Beri dukungan untuk karya-karya yang telah diterbitkan di event menulis "Imaginasikan Merdekamu!". Tulis saran dan kritikmu sebagai bentuk apresiasi untuk penulis di kolom komentar
Kirim KaryaMulai menulis untuk terbitkan karya kamu di Kartunet.com

The Lost Dancing Fairy

Terakhir diperbaharui 1 bulan oleh Redaksi

Menjadi anggota kerajaan Lighton rasanya sangat menyebalkan. Bukan berarti aku tak bersyukur terlahir sebagai putri raja. Namun, tanggung jawab menjadi seorang pewaris tunggal kerajaan luas nan indah ini amat besar. Contohnya untuk perayaan hari kemerdekaan besok. Akulah yang mesti bertanggung jawab dengan acara ceremonial tersebut. Kerajaan Lighton merupakan sebuah kerajaan bangsa Peri yang menguasai seluruh hutan ajaib. Tak hanya aneka bebungaan indah yang tumbuh di sini, hutan ajaib adalah rumah bagi makhluk-makhluk rupawan. Seperti Unicorn dan para Naga. Kerajaan Lighton dipimpin oleh Raja Agung yang perkasa serta Ratu Venus nan jelita.

Aku terus saja terbang ke sana ke sini untuk memastikan semua persiapan berjalan lancar. Para Peri penyihir yang kompak mendekor istana, Peri-peri pelayan yang sibuk membuat hidangan besar, serta beberapa Peri yang tengah asyik latihan tuk tampil di perayaan.

 

“Ehem, ehem. Ini adalah hari kemerdekaan kerajaan Lighton ke seratus tahun, setelah memenangi peperangan selama ribuan tahun melawan kerajaan Darkes. Untuk para Peri yang terhormat, ayo kepakan sayap kalian dan beri tepuk tangan yang meriah!” suara khas seorang Peri terdengar berlatih untuk menjadi master of ceremonial nanti. Peri bersayap berambut jingga itu mengubah-ngubah suaranya agar terdengar sesuai saat menjadi MC.

 

“Oh, Claudya, bisakah suaramu kecilkan sedikit? Aku sedang fokus berlatih untuk membacakan puisiku saat hari kemerdekaan,” seorang Peri bersayap dan berambut violet terlihat terbang menghampiri si Peri jingga.

 

“Rani, bisakah kau yang tak menggangguku? Menjadi seorang MC membutuhkan latihan yang berat,” Claudya berkata agak ketus.

 

“Kau, kan, bisa berlatih di ruangan lain. Istana ini sangat luas, Claudy,” Rani tak mau kalah.

 

“Sudah, sudah, cukup!” aku terbang berniat melerai mereka.

 

“Benar kata Rani, salah satu di antara kalian harus ada yang mengalah. Coba pindah ke ruangan lain!” usulku.

 

“Oh, Salma! Aku tahu menjadi seorang putri sekaligus penanggung jawab untuk perayaan nanti kau jadi amat sibuk dan tak memerhatikan.”

 

“Apa maksudmu, Claudy?” tanyaku, sembari mengernyit.

 

“Ruangan-ruangan lain telah digunakan Peri-peri lain untuk berlatih. Coba saja kau dengar di ruangan sebelah Pangeran Banyu sedang berlatih memainkan biola. Sedang Pangeran Rexya dan Pangeran Saidinas sedang beradu pedang di ruangan lainnya. Pangeran Gagah, Pangeran Dany, dan Pangeran Aswar juga sibuk berlatih sihir mereka untuk tampil di perayaan menggunakan ruangan aula. Jadi, aku harus berlatih di mana?” Claudy menatapku putus asa. Aku menghela napas mendengar penuturannya.

 

“Berlatih saja di kamarmu sendiri,” sahutku.

 

“Idemu menyebalkan!” Claudya berkata seraya terbang meninggalkan kami.

 

“Terima kasih, Salma. Kau membuatku jadi fokus kembali berlatih,” ucap Rani, dengan tersenyum amat manis.

 

“Ya. Kalau begitu lanjutkanlah! Aku ingin memeriksa persiapan yang lainnya,” aku mengepakan sayap, lantas meninggalkan Peri itu sendirian.

