Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

The Crucible, menampilkan realita lewat film.

Bagikan tulisan ini ke sahabat dan keluarga

Film ini dibesut oleh sutradara Hawang Dong-Hyeok, yang sebelumnya sukses menyutradarai “My Father” di tahun 2007, dan dibintangi oleh Gong Yu, aktor kawakan Korea yang saat itu baru menyelesaikan wajib militernya. Film ini diangkat dari novel laris karangan Gong Ji-Yong yang diangkat dari kisah nyata yang benar-benar terjadi di tahun 2005, mengangkat isu mengenai pelecehan seksual yang terjadi di sebuah sekolah khusus yang mendidik anak-anak tuna rungu. Novel tersebut ditulis ditahun 2009 kemudian difilmkan di tahun 2011.


 


Latar belakang film ini adalah daerah bernama Mujin, provinsi Gwangju-Korea Selatan. Daerah Mujin memiliki sebuah sekolah berasrama yang memberikan pendidikan khusus bagi siswa tuna rungu, dan mendapat bantuan yang besar dari pemerintah korea bernama Sekola Jae Ae. Sekolah tersebut mendidik secara gratis siswa tuna rungu yang kebanyakan berasal keluarga tak mampu. Sekolah ini dikelola secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Dalam film ini, sekolah tersebut dikelola oleh seorang kepala sekolah yang kembar identik dengan wakilnya.


 


Gong Yu berperan menjadi In Ho, seorang guru seni yang sangat membutuhkan pekerjaan. Ia baru saja kehilangan istrinya dan putri semata wayangnya sakit. Ia mendapatkan rekomendasi untuk bekerja di Sekolah Jae Ae dari profesornya saat di universitas dahulu. Professor In Ho mengenal dekat keluarga kepala sekolah dari Sekolah Jae Ae.


 


Sejak semula In Ho melihat berbagai keanehan dari sekolah Jae Ae. In Ho dimintai uang berpuluh-puluh juta won sebagai uang pembangunan, padahal ia belum sama sekali menghasilkan uang. Murid-murid Jae Ae juga cenderung aneh, mereka tertutup dan berwajah sedih, In Ho sulit sekali mendekati murid-murid barunya ini. Ibu In Ho mendorong ia agar tetap mengajar di Jae Ae karena In Ho harus memiliki uang untuk mengobati putrinya yang sakit.


 


suatu hari In Ho pulang larut dan melihat muridnya duduk di balkon asrama, karena khawatir ia terjatuh In Ho memasuki gedung untuk memperingatkannya. Saat ia masuk ke dalam gedung ia mendengar suara aneh dari dalam kamar mandi wanita, satpam mencegahnya untuk memeriksa karena karena itu adalah kamar mandi wanita sehingga In Ho dilarang masuk. In Ho menurutinya saja.


 


Semakin lama ia semakin banyak melihat kesewenang-wenangan yang terjadi di Sekolah Jae Ae. Seorang guru laki-laki memukuli murid laki-lakinya tanpa alasan dan beralasan bahwa begitulah cara mendidik yang baik. In Ho juga melihat kekerasan lain, pengawas asrama menyiksa seorang murid perempuan di kamar mandi. Kemudian terungkap pelecehan seksual yang kerap dilakukan kepala sekolah Jae Ae pada murid-murid perempuan dengan memaksa mereka datang ke dalam ruangannya.


 


Film ini benar-benar menggambarkan realita yang sebenarnya terjadi pada kasus tersebut, meskipun In Ho yang dibantu temannya berhasil membawa kasus ini ke hadapan pengadilan namun mereka tak bisa memenangkan kasus ini karena kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki kepala sekola Jae Ae. Keluarga korban dipaksa menandatangani surat penerimaan maaf dengan imbalan sejumlah uang.


 


Tangisan murid-murid Jae Ae yang menghadiri pembacaan keputusan pengadilan tidak dapat dilupakan penulis, hal tersebut lah yang kemudian mendorongnya untuk menulis kasus ini yang kemudian dijadikan sebuha film. Ia ingin menyampaikan pesan yang tak tersampaikan dari murid-murid tuna rungu tersebut, betapa hak mereka tercabut dan mereka tidak mendapat pembelaan yang pantas dari hukum.


 


Pada akhirnya In Ho menyerahkan kasus ini sepenuhnya pada temannya, ia sendiri kembali ke Seoul untuk melanjutkan kehidupannya. In Ho merupakan gambaran masyarakat biasa yang kemudian dikhianati oleh kepercayaanya sendiri terhadap hukum dan pemerintah. Perlawanan terakhir yang bisa dilakukan hanyalah diam.


 


The Crucible merupakan salah satu gambaran masalah yang kerap terjadi dalam dunia pendidikan, yang bisa jadi seringkali ditutupi dan berlepas tangan terhadap kasus ini. Film ini adalah upaya agar tidak ada lagi murid-murid tak berdaya menjadi korban guru mereka sendiri. (Isti)

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *