Dari Jalanan ke Sektor Formal: Mengurai Benang Kusut Ketenagakerjaan Tunanetra
Fenomena musisi jalanan tunanetra yang kerap terjaring razia adalah bukti kegagalan sistem menyerap mereka ke sektor formal. Temukan bagaimana teknologi adaptif, pelatihan *soft skills* pra-kerja, dan penerapan kuota kerja 1%-2% dapat menjadi solusi pemberdayaan yang memanusiakan penyandang disabilitas. **Opsi 2 (Fokus Media Sosial / Pengantar Artikel):** Sering melihat musisi jalanan tunanetra ditertibkan aparat? Turun ke jalan sering kali bukan pilihan, melainkan jalan terakhir akibat tingginya stigma di dunia kerja. Padahal, dengan bantuan teknologi *screen reader* dan pelatihan *soft skills*, tunanetra terbukti mampu bersaing menjadi ASN, *programmer*, hingga pekerja kantoran. Artikel ini mengupas benang kusut ketenagakerjaan tunanetra dan mengapa penerapan kuota kerja inklusif (1%-2%) adalah solusi mutlak untuk mengangkat mereka dari kerasnya jalanan menuju kemandirian ekonomi. Baca selengkapnya!