***

 

Sesuai yang diucapkan Claudya, aku melihat Pangeran Rexya dan Pangeran Saidinas sedang beradu pedang di ruangan berpedang, Pangeran Gagah, Pangeran Dany, serta Pangeran Aswar yang sibuk berlatih sihir mereka tuk tampil di perayaan menggunakan ruangan aula. Akan tetapi yang membuatku lebih tertegun ketika mendengarkan dawai-dawai yang digesek merdu oleh Pangeran Banyu. Pangeran amat tampan dengan sayap berwarna soft blue itu tampak memejamkan mata, damai sekali kelihatannya menciptakan melodi-melodi indah yang langsung menyusup ke hati. Membuatku ingin menari, mengikuti nada-nada manis tersebut.

Baca juga:  Kakman dan Keluarga Disabilitas #1

 

“Aku tahu sejak tadi kau menatapku, Putri Salma,” kata Pangeran Banyu, lalu berhenti memainkan biolanya. Mata biru indah Pangeran itu menatapku dalam.

Seketika aku salah tingkah sebab ketahuan memandanginya diam-diam.

 

“Emmm, maaf, Pangeran! Aku hanya ingin memeriksa persiapan semua Peri untuk perayaan besok,” kataku, seraya menunduk. Pasti saat ini pipiku memerah bak tomat matang. Pangeran itu tersenyum.

 

“Baiklah. Lanjutkanlah! Aku takkan mengganggummu,” Pangeran Banyu lantas kembali menggesek dawai-dawai ditangannya, sembari terbang meninggalkanku, ia memainkan sebuah melodi ceria. Aku tersenyum.

Kini aku terbang menuju taman, ingin melihat ketiga Peri utama yang kan tampil menari. Tarian mereka kan semakin ajaib, sebab para Unicorn juga akan turut menari bersama mereka. Namun, ketika aku tiba di taman mawar, Peri bersayap dan berambut merah muda terbang menyongsongku dengan panik.

“Putri Salma, gawat!” ia berkata panik. Seorang Peri lain turut terbang menghampiriku dengan tampang tak kalah panik.

 

“Ada apa, La?” tanyaku.

 

“Sejak pagi Kak Ara menghilang! Padahal besok sudah hari perayaan,” Lala berkata dengan mata berkaca-kaca.

 

“Kalian sudah mencarinya keseluruh istana?”

 

“Sudah, Putri Salma. Sejak pagi kami sudah mencari Kak Ara. Karena dialah penari utama. Tapi, setelah mengelilingi istana tiga kali, kami tetap tidak menjumpai Kak Ara,” Fleycia, Peri serba berwarna kuning matahari menjawab dengan ekspresi yang sama seperti yang Lala tunjukan.

 

:Apa kalian sudah bertanya ke semua Peri?”

 

“Sudah! Bahkan Peri pelayan tak melihat Kak Ara sejak malam. Sewaktu Peri pelayan mengantar makanan ke kamar Kak Ara, dia sudah menghilang,” sahut Lala.

 

“Kenapa baru mengatakannya sekarang?” tanyaku, seraya terbang kembali menuju istana. Lala dan Fleycia terbang mengikuti.

 

“Kami pikir Kak Ara hanya pergi menyendiri sebentar ke taman mawar, tapi rupanya sampai siang ini Kak Ara belum kembali,” Lala berkata di belakangku. Kami bertiga terus terbang menghampiri ruangan aula.

***

 

“Loh, ada apa ini?” Pangeran Dany tampak terkejut ketika kami telah sampai di hadapan mereka. Bahkan Pangeran Aswar lebih terkejut lagi ketika memandangi Lala yang kini sudah beruraian air mata, tetapi sama sekali tak menghilangkan kecantikannya.

 

“Siapa yang sudah mengganggu Peri-peri kecil ini?” tanya Pangeran yang memiliki sayap serta rambut berwarna coklat keemasan, yaitu  Pangeran Aswar.

 

“Kak Ara menghilang, Pangeran,” Lala menyahut di tengah-tengah isaknya.

 

“Hah? Ara menghilang?” Pangeran Dany tampaknya tak memercayai.

 

“Ara tidak mungkin hilang dari istana! Peri lembut nan baik hati itu siapa yang akan menculik?” ujar Pangeran Aswar.

 

“Pun aku berpikir demikian. Siapa juga yang hendak menculik Ara?” Pangeran Dany menimpali.

 

“Itu mengapa aku mendatangi kalian. Coba kalian mencari Ara dengan sihir! Dan kita akan mengetahui di mana keberadaannya,” kataku, seraya menatap ketiga Pangeran itu bergantian. Pangeran Gagah yang sejak tadi terdiam lalu mengangguk, lantas mengeluarkan sinar keperakan dari tangan kanannya. Seorang Peri pengawal tiba-tiba datang menghampiri.

