Laju perkembangan teknologi kini tak lagi berjalan linear, melainkan eksponensial. Invasi inovasi terjadi setiap detik, membuat lanskap perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) berubah drastis dalam rentang waktu yang semakin singkat.
Sebagai seorang praktisi teknologi, saya memegang prinsip bahwa adaptasi adalah kompetensi utama. Saya mewajibkan fitur auto-update selalu aktif di seluruh ekosistem perangkat saya. Memang, ini adalah pedang bermata dua; seringkali pembaruan mematahkan aksesibilitas yang sebelumnya sudah mapan. Namun, bagi saya, menjadi orang pertama yang mengetahui perubahan—termasuk mengetahui letak kesulitan baru—jauh lebih berharga daripada terjebak dalam kenyamanan semu tanpa antisipasi.
Salah satu contoh paling nyata dari disrupsi ini adalah evolusi WhatsApp Desktop. Mari kita lihat data kronologis perubahannya:
-
-
-
-
-
-
-
-
eFase Sebelumnya: Terdapat fragmentasi antara WhatsApp Beta (pembaruan cepat) dan WhatsApp Public/Stable (stabilitas tinggi). Versi ini umumnya dibangun dengan kerangka kerja (framework) Native/UWP yang cenderung lebih ramah terhadap pembaca layar (screen reader).
-
-
-
-
-
-
-
-
Maret 2025 (Major Update – Beta): Terjadi perubahan arsitektur masif. WhatsApp mulai meninggalkan antarmuka native dan beralih sepenuhnya ke antarmuka berbasis Web (kemungkinan besar menggunakan teknologi Electron atau wrapper serupa). Tampilannya menjadi identik dengan WhatsApp Web di peramban.
-
Desember 2025 (Global Rollout): Prediksi menjadi kenyataan. WhatsApp secara resmi menerapkan antarmuka berbasis web ini ke seluruh platform desktop, baik Windows maupun macOS. Ini bukan sekadar ganti kulit, tapi perubahan fundamental cara aplikasi bekerja.
Sebagai trainer teknologi aksesibel, saya mengamati fenomena yang cukup memprihatinkan pasca-pembaruan Desember 2025. Gelombang resistensi muncul; banyak pengguna tunanetra berbondong-bondong mencari cara untuk melakukan downgrade (kembali ke versi lama).
Alasannya valid: navigasi berubah total. Apa yang dulu bisa diakses dengan satu tombol pintas, kini mungkin membutuhkan langkah yang lebih rumit. Namun, sebagai praktisi, saya memiliki pandangan berbeda yang perlu saya sampaikan dengan tegas.
Mencari kenyamanan dengan kembali ke versi lama mungkin terasa melegakan saat ini, namun ini adalah bom waktu bagi literasi digital pengguna, karena tiga alasan utama:
- Inevitable Obsolescence (Keusangan yang Tak Terelakkan)
Aplikasi berbasis server seperti WhatsApp memiliki masa hidup versi (version lifecycle). Cepat atau lambat, versi lama akan diputus aksesnya ke server (API deprecation). Saat hari itu tiba, pengguna yang bertahan di versi lama akan dipaksa pindah mendadak tanpa persiapan skill apapun.
- Tren Universal Design & Web-Based Apps
Para pengembang global sedang bergerak menuju penyatuan antarmuka (unified interface). Membuat aplikasi desktop yang “rasanya” sama dengan web adalah standar industri saat ini. Menolak antarmuka ini sama dengan menolak standar teknologi masa depan.
- Ilusi Ketidakaksesibelan
Harus diakui, versi baru ini lebih rumit. Namun, rumit bukan berarti tidak aksesibel. Berdasarkan pengujian saya, WhatsApp Desktop versi baru masih sangat layak digunakan (operable). Navigasinya berbeda, tapi logikanya tetap bisa dipelajari.
Menolak pembaruan hanya karena kurva belajarnya menanjak adalah bentuk penyangkalan diri. Kita tidak bisa meminta raksasa teknologi mundur demi kenyamanan kita; kitalah yang harus menaikkan kompetensi untuk mengejar mereka.
Alih-alih membuang energi mencari file instalasi lama yang sebentar lagi usang, mari kita gunakan energi tersebut untuk mengulik dan menaklukkan antarmuka baru ini. Optimalkan apa yang ada, pelajari pola barunya, dan beradaptasilah.
Jangan biarkan ketidaksiapan beradaptasi membuat kita menjadi gagap teknologi. Versi lama adalah sejarah, versi baru adalah realita. Hadapi, pelajari, dan kuasai.

jujurly menurut gue balik ke whatsapp web tuh agak mundur sih. sekarang mah udah gak jaman banget mainan web. liat aja orang-orang mana ada yang mau ribet buka web lagi. mending juga langsung sat-set ke aplikasi kayak tokopedia atau tiktok yang emang lebih enak di apk. tapi ya balik lagi itu terserah wa sih. kita sebagai pengguna tunanetra mah nikmatin aja yang dikasih. lagian orang awas juga santai-santai aja kok. cuma kaum netra doang nih yang agak sibuk ngebahas ginian. emang bener sih gen z udah gak jaman pake web tapi ya udahlah ya. nikmatin aja apa yang ada bro.