro. Kenangan kita sewaktu kecil berkelebatan mengisi ruang-ruang memoriku.

Selesai acara pernikahan saja aku tergugu di tepi ranjang. Suamiku yang bernama Karel sampai terheran-heran melihatku. Ia menyuruhku untuk bercerita. Ia pun berjanji tak akan memarahiku. Meluncurlah cerita kita, Mas. Aku ungkapkan segalanya yang membuatku tak nyaman. Anehnya, ia sangat memaklumi itu, Mas. Ia sama sekali tak memaksaku agar sesuai dengan keinginannya. Justru ia yang bersikap baik kepadaku. Jika aku tak mau sesuatu, ia tak memaksa. Ia selalu melayaniku. Entah membawakan baki berisi makanan dan minuman ke kamar, tak pernah membentak-bentak, ataupun bercengkrama dengan wanita lain. Ia begitu menghormati aku, Mas. Rupanya ia benar-benar menepati janji. Ia selalu membuatku bahagia. Padahal aku sendiri yang sering membentak-bentaknya, kalau aku sedang malas tidur bersamanya. Ia rela tidur di sofa, demi tak menggangguku.

Dari situ aku punya keinginan harus belajar mencintainya. Aku yang bergilir melayaninya. Apa yang sudah ia lakukan, aku lakukan pula untuknya. Aku bisa melihat kebahagiaan itu di mata Karel. Ia selalu mengecup keningku, kala aku hendak tertidur. Aku jadi merasa berdosa karena pernah menyakiti hatinya, Mas. Lantas tiga bulan lalu akhirnya aku mengandung. Betapa bahagianya Karel, saat mengetahui itu. Ternyata setelah aku belajar membuka hati untuknya, aku kian merasa, nyaman dan beruntung bisa menjadi istrinya. Jarak usia kami pun tak terlampau jauh, hanya enam tahun.

Baca:  Memory of Tanjung

Sayangnya negeri ini mulai dikuasai oleh bangsa bermata sipit. Orang-orang Belanda sudah dilarang tinggal di sini. Mereka harus segera angkat kaki karena pertempuran itu dimenangkan oleh Jepang. Jika masih ada yang tinggal, maka samurai yang akan berbicara. Orang tuaku lalu menyuruh agar aku dan Karel segera pergi ke Eropa. Mulanya aku tak rela membiarkan ayah dan ibu tetap di negeri ini. Namun, keselamatan aku, Karel, dan calon bayi kami yang lebih penting. Akhirnya dengan berat hati aku menuruti perintah itu. Lagi-lagi aku harus berderai air mata di setiap malam. Dahulu aku menangisi engkau yang telah kukecewakan. Sekarang orang tuaku sendiri yang mengalami kepedihan itu. Mengapa aku harus selalu menyakiti hati orang-orang yang kucintai? Aku pun tak lagi memusuhi ayah, Mas. Sebab, perlakuan keluarga Karel sangat baik kepadaku. Perihal uang yang waktu itu, digunakan untuk bisnis ayah.

Lantas aku ingin menulis surat untukmu, Mas Cokro. Aku hanya ingin berkabar denganmu. Mungkin surat ini baru sampai, ketika aku sedang dalam perjalanan menuju Eropa. Jika kau berkenan membalas surat ini, kirimlah ke alamat rumah kami di Belanda. Akan kutuliskan setelah isi surat ini selesai. Meski kita tak lagi sedekat dahulu, tetapi aku ingin pertemanan itu tetap ada. Sekali lagi, aku sungguh meminta maaf kepadamu, Mas. Semoga tak ada dendam yang bersemayam dalam hatimu.

Ambarwati

Cokro melipat surat itu dengan rapi. Seusai membacanya, luka yang sudah mulai kering itu, kembali tergores di tempat yang sama. Dua tahun sejak 1940, ia belajar menjalani hari-hari tanpa kehadiran Ambarwati. Ia sama sekali tak mengirim surat, ia tak ingin mengetahui kabar Ambarwati, dan ia pun menyimpan benda-benda pemberian gadis itu ke dalam lemari. Hal itu dilakukan agar ia tak lagi terbayang-bayang wajah Ambarwati.

Cokro tak akan membalas surat itu. Sebab, hanya akan menambah kepedihan hatinya. Biarlah surat itu disimpan dan dijadikan sebagai barang pemberian Ambarwati yang, selanjutnya.

Tamat

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbikan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
143 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Developer