Baca juga:  Fan Fiction: Harry Potter, Kematian Fred Weasley

 

“Maaf, Putri Salma! Tetapi Putri dipanggil oleh Baginda Raja Agung sekarang juga di ruangan singgasanah,” Peri pengawal itu membungkuk di hadapanku.

 

“Ada apa Ayahanda memanggilku?”

 

“Hamba kurang mengetahuinya, Putri. Namun, Putri segera diperintahkan terbang ke sana sekarang juga.” Aku menghela napas.

 

“Tolong kalian terus mencari keberadaan Ara! Dan kabari aku secepatnya tentang perkembangannya!” ucapku pada ketiga Pangeran. Bersama Peri pengawal, aku terbang menemui sang pemimpin tertinggi kerajaan Lighton.

***

 

“Ayahanda. Salma datang untuk memenuhi panggilan Ayahanda,” kataku penuh sopan santun, setelah memasuki ruang singgasanah. Raja yang amat tampak gagah perkasa, dengan mengenakan zirah serta  mahkota keemasan, yang tampak sesuai sekali dengan sayap dan rambutnya yang berwarna keemasan itu tersenyum melihatku.

 

“Putriku, berhentilah bersikap formal! Di sini hanya ada kita berdua.”

 

“Baik, Ayah. Ada apa Ayah memanggilku?”

 

“Bagaimana persiapan untuk perayaan hari kemerdekaan besok?”

 

“Semuanya lancar, Ayah! Segala persiapan sudah hampir seratus persen. Cuma…” aku sengaja menggantung kalimat.

 

“Cuma apa, Putriku?”

 

“Ara menghilang, Ayah! Padahal diperayaan besok dialah penari utama, bersama Lala dan Fleycia.”

 

“Hmm, Ayah sudah menduga sepupumu itu pasti menghilang.”

 

“Loh, mengapa bisa, Ayah?” aku mengernyit kebingungan.

 

“Ibumu. Ibumu hendak mengganti Ara dengan Peri lain untuk tampil menari. Dan Ibumu telah mengatakannya pada Ara sejak semalam. Sedangkan kita sama-sama tahu, Ara sudah tak dapat diganti sebab perayaan kurang dari dua puluh empat jam lagi. Ara pun kecewa dengan keputusan itu. Tentu ada alasan lain selain yang sudah Ayah sebutkan.”

 

“Alasan lain apa, Ayah? Jangan membuatku penasaran,” aku mendesak sang Raja tuk segera menjelaskan. Ayah menarik napas panjang.

 

“Ibumu ingin kamulah yang menggantikan Ara.”

 

“Mengapa aku, Ayah? Dan mengapa Ibu tak mengatakannya juga padaku?”

 

“Ibu hanya berpikir, jika Ara menghilang kamu yang mau tidak mau harus menggantikannya,” Ratu kerajaan Lighton tiba-tiba terbang masuk ke ruangan. Peri yang memancarkan kejelitaan dan serba berwarna keemasan itu sesuai sekali bersanding dengan Raja yang gagah.

 

“Tapi mengapa, Bunda? Kenapa Bunda ingin aku yang menari di perayaan besok? Jelas-jelas Ara lebih baik dan lebih indah daripada aku,” aku menatap Ibundaku tajam.

 

“Semestinya putri kerajaanlah yang tampil menari. Bukan keponakan Raja,” tungkas Ibunda. Aku menghela napas.

 

“Tetap saja Bunda tidak bisa semerta-merta mengganti begitu saja. Ara yang sudah lama berlatih untuk perayan. Bunda jahat jika menggantinya di saat-saat terakhir.”

 

“Apa pun pendapat kamu, Bunda rasa kamulah yang harusnya menari besok,” sang Ratu berkata tegas tak ingin dibantah.

 

“Tidak! Aku mau mencari Ara sekarang. Bagaimana pun keinginan Bunda, aku tak ingin tampil menari besok,” aku lalu terbang meninggalkan ruang singgasanah.

***

 

Sampai hari perayaan, Ara belum juga ditemukan. Ketiga Pangeran yang amat menguasai sihir pun tak dapat melacak keberadaannya. Seluruh pelayan istana juga telah kuperintahkan untuk mencari. Namun, hasilnya nihil. Ara bak menghilang ditelan hutan ajaib. Ratu Venus memang benar-benar berhasil membuat Ara sulit ditemukan.

Baca juga:  Kisah Putri Seorang Disabilitas

 

“Bagaimana ini? Perayaan sebentar lagi kan dimulai,” Lala tampak panik. Ketiga Unicorn yang hendak tampil menari bersama pun sangat gelisah dengan ketidak hadiran Ara.

 

“Apa Kak Salma yang akan menari bersama kami?” tanya Fleycia. Aku menggeleng.

 

“Sebetulnya, masih ada satu cara untuk mengetahui keberadaan Ara.” Lala dan Fleycia menatapku penuh tanya.

Aku terbang menghampiri Pangeran Banyu yang sedang bersiap-siap di belakang panggung. Pangeran bersayap dan berambut soft blue itu tampak memainkan dawai di tangannya.

 

“Pangeran, aku tahu kaulah satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan Ara,” kataku langsung pada intinya.

 

“Betul. Tetapi ia berkata jika ia takkan hadir dalam perayaan. Agar kaulah yang tampil menari,” mata biru Pangeran itu menatapku.

 

“Tidak! Aku takkan merebut posisinya. Dialah yang pantas menari. Tolonglah, Pangeran! Aku tidak ingin sepupuku itu semakin salah paham denganku. Aku tahu ia berpikir bahwa aku akan merebutmu darinya. Ditambah lagi Ibundaku menyuruh agar aku saja yang menggantikan ia menari. Jadi kumohon, bujuklah agar ia yang akan tetap menari! Aku tak bersedia menggantikannya. Pun aku tak berniat merebutmu darinya,” aku berkata lirih diujung kalimat. Sebelum Pangeran Banyu menanggapi, suara Claudya terdengar di panggung.

 

“Para Peri yang terhormat, hari ini kita merayakan seratus tahun kemerdekaan kerajaan Lighton yang sangat kita cintai ini. Mari, kepakan sayap bersama-sama dan beri tepukan yang meriah!” konveti berupa bebungaan dan pita menghujani panggung dan seluruh hadirin. Raja Agung dan Ratu Venus yang duduk di singgasanah turut mengepakan sayap dan bertepuk tangan dengan semua rakyat kerajaan Lighton yang hadir di istana.

Pangeran Banyu lalu terbang ke panggung nan megah itu, lantas memainkan melodi-melodi indah dengan biolanya. Seluruh rakyat kerajaan Lighton terhanyut dalam suka cita perayaan. Tak lama berselang, para Unicorn terbang ke panggung, mulai menari. Para Peri yang menyaksikan semakin bertepuk tangan dengan genggap gempita.

Di belakang panggung, Lala dan Fleycia semakin panik. Ara belum juga muncul. Kedua Peri manis itu menatapku gelisah. Aku mengangguk meyakinkan mereka.

 

“Terbanglah ke panggung sekarang!” bisikku, “tampilkan yang terbaik,” aku buru-buru menambahkan sebelum Peri serba berwarna merah muda dan serba berwarna kuning matahari itu terbang. Keduanya menarik napas, lalu saling mengangguk untuk menyemangati. Aku mengepalkan tangan, Lala dan Fleycia pun muncul di panggung.

Bersamaan dengan munculnya seorang Peri yang memiliki sayap dan rambut berwarna keperakan. Peri super jelita itu seperti tiba-tiba disihir dari ketiadaan, lantas muncul menari dengan amat indahnya. Membuat seluruh mata terpana melihatnya. Serempak menari dengan Lala dan Fleycia serta ketiga Unicorn, tarian yang mereka persembahkan tak hanya sekadar menakjubkan. Diiringi oleh melodi-melodi yang diciptakan Pangeran Banyu, mereka menampilkan persembahan yang memukau dan ajaib. Ratu Venus yang tadinya tak ingin Ara yang menari, kini tertegun tak dapat berbuat apa-apa. Pun tampak sekali jika ia sangat kagum dengan kemampuan Peri keperakan itu menari.

Sedang aku yang di belakang panggung, terus menyunggingkan senyum. Turut berbahagia seperti seluruh rakyat kerajaan Lighton yang bahagia dapat berkumpul dan merayakan hari kemerdekaan. Tak lupa, turut berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan kedua sejoli itu.

***

 

TAMAT.

Kartunet.com adalah media warga, seluruh konten berupa tulisan, foto, audio, atau video yang diterbitkan melalui situs ini menjadi tanggung jawab penuh dari kontributor.

Ingin juga tulisanmu diterbitkan di Kartunet? Siapkan karyamu dan klik di Kirim Karya
4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.